Second Chanced ( S1&S2)

Second Chanced ( S1&S2)
S2 Kenangan


__ADS_3

Flashback On...


Damian POV....


Sejak kecil aku tidak tahu mengapa semua orang menghormati diriku. Mereka cuma mengatakan bahwa aku adalah seseorang yang penting bagi negara.


" Ila...Dami mau main ke taman." ucap Damian kecil yang saat itu baru berusia 5 tahun.


Ila yang merupakan pengasuh pribadi Damian sejak bayi menggangguk kepalanya.


" Tentu saja Pangeran boleh bermain tapi ingat jangan bermain sampai ke istana utama. Anda mengerti Pangeran." ucap Ila yang memberi nasihat.


Damian kecil bingung mengapa dirinya tidak pernah diizinkan untuk ke istana utama. Tapi ia tidak bisa melakukan apapun selain menggangguk kepalanya.


Setelah itu Damian kecil bermain berjalan-jalan ke taman istana kecil yang di tempati nya selama ini. Damian kecil tidak pernah tahu siapa ibunya yang pernah dia dengar bahwa ibunya sudah pergi ke langit. Tetapi Damian bukan orang yang bisa di bohongin dia tahu bahwa ucapan Ila adalah pengalihan supaya dirinya tidak bersedih.


Damian kecil sudah merasa cukup senang karena masih mendapatkan kasih sayang dari pengasuhnya. Damian kecil terus berlari sampai tidak menyadari bahwa dia sudah jauh dari tempatnya bermain tadi.


"Ini dimana Ila...Ila..." ucap Damian yang ketakutan sambil memanggil Pengasuh nya dengan mata berderai air matanya.

__ADS_1


Damian kecil terus melingkup di bawah pohon sambil menangis.


" Hei...anak laki-laki tidak boleh menangis." ucap Seseorang yang berdiri di hadapan Damian kecil.


Membuat Damian kecil yang mendengarnya mengadahkan kepalanya sinar matahari membuatnya tidak bisa melihat wajah orang di hadapannya.


" Siapa kau?" tanya Damian kecil polos.


" Kau lucu namaku....


Flashback Off....


" DAMIAN." ucap Charlotte yang memanggil nama Damian dengan berteriak.


" Apa kau baik-baik saja, jika kau sedang sakit lebih baik kita undur saja keberangkatan nya?" tanya Charlotte sambil meletakkan telapak tangannya ke dahi Damian untuk mengecek suhu tubuh nya.


Damian yang melihat kecerewetan Charlotte terkekeh pelan.


" Aku baik-baik saja, kau jangan membuat anak-anak panik Audrey. Lihatlah." ucap Damian sambil menunjuk ke arah belakang Charlotte.

__ADS_1


Charlotte yang melihatnya langsung membalikan badannya dan melihat kedua anaknya sedang memasang wajah melongo.


" Mommy, mengapa kau berteriak apa si tua ini membuat masalah lagi?" tanya Darell yang mengejek Damian.


" Dasar anak nakal." ucap Damian yang mengumpat Darell.


Entah kenapa hubungan Damian dan Darell seperti kedua musuh yang tidak pernah akur. Mengapa tidak mereka sering berantem demi memperebutkan perhatian Charlotte kecuali saat mereka berdua sedang berdiskusi.


Memang meskipun Darell baru berusia 4 tahun lebih tapi kemampuan nya dalam bidang politik tidak dapat di remehkan. Ia terkadang memberikan ide untuk menyelesaikan masalah tentang negara. Ia tidak dapat di ragukan lagi Darell memang memiliki kecerdasan seperti kedua orang tuanya.


" Sudahlah jangan mulai pertengkaran lagi atau kalian tidak akan aku ijinkan untuk ikut pergi. Biarkan aku pergi bersama Celline hitung-hitung bisa jalan-jalan ke negara Asia. Betulkan Celline." ucap Charlotte.


" Benar Mama Celline ingin ke Jepang khikhi..." ucap Celline sambil cekikikan.


" Tidak akan kalau begitu kita pergi sekarang Darell." ucap Damian.


" Baiklah Dad." ucap Darell yang langsung mengikuti Daddy nya keluar dari kamarnya.


Melihat itu semua Charlotte dan Celline tidak bisa menahan tawanya lagi. Akhirnya mereka tertawa lepas merasa telah menipu kedua pria yang mempunyai wajah yang sama. Kemudian mereka berdua saling bertos ria.

__ADS_1


" Rencana berhasil....


Countine...


__ADS_2