Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Pesan Ayu pada Willy


__ADS_3

Bab 92


"Benar ya, Wil, kamu nggak akan mengkhianatiku dengan Riana?" Ayu pura-pura memastikan hal itu padahal dia tahu jelas hati Willy hanya ada padanya. Sampai kapan pun pemuda itu akan tetap setia dan mencintainya.


"Iya, Yu. Aku tak akan pernah menyukai apalagi mencintai gadis lain selain dirimu," jawab Willy pasti.


"Baiklah, kalau begitu kamu harus dengar baik-baik pesanku yang ini," Ayu mengetik di hp.


"Pesan? Pesan apa, Yu? Aku siap mendengarkan," Willy penasaran.


"Kamu... mana tahu suatu hari nanti kamu bertemu Riana secara tak sengaja atau dia datang mencarimu, kamu harus ingat pesanku ini," Ayu mewanti-wanti.


"Iya, Yu?" tunggu Willy.


"Jangan pernah kamu meladeninya. Kalau dia mengajakmu bicara cepat menyingkir. Segera pergi supaya dia tak bisa mendekatimu."


"Kenapa...," Willy batal mengetik kata itu. Dia menghapusnya kembali. Sebagai gantinya dia mengetik, "Baik, Yu."


"Kamu janji padaku ya. Kalau aku tahu kamu bicara dengannya aku akan menganggapmu ada hati padanya," ancam Ayu.


Hah? Sekali lagi Willy terperanjat. Kenapa tiba-tiba Ayu meragukan kesetiaan cintanya dan ketulusan dirinya? Sudah dua kali dia mengucapkan kalimat yang meragukan cinta Willy padanya.


"Pasti tidak, Yu. Aku tak akan bicara dengan Riana di mana pun dan kapan pun," yakin Willy.


"Syukurlah," Ayu bernapas lega. "Aku hanya takut Riana merebut perhatianmu. Aku takut dia merebutmu seperti mimpi burukku itu."


"Tidak, Yu. Jelas tidak," Willy memastikan.

__ADS_1


"Baiklah, Wil. Aku ngantuk. Mau bobok," kata Ayu.


"Iya, Yu. Sudah larut. Selamat bobok," Willy mengakhiri pembicaraan.


Ayu menarik napas lega dan menutup hp android-nya. Willy orangnya jujur dan bisa dipercaya. Dia pasti akan mengingat pesanku, pikir Ayu.


Berpikir demikian, Ayu pun segera membereskan meja dan mencuci piringnya di bak cuci piring. Setelah selesai dia masuk ke kamar dan membaringkan diri di tilam yang ditaruh di atas lantai. Ayu mencoba memejamkan mata dan melupakan masalahnya hari ini, yaitu pertengkaran sengitnya dengan Riana tadi.


Sementara itu di rumah Willy, cowok itu baru bisa memejamkan mata dengan lega setelah berbicara dengan gadisnya.


Keesokan paginya Willy bangun dengan semangat. Dia bersiap-siap menjemput Ayu pergi kerja hari ini seperti hari-hari lalu. Kemarin seharian dia tak bertemu Ayu karena pacarnya itu melarangnya berkunjung ke rumah. Ayu juga membatalkan rencana jalan-jalan mereka ke tempat wisata yang baru dibuka di luar kota. Bahkan Ayu berpesan padanya untuk di rumah saja, tidak keluyuran ke mana-mana.


Apa pun kata Ayu, Willy mendengarkannya. Apa pun pesan Ayu, Willy mengingatnya. Apa pun perintah Ayu, Willy menjalankannya. Dan apa pun larangan Ayu, Willy mematuhinya. Begitulah besarnya rasa cinta dan pengertian Willy pada gadis itu.


Pagi-pagi sebelum pukul tujuh Willy sudah tiba di rumah Ayu. Dia menunggu Ayu di atas sepeda motornya karena biasanya Ayu akan keluar sendiri begitu mendengar deru mesin sepeda motor Willy.


"Willy sudah datang jemput, Yu," ibu Ayu yang melongok lewat pintu yang terbuka memberi tahu putrinya kalau pacar putrinya itu sudah datang menjemput.


Sebenarnya Ayu sudah siap mandi dan berpakaian sejak tadi, tapi karena dia membongkar barang-barang belanjaannya yang dibelikan Ardian kemarin, jadinya terlambat keluar rumah.


Begitu Ayu muncul di ambang pintu, Willy pun bernapas lega. Segera dia mengambil helm Ayu, bersiap-siap menyerahkannya pada gadis itu.


Setelah Ayu duduk di boncengan, Willy pun mengengkol motornya dan menjalankannya perlahan menuju perusahaan tempat Ayu bekerja.


Sepanjang perjalanan Willy dan Ayu tak bicara apa-apa. Memang begitu biasanya, Willy hanya akan bicara bila Ayu memulainya. Kalau Ayu diam saja itu artinya dia sedang tak ingin bicara dan Willy harus memahaminya.


Mulai dari berangkat sampai tiba di perusahaan, Ayu tak bicara apa-apa pada Willy. Gadis itu tak mengungkit sama sekali perihal pembicaraan mereka tengah malam tadi lewat chat WA. Apalagi mengungkit soal Riana.

__ADS_1


Padahal Willy ingin tahu lebih banyak apa yang dikerjakan Ayu kemarin. Apakah dia keluar rumah atau di rumah saja? Lalu bagaimana bisa dia tiba-tiba bermimpi buruk Riana datang menganggu hubungannya dengan Willy? Kata Ayu dia bermimpi Riana datang merebut Willy darinya.


Ah, rasa ingin tahu Willy tak terjawab. Ayu tetap diam sampai mereka tiba di tempat yang biasa, tempat di mana Willy menghentikan motornya yang


berjarak belasan meter dari gerbang depan perusahaan Ardian.


Willy tak diizinkan Ayu mengantar jemput pas di depan gerbang atau bahkan di halaman gedung karena gadis itu takut bila sewaktu-waktu Ardian akan memergokinya. Kalau pun bukan Ardian yang memergokinya, bisa saja Pak Satpam yang melihatnya dibonceng Willy cerita pada Ardian.


Ayu membuka helm yang di kepalanya lalu menyerahkan pada Willy. Kemudian dia cepat-cepat berjalan meninggalkan Willy yang masih duduk di atas sepeda motornya memperhatikan gadis itu melangkah pergi.


Hmmm... sepertinya ada yang aneh dengan Ayu kemarin dan hari ini. Willy tak bisa menebak, hanya merasa gadisnya itu enggan bicara dengannya ditambah tak mau menatapnya. Tak tahu kenapa. Apakah karena mimpi buruknya itu? Ah, alasan yang sangat janggal dan tak masuk akal karena itu hanyalah sebuah mimpi.


Lalu, apa salahku? tanya Willy dalam hati. Kenapa Ayu mendiamkanku dan sikapnya tiba-tiba dingin padaku hari ini? Walaupun sehari-harinya Ayu juga tak bersikap hangat padanya, namun setidaknya tidak sedingin hari ini.


Ayu masuk melalui gerbang utama. Dia melempar senyum ramah pada Pak Satpam yang duduk berjaga di pos satpam.


Begitulah orang-orang, lebih sering mengucapkan salam dan bersikap baik pada orang lain daripada kepada orang-sendiri. Pada Willy yang menjemputnya tadi saja Ayu tak sempat mengucapkan salam apalagi sampai melemparkan senyum.


Ayu merupakan orang pertama yang hadir di perusahaan setelah Pak Satpam yang di pintu gerbang berikut yang di pintu masuk utama. Temannya sesama cleaning service belum datang.


"Wah, pagi ini wajahmu cerah sekali, Yu," sambut Pak Satpam yang duduk di samping pintu masuk utama.


"Ah, masa sih, Pak?" wajah Ayu bersemu marah.


"Iya lho, Yu, nampak senang dan bersemangat. Lain dari biasanya," Pak Satpam memperhatikan Ayu sambil melempar senyum juga.


""Hahaha, Bapak bisa saja," Ayu ketawa lepas lalu berjalan masuk menuju ruang dapur yang menjadi markas kebesarannya selama bekerja di perusahaan Ardian.

__ADS_1


* * *


__ADS_2