
Bab 104
"Kamu sudah tahu semuanya," kata Willy.
"Sori ya, Wil, aku tak sengaja mendengarnya," Santi merasa tak enak.
Willy menggeleng. "Nggak apa-apa, San. Nggak masalah," Willy mencoba tersenyum.
Tampaknya dia sudah berhasil menguasai perasaannya yang bergejolak tadi dan mulai merasakan kehangatan kembali setelah meminum segelas teh manis hangat yang dibuatkan Santi.
Santi membalas senyum Willy. Hatinya lega melihat pemuda itu mulai membaik.
"Aku harus kembali bekerja sekarang," ujar Willy lalu bangkit dari duduknya.
"Nggak usah buru-buru, Wil. Lebih penting untuk menenangkan diri dulu," kata Riana menahan langkah Willy.
Willy pun duduk kembali. Selama beberapa menit dia terdiam sebelum membuka suara. "Menurutmu, apa yang harus kulakukan, San?" tanyanya meminta saran Santi.
"Minta penjelasan dari Santi. Tanya dia langsung kenapa bisa pergi dan nonton berdua sama boss-nya. Mana tahu Ayu ada kesulitan yang tidak bisa diungkapkan atau alasan khusus yang kamu tidak tahu," kata Santi.
Willy menggeleng. "Aku tidak bisa melakukannya."
"Kenapa tidak bisa, Wil?" heran Santi.
"Ayu orangnya sensitif. Pertanyaan sedikit saja kadang bisa membuatnya terusik, apalagi pertanyaan besar seperti ini," jawab Willy.
"Lha, jadi kamu akan membiarkannya begitu saja? Membiarkan dia berbuat apa saja sesukanya bahkan kalau benar dia selingkuh kamu juga akan diam saja. Begitu?" Santi terlihat surprais.
"Aku tidak tega... tak berani tanya Ayu," jujur Willy.
"Ya ampun!" Santi beseru kaget. "Kalau begitu aku yang tak tega padamu, Wil. Tak tega melihatmu diam saja mengetahui pacarmu selingkuh. Atau, kamu sama sekali tak percaya kata Riana dan lebih percaya Ayu?" selidik Santi dengan tatapan tajam. Dia sungguh tak bisa terima kalau Willy tak menyelesaikan masalahnya dengan Ayu alias membiarkannya menggantung.
"Aku... akan mencari waktu yang tepat untuk bicara dengan Ayu," kata Willy akhirnya.
"Syukurlah," kata Santi. "Semoga semuanya baik-baik saja. Aku berharap apa yang dikatakan Riana itu tidak menjadi gambaran yang kamu pikirkan. Memang lebih baik tanya ke Ayu-nya langsung."
__ADS_1
"Iya, San. Makasih. Aku mau kembali kerja," Willy bangkit dari duduknya setelah menghabiskan teh manis hangat yang bersisa seperempat.
"Kamu merasa agak baikan sekarang?" mata Santi menyelidiki wajah Willy. "Nggak apa-apa kalau masih lemas jangan dipaksakan,Wil," sarannya.
Willy mencoba tersenyum walaupun berat. Hatinya masih sakit dan luka, tapi perasaannya sudah agak tenang. "Iya, aku balik ke markas dulu ya, San. Makasih teh manis hangatnya."
Santi membalas senyum Willy. "Iya, baliklah, Wil. Hati-hati!" pesannya.
Willy keluar dari belakang meja dan berjalan keluar dari ruang dapur. Sementara Santi masih duduk di situ sebentar sambil memandangi gelas yang tadi berisi teh manis hangat yang dibuatkannya untuk Willy. Gelas itu sudah kosong sekarang.
Santi tersenyum senang. Entah kenapa, selain ada perasaan iba dan kasihan pada Willy, juga ada perasaan senang mendengar kabar Ayu berselingkuh.
Kalau benar hal itu, maka hubungan Willy dengan pacarnya itu bakal retak. Dan Santi yang selama ini menaruh perhatian dan harapan pada Willy akan punya kesempatan. Setidaknya, Willy akan meliriknya sedikit lalu menyisakan ruang di hatinya untuk anak gadis boss-nya itu.
Berpikir demikian, Santi pun bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruang dapur untuk kembali ke ruang kerjanya.
Sementara itu Willy sudah kembali ke bagian depan panglong. Dilihatnya beberapa rekannya sedang duduk di markas. Mereka baru pulang dari mengantar barang dan duduk istirahat di sana. Sedangkan rekan yang tadi ditanyai Riana pun sudah selesai menyusun sak-sak semen di tempatnya.
"Wah, dari mana saja, Wil?" tanya rekannya itu. "Ohya, tadi ada cewek mencarimu. Orangnya tinggi dan rambutnya sebahu. Namanya... Riana kalau nggak salah. Iya, Riana," rekannya memberi tahu.
"Oh, sudah ya? Tadi kusuruh dia ke kantor tanya Santi kapan kamu balik karena kasihan lihat dia sudah nungguin kamu 1 jam tanpa hasil," rekannya memberi tahu lagi.
"Dia menungguku 1 jam?" Willy mengernyitkan alis.
"Iya, dia duduk di sini tadi," rekannya menunjuk bangku di markas tempat Riana duduk tadi.
Willy tercenung. Berarti Riana memang berniat betul menyampaikan hal tadi padanya. Apakah karena gadis itu kasihan padanya? benak Willy berpikir polos. Tanpa rasa curiga atau prasangka apa-apa.
"Apa yang dikatakan Riana tadi, Wil?" tanya rekannya ingin tahu.
Willy memandang ke beberapa rekan lain yang sedang berbincang-bincang juga. Tampaknya mereka tak begitu memperhatikan Willy dan rekannya yang menyusun sak semen tadi.
"Bicara soal Ayu," Willy menjawab lesu.
"Ohya? Kenapa dengan Ayu? Pacarmu itu kan, Ayu?" rekannya menatap Willy ingin tahu.
__ADS_1
Willy mengangguk. "Iya. Ada suatu masalah yang terjadi."
"Masalah apa, Wil?" penasaran dia.
"Nggak bisa kukatakan di sini," jawab Willy. "Ini... masalah pribadi."
"Oh, nggak apa-apa kalau kamu tak bersedia mengatakannya," rekannya menyandarkan punggung ke meja kayu. Dia dan Willy duduk di bangku markas dengan punggung membelakangi meja tempat biasa mereka meletakkan makan siang di situ.
"Aku... bagaimana menurutmu kalau pacarmu selingkuh? Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Willy.
"Aku?" rekannya menunjuk hidung.
"Iya. Apa yang akan kamu lakukan bila mengetahui pacarmu selingkuh?" ulang Willy seolah meminta pendapat rekannya itu.
"Ya, aku sih sudah punya istri, Wil. Waktu pacaran dulu pacarku juga nggak pernah selingkuh. Apalagi sekarang setelah jadi istri karena kan aku suami yang bertanggung jawab, selalu perhatian dan sayang sama keluarga. Ya keterlaluanlah kalau istriku sampai tega selingkuh," jawabnya.
"Oh...," Willy tampak kecewa.
Melihat reaksi Willy yang kurang puas dan bimbang, rekannya pun berkata, "Tapi kalau benar aku tahu istriku selingkuh, aku akan memarahinya habis-habisan, mencacimakinya, bahkan kalau perlu menceraikannya!" ujarnya seperti marah.
"Hah?" Willy tersentak dengan mata terbelalak. "Kamu akan menceraikannya?" tanya Willy tak percaya.
"Iyalah. Istri yang tak baik saja bisa diceraikan, apalagi cuma pacar, ya putuskan saja,Wil! Tapi jangan lupa kamu marah-marahi dan caci maki dulu sampai puas sebelum kamu putuskan," kata temannya enteng.
Kepala Willy tiba-tiba pusing mendengar pendapat rekannya itu.
"Kenapa? Pacarmu selingkuh ya?" tanyanya menebak. Dia mulai bisa memahami masalah yang dihadapi rekannya, Willy.
"Hah? Enggak," Willy menepis. Dia tak ingin sembarang menuduh Ayu sebelum melihat dengan mata kepala sendiri. Bukankah apa yang disampaikan orang lain itu belum tentu benar 100 persen? Bisa saja sudah ditambahi dan dibumbui.
Sedangkan melihat dengan mata kepala sendiri saja itu belum tentu benar atau seperti yang kita pikirkan, apalagi cuma mendengar dari cerita orang lain. Begitulah Willy berusaha untuk tetap mempercayai Ayu.
"Kamu begitu baik dan setia, Wil. Tak mungkin pacarmu selingkuh kan?" rekannya menepuk-nepuk bahu Willy. "Kecuali kamu atau aku yang tidak baik atau tidak bertanggung jawab atau tidak memperhatikan keluarga, baru maklumlah istri selingkuh."
Willy mengangkat kepalanya dan menatap rekannya. Tampaknya dia mulai menemukan titik terang.
__ADS_1
* * *