
Pukul delapan lewat sepuluh menit. Ku putuskan untuk melanjutkan hidupku dengan membuka toko kue. Berbekal tabungan nenek dan aku pada tempo lalu serta pemberian Tante Virna, aku dan ayah akhirnya berhasil membeli sebuah ruko dua lantai di ujung jalan dekat pasar. Sebuah tempat yang terbilang cukup strategis. Dan hari ini adalah opening ceremony toko kue yang ku beri nama KUN yang diambil dari Kun fayakun, jadilah maka akan menjadi. Dengan harapan semua yang diinginkan akan terjadi. Semua harapan akan menjadi nyata. Semua itu setelah kedukaan dan kegagalan yang mendera kami, maka kali ini tekad kami untuk menjadi lebih baik dan sukses semakin tak terbantahkan. Seperti kata orang bijak:
Orang yang sukses adalah orang yang mampu bertahan melewati kegagalan demi kegagalan sampai dia mencapai pintu kesuksesan
Alih-alih pembukaan toko semua kue dijual dengan harga promosi. buy one get one. Dan benar saja baru dua jam toko buka pengunjung sudah memenuhi toko. Aku, ayah, Sherlly dan Ferdy sangat kewalahan meladeni pembeli. Ini semua berkat kedahsyatan sosial media. Sebulan sebelumnya aku sudah aktif berselancar di media sosial mempromosikan berbagai macam kue dan toko yang akan beroperasi. Bahkan kak Mirza, Sherlly dan Ferdy pun membantu mempromosikannya pada group-group obrolan yang ada. "Butuh bantuan...?" kata kak Mirza sambil menyeka peluh yang menitik di kening dan sebagian wajahku. Perlakuan tersebut sempat membuat riuh pengunjung toko yang melihatnya. Dan lagi-lagi kak Mirza hanya tertawa mendapat respon seperti itu. "Istirahatlah...Biar aku yang menggantikan" katanya sambil mengusap pucuk kepalaku dan memakai apron. Sempat aku menolak, namun sifat keras kepalanya tentu saja menjadikan aku lagi-lagi harus mengalah.
Pukul dua belas lewat empat menit. Aku menyeka keringat yang semakin membanjiri tubuh. Ku teguk segelas air mineral untuk menghilangkan dahaga yang ada. Kemudian aku pun menunaikan sholat dzuhur saat adzan usai berkumandang. Mengurai doa nan panjang dan penuh pengharapan. Kurang lebih lima belas menit aku mengistirahatkan tubuh sejenak. Setelah kurasa cukup, aku pun kembali membantu ayah yang tampak kewalahan di meja kasir. "Istirahatlah, Yah...Fara yang menggantikan" kataku kepada ayah. Ayah pun mengangguk dan duduk sejenak sambil memperhatikan ku. Tampak ia tersenyum menatapku dan mengangkat kedua ibu jarinya ke udara.
__ADS_1
Pukul dua belas lewat empat puluh menit. Pengunjung mulai tak ramai lagi. Hanya satu dua saja yang masih datang. Tak lama kemudian datanglah seorang ibu berwajah cantik dan menghampiriku. Ia memesan kue tart coklat untuk hari kelahiran cucu pertamanya. Juga beberapa macam cupcakes dengan bermacam topping. "Acaranya Sabtu siang. Sekitar jam satu. Ini alamatnya" katanya sambil menyodorkan kartu namanya. "Ibu Zanna Kirania.." kataku saat membaca nama yang tertera. "Betul..." kata ibu tersebut sebelum berlalu. Aku bersorak girang mendapat pesanan tersebut membuat ayah mendekatiku dan memeluk ku erat. "Selamat, sayang. Semua akan berjalan lancar" katanya sumringah. "Fara..." panggil kak Mirza sambil menunjuk ke pintu toko. Ciut hatiku saat melihat sosok perempuan cantik setengah baya yang berdiri di ambang pintu.
"Mama Melissa..." gumamku lirih. Sedikit ragu aku pun menyongsong kedatanganya. Ku ikuti langkah kak Mirza yang telah mendahuluiku. "Ma..." kataku sambil meraih tangan dan mencium punggung tangannya penuh takzim. Ia pun tersenyum. Ditatapnya aku dari ujung kaki hingga kepala dengan mata berkaca-kaca. Tak lama ia pun memeluk ku begitu erat. "Anak gadis mama. Kemana saja?" katanya tersedu. "Ma...Fara..." kataku terhenti saat ia menutup bibirku dengan jarinya. "Mirza sudah menceritakan semuanya. Mama minta maaf, sayang. Mama tidak mampu menjagamu" katanya yang membuatku tertegun. Dan sekali lagi kami berpelukan.
"Kita duduk di sini saja ya...Sebab ayah dan yang lainnya aku persilahkan sholat dan makan siang" kata kak Mirza sambil menarik tiga kursi ke belakang etalase dekat meja kasir. Mama Melissa masih tersenyum menatapku. Sesekali tangannya mengusap lembut pucuk kepalaku. "Perempuan gila itu sudah berada di balik jeruji besi. Namun kaki tangannya masih saja mampu menyakitimu" kata mama Melissa sambil menggenggam erat tanganku. "Mama merasa bersalah sekali, sayang atas semua yang terjadi padamu" kata mama lagi. "Mama tidak perlu minta maaf. Karena mama tidak bersalah sama sekali" kataku dengan kepala tertunduk.
Selanjutnya panjang lebar kami berbincang dan sesekali tawa pun menghiasi perbincangan kami tersebut hingga pukul satu lewat dua puluh menit. Saat itu ku lihat ayah masuk toko. Rupanya ia telah usai menunaikan sholat dzuhur di masjid terdekat. Ayah pun langsung melangkah ke arah kami sesaat setelah ia melihat keberadaan kami. "Ma, kenalkan. Ayah Fara..." kataku saat ayah berdiri dekat kami. Keduanya pun saling berjabat tangan dan mengumbar senyuman.
__ADS_1
"Mengeluh hanya akan membuat hidup kita semakin tertekan sedangkan bersyukur akan senantiasa membawa kita pada jalan kemudahan"
Kata bijak yang aku dan ayah ucapkan sebagai pengingat bahwa kita tidak boleh mengeluh dan harus banyak bersyukur. Ternyata kata-kata tersebut cukup ampuh sebagai reminder hidup kami saat ini.
Mama Melissa pun tersenyum menatap kami. Sesekali ia pun menyeka pipinya yang juga sudah basah dengan bulir bening yang sejak tadi terjun bebas.
Pukul empat lewat dua puluh menit. Kami berlalu dan meninggalkan toko yang sudah di tutup rapat. Selain sudah sore juga karena persediaan kue sudah habis. "Alhamdulillah...." ucap kami saat menatap toko. Bersyukur kami kehadirat-Nya atas pencapaian hari ini. Saling berangkulan pada bahu kami berlima, aku, ayah, Sherlly, Ferdy dan tentu saja kak Mirza lelaki tampan yang mampu mendamaikan badai yang berkecamuk di hatiku. Dan juga lelaki yang mampu membangun kepercayaan diriku setelah apa yang kualami.
__ADS_1
Pukul empat lewat lima puluh lima menit. Ku rebahkan kepalaku pada sandaran sofa dan memejamkan mata sejenak. Nafasku terasa begitu teratur. "Sayang..." kata kak Mirza membuat mataku terbuka perlahan dan menatapnya. "Esok kak Mirza mu ini kerja. Jadi tidak bisa menemanimu. Dan Sherlly, Ferry juga sekolah. Siapa yang akan membantumu?" katanya sambil duduk menghadapi ku. "Malam ini Bu Jiah dan mbak Mona yang siap menjadi karyawan ku. Esok ada dua orang karyawan baru untuk di toko" kataku. "Em, kapan buat woro-woro penerimaan karyawannya?" kata kak Mirza. "Online. Ayah yang membuatnya" kataku lagi yang membuat kak Mirza tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya. "Terima kasih ya sudah membantu" kataku sambil menatapnya. "Kenapa harus berterima kasih? Aku kan suami mu. Sudah sewajarnya jiwa bahu membahu" kata nya yang membuat ku membulatkan mata. "Calon suami.." kataku. Kak Mirza pun tertawa sambil menepuk keningnya. "Lupa, yank..." katanya disela tawanya. Aku pun akhirnya turut tertawa bersamanya.
to be continued...