
Bugh....
" Sialan bagaimana mungkin." jeda Charlotte dengan marah sambil memukul dinding keramik yang berada dekat wastafel.
" Aku melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya." lirih Charlotte pelan yang dengan perlahan tubuhnya merosot ke bawah dan akhirnya ia duduk di bawah lantai keramik yang dingin.
Dengan tangan yang memegang sebuah benda kecil bergaris dua.
...****************...
Sedangkan di sisi lain Damian yang sedang mengerjakan berkas-berkas negara. Tiba-tiba berdiri dari kursi kebesarannya.
" Sean, lanjutkan pekerjaan saya. Saya ada urusan sebentar." ucap Damian kepada Asistennya.
" Baik, Yang Mulia." ucap Sean sambil menundukkan kepalanya.
Setelah itu Damian berjalan di sepanjang lorong sampai ke sebuah yang gelap. Hanya ada penerangan dari obor yang terpasang di dinding tetapi Damian sama sekali tidak tersesat seakan-akan ia sudah mengenal tempat tersebut.
Akhirnya Damian sampai di sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat banyak buku-buku tua dan juga ada seorang yang duduk di sana.
Orang tersebut yang melihat kehadiran nya langsung membungkuk hormat.
" Salam, Yang Mulia. Silahkan duduk." ucap nya sambil menyuruh Damian duduk.
Damian langsung duduk di sebuah kursi berada di hadapan orang tersebut.
__ADS_1
" Jadi, apa kau sudah melakukan nya?" tanya Damian yang to the points sambil menampilkan ekspresi dinginnya.
" Tentu saja, Yang Mulia. Saya pastikan mereka akan menyesal telah bermain-main dengan anda." jawabnya dengan yakin.
Damian yang mendengarnya tersenyum sinis. Seakan ia sedang merencanakan sesuatu yang besar.
...****************...
" Sialan bagaimana bisa aku mengandung dari seorang pria rendahan itu." ucap Seorang gadis ralat wanita yang sedang menghancurkan barang-barang yang berada di kamar mewahnya.
Prang.....
" Tuan Puteri, anda jangan melakukan ini nanti bisa mengganggu kesehatan anda dan bayinya." ucap pelayan pribadi nya yang berusaha menenangkan sang majikan.
Prang...
ARRGGH....
Sayangnya vas bunga tersebut mengenai dahi sang pelayan hingga akhirnya tidak sadarkan diri dengan kepala yang berdarah.
Wanita itu yang melihatnya langsung panik ia dan berjalan menghampirinya.
" Aku perintahkan bangun, sialan." ucap nya sambil terus membangunkan pelayan itu.
Tetapi sayangnya itu sia-sia karena pelayan tersebut langsung dinyatakan meninggal di tempat.
__ADS_1
Wanita itu yang mengetahui bahwa pelayannya sudah mati langsung gelisah. Ia tidak ingin menjadi tersangka dan masuk penjara.
" Aku harus menguburnya, Sialan kau Charlotte andaikan kau tidak mungkin hidupku tidak akan hancur begini ARRGGH... SIALAN BAYI SIALAN ARRGGH." ucapnya sambil berteriak dan memukuli perutnya.
Tanpa menyadari bahwa seseorang ada merekam kejadian tersebut dari celah-celah pintu yang terbuka.
" Ini semakin menarik." ucapnya sambil tersenyum sinis.
...****************...
Acara makan malam di istana terasa hening hanya ada suara dentingan alat makan yang menghiasi kesunyian dari kedua pasangan tersebut. Memang di peraturan kerajaan dilarang berbicara saat makan sampai acara itu berakhir.
Damian yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Charlotte dengan datar. Sedangkan Charlotte berusaha memakan makanannya dengan pelan. Meskipun saat ini ia merasa mual.
" Apa yang kamu sembunyikan dariku, Audrey?" tanya Damian to the points.
Membuat Charlotte yang sudah selesai makan tersentak. Sampai akhirnya tubuhnya merasa rileks.
" Tidak ada, saya baik-baik saja." ucap Charlotte berusaha tenang.
Damian yang melihatnya hanya menampilkan senyumannya. Tapi di balik senyuman tersebut ada banyak tersimpan makna di dalamnya.
" Akhirnya....
Continue...
__ADS_1