
Bab 71
Ardian menghentikan mobilnya di depan sebuah hotel berbintang. Dia memarkirkan mobilnya di pelataran parkir hotel yang merupakan hotel terbaru di kampung halamannya.
"Pesan kamar dulu, Shel," kata Ardian.
"Satu atau 2 kamar, Pak?" tanya Shella.
"Dua," jawab Ardian. "Emang 1 kamar kamu kamu mau tidur di lobby?"
"Ya nggaklah, Pak, kan 1 kamar supaya irit. Karena setiap kamar paling sedikit bisa memuat 2 orang ya kan, Pak?" Shella tersenyum tipis.
Ardian melengos.
Sepasang muda mudi yang tampak serasi itu keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk utama. Mereka melangkah mendekati meja resepsionis dan langsung disambut 1 dari 3 orang resepsionis cewek yang ada di situ.
Shella terlibat pembicaraan dengan resepsionis itu yang kira-kira menjelaskan harga dan fasilitas kamar berdasarkan kelasnya.
Dua orang resepsionis cewek lainnya yang berdiri di situ mau tak mau mencuri pandang pada Ardian yang sangat tampan, tinggi, dan kekar Barangakali mereka berpikir Shella adalah pacar Ardian namun mereka masih memesan 2 kamar walaupun memang begitulah seharusnya Tak tahunya Shella hanyalah sekretaris Ardian.
Shella sudah selesai memesan kamar dan mereka dituntun oleh seorang room boy yang membawakan tas travel mereka dengan troli.
Setelah masuk melalui pintu kaca, mereka berbelok beberapa kali di koridor lalu berhenti di depan sebuah lift. Shella, Ardian, dan room boy itu masuk ke lift yang akan membawa mereka naik ke lantai yang dituju.
Setelah menemukan kamar yang dimaksud, Ardian dan Shella dipersilakan masuk.
"Satu jam lagi tunggu aku di lobby hotel," pesan Ardian pada Shella sebelum mereka berpisah di luar kamar.
"Iya, Pak," jawab Shella. Dia bergegas masuk ke kamar untuk mandi dan berdandan. Sepertinya Ardian akan mengajaknya keiuar makan malam.
Setelah mandi dan berberes di kamar, Ardian keluar dan turun ke lobby. Shella belum nampak olehnya. Barangkali masih berdandan di kamar, pikir Ardian.
__ADS_1
Sambil menunggu Shella, Ardian duduk di sofa besar yang ada di lobby hotel. Dia mengambil sebuah majalah yang tergeletak di meja kaca lalu membolak-baliknya.
Beberapa kali Ardian melirik arloji di pergelangan tangannya untuk menunjukkan rasa tak sabarnya menunggu Shella yang belum juga muncul. Nih Shella kalau berdandan lama sekali, beda dengan Nia dulu yang asalkan diajak Ardian ke mana-mana selalu berdandan seadanya dan berpakaian praktis hingga sebentar saja siap.
Hampir pukul delapan malam ketika Shella muncul dengan dandanan apik. Make up lengkap, blus ketat warna merah yang menonjolkan 2 benda kenyal di dadanya, rok span pendek warna hitam yang menonjolkan pahanya yang putih mulus, plus minyak wangi lembut yang tercium di ruang-ruang yang dilaluinya.
"Lama sekali," kata Ardian. "Perutku sudah lapar banget nih, Shel."
"Mana lama, Pak, kan pas 1 jam mandi dan berdandan," elak Shella.
Ardian tak berkata lagi, hanya bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar utama.
Shella mengikutinya sambil bertanya ingin tahu, "Kita tak makan di resto yang di dalam hotel saja, Pak?"
"Nggak, aku pengen makan kerang dan seafood lain yang di rumah makan," jawab Ardian.
"Oh," reaksi Shella.
Nggak naik mobil, Pak?" tanya Shella sekali lagi saat mereka sudah di luar hotel.
Ardian ingin jalan kaki mengitari kota Tanjungbalai yang dijuluki kota Kerang. Udara malam akan terasa sejuk dibarengi keramaian di sepanjang jalan.
Shella berkesempatan menemani Ardian melihat keindahan dan keramaian kota Tanjungbalai di malam hari. Di sini, mengitari kotanya bisa dengan jalan kaki dari satu jalan ke jalan lain.
Setelah berjalan tak begitu jauh, Ardian dan Shella akhirnya sampai di sebuah rumah makan. Ardian mengajak Shella masuk ke rumah makan 2 pintu itu yang tampak sangat ramai pengunjung.
Shella mencuri pandang pada menu masakan di atas meja pengunjung rata-rata adalah seafood berupa kerang, udang, dan kepiting. Juga ada ikan dan beberapa lauk lainnya yang berupa sayur-mayur.
Ardian memilih meja yang agak di sudut supaya jauh dari hiruk-pikuk dan keramaian. Shella duduk di depannya di meja kecil berbentuk segi empat. Bila rombongan tamu yang datang banyak, meja-meja kecil itu akan didempetkan supaya 1 rombongan bisa duduk bareng.
"Mau pesan apa, Pak?" tanya pelayan cewek yang ada di rumah makan. Disodorkannya menu masakan berikut harga yang tertera di sampingnya untuk 1 porsi.
__ADS_1
Ardian memesan kerang, udang, kepiting, dan terong masing-masing 1 porsi. Ditambah nasi putih 2 piring dan teh manis dingin 2 gelas.
"Waduh, nampaknya lezat sekali nih, Pak!" seru Shella tak mampu menahan air liurnya melihat menu yang demikian lezat terpampang di depannya.
"Iya, mau makan sepuasnya dulu aku karena sudah lapar banget," ujar Ardian.
"Iya, aku juga sudah lapar, Pak," balas Shella.
"Sudah lapar tapi lama banget dandannya. Huh! Nunggu kamu tadi jadi lama," kesal Ardian.
Shella cengengesan sambil membela diri, "Namanya juga cewek, Pak. Maklumlah cewek dandannya selalu lebih lama daripada cowok. Hehe."
Ardian tak berkata lagi. Dalam hatinya merutuk, "Nia juga cewek, tapi dandannya cepat banget. Praktis lagi, nggak ribet macam kamu."
Shella melihat ke sekelilingnya. Para tamu yang datang tampak sedap sekali mengunyah makanan mereka. Bahkan ada yang makan sampai berlelehan keringat dan hu-ha-hu-ha. Barangkali karena terlampau pedas. Ada tamu lain juga yang seperti mereka sedang menunggu hidangan datang.
"Masaknya lama nggak, Pak?" tanya Shella yang perutnya semakin keroncongan tapi hidangan belum juga datang.
Ardian melihat ke arah tukang masak yang terdiri dari beberapa orang. Mereka berdiri di belakang kaca stelling memasak lauk dan sayur yang dipesan tamu.
"Sebentar lagilah, pas malam Minggu jadi ramai banget," jawab Ardian. "Sepertinya sudah giliran menu kita dimasak," tebaknya.
"Semoga ya, Pak, karena aku sudah lapat banget. Hehe," harap Shella.
Mereka menunggu kira-kira setengah jam lagi sebelum hidangan datang. Empat macam lauk pesanan Ardian itu dimasak dengan 3 kuali supaya cepat.
Mata Shella spontan berbinar melihat lauk kerang, udang, kepiting, dan terong yang tersaji di depannya. Semuanya tampak pedas.
"Wuih, lezat sekali!" Shella menahan air liurnya lalu cepat-cepat menyendok lauk-lauk itu ke atas piringnya. Ardian melakukan hal yang sama. Tanpa dikomando 2 kali, keduanya pun melahap nasi berserta lauk-pauk itu.
Memang rasanya sangat maknyus karena yang memasak pintar meracik dan menaruh bumbu yang pas. Takarannya juga pas sehingga terasa lezat di lidah.
__ADS_1
Tanpa terasa Ardian dan Shella sudah makan selama 1 jam dan hampir menghabiskan seluruh isi piring. Begitu lezatnya sampai lupa memperhatikan sekeliling.
* * *