
Bab 74
Shella dan Ardian sudah selesai makan. Mereka keluar dari hotel menuju mobil yang diparkir. Ardian duduk di belakang stir dan bersiap-siap menjalankan mobilnya dengan Shella di sampingnya.
"Langsung ke rumah Nia ya, Pak?" tanya Shella.
"Iya," jawab Ardian.
Mobil pun bergerak menuju rumah Nia yang terletak di kawasan S. Dengki. Beberapa saat Shella dan Ardian duduk membisu di dalam mobil. Ketika mobil sampai di depan rumah Nia, Shella baru membuka mulut, "Ini rumahnya, Pak?"
"Iya," jawab Ardian lagi.
"Kok sunyi ya, Pak? Apa nggak ada orang di rumah?" Shella celingak-celinguk memperhatikan rumah yang tampak sunyi itu.
"Turun yuk, Pak. Kita ketuk pintunya."
Ardian terlihat ragu.
"Ayolah, Pak," Shella memberi semangat pada cowok itu.
Ardian pun dengan hati-hati turun dari mobilnya dan berjalan mendekati pintu rumah itu. Rumah yang dulu akrab dengannya. Apalagi rumah yang di sebelahnya malah pernah ditinggalinya selama 10 tahun.
Shella dan Ardian sudah berdiri di depan pintu. Melihat Ardian tak bereaksi, Shella mengambil inisiatif mengetuk pintu rumah itu.
Sambil mengetuk pintu, Shella mengucapkan salam, namun tak terdengar jawaban dari dalam. Tidak ada orang datang membuka pintu yang tertutup rapat itu.
"Nggak ada orang di rumah, Pak," kata Shella melirik Ardian di sampingnya.
Ardian menghela napas berat. Dia menaikkan tangannya dan mulai mengetuk pintu itu juga. "Nia... Nia...," panggilnya 2 kali namun tiada jawaban.
__ADS_1
"Kayaknya memang nggak ada orang di rumah," ulang Shella.
Ardian terlihat penasaran dan tak puas. Dia kecewa karena kepulangannya ke Tanjungbalai tak berhasil menjumpai Nia. Oh, Nia, di manakah kamu? pekik hatinya.
"Gimana, Pak? Kita harus menunggu di sini atau gimana?" Shella meminta pendapat Ardian.
Ardian menarik napas panjang lalu mengembuskannya dengan berat. Ditolehkannya kepala ke samping kiri, melihat pada hamparan air di tepi sungai yang mana dulu dia dan Nia sering berenang di sana. Kenangan masa kecil itu melintas lagi di benaknya.
"Kita pulang saja," kata Ardian. Mimik wajahnya mengambarkan kekecewaan.
"Wah, jadinya sia-sia dong kita ke sini, Pak? Sudah jauh-jauh datang hasilnya nihil. Huh!" Shella mengeluh.
Ardian menatapnya sesaat. "Ayolah, aku bawa kamu jalan-jalan," katanya.
"Serius nih, Pak?" mata Shella membesar. Ada binar-binar kegembiraan di situ.
"Iya."
"Ikut saja," kata Ardian.
Shella.dan Ardian kembali ke dalam mobil. Ardian segera menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Beberapa puluh menit kemudian mereka sampai di sebuah tempat yang mana terdapat sungai panjang dan lebar di sana. Satu sisi dari sungai Asahan yang bisa dinikmati dengan santai.
Suasana di situ terasa adem dan sejuk karena ada pepohonan yang tumbuh di tepi sungai itu. Bahkan ada tempat duduk dari batu buat para pengunjung yang ingin rehat memandang hamparan air atau bercengkerama di situ.
"Wah... enak sekali di sini, Pak," Shella tersenyum lebar dan senang saat mendudukkan dirinya di atas tempat duduk yang terbuat dari batu.
Ardian duduk di sampingnya lalu mengeluarkan hp-nya. Di benaknya terlintas pikiran untuk menelepon ke hp Nia, tapi sangsi bisa-bisa cowok yang mengaku pacar Nia itu lagi yang mengangkatnya. Karena itu dia tak melaksanakan niatnya dan hanya mengutak-atik hp-nya saja.
__ADS_1
Shella juga mengeluarkan hp-nya, namun dia menggunakannya untuk memotret dirinya sendiri alias selfie di tepi sungai. Dia selfie dari berbagai sudut sampai-sampai Ardian yang sedang duduk melihati hp-nya pun ikut terjepret.
Ardian menutup hp-nya dan menyimpannya kembali ke dalam saku celananya. Saat dia hendak bangkit dan mengajak Shella pergi dari situ, matanya secara tak sengaja terpaku pada satu arah.
Ardian terpana. Dia melihat Nia bersama seorang cowok seusia dirinya. Di dekat mereka juga ada seorang wanita setengah abad yang duduk di kursi roda. Ardian mengenali itu adalah Bu Rani, ibunya Nia. Tentu saja Ardian tahu dan ingat karena pernah bertetangga lama dengan Bu Rani. Ardian juga pernah mengunjunginya saat dia dan Nia pulkam ke Tanjungbalai beberapa tahun lalu.
Ardian menajamkan penglihatannya untuk memastikan kalau itu adalah Nia dan ibunya karena jaraknya dengan mereka cukup jauh, sekitar 10 meter. Mereka baru datang dari arah gerbang masuk dan berjalan ke arah yang menyamping dari tempat duduk Ardian. Jadi cowok yang bersama Nia itu mendorong kursi roda Bu Rani menjauh dari Ardian dan Shella sampai jarak mereka sekarang sekitar 20 meter.
Seandainya saja tadi cowok itu mendorong kursi roda Bu Rani ke arah tempat duduk Ardian, pasti akan bertemu dengan Ardian dan Shella. Bahkan sangat mungkin Nia akan melihat Ardian lalu menyapanya. Sayangnya, cowok itu mendorong kursi roda Bu Rani ke arah kanan begitu masuk dari gerbang, sedangkan Ardian dan Shella ada di sebelah kiri dari gerbang.
Ardian terus memperhatikan mereka bertiga dari kejauhan. Dia melihat sepertinya Nia tidak jauh berubah, hanya terlihat agak kurusan. Sedangkan cowok yang berdiri di sampingnya terlihat semangat dan penuh kegembiraan. Ibunya Nia juga seperti bahagia menikmati kebersamaan bersama putrinya dan cowok yang di samping Nia itu.
Siapa cowok itu? tanya Ardian dalam hati. Melihat keakraban mereka yang tampak senang dan tenang menikmati panorama di tepi sungai, membuat dada Ardian bergejolak. Seperti ada rasa cemburu. Nia ternyata bisa gembira juga di sisi cowok lain.
"Kenapa, Pak?" setelah puas berselfie-ria, Shella baru menyadari kalau Ardian sedang fokus menatap ke satu tempat. Cowok itu tampak serius namun raut wajahnya tak senang. Ekspresi wajahnya seperti menahan kerinduan yang bercampur kecemburuan.
Shella ikut memandang ke arah yang ditatap Ardian dari jauh. Keningnya berkerut. Di kejauhan dia melihat ada 3 orang sedang duduk menikmati panorama tepi sungai Asahan. Yang 1 wanita setengah abad duduk di kursi roda, yang 2 lagi sepasang muda-mudi sebaya Ardian duduk di tempat duduk batu seperti mereka.
"Bapak kenal mereka?" tanya Shella lalu mengalihkan perhatiannya ke Ardian.
"Itu Nia dan ibunya," kata Ardian. Suaranya kecil dan lemas.
"Wow!" reaksi Shella. Dia kembali melihat ke arah mereka bertiga. "Lalu, yang cowok itu siapa, Pak?" tanyanya penasaran. "Yang duduk di samping Nia?"
Shella sudah berdiri dan menghadap ke arah tersebut sehingga dia bisa melihat lebih jelas.
"Nggak tahu. Barangkali pacarnya," tebak Ardian antara percaya dan tidak.
"Pacar Nia? Pacar Nia yang bernama Riko itukah, Pak? Yang kemarin kita dengar ceritanya dari tetangga Pak Ardian itu?" Shella memastikan.
__ADS_1
Ardian mengedikkan bahu pertanda tak tahu. Hatinya benar-benar dongkol melihat pemandangan di kejauhan itu. Ingin dia marah tapi tak tahu harus marah pada siapa.
* * *