
Bab 96
"Willy, tunggu sebentar!" Santi menahan langkah Willy yang menuju pintu keluar.
Cowok itu berbalik kembali dan mendekati meja Santi. "Ohiya, aku hampir lupa. Ini giro toko besi "Sinar Sempurna"."
Willy mengeluarkan selembar giro bernilai sebelas juta rupiah hasil tagihan piutang langganan yang mengambil bahan-bahan bangunan dari panglong.
"Ohiya," Santi menerima giro yang diberikan Willy lalu menyelipkannya di bawah kalkulator.
Willy bergegas berbalik untuk kembali ke lapangan namun Santi lagi-lagi menahannya. "Tunggu sebentar, Wil!"
Willy berbalik lagi. "Iya, San?" tunggunya.
"Aku... sebenarnya bukan ini maksudku tadi," kata Santi. "Aku mau memberikan nasi ayam ini untukmu," Santi menyorongkan bungkusan nasi ayam yang ditaruh Willy di mejanya tadi.
"Maksudmu?" Willy tak mengerti.
"Maksudku, aku mau kamu mencicipi lezatnya nasi ayam ini karena aku dengar nasi ayam di kafe "Yummy-yummy" ini sangat enak," jelas Santi.
"Oh," Willy tersenyum dikit. "Tidak usah, San. Untukmu saja karena aku sudah ada nasi bontot yang dimasak ibuku."
"Iya, aku tahu," kata Santi. "Aku tahu ibumu tiap pagi menyediakan bontot makan siang untukmu. Karena itu aku mau kamu menukar nasi bontot yang dimasak ibumu dengan nasi ayam ini."
Willy mengerutkan kening.
Santi tersenyum lebar. "Jangan tegang begitu dong, Wil. Aku ingin makan nasi bontot yang dibuatkan ibumu karena setiap hari aku mengintipmu makan dengan sangat lezat. Jadi pengen nyoba. Hehe."
__ADS_1
"Oh...," Willy tertawa kecil.
Santi senang melihat Willy tertawa atau tersenyum karena pemuda itu sangat jarang tertawa. Senyum pun kadang hanya senyum tipis saja. Setiap kali melihat Willy tersenyum atau tertawa, hati Santi terasa sejuk.
"Baiklah, aku ambilkan nasi bontotku untukmu," kata Willy. "Entar ya, aku ke depan ambil," Willy bergegas keluar dari ruang kerja Santi dan pergi ke markas para pegawai panglong tempat di mana mereka biasa berkumpul. Para pegawai panglong yang jumlahnya 10 orang itu kalau lagi jam istirahat berkumpul di situ.
Santi tersenyum lagi melihat Willy bergegas keluar mengambilkan nasi bontot masakan ibunya untuk dia. Gadis itu melihat-lihat bungkusan nasi ayam di atas mejanya. Dia akan menukar nasi ayam yang dibelikan Willy di kafe "Yummy-yummy" ini dengan nasi bontot tersebut.
Willy berjalan menuju markas tempat para pegawai beristirahat yang terletak di kawasan panglong. Tempat itu berukuran 4 X 6 meter di bawah atap seng. Di dalamnya ada 3 meja kayu dan 3 bangku kayu panjang yang cukup untuk 10 orang pegawai makan siang di sana.
Beberapa rekan kerjanya ada yang sudah makan tadi dan ada yang sedang makan. Tinggal Willy yang belum.
"Sudah balik, Wil," seorang rekannya bertanya sambil melahap nasi bungkusnya yang dibeli di kaki lima dekat panglong mereka.
Di sekitaran panglong tempat Willy bekerja memang banyak orang berjualan sarapan dan makan siang. Sorenya juga ada penjual jajanan kue dan gorengan. Malamnya tak kalah ramai oleh para penjual santapan malam.
Willy membuka ikatan plastik asoy itu dan mengeluarkan kotak makan siangnya.
"Lho, kamu nggak makan di sini, Wil?" tanya temannya yang merasa heran melihat Willy tak duduk di bangku panjang malahan membawa kotak makan siang itu di tangannya dan hendak beranjak pergi.
"Nggak, aku mau tukaran makan siang dengan Santi," jawab Willy.
"Hah? Tukaran?" rekannya tak mengerti.
Willy hanya tersenyum kecil lalu melangkah pergi. Dia berjalan kembali ke ruang kerja Santi yang di dalamnya full AC, beda dengan tempat kerja mereka di bawah terik matahari di dalam panglong. Walaupun di beberapa bagian ada tenda seng yang melindungi, namun tetap ada sinar matahari yang menerobos masuk.
Willy menguakkan pintu ruang kerja Santi setelah dia memutar gagangnya.
__ADS_1
"Ini, San, nasi bontotku. Hari ini ibuku masak nasi lemak," Willy memberi tahu setelah langkahnya sampai di depan meja Santi.
"Iya, makasih, Wil. Ini untukmu," Santi memberikan kotak berisi nasi ayam di mejanya pada Wily setelah dia menerima nasi bontot yang diberikan pemuda itu.
"Iya, sama-sama. Aku makan dulu di luar ya, San," Willy memegang kotak berisi nasi ayam itu dan hendak membawanya kembali ke markas tempat istirahat para karyawan namun Santi lagi-lagi mencegahnya.
"Tunggu sebentar, Wil. Kita makan di dapur saja," kata Santi.
"Makan di dapur?" Willy mengernyitkan alis.
"Iya, kita makan sama-sama," Santi segera bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari belakang meja. "Yuk, Wil, kita ke dapur," ajak Santi.
Willy pun menurut saja ajakan putri pemilik panglong yang merupakan anak satu-satunya boss-nya Willy.
Santi dan Willy keluar dari ruang kerja ber-AC itu. Mereka berjalan menuju belakang panglong di mana terdapat ruang dapur dan toilet. Di sana para pegawai bisa mencuci tangan di bak cuci piring sehabis makan atau sebelum pulang.
Pekerjaan sebagai pegawai panglong membuat mereka tiap hari harus bergelut dengan bahan-bahan bangunan berat yang berdebu seperti bersak-sak semen, bertruk--truk pasir, bergoni-goni kerikil, berbatang-batang kayu, berkaleng-kaleng cat, sampai berkotak-kotak paku. Tentunya masih banyak bahan bangunan lain yang dijual di panglong "Makmur" itu.
Tugas Willy setiap hari selain melayani pembeli, mengantar barang, menagih piutang, juga ikut mengeluarkan tenaga saat ada bongkar muat bahan-bahan bangunan dari dan ke atas mobil pick up atau truk. Dia dipercaya untuk mewakili Santi mengecek barang yang masuk dan keluar.
Willy mengecek kesesuaian antara barang yang tertulis di bon utang piutang atau faktur jual beli dengan barang nyata yang masuk dan keluar panglong. Setelah itu Willy akan menyerahkan bon atau faktur itu pada Santi di kantornya untuk dihitung dan diproses selanjutnya. Karena itulah Willy sering berinteraksi dengan Santi. Lebih sering daripada pegawai-pegawai lain.
Santi dan Willy sudah sampai di dapur. Kebetulan dapur lagi sunyi karena para pegawai di panglong itu sudah selesai makan dan mencuci tangan. Sekarang mereka duduk di markas, istirahat sejenak menunggu pekerjaan siang dimulai.
"Ayo duduk, Wil," Santi menggeser keluar sebuah kursi yang ada di belakang meja makan untuk diduduki Willy. Lalu dia berjalan beberapa langkah, menggeser kursi yang ada di hadapan Willy untuk didudukinya sendiri.
* * *
__ADS_1