
Charlotte sempat terpaku sebelum pandangannya mengarah ke sekumpulan anak yang sedang bermain dengan riang tanpa beban meskipun mereka sedang sakit parah.
" Aku bermimpi bertemu dengan seseorang." ucap Charlotte tanpa mengalihkan pandangannya.
Damian yang mendengarnya terkejut kemudian ia memandangi Charlotte dengan tatapan sulit.
" Apa seorang anak kecil?" tanya Damian yang menebak.
Charlotte juga terkejut kemudian mengalihkan pandangannya menatap Damian.
" Jangan-jangan kau juga?" tanya Charlotte sambil menunjuk Damian.
Melihat anggukan dari Damian seketika membuat Charlotte tertawa.
" Hahahaha..... sepertinya dia tidak ingin orang tuanya berpisah." ucap Charlotte sambil tertawa tapi matanya mengeluarkan air mata.
Damian yang melihat Charlotte tersenyum sendu. Ia tahu di balik tawa Charlotte ada sebuah perasaan rindu di dalamnya untuk Putera mereka.
Flashback On....
Di sebuah pandang rumput yang luas Damian hanya berdiam diri. Ia bingung mengapa dirinya bisa sampai ke sini sampai ada seseorang yang menarik celana putihnya. Ketika Damian menengok ke bawah bertapa terkejutnya melihat seorang anak kecil berjenis kelamin laki-laki memeluk kakinya dengan riang.
Apalagi Damian bisa melihat kemiripan wajahnya dengan anak laki-laki itu. Damian berjongkok untuk menyamakan tubuhnya kepada Anak laki-laki itu yang perkirakan berusia 5 tahun.
" Papa." ucap nya sambil tersenyum manis.
__ADS_1
Damian di buat terpana melihat senyuman anak itu mirip dengan Charlotte.
" Buat apa kamu berada disini sendirian?" tanya Damian.
Anak itu memiringkan kepalanya sebelum menjawab yang membuatnya merasa sedih.
" Aku memang tinggal di sini dan sepertinya Papa tidak kenal padaku." ucap nya sambil menundukkan kepalanya sedih.
Seketika anak itu terkejut ketika tiba-tiba saja Damian memeluknya sambil menangis. Sedangkan Damian sama sekali tidak menduga ia bisa melihat wajah anaknya yang pernah dirinya tolak, sampai anaknya memilih pergi terlebih dahulu karena kesalahannya. Sekarang Damian hanya bisa menangis meratapi semua kesalahannya di pundak sang Anak.
Anak itu hanya mengelus punggung Damian dengan perlahan. Setelah beberapa menit kemudian Damian melepaskan pelukannya dan memandang wajah Puteranya untuk pertama kalinya.
Anak itu menghapus sisa jejak air mata di pelupuk Damian.
Damian menggelengkan kepalanya setelah mendengar bahwa Puteranya akan pergi lagi.
" Papa, tidak akan membiarkan kamu pergi untuk kedua kalinya. Papa dan Mama sangat membutuhkan dirimu sayang begitu juga Adik." ucap Damian.
Tapi sayangnya anaknya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
" Aku sudah tidak bisa bersama kalian lagi, karena aku sudah bahagia di sana bersama Ayah Justin." ucapnya menolak.
Kemudian pandangan Damian menuju ke arah seorang pria yang di perkirakan berusia 18 Tahun berjalan menghampiri mereka. Bertapa terkejutnya melihat wajah pria itu seperti di foto yang ada di kalung isterinya.
" Apa kau Justin?" tanya Damian dengan datar dan memandang tajam Justin.
__ADS_1
Justin yang melihatnya mengusap lehernya dengan canggung.
" Iya, aku juga ke sini hanya mengucapkan terima kasih kepadamu yang telah memberikan cincin pemberian ku kepada Audrey." ucap Justin sambil tersenyum.
Damian berdiri sambil menggenggam sebelah tangan Anaknya.
" Aku hanya melakukan nya demi Bibi Amy ibumu." ucap Damian.
" Baiklah, sayang ayo kita pulang." ucap Justin kepada anak itu.
Damian langsung mengalihkan pandangannya ketika melihat Anaknya dengan perlahan melepaskan genggaman tangannya dan berjalan menuju Justin.
" Papa kami pamit dan aku sangat bahagia bisa memiliki orang tua seperti kalian. Terima kasih." ucapnya sebelum tertutup oleh kabut putih.
Flashback off....
Mengingat itu semuanya membuat Damian meninttikan air mata sebelum tangan halus yang menghapusnya.
" Apa kau baik-baik saja, Damian?" tanya Charlotte dengan sorot mata khawatir.
Damian menggelengkan kepalanya sebelum pandangannya menuju ke arah langit.
" Papa akan melaksanakan keinginan mu jagoan." batin Damian.
Continue...
__ADS_1