
Setelah kembali dari makan malam Charlotte memutuskan untuk mandi dan tidur. Karena badannya sangat lelah setelah melewati kegiatan nya yang sibuk sepanjang hari.
Di bawah guyuran shower Charlotte mengelus perutnya dengan lembut. Senyuman terbit di bibir Charlotte tanpa sadar membayangkan bahwa di dalamnya terdapat seonggok makhluk kecil yang akan terus berkembang selama 9 bulan.
" Memang kamu hadir di luar perkiraan ku. Tetapi tetap saja Mommy sangat menyayangi mu dan mulai hari ini Mommy berjanji akan melindungi mu. Meskipun harus meninggalkan istana." ucap Charlotte sambil memejamkan matanya.
Karena tidak ingin membuat dirinya sakit. Charlotte memutuskan untuk menyelesaikan mandinya. Ia menggunakan jubah mandi untuk menutupi tubuh polosnya.
Ceklek...
Ketika membuka pintu bertapa terkejutnya Charlotte melihat kehadiran Damian yang sedang berdiri di depannya sambil memegang sebuah alat merupakan tes kehamilan miliknya.
" Bukannya aku sudah menyembunyikan ke tempat yang aman supaya dia tidak menemukan nya." batin Charlotte.
Melihat ekspresi terkejut di wajah Charlotte semakin membuat Damian yakin bahwa alat yang berada di pegang nya milik Wanitanya.
" Sampai kapan kamu akan menyembunyikan dariku, Audrey?" tanya Damian dengan suara rendahnya dan jangan melupakan tatapan intimidasi darinya.
Entah apa yang membuat Charlotte. Biasanya Charlotte sama sekali tidak takut dengan tatapan seperti itu mengingat bagaimana Daddy angkat nya yang pernah menatapnya dengan lebih menyeramkan.
" Apa ini pengaruh darinya." batin Charlotte bertanya-tanya.
" Bagaimana jika aku tidak pernah akan memberitahukannya padamu, Damian?" tanya Charlotte dengan nada menantang.
__ADS_1
Pokoknya ia harus tetap biasa saja agar Damian memperalatnya seperti kehidupan sebelumnya.
Damian yang mendengarnya langsung tidak bisa menahan amarahnya.
Bugh....
Betapa terkejutnya Charlotte melihat Damian memukul pintu yang berada di belakangnya. Kemudian tidak lama Damian tertawa membuat Charlotte bingung melihatnya.
" Hahahaha....rencana ku berhasil bukan?" tanya Damian yang mulai mendekatkan wajahnya dengan Charlotte.
Melihat gerak-gerik Damian membuat Charlotte secara refleks memundurkan kepalanya. Tetapi sayangnya Damian memeluk pinggang rampingnya dan menariknya ke dalam pelukannya.
" Apa kau tidak tahu betapa bahagianya aku, Audrey hmm.." jeda Damian sambil menyembunyikan wajahnya di lekukan lehernya.
" Hormon sialan." batin Charlotte mengumpat.
Damian tersenyum ketika merasakan tubuh Wanitanya kaku. Membuat Damian merasa bahagia sangat bahagia.
" Akhirnya kamu mengandung anak ku, Audrey. Jadi sekarang kamu tidak akan bisa meninggalkan diriku. Karena kamu memilih pergi aku akan selalu menemukan dirimu di manapun berada. Wanitaku, Isteriku, dan Ibu dari Anak-anak ku." ucap Damian sambil tersenyum atau lebih tepatnya seringai.
Charlotte yang mendengarnya merasakan ketakutan. Sudah tidak lama ia rasakan. Tapi ia bisa menyembunyikan dengan baik.
" Siapa sebenarnya dirimu, Damian?" tanya Charlotte dengan datar.
__ADS_1
Damian yang mendengar pertanyaan Charlotte menyeringai kembali.
" Akhirnya dirimu curiga sayang...
...****************...
Sedangkan di sisi lain sebuah istana di Slovenia. Darius sedang berdiri di hadapan Ayahandanya.
" Sampai kapan Ayahanda tidak mengakuinya?" tanya Darius dengan tajam kepada Ayahandanya.
Raja Eduardo yang mendengarnya melepaskan kaca mata bacanya yang tadi ia gunakan.
" Tidak akan pernah, Aku tidak akan pernah mengakui pembunuh itu." jawab Raja Eduardo dengan yakin.
Darius melihat tingkah keras kepala Ayahandanya memijit pelipisnya.
" Terserah Ayahanda saja, Tapi yang pasti Ibu akan kecewa denganmu." ucap Darius sebelum keluar dari ruangan Ayahnya.
Raja Eduardo yang mendengar ucapan Puteranya. Berpikir apa benar Isterinya kecewa kepadanya pikirnya.
" Tetapi tidak mungkin bukan kau kecewa kepada ku...
Continue...
__ADS_1