Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Willy Mengajak Ayu ke Taman


__ADS_3

Bab 105


Willy menunggu Ayu di tempat yang biasa. Sebentar lagi Ayu bakal datang naik ke boncengannya untuk diantar pulang.


Hati Willy sangat tidak tenang. Berdebar terus sedari tadi sesampainya di tempat menunggu. Detik-detik menunggu Ayu pulang kerja dan berjalan ke tempat biasa adalah detik-detik yang teramat berat baginya.


Hatinya dipenuhi perang batin. Setelah mendengar pendapat Santi dan rekan kerjanya, Willy memutuskan untuk tidak mengikuti saran keduanya.


Saran Santi untuk bertanya langsung pada Ayu tak bisa dilakukannya. Bila dia menginterogasi Ayu dan gadis itu mengakuinya, akan sangat menyakitkan baginya. Berarti benar cerita Riana. Sedangkan bila gadis itu tak mengakuinya, hati Willy pun akan tetap sangsi.


Di pihak Ayu, bila dia merasa Willy tak lagi mempercayainya, gadis itu akan sangat marah dan Willy tak berani membayangkan apa tindakan yang akan diambil Ayu bila merasa Willy mencurigainya.


Memarah-marahi dan mencaci-maki Ayu lebih tidak mungkin lagi. Sedangkan berkata sedikit kasar saja Willy tak pernah, apalagi memarah-memarahi dan mencaci-makinya. Willy sangat menjaga perasaan Ayu supaya tetap merasa nyaman dan tenang di sisinya. Mana tega dia menyakiti hati Ayu. Kalau bisa, biarlah dia saja yang terluka dan tak tenang, tapi Ayu jangan.


Begitulah besarnya rasa cinta dan sayang Willy ke Ayu. Cintanya bukan cinta yang egois untuk dibahagiakan, melainkan cinta sejati untuk membahagiakan.


Tapi jujur, dia memang tak bisa melepaskan Ayu. Dia tak mungkin bisa hidup tanpa gadis itu. Dia tak sanggup kehilangannya. Bagaimana pun, Ayu harus tetap menjadi soulmate-nya sampai kapan pun walaupun pengorbanan yang dilakukan Willy sangat berat dan menyakitkan.


Sainganku adalah boss-nya Ayu. Anak big boss, pemilik perusahaan tempat Ayu bekerja. Willy merasa, dia tidak berada di posisi yang menguntungkan jadi tak boleh gegabah.


Bayangkan, bila Ayu mengakui di depan Willy perselingkuhannya dengan Ardian, maka dia tinggal bilang ke Willy, "Iya, aku jalan sama boss-ku. Sama Pak Ardian yang jauh lebih tampan dan kaya dibandingkan dirimu yang tak punya masa depan cerah. Jadi, terserah jika kamu mau memutuskanku."


Wah, jadinya Ayu makin senanglah dan bebas bisa sepunuhnya bersama boss-nya. Willy hanya akan gigit jari karena salah mengambil langkah.


Jadi yang harus kulakukan adalah membuat Ayu meninggalkan boss-nya itu dan menjadi milikku seutuhnya. Tidak boleh ada Ardian lagi di hubungan mereka.

__ADS_1


Aku tidak boleh merusak hubunganku dengan Ayu yang sudah berjalan langgeng selama 6 tahun ini. Aku sudah begitu baik, pehatian, sayang, dan setia pada Ayu, tak mungkin Ayu tak menghargai semua itu. Dia hanya khilaf dan merasa bosan sesaat lalu terpikir mengganti suasana baru tapi akhirnya dia pasti akan kembali kepadaku. Akulah soulmate-nya, bukan Pak Ardian.


Aku tahu inilah satu-satunya cara supaya Ayu tak lagi dekat dengan boss-nya dan menjadi milikku seutuhnya. Ya, inilah satu-satunya cara yang tepat, bisik Willy dalam hati.


Hati Willy semakin berdebar tak karuan saat dia melihat Ayu berjalan dari kejauhan menuju tempatnya menunggu. Dipandanginya sosok gadis pujaan hatinya itu yang berjalan ke arahnya dan sekarang sudah makin dekat.


Akhirnya, Ayu sampai juga di hadapan Willy. Dia melirik sekilas pada Willy dan merasa tatapan pemuda itu padanya hari ini sangat lain dari biasanya.


Willy merasa hatinya sangat sedih dan sakit saat menatap Ayu. Tak seperti biasanya setiap melihat gadis itu datang untuk naik ke boncengan, hati Willy akan bangga dan senang.


Sekarang, walaupun situasi dan kondisinya masih sama, namun kenyataannya sudah beda. Kebenaran yang terungkap membuat hal yang sama tak lagi sama.


"Kenapa, Wil? Kenapa memandangku seperti itu?" mau tak mau Ayu bertanya karena heran melihat tatapan Willy yang aneh padanya.


"Ada... yang ingin kukatakan padamu, Yu," jawab Willy.


Gerakan Willy sangat lambat hari ini, pikir Ayu. Biasanya begitu melihat Ayu berjalan mendekat, dia sudah bersiap-siap di atas sepeda motornya dan langsung menyerahkan helm di tangannya untuk dipakai Ayu.


Kali ini pemuda itu tampak menunda-nunda Ayu duduk di atas boncengan. Dia seperti hendak mengatakan sesuatu hal pada Ayu dengan menahan dulu helm-nya.


"Iya, Yu. Hal yang sangat penting," jawab Willy sambil menyerahkan helm Ayu yang berada di tangannya. "Maukah kamu menyediakan waktu untukku sebentar? Sebentar saja, Yu?"


Ayu mengerutkan kening. Dia batal memaka helm-nya dan memandang Willy yang wajahnya tampak serius. Juga ada ketegangan di sana.


"Oke. Berapa menit waktu yang kamu minta? Bicara di sini? Sebelum kita pulang?" Ayu membuang napas panjang yang terkesan amat lelah.

__ADS_1


Willy merasa tak enak melihat reaksi Ayu. "Kita... singgah dulu di taman sebentar. Biar kukatakan hal itu padamu di sana sambil kamu istirahat," tawar Willy.


"Kuharap itu memang hal yang sangat penting. Capek aku membuang waktu dan tenaga untuk hal yang sepele," keluh Ayu.


Willy terdiam.


"Ya sudahlah, kita ke taman sekarang. Aku sudah capek, mau cepat-cepat pulang ke rumah setelah dari sana," kata Ayu.


Willy naik ke atas motornya. Ayu memakai helm-nya dan juga naik ke atas boncengan Willy. Dia duduk di belakang Willy tanpa melingkarkan tangan di perut Willy, hanya memegang ujung baju belakangnya saja.


Willy menjalankan motornya lebih cepat daripada biasanya. Dia ingin secepatnya mengatakan hal penting yang dipendamnya dalam hati sejak tadi. Hal penting msnyangkut hubungan dan masa depannya bersama Ayu. Hal penting yang akan membuat Ayu bisa terlepas dari Ardian dan menjadi miliknya seutuhnya.


Ayu yang duduk di belakang Willy bisa merasakan ketidaksabaran pemuda itu untuk segera sampai di taman. Entah hal penting apa yang ingin pemuda itu katakan, Ayu sama sekali tak bisa menebak.


Beberapa puluh menit kemudian, motor yang dikendarai Willy pun sampai di salah satu taman yang ada di kota. Willy membelokkan motornya hingga masuk ke taman itu yang dipenuhi pepohonan dan bebungaan.


Willy memarkirkan motornya di tempat parkir taman lalu turun setelah Ayu turun.


Ayu menyerahkan helm yang dilepaskannya dari kepala ke tangan Willy lalu memandang ke sekeliling taman.


"Kita duduk di sana saja," kata Ayu sambil menunjuk satu sisi bagian dari taman.


Willy memandang arah yang ditunjuk Ayu lalu mengikuti langkah gadis itu ke sana. Hatinya berdebar kacau dan jantungnya berdetak kencang mengingat yang sebentar lagi akan dikatakannya pada Ayu.


Sedangkan Ayu malah terlihat biasa saja bahkan ekspresi wajahnya agak senang menghirup udara segar di taman kota. Oksigen yang dikeluarkan oleh pepohonan rindang di sana terasa menyejukkan paru-parunya.

__ADS_1


* * *


__ADS_2