
Setelah perjalanan yang menghabiskan waktu yang panjang akhirnya mereka sampai di Istana.
Charlotte dibantu Damian keluar dari Limosin disusul oleh Darell, Celline, Darius dan Shakira. Semua orang sudah menunggunya di depan pintu istana. Tapi pandangan Charlotte tertuju ke salah satu pria paruh baya yang duduk di atas kursi rodanya sambil memandangi nya sendu. Hal itu membuatnya merasa tidak nyaman ia memalingkan wajahnya.
Damian yang tahu bahwa Charlotte tidak nyaman menggengam tangannya lebih erat menyalurkan kekuatan nya seakan ia tidak sendirian ada dia yang sentiasa berada di sisinya.
Darius dan Shakira yang berada di depan segera membungkuk hormat sedikit kepada Mantan Raja Eduardo.
" Terima kasih karena Ayahanda sudah repot-repot menyambut kami." ucap Darius dengan datar sambil menggenggam tangan Shakira.
Mantan Raja tersebut hanya tersenyum kecelakaan yang terjadi lima tahun lalu. Membuat matanya terbuka ia akui dialah dalang di balik kehancuran kedua anaknya.
" Aku senang karena kedua anakku sudah semakin akrab. Kalau begitu mari kita makan malam terlebih dahulu sebelum berbincang." ucap Eduardo yang mengajak mereka semua untuk makan.
Mereka semua hanya diam sampai Celline yang berada di samping Charlotte perlahan melangkahkan kakinya maju menuju Eduardo.
__ADS_1
" Maaf siapa Tuan? Mengapa anda berada di istana Uncle?" tanya Celline dengan polosnya.
Membuat Charlotte yang mendengarnya terbelakak. Memangnya selama ini ia belum memperkenalkan Eduardo kepada anak-anaknya. Mengingat hubungan di antara keduanya belum selesai.
Eduardo terpaku di kursi rodanya sebelum memasang wajah lembutnya sambil tangannya mengusap surai putih Celline yang mirip sekali dengan Charlotte dan Violet.
" Apa kau Celline mirip sekali dengan Ibumu dan Nenekmu." ucap Eduardo sambil melirik Damian yang menatapnya tajam.
Bukan hubungan Eduardo dan kedua anaknya yang meregang. Tapi hubungan Eduardo dan Damian yang mulai hancur mereka saling bermusuhan apalagi setelah kejadian terbongkar nya Zeline semakin membuat mereka saling diam.
" Jadi kau adalah Kakekku." ucap Celline sambil memeluk kaki Eduardo.
Eduardo terdiam melihat Celline memeluknya tiba-tiba.
Charlotte yang melihatnya memalingkan wajahnya. Darius yang merasa suasana yang mulai tidak nyaman langsung menyuruh mereka masuk.
__ADS_1
Selama makan malam mereka saling terdiam satu sama lain kecuali Celline yang berbicara menceritakan kesehariannya kepada Eduardo. Mengingat ini pertemuan pertama mereka. Darell melirik Celline yang sama sekali tidak menyadari suasana yang tidak nyaman.
Meskipun usianya yang masih empat tahun tapi karena memiliki gen kedua orang tuanya jadi ia memiliki sensitif yang kuat daripada Celline. Darell langsung mengerti melihat hubungan Mommy dan Kakeknya tidak akrab melainkan seperti orang asing yang sama sekali tidak mengenal satu sama lain. Sebenarnya Darell ingin mengetahuinya tapi mengingat sepertinya Mommy nya tidak berencana untuk menceritakannya. Membuat nya harus menunggu nya.
Damian melihat Darell yang sedang menatap Eduardo dan Celline. Damian tahu bahwa Puteranya merasa tidak beres. Tapi ia hanya diam saja karena ia tidak berhak untuk bercerita selain Charlotte.
" Apa anda masih merasa sakit, Yang Mulia?" tanya Damian yang memecahkan suasana.
Eduardo yang sedang mendengar cerita Celline melirik Damian.
"Saya sudah merasa lebih baik meskipun terkadang tubuh saya merasa sakit ketika tidur dan bangun. Tapi saya merasa senang mengetahui bahwa Menantu masih mempedulikan pria tua ini." ucap Eduardo sambil melirik Charlotte untuk kesekian hari ini.
Charlotte menatap balik Eduardo dengan tatapan tajam.
Countine...
__ADS_1