Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Ardian Masuk ke Perusahaan


__ADS_3

Bab 24


Ardian melangkahkan kakinya memasuki gedung perusahaan yang dimiliki keluarga Tante Siska. Karena papa Ardian, Om Wisnu sudah menikahi Tante Siska yang tak memiliki anak selama belasan tahun, otomatis Ardian menjadi pewaris tunggal dari pemilik perusahaan.


Dengan stelan kemeja putih dilengkapi dasi panjang dan celana panjang hitam, Ardian tampak dewasa di usianya yang masih 20 tahun. Sekarang Ardian duduk di semester terakhir perkuliahan dan sedang menyusun skripsi. Beberapa mata kuliah sudah berhasil dirampungkannya lebih awal dan sekarang tinggal sedikit mata kuliah yang diambil sehingga dia memiliki banyak waktu luang.


Karena itu, Om Wisnu dan Tante Siska memutuskan untuk mulai memasukkan Ardian ke perusahaan untuk belajar menangani dan mengurusi seluk-beluk di dalamnya. Om Wisnu dan Tante Siska sengaja melancong ke berbagai negara dan membiarkan Ardian meng-handle perusahaan.


Ini hari pertama dan juga kali pertama Ardian menginjakkan kaki ke perusahaan setelah dewasa. Sebelumnya, beberapa kali dia dibawa jalan-jalan ke perusahaan oleh Om Wisnu saat usianya masih kanak-kanak. Setelah itu lama sekali dia tak pernah lagi berkunjung ke sini. Sampai hari ini…


“Selamat datang, Pak,” sapa petugas keamanan yang berjaga-jaga di sekitar halaman gedung perkantoran itu.


Begitu juga para karyawan dan cleaning service yang kebetulan berpapasan dengan Ardian, langsung menganggukkan kepala memberi hormat dan mengucapkan salam.


Sebelumnya, mereka sudah diberi tahu bakal datang anak dari pemilik perusahaan yang bernama Ardian. Usianya masih muda dan tampan, tak salah lagi itu pastilah dia. Karena kalau karyawan lainnya, mereka sudah tahu satu sama lain selain Ardian yang baru pertama kali datang lagi ke perusahaan setelah sekian tahun.


Mobil Ardian atau mobilnya anak boss pastilah parkir di halaman depan dari gedung perkantoran ini supaya lebih mudah baginya saat hendak memarkir dan menjalankannya. Tempat parkir khusus persis di depan samping kanan pintu kaca yang lebar dan tinggi. Hanya memakan tempat sedikit karena hanya mobil boss atau anak boss yang boleh parkir di situ.


Jadi ketika mobilnya sampai tadi sekitar pukul 09.00 WIB dan parkir di depan gedung, spontan para karyawan berbisik-bisik, membetulkan gerak-gerik, dan sibuk mencuri lirik pada sosok muda yang menurut mereka amat tampan itu.


Selain amat tampan, tubuhnya yang tinggi kekar mencapai 185 cm pun sangat mencuri perhatian. Apalagi gerak-geriknya yang cool dan pandangan matanya yang tajam menusuk, hati cewek mana pun meleleh dibuatnya.


“Ampuuun…! Ardian! Ardian!” pekik 3 cewek muda yang merupakan resepsionis di perusahaan itu.

__ADS_1


Ketika Ardian turun dari mobil sedan hitam tadi, mereka sudah menjerit histeris melihat sosoknya. Apalagi saat dengan gerak-gerik cool dan pandangan mata tajam dia mulai melangkah memasuki gedung yang pintu kacanya dibukakan petugas keamanan di situ. Petugas keamanan itu memberi salam selamat pagi sambil membungkukkan badan.


“Oh, my prince charming, aku rela hari terakhirku hanya bersamamu,” kata seorang di antara mereka.


“Pangeranku… Pangeran impianku, aku mau pingsan di pelukanmu,” kata yang satu lagi.


“Aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama, pangeranku,” yang satu lagi tak mau kalah.


“Woi, cepat kerja, tuh, Pak Ardian sudah berjalan ke sini,” seorang karyawan yang kebetulan lewat di depan meja resepsionis memberi peringatan.


“Selamat pagi, Pak!” sapa beberapa karyawan cowok yang berpapasan dengan Ardian di dekat pintu masuk. Mereka mondar-mondar di lantai 1 gedung sambil memegang berkas-berkas.


Ardian tak menjawab, melirik pun tidak. Matanya terus bersorot tajam ke depan, membuat dag-dig-dug hati para karyawan yang menatapnya.. Kesan pertama, anak boss mereka itu sangat dingin dan angkuh.


Ardian mulanya hendak langsung ke lantai 2 gedung seperti yang dipesankan papanya, ruangan kantornya ada di lantai 2. Tapi ketika tak sengaja matanya melihat ada sekumpulan 3 cewek berpakaian seragam di meja resepsionis yang sedang berbisik-bisik sambil melihati dirinya, Ardian membelokkan kakinya berjalan ke arah mereka.


“Aduh, gimana, nih, pakaianku sudah rapi belum? Rambutku?”


“Ah, kau pun! Nggak ada waktu lagi. Yang benar berdirinya.”


Dengan gugup ketiganya pun berdiri menyambut anak boss alias Ardian yang langkahnya sudah sampai di depan mereka.


“Selamat pagi, Pak…!” sapa ketiganya.

__ADS_1


Mendengar sapaan penuh semangat yang diiringi senyum manis dari ketiga resepsionis yang juga manis-manis itu, membuat Ardian yang semula ingin melabrak mereka dengan berkata, “Apa lihat-lihat?!” batal menjalankan aksinya.


“Iya, pagi,” jawab Ardian singkat, melirik sekilas ketiganya, lalu berbelok kembali menuju ke arah tangga yang lebar dan melingkar.


“Itulah, gara-gara kamu! Lihat-lihat dan bisik-bisik saja dari tadi, Pak Ardian kan jadi curiga kita gosipin dia,” yang satu menyalahkan 2 temannya.


“Kau pun sama saja, senyum-senyum dan menjerit histeris sampai jeritanmu pun sampai di telinga Pak Ardian,” balas yang satu lagi.


“Aaaa… sama saja kita ini. Siapa sih yang tak histeris melihat Pak Ardian yang tampannya kayak bintang film Korea itu? Saingannya Lee Min Hoo gitu, lho.”


“Kerja, woi, kerja, woi!” seorang karyawan cowok yang memegang berkas-berkas di tangannya lewat di depan mereka dan memberi teguran. “Asyik menggosip saja, kapan kerjanya?” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Langkah Ardian sampai di lantai 2 gedung. Di sana, lagi-lagi dia disambut dengan sapaan ramah dan sopan dari para karyawan baik cowok maupun cewek. Semuanya kelihatan rapi dengan pakaian seragam, rambut yang disisir, disanggul, atau dibiarkan terurai lepas. Bibir-bibir mereka membentuk senyum sumringah dan wajah pun ramah bersahabat, tampak bersemangat di pagi yang cerah.


“Pak Ardian?” seorang karyawati yang agak berumur menyapa Ardian. Umurnya sekitar 40 tahun dan memakai kacamata minus. Rambutnya disanggul rapi, pakaian seragamnya lain warna dari para karyawati lain, dan sepatunya bertumit tinggi, berwarna hitam mengilap.


Ardian meliriknya sekilas. Kalau tidak salah, ini adalah kepala karyawan di perusahaan ini yang namanya… aduh… Ardian lupa! Padahal sebelum ke luar negeri bersama Tante Siska, Om Wisnu sudah berpesan siapa namanya itu yang akan menuntun Ardian di perusahaan nanti. Seorang senior yang sudah mengabdi di perusahaan selama 20 tahun.


“Kenalkan, Pak, saya Minarni, kepala karyawan di sini,” dia mengulurkan tangan.


Ardian tak membalas uluran tangannya, hanya menjawab sekilas, “Iya, saya tahu,” katanya.


Memang begitu sifat Ardian, tak suka sembarang bersentuhan tangan dengan siapapun. Dan bila memandang seseorang, juga hanya sekilas. Terkesan sangat angkuh.

__ADS_1


Minarni menarik napas panjang karena uluran tangannya tak disambut Ardian. Apalagi di usianya yang 2 kali lipat dari usia Ardian, selayaknya sosok di depannya ini walaupun kedudukannya atau jabatannya lebih tinggi daripadanya, tetap harus bersikap sopan dan ramah. Tidak ketus atau angkuh seperti ini. Apa boleh buat, Minarni hanya mampu menahan dalam hati kekesalannya dan menarik napas panjang.


* * *


__ADS_2