Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Gaun dan Hp untuk Nia


__ADS_3

Bab 15


Ardian memarkirkan mobilnya di basement mal besar itu. Setelah itu dia mengajak Nia keluar dari mobil, berjalan cukup jauh untuk sampai di pintu masuk mal.


Di Tanjungbalai, belum ada mal apalagi mal sebesar ini. Baru kali ini Nia menginjakkan kaki ke mal sebesar Centre Point ini.


Dilihatnya di lantai 1 mal, ada banyak kafe maupun stan dengan bermacam-macam jajanan. Segala jenis teh, kopi, jus rasa negara-negara tertentu, diramu dan dikemas menarik dalam wadah plastik berupa gelas besar. Kentang goreng, fried chicken, burger, pizza, sandwich, roti, kue, es krim, dan sebagainya. Makanan cepat saji yang menjadi idola kaum milenial kota zaman sekarang ini.


“Kamu mau makan apa?” tanya Ardian pada Nia yang berjalan di sampingnya.


Nia menggeleng, “Tak tahu,” jawabnya. “Makanan-makanan ini terlihat mahal dan terasa asing, bahkan aneh,” kata Nia.


Ardian tertawa. “Makanya, cobalah beberapa biar kamu tahu rasanya,” kata Ardian.


“Ah, nggaklah, aku nggak tertarik, kok!” kata Nia sambil mengalihkan pandangannya dari aneka jajanan di lantai 1 itu.


Kafe-kafe di lantai 1 juga tampak nyaman dan menarik. Begitu melihatnya, pengunjung seolah ditarik masuk ke dalam untuk mencoba makanan yang ditawarkan.


Sebenarnya Nia penasaran juga ingin masuk ke dalam kafe-kafe itu, merasakan kenyamanan di dalamnya, mencicipi makanan-makanannya yang pastinya sangat lezat. Namun dia tak mau meminta macam-macam pada Ardian. Biarlah dia menuruti maksud utama Ardian saja tadi ke sini, yaitu membeli gaun pesta untuknya. Itu pun pasti akan mahal harganya dan menghabiskan duit Ardian. Dari mana pula Ardian memiliki duit untuk membeli gaun pesta untuknya nanti kalau bukan duit dari papa mamanya? Sedangkan Ardian sendiri tidak bekerja. Karena itu, Nia tak ingin Ardian menghabiskan duit lain untuknya dengan membawanya masuk ke kafe-kafe.


Karena perut Ardian sendiri masih kenyang, dia pun mengajak gadis itu duluan membeli baju di lantai atas dari mall itu. Mereka menaiki tangga eskalator lantai demi lantai untuk sampai di butik pilihan Ardian.


Seolah sudah langganan, Ardian disambut oleh pramuniaga cewek yang ada di butik itu. Dia melirik gadis sederhana yang dibawa pemuda tampan itu. Karena gadis itu datang bersama Ardian, dia pun disambut dengan ramah juga.


“Gaun pesta,” jawab Ardian pendek saat pramuniaga itu bertanya baju apa yang dicarinya.


Pramuniaga itu tampak berjalan ke tumpukan baju bagian gaun, memilih beberapa yang tampak cocok lalu membawanya ke hadapan Ardian dan Nia. Yang ini bagus, Dek,” katanya sambil tersenyum ramah. Dia memasangkan gaun itu di depan dada Nia dan mengangguk-angguk, memuji dengan kata-kata, “Pas sekali untuk pacar Adek ini,” katanya.


Apa? Pacar? Nia membelalakkan mata. “Aku bukan pacarnya,” kata Nia cepat.


Ardian mendehem.


Pramuniaga itu tersenyum. “Pokoknya cocok untuk Adek,” pujinya. “Cantik sekali gaunnya, cocok untuk Adek yang juga manis.”


Nia menggerakkan tangan, melihat harga yang tertera di baju gaun itu. Ya, ampun! Gaunnya seharga 7 digit dengan angka 2 di depannya. Itu berarti dua juta lebih.


“Nggak, aku nggak mau gaun ini. Nggak cocok untukku!” tolak Nia buru-buru sambil mendorong tangan pramuniaga itu menjauh dari dadanya.


“Wah, kalau begitu Adek maunya yang mana? Coba pilih sendiri. Di sini, Dek. Kemarilah,” pramuniaga itu masih tersenyum ramah dan sabar menghadapi sikap Nia yang agak terus terang.


“Nggak, nggak ada yang cocok!” katanya cepat. Nia merasa gaun mana pun yang dipilih nanti pasti harganya akan mahal juga seperti gaun pertama tadi. Menembus tujuh digit, bisa-bisa habis gaji sebulan bagi pegawai toko biasa.


Ardian berdiri memperhatikan adegan tawar-menawar dan tolak-menolak antara Nia dan pramuniaga butik itu. Merasakan gelagat Nia yang tak ada maksud memilih satu di antara sekian banyak gaun yang dipajang, Ardian pun mengambil sikap. “Sini! Biar aku yang pilihkan saja!” katanya.


Nia melihat Ardian memilah-milih gaun yang dipajang di butik itu. Setelah beberapa saat, dia menemukan satu yang cocok, berwarna merah. “Nah, yang ini cocok untukmu, Nia,” katanya sambil menyodorkan ke depan dada gadis itu.


Nia memegang gaun merah yang disodorkan Ardian. Gaun itu memang terlihat lebih cantik daripada gaun-gaun lainnya. Tapi begitu Nia melihat harga yang tertera, spontan dia menolak. “Jangan yang ini, Ardi. Mahal sekali, hampir 3 juta.”


:”Jadi kamu maunya yang harga berapa?” tanya Ardi seperti hilang kesabaran. Sepertinya, Nia ke butik baju ini bukan untuk memilih gaun yang cantik atau cocok, melainkan gaun yang murah! Begitu pikir Ardian.


“Yang biasa saja, Ardi, tapi lumayan bagus kan masih banyak,” kata Nia.


“Kalau begitu, kita ke butik lain sajalah,” kata Ardian sambil menggandeng tangan Nia menjauh dari pramuniaga yang sedang menunggu pilihan mereka berdua.


“Maaf ya, nggak jadi beli,” kata Ardian.


Nia terpelongo saat Ardian dengan cepat sudah menggandeng tangannya keluar dari butik itu. Sedangkan pramuniaga yang menemani mereka sedari tadi tak tahu lagi mimik wajahnya karena Ardian dan Nia berjalan pergi tanpa berani menoleh lagi.

__ADS_1


“Wah, sudah pilih begitu lama masih nggak jadi. Nggak enak sama pramuniaganya tadi,” kata Nia.


“Nggak apa-apalah, sudah biasa di mal ini lihat-lihat, tanya-tanya, nggak jadi beli.”


Ardian menggandeng tangan Nia memasuki satu butik yang tampaknya nggak semewah butik yang pertama tadi.


“Nah, pilihlah gaun yang kamu suka, Nia. Di sini harganya nggak begitu mahal,” kata Ardian seolah sudah biasa keluar masuk butik itu.


Nia melihat-lihat baju gaun yang dipajang, harganya memang lumayan, tapi tak semahal yang di butik pertama tadi.


“Aku mau yang ini saja,” kata Nia sambil memegang sebuah gaun berwarna biru laut.


Ardian melihat gaun yang dipilih Nia, harga yang tertera cuma 6 digit dengan angka 5 di depannya atau sekitar lima ratus ribu.


“Yang ini saja?” tanya Ardian memastikan.


“Iya, yang ini saja,” jawab Nia pasti.


Ardian menyuruh pramuniaga di butik itu membungkus gaun yang diinginkan Nia. Dibukanya dompetnya dan membayar harga yang tertera di kasir.


Nia mengambil baju gaunnya yang ditaruh dalam plastik asoy ber-merk toko butik itu. Setelah itu, dia dan Ardian pun melangkah keluar dari butik.


“Makan dululah,” kata Ardian. Dia mengajak Nia memasuki satu kafe yang menjual pizza. Ardian memilih tempat duduk paling ujung dan paling sudut.


Nia duduk di depannya, meletakkan bungkusan baju di kursi samping tempat duduknya.


“Kamu sudah pernah makan pizza?” tanya Ardian.


Nia mengedikkan bahu, antara pernah dan tidak maksudnya. Barangkali pernah tapi lupa. Atau tak pernah sama sekali.


Ardian memesan dua porsi pizza untuk Nia dan dirinya sendiri, berikut minuman jus.


Setelah makan pizza dan minum jus, Nia duduk bersandar memperhatikan sekeliling kafe.


Ardian telah selesai dengan makanannya juga dan mengajak Nia meninggalkan kafe itu.


“Kita mau ke mana sekarang?” tanya Nia.


“Jalan-jalan dululah, lihat-lihat. Filmnya agak siang baru tayang,” kata Ardian.


“Memangnya kita mau nonton film apa?” tanya Nia.


“Film keren, difilmkan dari sebuah novel laris yang ada di internet.”


“Ohya?” tanya Nia.


“Iya.”


“Jadi kita mau ke mana dulu sekarang?” tanya Nia terus.


“Ya jalan-jalan dululah,” kata Ardian.


Dibawanya Nia memasuki satu pusat elektronik yang menjual segala macam barang elektronik seperti televisi layar lebar, kulkas, mesin cuci, dispenser, laptop, dan sebagainya.


“Ohya, aku baru ingat belum membelikanmu handphone,” kata Ardian.


“Ponsel? Untukku?’

__ADS_1


“Iya, itu penting sekali,” jawab Ardian.


Dibawanya Nia mendekati satu stan yang menjual handphone merk Samsung. Ardian memilih seri yang cocok untuk Nia. Dia merasa, Samsung J4 Ace lumayan buat gadis itu. Setelah menyepakati harga, Ardian membayar dan menyerahkan hp android yang dibelinya itu pada Nia. “Untukmu,” katanya.


Nia sangsi menerimanya. Harga hp android itu lumayan mahal, 2 juta rupiah. Barusan tadi Ardian membelikannya gaun seharga 500 ribu, sekarang dibelikannya lagi hp android baru.


“Jangan merasa tak enak, Nia. Uangku berlebihan, daripada aku boroskan untuk teman-temanku tiap hari, bukankah lebih baik buatmu saja? Kamu memang belum punya gaun pesta, hp android, dan belum pernah juga merasakan enaknya jalan-jalan, makan-makan, dan shopping di mal.”


Nia menunduk, memperhatikan hp android di tangannya yang diserahkan Ardian tadi. Di sekolah, dia sering melihat teman-temannya membawa hp android yang bisa digunakan untuk internetan dan berselancar di dunia maya. Nia sering melihat mereka membuka akun-akun sosial mereka, seperti Facebook, Instagram, dan lain-lain. Selama ini, Nia hanya bisa melihat teman-temannya di sekolah asyik dengan gadgetnya masing-masing, sementara dia lebih banyak melihat buku-buku pelajaran dan mengerjakan pr.


Nia mengira, dia baru akan bisa membeli hp android seperti mereka setelah tamat SMA dan bekerja di toko. Menabung bulan demi bulan dari gaji yang diperoleh dan disisihkannya. Tak pernah terpikirkan olehnya kalau hari ini dia bisa tiba-tiba memiliki sebuah hp android merk Samsung yang paling dicari saat ini.


“Terima kasih, Ardi,” hanya itu yang terucap dari bibir Nia. Ucapan yang singkat, namun sangat tulus terdengar di telinga Ardian.


Ah, kasihan sekali Nia sebenarnya begitu menginginkan sebuah hp android juga seperti teman-teman sekolahnya, namun cuma dia seorang yang belum memilikinya sebelum datang ke Medan ini, sampai-sampai untuk mengetahui kabar ketibaannya di kota Medan pun, ibu Nia harus menghubungi ponsel Om Wisnu.


“Nanti aku ajari kamu menggunakannya. Ajari kamu men-download aneka macam aplikasi. Kayaknya kamu harus belajar menggunakan Facebook, Instagram, Line, WA, dan beberapa lagi,” kata Ardian.


“Untuk apa, Ardi? Aku toh tak punya banyak teman,” kata Nia.


“Justru itulah, tak punya banyak teman, dengan memiliki banyak akun sosial di dunia maya, kamu akan mengenal banyak teman baru dan mengetahui perkembangan mereka.”


“Tapi…”


“Tapi itu tak berhubungan denganmu, iya, kan?” sela Ardian .”Nggak apa-apa, kalau kamu nggak tertarik dengan perkembangan teman-temanmu, toh masih bisa mendapat banyak pengetahuan dan berita dari internet.”


Nia mengenggam hp android di tangannya.


Ardian menarik tangannya, membawa langkahnya mendekati kursi yang tampak di sekitar situ. Setelah sampai, Ardian menyuruh Nia duduk bersamanya. Di sanalah pemuda itu mengajari Nia mempergunakan hp android-nya dan mengutak-atiknya.


Tak terasa, waktu cepat berlalu dengan mengutak-atik gadget di tangan Nia.


Sebentar saja sudah sore dan saatnya film tayang.


Ardian mengajak Nia menuju studio film yang ada di mal itu. Setelah membeli karcis, mereka masuk ke dalam studio.


Ternyata di dalam studio film itu sangat menyenangkan juga. Semua yang dilaluinya hari ini terasa sangat menyenangkan.


Nia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi sofa yang ada di dalam studio. Pandangannya kadang beralih dari layar lebar yang terpampang di depannya ke Ardian yang duduk di sampingnya. Demikian juga Ardian berkali-kali mencuri pandang, melihat reaksi Nia menonton film yang sedang laris itu saat film itu sedang diputar.


Akhirnya, film itu pun selesai. Nia bangkit dari kursi sofa, begitu juga Ardian. Mereka berjalan keluar dari studio film bersama pengunjung-pengunjung lain.


“Aku mau ke toilet dulu, Ardi,” kata Nia saat keluar dari studio film.


“Toiletnya di sana,” tunjuk Ardian.


Nia menoleh ke arah yang ditunjuk Ardian, dititipkannya sesaat bawaannya di tangan pemuda itu lalu dia pun berjalan masuk ke dalam toilet wanita.


Sambil menunggu, Ardian bersandar di tembok studio. Hatinya terasa bahagia saat ini. Entah mengapa. Padahal hanya beberapa jam dia bersama Nia sejak pagi tadi sampai sore ini, namun rasa bahagia itu terasa menyeruak muncul menghiasi kisi-kisi hatinya. Kebahagiaan yang belum pernah dirasakannya selama 10 tahun ini.


Walaupun sudah bergonta-ganti teman dan cewek yang dibawanya jalan-jalan, namun saat bersama mereka hati Ardian terasa hampa. Kalaupun tidak hampa, adalah rasa kesal dan lelah.


Bersama Nia kali ini, tiada rasa lelah sedikit pun, malah tetap semangat, gembira. Bagian hatinya yang selama 10 tahun ini terasa hampa, terisi sedikit demi sedikit oleh kehadiran Nia.


Begitulah hari itu dilalui Ardian dan Nia di mal besar. Hari yang sangat bahagia bagi Ardian, begitu juga bagi Nia.


Keduanya sama-sama tersenyum saat tiba di rumah disambut Bik Aini dengan hidangan makan malam. Seolah sepasang kekasih yang baru habis memadu kasih, Ardian dan Nia saling lempar senyum ketika makan berdua.

__ADS_1


Bik Aini juga melihat mereka tak henti-hentinya saling mencuri pandang lalu menunduk senang. Ada apa gerangan? pikir Bik Aini.


* * *


__ADS_2