
Bab 25
“Ikut saya, Pak, ruangan Bapak di sebelah sini,” kata Minarni melihat Ardian agak sangsi mencari arah mana ruang kerjanya.
Ardian pun melangkah mengikuti Minarni, berjalan lurus agak jauh sebelum berbelok ke kanan dan beberapa langkah kemudian mereka sampai di sebuah ruangan yang cukup besar.
“Ini ruangan Bapak,” kata Minarni setelah menguakkan pintu itu ke dalam.
Ardian melongok, tampak tatanan di dalam ruangan itu yang demikian rapi dan bersih, berisikan peralatan kantor meja, kursi, komputer, laptop, lemari, rak buku, sofa, kulkas, juga berbagai perlengkapan kantor seperti alat-alat tulis, buku, map, dan lain-lain.
Ardian berjalan masuk diikuti Minarni. Langkahnya menuju meja kerja besar yang letaknya paling ujung dari ruangan. Setelah sampai, dia pun meletakkan tasnya dan duduk di situ.
“Ok, apa yang harus kukerjakan hari ini?” tanya Ardian memandang Minarni.
Minarni mendehem sekali sebelum menjawab, “Hari ini Bapak harus menggantikan tugas Pak Wisnu meninjau proyek perusahaan kita yang ada di Kota X. Setelah meninjau langsung, Bapak harus melaporkan perkembangannya kepada Pak Wisnu. Begitu pesan dari Pak Wisnu, Pak,” terang Minarni.
“Wah, bukannya kerja duduk di dalam ruangan kantor saja?” tanya Ardian sambil mengerutkan dahi.
Apa-apaan papa ini, pikirnya, baru hari pertama kerja saja sudah disuruh keluar lapangan. Dipikir Ardian, jadi direktur itu enak, hanya duduk di ruangan kantor menandatangani berkas-berkas sambil bicara-bicara di telepon.
“Jadi sekarang perginya?” tanya Ardian.
“Sekarang juga boleh,” jawab Minarni. “Sebentar, Pak, saya suruh Shella menemani Bapak.”
“Siapa Shella?” Ardian mengerutkan dahi lagi.
“Sekretaris Bapak.”
__ADS_1
“Sekretaris?” makin bingung Ardian.
“Iya. Untuk mendampingi Bapak ke berbagai proyek dan pertemuan dengan klien. Shella bisa mencatat semua hasil pemantauan, hasil pertemuan dengan klien, maupun hasil rapat. Bapak tinggal memberi perintah apa yang harus dicatatnya atau dikerjakannya.”
“Oh,” Ardian manggut-manggut.
“Sebentar ya, Pak,” Minarni mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya, mencari sebuah nomor lalu menekannya. “Iya, Shella, ke ruangan Pak Ardian sekarang. Bersiap-siap menemani beliau ke proyek kota X.”
Minarni menutup ponselnya dan memasukkan kembali ke saku jasnya. “Sebentar lagi Shella datang, Pak,” katanya sambil membetulkan letak kacamatanya.
“Iya,” Ardian menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa yang tinggi. Kursi sofa untuk seorang direktur itu terasa empuk di badan Ardian, sama seperti sofa yang ada di ruang tamu rumahnya.
“Tuk-tuk-tuk,” pintu ruang kerja Ardian diketuk dari luar, setelah itu dibuka dan tampak seorang gadis belia berumur 20-an awal muncul di situ.
Di bibirnya yang ranum menyungging seulas senyum manis yang menggoda. Wajahnya kelihatan cantik dengan polesan make-up rapi, begitu juga rambutnya yang lembut sebahu melambai-lambai saat dia berjalan.
Saat dia melangkah masuk ke ruang kerja Ardian, wangi parfum mahalnya segera tercium. Dia tidak memakai seragam kantor, melainkan pakaian bebas yang kelihatan terlalu ketat untuk lekuk-lekuk tubuhnya yang menonjol. Lekuk-lekuk tubuh indah menggairahkan miliknya seperti meminta mata pria untuk menyinggahinya sejenak.
Ardian tercekat sesaat ketika Shella sampai di depan mejanya dan berdiri di samping Minarni. Dia masih muda, hanya lebih tua 1 atau 2 tahun dari Ardian. Matanya memandang manja penuh gairah pada sosok tampan didepannya yang sedang duduk di belakang meja.
“Ini Shella, Pak Ardian. Dia baru tamat kuliah tahun lalu dan mamanya adalah sahabat lama Bu Siska,” terang Minarni. “Pak Wisnu berpesan supaya Pak Ardian bisa baik-baik bekerjasama dengan Shella,” terang Minarni seperti memberi wanti-wanti supaya Ardian jangan sampai menyinggung atau bersikap kasar pada Shella, karena mama Shella adalah sahabat lama dan juga sahabat baik dari pemilik perusahaan alias Bu Siska.
Oh, jadi dia punya beking? pikir Ardian seketika. Pantas saja berpakaian seksi seperti itu tak ditegur. Padahal dia datang ke perusahaan untuk bekerja, bukan untuk memamerkan lekuk tubuh, kecantikan, senyum manis, bibir ranum, atau wangi parfum yang membuat orang mudah mengingatnya.
Shella berdiri hanya berjarak 2 meter dari Ardian, sehingga Ardian bisa melihat jelas wajahnya yang sangat manis dan menggoda. Sorot matanya begitu manja. Membuat Ardian mau tak mau membalas tatapannya sesaat.
Srrr… Ardian merasa matanya ditarik juga untuk memandang Shella beberapa saat, karena Shella itu memang sangat sensual, manis, cantik, mulus, manja, seksi, dan menggoda.
__ADS_1
“Ya, kita berangkat sekarang?” tanya Ardian.
“Iya, Pak. Shella akan memberi petunjuk jalan menuju ke proyek karena biasanya dia yang menemani Bu Siska ke sana jadi sudah hapal jalannya,” kata Minarni.
“Oh, begitukah?” Ardian mengangguk.
Dia bangkit dari kursinya dan berjalan keluar dari meja. Shella dapat melihat gambaran tubuh Ardian yang tinggi, kekar dan berotot di balik kemejanya yang pas di tubuh.
Untuk sesaat, Shella meneguk ludah dan menjilati bibirnya. Sosok muda berwajah amat tampan dan cool di depannya itu seperti makanan lezat yang minta disantap olehnya.
Bagi Shella yang memiliki selera tinggi, Ardian adalah sosok pria idamannya. Pemuda kaya dan tampan bak pangeran yang pantas dikejar-kejar untuk dijadikan gandengan. Atau sangat rugi membiarkan gadis lain yang mendapatkannya.
Untuk itu, Shella merasa memiliki kesempatan karena kriteria fisiknya sangat oke sebagai seorang wanita dewasa. Apalagi mama Shella adalah sahabat baiknya Tante Siska, pemilik perusahaan.
Ardian berjalan cepat melewati samping Shella dan Minarni. Tanpa menoleh lagi, dia berjalan lurus ke arah pintu.
Saat dia keluar ruangan bersama Shella dan Minarni, para karyawan yang berpapasan dengannya kembali memberi hormat dan salam. Rupanya begitulah kalau seseorang memiliki kedudukan tinggi di perusahaan, apalagi jika dia adalah anak tunggal dari pemilik perusahaan.
Langkah Ardian dan Shella sampai di luar gedung. Tiga resepsionis cewek yang duduk di lobby memperhatikan dari jauh gerak-gerik Ardian yang tenang dan dingin, sangat jauh bertolak belakang dengan gerak-gerik Shella yang liar dan hangat.
“Ish, jijik aku melihat si Shella itu,” kata seorang di antara 3 resepsionis itu.
“Iya, mentang-mentang mamanya sahabat baik Bu Siska jadi merasa punya beking. Suka hati saja. Nggak sopan berpakaian seperti itu!” ketus suara temannya menyerocos.
“Apalagi gerak-geriknya sungguh menggelikan. Dipikirnya Pak Ardian yang dingin dan sempurna itu akan tertarik padanya? Ciiih…! Kurang berkaca dia!” kata yang pertama tadi.
“Betul! Yang dicari Pak Ardian itu bukan cewek berwajah cantik dan bertubuh montok doang kayak dia, tapi juga yang hatinya baik dan memiliki kepribadian kuat atau punya daya tarik spesial. Kalau cuma wajah cantik dan tubuh montok saja banyak yang punya. Ish," gerutu yang satunya lagi.
__ADS_1
“Ya, betul, betul, betul,” sahut ketiganya berbarengan sambil cekikikan geli seperti sudah mengenal Ardian selama bertahun-tahun dan mengetahui betul seleranya.
* * *