
Aku saat itu ketika mau pulang dari sekolah, Tiba-tiba saja ada segerombolan orang yang mengejar kami. Mereka berhasil menghentikan mobil kami di dekat hutan. Di sanalah aku mengetahui bahwa seseorang sedang berusaha untuk membunuhku. Mereka menembak sopir dan pengasuh di bagian dada, dan aku berusaha keras untuk melarikan diri hingga terjatuh di jurang. Aku kira hidupku sudah berakhir tapi ternyata ada seseorang yang menyelamatkan nyawaku, dan menyembuhkan aku. Tapi sayangnya wajahku." ucap Dominic dengan perlahan melepaskan topeng di wajahnya.
Eduardo seketika terkejut melihat wajah asli Dominic. Melihat reaksi Eduardo membuat Dominic terkekeh pelan seolah dirinya sudah terbiasa dengan ekspresi orang-orang terhadapnya.
" Paman terkejut juga haha...inilah wajah asliku selatan yang membuatku harus hidup dengan bayang-bayang orang." ucap Dominic dengan wajahnya yang rusak di bagian kanan.
" Aku cuma tidak menyangka bahwa mereka senekat itu melakukan nya kepadamu, Kau tahu meskipun Ayahmu tidak terlalu memperhatikan mu. Tapi aku tahu bahwa dia begitu sayang kepadamu Dominic." ucap Eduardo yang melihat pancaran keraguan di mata Dominic.
Sontak perkataan Eduardo membuat Dominic menggelengkan kepalanya.
" Itu tidak mungkin terjadi, bayangkan saja anak sah nya saja tidak pernah diperhatikan olehnya. Apalagi aku yang cuma anak haramnya dari seorang pelayan rendah seperti ibuku. Itu tidak akan terjadi. Kalau begitu aku permisi karena tujuan aku di sini hanya ingin menyapa seseorang yang peduli denganku." ucap Dominic yang mengenakan topengnya kembali dan membungkuk hormat di hadapan Eduardo sebelum melangkahkan kakinya keluar.
Tapi sebelum itu ia mengucapkan sesuatu yang membuat Eduardo merasa terkejut lagi.
" Meskipun aku tidak mengenal jauh dirimu, Tapi kamu sama dengan ayahku. Sama-sama bodoh." ucap Dominic dengan wajah datar.
__ADS_1
...****************...
Sedangkan di sisi lain Damian yang sedang berjalan di lorong tanpa sengaja berpapasan dengan seseorang yang membuatnya langkahnya terhenti.
Damian membalikan badannya dan melihat bahwa seorang pria menggunakan setelan jas berjalan jauh darinya. Dia terus memperhatikan punggung tersebut hingga hilang dari pandangan nya.
Setelah itu Damian kembali melanjutkan jalannya lagi menuju ke ruangan Eduardo. Ia langsung membuka pintu tersebut tanpa mengetuk nya terlebih dahulu.
Ceklek...
" Akhirnya kau datang juga, Yang Mulia. Kenapa lama sekali saya sudah lama menunggu anda datang." ucap Eduardo.
Ucapan Eduardo hanya di respon dengan lirikan malas dari Damian.
" Jadi ada urusan apa sampai anda menyuruh saya datang kemari, dan sepertinya anda baru saja menerima seorang tamu." ucap Damian sambil memicingkan matanya memandang curiga Eduardo.
__ADS_1
Tentu saja perkataan Damian membuat Eduardo merasa panik. Tapi dirinya harus berusaha untuk menyembunyikan semuanya. Karena sekarang ia harus membicarakan hal penting kepada Raja di depannya.
" Ini masalah rahasia Raja Arnold yang harus kamu ketahui, Menantuku." ucap Eduardo sambil tersenyum melihat ekspresi datar Damian seolah-olah sama sekali tidak terpengaruh akan ucapannya.
Damian sedikit terkejut mendengar bahwa Eduardo mengetahui rahasia mendiang ayahnya. Ia langsung menatap tajam Eduardo.
" Cepat beritahu saya apa yang sebenarnya terjadi bertahun-tahun yang lalu, dan saya berharap ini tidak akan mengecewakan." ucap Damian yang menuntut penjelasan dari Eduardo.
Eduardo menghela nafasnya sebelum memulai berbicara.
" Ini rahasia antara Ayahmu yang memiliki seorang anak haram......
Deg....
Countine...
__ADS_1