
Aku terkesiap hingga hampir terlonjak dari tempat tidurku saat mendengar bunyi alarm alami yang khas milik nenek Merry. Yuph... teriakan nenek Merry yang cukup memekakkan telinga tersebut adalah alarm yang selalu berhasil membangunkan ku. "Fara...!" teriaknya kembali . "Ya, Nek..." ucapku sambil melangkah gontai mendekatinya. "Sudah subuh, sayang..." ucapnya sambil menata kue pada beberapa box untuk diantar pada warung atau toko kue di pasar. "Ya, Nek..
" ucapku sebelum berlalu menuju kamar mandi.
Setelah selesai dengan mandiku, aku pun segera menunaikan sholat subuh. Ku adukan semua keluh kesah ku kepada Sang pemilik semesta. Tuhan 'Azza Wa Jalla. Tak lupa ku sampaikan juga pengharapan ku atas diriku dalam menjalani hari - hari ku. "Aamiin...." ucapku sambil mengusap wajah dengan kedua bilah tanganku. Mohon kabulkan doa ku.
__ADS_1
Pagi yang cerah setelah semalaman bumi di guyur hujan. Langit pun tiada mendung lagi. Hanya tampak awan putih tipis yang berarak riang membentuk gelombang yang menutup sebagian langit yang mulai berwarna kemerahan. "Selamat pagi...." ucapku sambil melajukan Scooter kesayanganku. Dengan kecepatan sedang aku menyusuri jalanan yang masih tampak basah. Semilir angin dingin pun membuat dahan dahan bergoyang dan menjatuhkan sisa hujan yang menempel pada dedaunan. Ku hentikan scooter ku di depan sebuah toko kue. Toko kue koh Ahong. "Seratus, Koh..." ucapku sambil menyodorkan box berisi kue. "Fara... Kue yang Lo titip kemarin ludes. Sekarang lo ambil uangnya seratus lima puluh ribu. Lo kasih sama Lo punya nenek ya. Bilang juga sama Lo punya nenek lusa ada pesanan kue seratus. Jadi Lo kirim dua ratus ya..." ucap koh Ahong. "Ya, koh. Nanti Fara sampaikan ke nenek" ucapku dengan wajah sumringah sambil berlalu. Ku starter scooter ku dan melaju dengan kecepatan sedang. "Dua toko lagi..." ucap ku. Ku percepat laju Scooter ku karena tiga puluh menit lagi jam pelajaran pertamaku akan segera di mulai. "Toko kue Cih Amel dan toko kue Gamasari." gumamku sambil memarkir scooter ku. Ku masuki toko tersebut satu persatu. Beruntungnya kedua toko tersebut berdekatan.
"Done...." ucapku sambil kembali melajukan Scooter menuju sekolah dengan senyum menghiasi wajahku. "Semoga belum terlambat" gumamku. Lima belas menit berlalu dan sampailah pada sebuah pagar nan tinggi. Harapanku pudar saat melihat pagar tinggi dengan pintu yang hampir saja tertutup sempurna. "Tunggu mang....!" teriakku lantang. "Neng Fara...hampir saja Mamang tutup. Sudah selesai ngantar kuenya?" ucap mang Udin saat ku lewati pintu gerbang. "Sudah, Mang. Terima kasih..." kataku sambil mendorong *scoo*ter yang sengaja ku matikan menuju parkiran agar tidak menarik perhatian.
Setelah terparkir, aku langsung berlari menuju kelas. Tak ku hiraukan tatapan beberapa pasang mata yang menangkap keterlambatan ku pagi ini. Segera ku hempaskan tubuhku pada kursi dimana sahabat ku berada. "Nyaris...." ucapnya sambil tersenyum. Aku pun mengangguk sambil merapikan buku pelajaran ku.
__ADS_1
"Jelas tahu lah, biasa ngitung kue sih..." ucap Ratu setengah berbisik yang membuat beberapa siswa terkekeh. "Hei...memang kenapa kalau tukang kue? Kau juga suka makan kue..." ucap Ferry membelaku. "Aku memang suka makan kue. Tapi beda. Kue dia tuh, ga level..." ucap Ratu dengan gaya khasnya. "Sudah...." ucapku menenangkan Ferry yang tampak kesal. Bu Andini pun memperingatkan Ratu untuk tidak merendahkan pekerjaan orang lain.
Kelas pun kembali tenang, sehingga pelajaran dapat berlanjut hingga bel panjang berbunyi. Tanda berakhirnya tiga jam pelajaran pertama. Bu Andini pun tampak sudah meninggalkan ruang kelas di susul para siswa yang berhamburan ke luar kelas dengan aktifitasnya masing - masing.
"Dari mama..." ucap Ferry sambil menyodorkan kotak bekal kepadaku. "Ish...baik banget sih mama kamu itu. Dan lagi tahu saja jika aku belum sarapan" ucap ku sambil membuka kotak bekal tersebut dan menyantapnya. Sesekali aku pun menyorongkan suapan kepadanya. "Em, Romeo dan Juliet lagi kumat" ucap Sherlly sambil menyodorkan jus buah padaku. "Untuk tuan putri yang habis racing" ucapnya sambil membuka mulut agar disuapi. "Enak. Aku juga donk, Fer bawakan nasgor. Curang mama mu masa hanya Fara. Akunya mana? Aku juga kan sahabatmu" ucap Sherlly sedikit manja. "Iya besok aku minta mama bawakan special untukmu" ucap Ferry sambil mengacak rambutnya. Satu box pun sudah ludes kami lahap bertiga. Bahkan satu gelas jus buah pun kami habiskan bertiga. "Persahabatan yang aneh" ucapku dalam hati. Hanya senyuman saja yang terumbar atas pernyataan ku tersebut.
__ADS_1
Sejurus kemudian tampak Bu Ratna, guru Fisika berdiri di ambang pintu bersamaan dengan bel panjang dimulainya pelajaran ke lima dan keenam. Sontak para siswa yang semula berkerumun segera kembali pada kursi masing - masing. Begitu pun dengan Aku, Sherlly dan Ferry. Bu Ratna adalah salah satu guru best -nya SMA Nusa Bangsa sekaligus juga menyandang guru ter-Killer. Namun demikian, tidak bagiku. Aku santai saja menghadapinya. Yang terpenting tugasku selalu selesai, dan aku selalu memperhatikan saat beliau mengajar. Karena itu beliau tidak pernah memarahiku tanpa alasan yang jelas. Dua jam pelajaran Fisika ku lalui dengan so fun so good. Ah, mereka saja yang lebay menganggap Bu Ratna killer. "Tugas jangan lupa dikerjakan pada kertas folio. Besok sudah di kumpulkan di meja saya. Fara, ibu minta bantuan mu untuk mengumpulkannya" ucap Bu Ratna sambil tersenyum kemudian berlalu. "Ya, Bu...." ucap siswa hampir bersamaan. "Ah, menegang kan sekali" ucap Ferry sambil membuang nafas dengan kasar. "Kamu laper tidak,Fara? Ke kantin, yuk" ajak Ferry sambil merapikan buku bukunya. "Em, aku masih kenyang. Sherlly tuh mungkin ingin ke kantin" ucapku sambil sibuk mencari kertas folio. "Ayok... ke kantin. Ah, Fara pasti ingin mengerjakan tugas Bu Ratna" ucap Sherlly saat melihatku mengeluarkan kertas folio. Aku pun tersenyum mendengar ucapan tersebut. Keduanya pun berlalu meninggalkan kelas menuju kantin. Sementara aku memilih mengerjakan tugas hingga suara adzan dzuhur berkumandang. Bersamaan dengan itu, tugas Fisika ku pun selesai. "Sudah selesai...?" ucap Bu Ratna yang tiba - tiba saja sudah berdiri di hadapanku. "Su - sudah, Bu..." ucapku gagap. Bu Ratna pun meraih kertas tugasku dan mengamatinya sejenak. "Pintar kamu. Ibu bawa ya..." ucapnya sebelum berlalu. Aku bisa apa jika sudah begini selain mengiyakannya.
Setengah berlari aku menyusuri teras kelas yang mengular. Tujuanku saat ini adalah Masjid. Tak habis lima belas menit , sholat ku pun selesai. Sambil merapikan rambut, aku pun duduk menyandar pada salah satu dinding masjid. Mataku kerap memperhatikan siswi - siswi yang selalu terlihat anggun dengan kerudung mereka. Terbayang kembali wajah cantik amah yang juga berkerudung. Begitu mempesona. Ah, entah kapan aku bisa seperti mereka.