
Jantung Damian seketika terasa berhenti berdetak. Dirinya tidak tahu bahwa Ayahnya yang dikatakan setia pada mendiang ibunya memiliki anak dari orang lain.
" Siapa, orang itu?" tanya Damian dengan suara rendah menahan amarahnya.
Eduardo menghela nafasnya sambil tangannya mengambil sebuah surat yang ada di samping mejanya.
" Ini adalah surat keterangan lahir yang dimiliki oleh anak itu, dan anda sama sekali tidak menyadari bahwa anak laki-laki yang sudah, Yang Mulia. anggap kakak adalah saudara tiri anda." ucap Eduardo sambil menyerahkan surat itu kepada Damian.
Damian dengan cepat mengambilnya dan membukanya matanya seketika terbelakak membaca surat keterangan lahir tersebut.
" Ternyata dia sejak awal sudah mengkhianati ibu." ucap Damian sambil meremas surat itu sampai lecek.
Eduardo menghela nafasnya melihat reaksi yang sudah ia duga dari menantunya.
" Ibumu sudah mengetahuinya sebelum kematiannya." ucap Eduardo yang mengungkap fakta lagi.
__ADS_1
Damian terkejut mendengar bahwa sebelum kematian ibunya karena melahirkannya dia sudah tahu bahwa ayahnya memiliki anak dari wanita lain.
" Bagaimana reaksinya, Apa dia kecewa dan memutuskan untuk pergi?" tanya Damian yang masih berusaha untuk tidak marah kepada Ayah dari isterinya.
" Aku tidak tahu nak, Tapi yang aku dengar Ibumu hanya tersenyum sebelum menutup matanya pasca melahirkan mu, dan masalah saudara mu dia lebih tua satu tahun dari mu. Aku dengar saudaramu mati ketika berusia sebelas tahun. Apa kau ingat dimalam ulang tahun mu yang dimana secara tiba-tiba Ayahmu pergi meninggalkan pesta." ucap Eduardo sambil menatap Damian yang terlihat diam.
Seketika pikiran Damian teringat ketika dirinya berusia 10 tahun. Hari perayaan ulang tahunnya tiba-tiba saja Ayahnya meninggalkan pesta membuat semua orang melihatnya dengan perasaan iba dan senang. Ia tahu sebagian orang duluan nya tidak menyukainya karena hanya dirinya terlahir dari seorang wanita desa yang beruntung di nikahin oleh seorang Pangeran Mahkota.
Mungkin Damian saat itu berpikir bahwa Ayahnya sedang berkunjung ke pemakaman ibunya seperti biasanya. Tapi ternyata ia mengunjungi anak laki-laki nya.
Eduardo hanya menggelengkan kepalanya melihat ekspresi wajah yang menunjukkan kekecewaan berat. Sebenarnya juga Eduardo awalnya tidak mempercayai bahwa sahabat nya bisa melakukan hal itu. Kemudian pandangannya tertuju ke sebuah foto dirinya dan sahabatnya yang sedang wisuda bersama-sama.
" Hehe... ternyata kita memang ayah yang buruk Arnold." ucap Eduardo sambil tertawa pelan.
...****************...
__ADS_1
Sepanjang ujung lorong Damian terus berjalan dengan pandangan yang kosong.
Ia sangat kecewa dengan ayah nya yang menutupinya seumur hidupnya. Apa memang selama ini dirinya hanya dijadikan sebagai pewaris saja? Mengapa tidak kakaknya saja yang di jadikan pewaris? pikir Damian.
Karena dirinya seorang Pangeran Mahkota ia harus berusaha belajar lebih keras supaya ayahnya tidak kecewa. Dirinya harus mengubur impiannya menjadi seorang Tentara, hanya demi posisinya sebagai pewaris tunggal.
Terkadang Damian tidak bisa mengerti apa yang di pikiran Ayahnya. Padahal bisa saja Kakaknya yang menjadi seorang Raja.
Jadi dirinya tidak akan bertindak egois dan mungkin juga dirinya tidak akan mengulang waktu untuk menembus semua kesalahannya.
Tapi Damian tidak menyesali hal itu karena dirinya bisa berusaha berubah untuk menjadi lebih dewasa. Menjadi masalahnya adalah nama Kakaknya seperti tidak asing di telinganya.
" Dominic...siapa dia..
Countine....
__ADS_1