
Bab 122
"Jadi gimana, Pak?" Ayu memberanikan diri bertanya setelah melihat Ardian diam saja.
Ardian mengangkat wajahnya, menatap Ayu dengan tatapan bersalah. "Jadi, kita tak bisa lagi dekat, Yu," jawab Ardian.
Ayu terpana. "Maksud Bapak?" tanyanya sambil meneguk ludah.
"Jadi... mungkin mulai besok... kita menjauh saja," kata Ardian.
Ayu membelalakkan mata. Berusaha mencerna maksud Ardian. Tak bisa lagi dekat, menjauh saja. Jadi? Jadi berarti hubungannya dengan Ardian akan berakhir mulai besok?
Ayu menggeleng-geleng. Merasa tak mengerti sama sekali. Tak mungkin maksud Ardian adalah mengakhiri hubungan mereka yang sudah demikian dekat selama setahun ini.
"Jangan khawatir, Yu. Kamu tetap bisa bekerja di perusahaan. Gajimu akan dinaikkan karena kerajinanmu selama ini," kata Ardian seolah berusaha menghibur gadis itu atau mengusir rasa bersalahnya.
"Ohya? Terima kasih, Pak Ardian," hanya itu yang bisa diucapkan Ayu. Setelahnya dia menunduk dengan wajah sedih tak terkira.
Seharusnya kenaikan gaji setiap bulan ini disambutnya dengan hati riang gembira. Tapi entah kenapa hatinya malah merasa sedih. Dia merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Sesuatu yang sangat berharga, yang tak bisa diganti dengan kenaikan gaji berapa pun jumlahnya.
"Sori, Yu. Aku tak bisa mengantarmu pulang. Kamu bisa pulang sendiri?" tanya Ardian hati-hati. Matanya memandang iba wajah Ayu yang tertunduk.
Segalanya memang harus diselesaikan sekarang sebelum Nia selesai mandi dan kembali di antara mereka. Nia pasti akan mencari Ardian sampai ke sini bila tak menemukannya di ruang tamu. Dia akan heran bila melihat Ardian kembali berbincang-bincang penuh misteri dengan gadis ayu yang katanya cleaning service di kantor yang sedang menggantikan tugas Bik Aini itu.
__ADS_1
"Iya, bisa, Pak!" jawab Ayu cepat. Dia mengangkat wajahnya dan menatap Ardian dengan sorot mata tajam yang berkaca-kaca. Ada bulir-bulir air mata yang tampak menggenang di bola mata besar bundar nan indah.
"Kamu akan naik apa pulang?" tanya Ardian.
"Bapak tak usah pedulikan aku. Aku bisa pulang sendiri," jawab Ayu cepat. "Aku akan pulang sekarang, Pak Ardian. Permisi!" sambung Ayu lalu membalikkan tubuhnya meninggalkan ruang dapur.
Ardian terpana. Gadis itu tampak marah, kecewa, dan pasrah tapi berusaha tetap tegar. Langkahnya sedikit terhuyung saat Ardian mengantar kepergiannya dengan pandangan mata kasihan. Hanya punggung gadis itu yang bisa dilihat Ardian. Karena wajahnya yang kemudian berlinangan air mata sudah luput dari perhatiannya.
Ayu terus melangkah meninggalkan ruang dapur dengan tubuh gemetar. Kedua kakinya terasa tak bertenaga menginjak lantai hingga membuatnya seolah hendak tumbang. Hatinya sangat sakit seperti dihunjam beribu-ribu belati tajam. Membuatnya luka dan berdarah-darah. Ayu tak tahu bagaimana dia bisa membalut luka itu nanti. Dia tak peduli. Yang penting sekarang dia harus segera meninggalkan villa Ardian sebelum teman masa kecil Ardian yang bernama Nia itu muncul kembali di hadapannya.
Ardian benar-benar tak mengantar kepergian Ayu sampai ke depan pintu masuk. Dia hanya duduk termangu di belakang meja makan. Tak tahu harus berbuat apa selain diam dan melamun.
Rasanya memang tak pantas dia mengecewakan gadis cleaning service yang telah menyelamatkan dirinya dan menemaninya selama setahun ini. Gadis itu yang mengisi kekosongan hatinya selama ditinggalkan Nia. Memberinya semangat, menghibur hatinya hingga dia bisa tersenyum dan tertawa di saat nelangsa. Tapi sekarang, dengan begitu kejamnya dia mencampakkan gadis itu setelah apa yang sempat kosong selama setahun itu kembali mengisi relung hatinya. Egoiskah dirinya? Bersalahkah dia?
Kenapa dia harus kembali? Kenapa gadis sahabat masa kecil Pak Ardian itu harus kembali? Kenapa dia tidak baik-baik tinggal di kampung halamannya saja, melupakan Medan, melupakan Ardian, dan membiarkan cowok itu bahagia bersamanya? Kenapa harus kembali? Rasanya sangat tidak adil dan sia-sia pengorbanan Ayu selama ini. Sekarang dia merasa diri begitu naif telah berani berharap dan bermimpi besar menjadi pendamping Ardian.
Ayu sudah sampai di depan gerbang. Gadis itu berjalan meninggalkan villa Ardian dengan langkah gontai. Tatapan matanya lesu tak berdaya. Pipinya basah oleh genangan air mata yang tercurah dari hatinya yang luka.
Ayu terus berjalan menyusuri kompleks pervillaan elit yang tampak sunyi di Minggu sore. Hanya beberapa mobil yang melaju masuk keluar di dalam kompleks itu selama beberapa menit sekali.
Ayu sama sekali tak menghiraukan mobil-mobil yang lewat di sampingnya. Dia terus berjalan dengan pandangan lurus ke depan tapi tatapan matanya kosong. Seperti raga yang kehilangan jiwa, itulah Ayu sekarang.
Sementara itu di villa. Ardian masih duduk termangu di kursi makan. Dia belum bisa menyesuaikan diri dengan perubahan mendadak yang terjadi barusan. Rasanya seperti mimpi. Sebelum kedatangan Nia, dia bersama Ayu. Setelah kedatangan Nia, dia melepaskan Ayu dan bersama Nia. Perubahan besar dalam sehari.
__ADS_1
"Ardi!" suara panggilan Nia yang muncul di ruang dapur menyentakkan Ardian dari lamunan.
Dengan cepat Ardian mengangkat kepalanya dan menoleh pada gadis ramping yang berjalan mendekatinya.
"Aku mencarimu di ruang tamu tadi. Rupanya kamu di sini," kata Nia.
Ardian tersadar. Dia menghadirkan seulas senyum kecil yang menghalau kecurigaan Nia. "Iya, aku ke sini sebentar untuk menyuruh Ayu pulang karena pekerjaannya sudah selesai," jelas Ardian antara bohong dan jujur.
"Oh? Gadis yang tadi di sinikah? Yang memasak nasi goreng untuk kita?" tanya Nia.
Ardian mengangguk.
"Hmmm," Nia menarik napas panjang. Ada keraguan yang masih mengganjal di hatinya. Tak bisa dipungkiri kalau dalam hatinya memang ada rasa curiga pada gadis itu. Dia menebak ada hubungan spesial antara Ardian dengan gadis manis yang tampak sangat cantik dan seksi itu.
"Namanya Ayu ya, Ardi? Dia sangat manis ya? Aku tak mengira dia bekerja sebagai cleaning service di kantormu," jujur Nia.
"Begitukah?" Ardian menatap Nia.
"Iya, katamu dia menggantikan sementara tugas Bik Aini di rumah ini. Berarti besok lusa dia masih akan datang lagikah untuk bersih-bersih dan memasak untuk kita?" tanya Nia tanpa bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya.
Ups! Ardian baru tersadar kalau tadi dia bilang ke Nia, Ayu sementara menggantikan tugas Bik Aini. Berati besok lusa Ayu harus datang lagi ke sini untuk melanjutkan tugasnya. Bagaimana bisa dia lupa? Haduh. Gawat. Nia bisa curiga Ardian berbohong kalau Ayu tak datang untuk bersih-bersih besok.
* * *
__ADS_1