Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Dua Sahabat Masa Kecil


__ADS_3

Bab 7


Siapa dia? Siapa dia? Ardian terus mengira-ngira dalam hati. Tiba-tiba, dia teringat untuk mengambil ponselnya yang ada di meja kecil di samping ranjang. Disingkirkannya bantal besar yang menutupi wajahnya, dibukanya kedua matanya lalu menatap layar ponselnya.


Setelah menemukan nama kontak yang hendak dituju, dia pun menekan panggilan dan menunggu jawaban.


“Halo, Bik? Siapa gadis asing yang ada di lantai 2?” tanyanya cepat saat panggilan tersambung. Ternyata nomor ponsel Bik Aini yang ditujunya tadi.


“Oh, Nak Ardian, kok pakai telepon segala dari lantai 2? Bibik pikir siapa tadi. Hehe.”


“Iya, siapa gadis itu?” tanya Ardian cepat, merasa tak sabar menunggu jawaban Bik Aini.


“Sabar, Nak Ardian. Itu masih kenalan Tuan di kampung halaman dulu. Katanya, tetangga lama yang di Tanjungbalai.”


Dug! Jantung Ardian seolah copot mendengar penjelasan Bik Aini. Tetangga lama yang di Tanjungbalai, mungkinkah itu…


Ah, tidak mungkin! Tak mungkin itu Nia, sahabat masa kecilnya yang selalu dipikirkannya selama ini. Untuk apa dia ke sini? Bukankah sudah 10 tahun keluarganya sama sekali tak pernah lagi berkomunikasi apalagi berhubungan dengan keluarga Nia? Jadi mana mungkin gadis itu bisa tiba-tiba ada di rumahnya.


Tapi, bila diingat kembali sorot tatapan gadis itu tadi, wajahnya, perawakannya, dan suaranya, semua itu memang sangat familiar bagi Ardian. Semua itu mirip sekali dengan Nia, sahabat masa kecilnya.


Tergesa, Ardian berjalan menuju pintu kamarnya. Tak disadarinya ponsel di ranjangnya yang menggantung. Bahkan suara Bik Aini yang merasa keheranan dan terus menyerocos tentang nama gadis itu pun tak sempat lagi didengar olehnya. Buru-buru, dia membuka pintu dan melangkah keluar. Maksudnya, hendak mencari ke mana gadis itu sekarang?


Saat dia sampai di kamar mandi, gadis itu sudah menghilang. Dilangkahkannya kakinya menyusuri ruang-ruang lain di lantai 2 namun tak menemukan gadis itu.


Tiba-tiba dia merasa bodoh sendiri. Sehabis mandi, pastilah gadis itu akan ke kamar tidurnya untuk berpakaian atau bersisiran kalau dilihat dari penampilannya tadi. Iya, lalu di mana kamarnya? Tertegun, Ardian berdiri di depan kamar tamu yang ada di seberang kamarnya. Apakah mungkin gadis itu ada di dalam sini? pikir Ardian.


Dia tak tahu apakah harus mengetuk ataukah langsung menerobos masuk. Lalu, kalau sudah berhadapan langsung dengan gadis itu, apakah dia harus bertanya, “Apakah kamu Nia, sahabat masa kecilku?”


Bagaimana kalau jawabannya, “Bukan”? Akan kecewakah dirinya? Tapi, bukankah gadis itu yang membuatnya berdebar tadi tak peduli siapa pun dia.


Ardian memegang handel pintu kamar itu, menggerakkannya ke bawah. Ternyata pintu itu tak terkunci. Dengan perlahan, dia mendorong pintu itu ke dalam. Setelah pintu terbuka setengah, agak ragu dia pun melangkahkan kaki masuk ke dalam.


Gadis itu sedang menyisiri rambutnya ketika langkah Ardian yang ragu-ragu sampai di belakang dirinya. Tertegun, Nia menatap cowok itu yang tiba-tiba saja sudah ada di belakang kursinya, menatapnya lewat cermin.


Wajah mereka berdua sama-sama menghadap cermin rias dengan posisi Nia duduk di kursi bulat sofa dan Ardian berdiri terpaku di belakangnya.


Sekian lama mereka saling bertatapan lewat cermin. Nia sudah menghentikan gerakan tangannya yang sedang menyisiri rambut.


“Ardian,” suara Nia perlahan. Kini dia mengenali pemuda itu setelah sekian lama bertatapan dengan jelas lewat cermin.


“Kamu…?” tersendat, Ardian membalas.


“Aku…?” tanya Nia sambil menunjuk hidung sendiri. “Berenang bersama, bermain layangan, kelereng, lompat tali, petak umpet, apakah kamu melupakan semua itu, Ardi?” parau suara Nia.

__ADS_1


Ardian tercekat. Hanya Nia yang memanggilnya “Ardi” dulu. Teman-teman lain tak ada yang berani memanggilnya Ardi. Bahkan hingga sekarang dia tak mengizinkan teman mana pun memanggilnya begitu. Ardian akan marah dan menyuruh mereka memanggilnya Ardian saja.


“Nia…,” tercetus juga nama itu dari mulut Ardian. Selama 10 tahun Ardian berusaha tak menyebut nama gadis itu, karena hatinya akan terasa sedih dan terluka tiba-tiba bila nama gadis itu disebutnya atau disebut orang lain.


Kebetulan, dari sekian banyak teman wanita yang dikenalnya di kota Medan, tak ada satu pun yang bernama Nia. Kalau tidak, dia pasti akan marah tanpa sebab pada wanita itu, menyalahkannya karena memiliki nama yang sama dengan sahabat masa kecilnya.


Nia tersenyum. Dari kedua sudut matanya keluar sebutir airmata bahagia. Hatinya yang menahan rindu selama 10 tahun, dan sesuatu rasa lain yang disembunyikannya baik-baik selama 10 tahun ini seolah terbayarkan pada saat ini, detik ini, ketika Ardian berdiri di belakangnya, menatapnya lewat cermin dengan tatapan penuh kerinduan, dan seperti ada rasa lain di sana juga, seperti rasa yang dimiliki Nia.


“Bagaimana kabarmu?” sekonyong-konyong Nia bangkir dari duduknya dan berbalik menghadap Ardian. Handuk putih yang membeliti tubuhnya tadi sudah dilepas, berganti baju kaos dan celana ponggol.


Kini, mereka berhadapan langsung, bukan lagi lewat cermin.


Ardian menatap gadis itu yang berdiri di depannya. Ingin dia memeluknya seketika, menumpahkan segala kerinduan dan resah gelisahnya selama 10 tahun. Tapi entah mengapa itu tak dilakukannya. Dia hanya menyentuh ujung hidungnya dengan telapan jari telunjuknya, seperti hendak mengusap hidungnya yang basah. Barangkali, reaksi tubuh rasa sedih dan haru yang bercampur membuat dalam hidungnya terasa basah oleh air mata.


Cowok itu tak menangis dengan mengeluarkan air mata, melainkan menangis dalam hati hingga dadanya terasa hangat dan dingin bercampur baur. “Seperti yang kamu lihat,” katanya.


Nia tertegun. Seperti yang aku lihat? Yang kulihat itu Ardian yang sama seperti terakhir kali aku melihatnya.. Seperti hari perpisahan itu. Ardian yang pemarah dan cuek, tidak lagi ramah dan perhatian seperti sebelum kehilangan ibunya, pikir Nia.


“Kenapa harus begitu, Ardi?” tanya Nia serak. “Aku berharap melihatmu lagi dalam keadaan yang sudah lebih baik. Tapi ternyata masih tetap sama. Kamu hanya menikmati hidup mewah yang diberikan padamu selama 10 tahun ini tanpa adanya kasih sayang.”


Ardian mendengar kata-kata Nia yang terasa tajam menghunjam hingga ke relung hatinya. Bermacam-macam rasa bermain di situ. Sedih, marah, kecewa, rindu, dendam, cinta, benci, bercampur-baur.


“Haha! Kamu masih tetap gadis kecil sok tahu seperti yang kukenal dulu!” kata Ardian dengan suara yang seperti sengaja disiniskan.


Nia tersenyum tawar. “Apa pun ceritanya, penilaianku itu benar, Ardi.” kata Nia lembut. “Kalau tidak, kamu tak akan berdiri kaku di depanku saat ini, hanya menatap dan melontarkan ucapan sinis, menahan airmata tanpa berani mengeluarkannya, dan berlagak kuat.”


Ardian membelalakkan mata mendengar kata-kata tajam gadis di depannya.


Rasanya dia ingin marah dan berteriak sekuat-kuatnya hingga memekakkan telinga gadis itu. Selama di kota Medan, tak ada seorang pun yang berani berkata-kata lancang apalagi bersikap kurang ajar padanya. Terutama gadis-gadis yang dikenalnya, semuanya pasti bersikap manis di depannya dan mengeluarkan kata-kata lembut yang menawan. Tak ada yang seperti Nia, begitu berani melontarkan kecaman-kecaman terus terang.


“Kau…?”


“Iya, aku ini teman masa kecilmu, Nia. Karunia, nama pemberian ayahku. Hanya kamu seorang yang tahu nama panjangku selain kedua ortuku, Ardi. Begitu juga, hanya aku seorang yang memanggilmu Ardi, bukan?” tanya gadis itu.


Ardian tertawa, nadanya terdengar sumbang. Nia berdiri sambil mendongakkan kepala, melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah berani. Dia tak merasa bersalah sedikit pun sehingga tak merasa takut berkata-kata terus terang pada Ardian.


“Kalau bersilat lidah, kamu itu memang jagonya, ya?” puji Ardian sambil tersenyum menyindir.


Nia melepaskan kedua tangannya yang saling berpelukan di depan dada. Kini gayanya berubah, menyilangkan kedua tangan di depan pinggang. Dengan iba, ditatapnya Ardian yang masih belum mau mengakui kecaman-kecamannya.


“Bagaimanapun, kau sudah datang ke sini. Pasti ada yang mengundangmu, tak mungkin gadis bodoh sepertimu bisa datang sendiri ke kota besar ini seorang diri, apalagi datang dengan sengaja untuk mencariku?” pancing Ardian penuh selidik.


Dada Nia terasa panas mendengar kata-kata pedas Ardian. Apalagi pemuda itu melanjutkan sindirannya.

__ADS_1


“Tapi ya sudahlah, toh kamu sudah sampai di rumahku yang besar ini dan diberi kamar tidur mewah pula yang pas di seberang kamarku. Rasanya pasti menyenangkan dan nyaman sekali ya tidur di kamar ini? Beda dengan kamarmu yang sempit di… di…”


“Tanjungbalai,” kata Nia melanjutkan. “Jangan bilang kamu tak ingat lagi kampung halaman sendiri setelah tinggal di kota besar, Ardi,” sela Nia dengan nada kecewa, walaupun dia tahu Ardian hanya berpura-pura tak ingat sesaat asal kampung halaman mereka.


“Iya, Tanjungbalai!” cetus Ardian seolah baru ingat. “Sudah 10 tahun aku meninggalkan tempat itu dan tak pernah lagi balik. Apa kabarnya sekarang? Dan kabarmu sendiri bagaimana, gadis kecil naïf?”


Bodoh, naïf, Nia merasa geram mendengar cap-cap yang disematkan Ardian kepadanya. Namun dia tahu, itu hanya topeng pemuda itu untuk menutupi wajah sendiri yang malu karena sikapnya yang buruk belum bisa berubah.


“Iya, aku bodoh, naïf, dan jelek,” senyum Nia tawar. “Kamu sendiri, Ardi sudah tumbuh menjadi seorang pemuda yang pintar, cerdik, dan tampan,” sambungnya sambil menatap lekat-lekat pemuda itu.


Ardian balas tersenyum disertai dengusan. “Itu bukan urusanmu!”


ucapnya ketus.


Debaran di hatinya yang tadi sempat teratur sekarang terasa memburu lagi begitu mendengar kata-kata pujian gadis itu yang sebenarnya diucapkan sebagai pujian yang menyindir kesombongannya.


“Tampaknya, kamu memang datang sendiri, ya?” mata Ardian menyapu seisi kamar Nia yang sunyi. Tak ada sesiapa pun di sana selain mereka berdua.


“Iya, aku sendiri datang ke kota Medan. Dari Tanjungbalai naik kereta api siang semalam dan sampai di sini semalam sore. Lalu aku dijemput papamu dengan mobil besar sampai di rumah yang juga besar ini,” jelas Nia.


“Oh…,” desis Ardian manggut-manggut, entah ucapan gadis itu masuk di telinganya atau tidak. Matanya lebih sibuk memperhatikan penampilan dan perawakan gadis yang beridiri di depannya itu daripada mendengar kata-katanya.


Dilihatnya, rambut gadis itu panjang dan masih basah, lalu wajahnya yang kecil berbentuk bulat telur, masih sama seperti dulu. Kulitnya juga masih sawo matang. Cuma sekarang, gadis itu tampak lebih cantik dari dulu setelah beranjak dewasa. Apalagi bentuk tubuhnya juga indah dan menawan seperti gitar spanyol. Tatapan matanya yang tak kalah tajam dengan Ardian sendiri seolah memiliki magnet yang mampu membius Ardian untuk terus mengingatnya. Pokoknya, seluruh gambaran gadis itu membuat Ardian tak bisa menghapusnya begitu saja dari ingatan setelah melihatnya lagi untuk pertama kali semenjak perpisahan 10 tahun lalu.


“Kamu dengar kata-kataku, Ardi?” tanya Nia perlahan.


“Hah?” tersadar dari lamunannya yang sedang menatap perawakan gadis itu, Ardian menjawab malu, “Iya, dengar, dong! Cerewet sekali!” putusnya pura-pura kesal. “Aih, aku jadi lupa mandi gara-gara bicara terus dengan gadis cerewet sepertimu,” sambungnya.


Mata Ardian pura-pura melirik jam dinding di kamar Nia dengan tatapan serius, lalu memasang gaya hendak berbalik dengan cepat. “Aku mandi dululah. Sebentar lagi mau jogging di taman. Kamu mau ikut?” tanyanya menole.


“Jogging? Jam segini?” Nia ikut melirik jam dinding. Pukul 10 pagi lewat.


“Ohiya, kamu belum sarapan, ya? Ya nggak apa-apalah, lain kali saja. Kamu liburannya masih lama di sini, atau sebentar saja balik?” pancing Ardian.


Maksudnya yang hendak keluar dari kamar Nia sedari tadi nggak jadi-jadi. Seperti ada magnet yang menahan langkahnya dan lem duaton yang merekat pijakan kakinya di lantai kamar gadis itu.


“Aku?” Nia menunjuk hidungnya sendiri. “Kayaknya masih akan lama di sini,” katanya.


Ardian mengembuskan napas lega. Nia agak tak mengerti kenapa Ardian mesti bernapas lega, tapi dia tak sempat memikirkannya karena Ardian langsung menghalau pikirannya.


“Kalau sudah lapar, turun saja dulu ke bawah untuk makan. Sarapanmu pasti sudah disediakan Bik Aini sejak tadi. Aku mau mandi dulu, nanti baru menyusul.”


“Oh, iya, Ardi,” balas Nia.

__ADS_1


* * *


__ADS_2