
Entah pukul berapa aku tidak tahu. Hanya tiktok jam yang selalu menggelitik telingaku dan berhasil jadi teman ku selama di Rumah sakit ini. Aku masih menatapi laki-laki yang ada di dekatku. Laki-laki yang sesaat lalu khusyuk dalam sholatnya. Dan sesaat kemudian begitu syahdy melantunkan ayat Alquran. Laki-laki yang sedikit kuyu. Wajahnya begitu murung. Rambut panjangnya pun diikat sembarang saja. Kemudian matanya menatap ku yang terbujur tak berdaya dengan beberapa alat yang masih menempel.
"Sayang..." ucapnya sambil meraih tanganku sang mengecupnya. "Hari ini, mestinya kita menikah. Hari ini tepat dimana hari yang seperti kita rencanakan. Bangunlah, sayang...kita harus menikah hari ini" ucap kak Keanu begitu pilu. Berulangkali ia harus menyapu air mata yang mulai berjatuhan tak sanggup dibendung lagi. Apa...! Hari ini hari pernikahan kami? Artinya sudah tiga pekan aku di rumah sakit ini. Dalam kondisi seperti ini. Sudah selama itu kah? Ya, Robby...tolonglah hamba.
"Sayang... Aku yakin kau mendengar ku. Karenanya aku mohon. Bangunlah, sayang..." ucap kak Keanu. Wajahnya terbenam dalam sambil menggenggam jemariku dengan erat. Tubuhnya pun guncang menahan tangisnya. Ini bukan pertama kalinya aku melihatnya demikian. Namun entah mengapa hari ini terasa begitu berbeda. Ingin rasanya aku mengusap kepalanya, sekedar menenangkannya. Di lain rasa, aku pun ingin berlari memeluknya. Laki-laki ini begitu mencintaiku, karena itu ya Robby...aku mohon dengan sangat berikan kesempatan agar aku bisa bahagia bersamanya.
"Oya, sayang...Noah baru saja berkirim kabar tentang pelaku yang menyebabkan mu hingga seperti saat ini" ucap kak Keanu. Aku akan membuat perhitungan dengannya. Ditambah dengan semua perlakuan yang pernah ia lakukan padamu?" ucap kak Keanu yang dengan lembut mengusap pucuk kepalaku, sementara sebelah tangannya masih menggenggam jemariku. Aku menangis. Dan tangisku nyata adanya. Ya...air mata itu mengalir dari kedua mataku. "Fara..." ucap kak Keanu mengguncang tubuhku sesaat ketika ia menyadari ada lelehan bulir bening dari mataku. "Bangunlah, sayang...Bangunlah. Aku mohon..." ucapnya begitu pilu.
"Keanu...!" ucap bang David dari ambang pintu. Sesegera mungkin kak Keanu pun menyusut air matanya. Dan berusaha setenang mungkin kembali. "Bersabarlah..." ucap bang David sambil menepuk bahu kak Keanu. Matanya pun mengisyaratkan kekhawatiran saat menatapku.
"Aku bingung memberi penilaian terhadap keluarga kalian. Satu sisi kalian baik terhadap Fara. Bahkan terlalu baik. Tapi di sisi lain, ada anggota keluargamu yang berusaha mencelakai Fara. Bahkan hampir menghilangkan nyawanya. Apa kau tidak paham maksudku, Bang? Ataukah kau pura-pura tidak paham? Come on...Jangan menjadi begitu naif, Bang. Aku yakin kau sudah mengetahuinya" ucap kak Keanu. Hal tersebut tentu saja membuat bang David diam. Matanya menatap kak Keanu.
"Aku tahu..." ucap bang David kemudian. "Lalu mengapa kau tidak memenjarakannya? Bukankah kau sudah berjanji kepada Fara?" ucap kak Keanu. Bang David menghela nafas. Dia diam kembali. Matanya menatapku. Begitu pilu. "Bukti ku belumlah sempurna. Jadi aku masih diam. Pun demikian aku tetap berusaha mencari bukti lain agar lebih kuat" ucap bang David.
"Kau ragu, bang? Aku yakin itu. Karena setelah ini kemungkinan keluarga mu akan tercerai berai" ucap kak Keanu sambil menatap bang David. Matanya menilik tanggapan yang tergambar pada wajahnya.
"Seperti halnya Fara, aku yakin aku dan dan keluarga ku akan mampu melewatinya" ucap bang David. "Baiklah..silahkan tuan Keanu menjauh sedikit dahulu, aku akan memeriksa Fara" ucap bang David sambil menepuk bahu kak Keanu dan tersenyum seperlunya saja.
"Kau tahu, Fara. Ada banyak orang yang menyayangimu ketimbang yang membencimu. Karenanya bangunlah dan berbahagialah, sayang..." ucap bang David sambil memeriksaku dengan cekatan.
Sekali lagi aku melihat bang David menghela nafas. Matanya tak lepas menatapku. "Maafkan, Fara. Aku belum dapat memenuhi janjiku pada nenek Merry. Aku tidak dapat menjagamu" ucapnya sendu. "Setelah aku mengumpulkan bukti, aku akan membuat laporan atas kejahatan yang sudah dilakukan Amara dan lainnya. Dengan demikian kau akan hidup bahagia, Karena tiada lagi yang akan mengganggumu" ucap bang David.
Hei...bang David bermaksud melaporkan Amara. Entah mengapa saat mendengar itu, hati ku kalut. Jika sampai bang David melakukannya, bagaimana mama Melissa nanti? Bagaimana kak Mirza? Bagaimana anak cantik mereka? Oh, tidak...! Jangan lakukan itu, Bang. Jiwa ku berontak hingga tubuh ku bergetar. Aku berusaha bangkit dan sadar. Namun gagal. Nafasku pun tersengal. Detak ku menghilang. Aku anfal.
__ADS_1
Mendapati itu bang David panik. Melakukan CPR dan menyiapkan alat kejut jantung. Berulangkali tubuhku mengejut hebat karena hentakan ribuan volt dari alat kejut jantung tersebut. Aku kacau. Terlebih saat melihat kak Keanu yang menatapku penuh kekhawatiran. Langkahnya menjadi tak tenang. Sebentar melangkah, sebentar diam menatapku. Hanya dari sorot matanya sajalah aku tahu bahwa dia sedang tidak baik-baik saja. Ya...dia begitu mengkhawatirkanku.
Suami masa kecilku itu yang mestinya menikahi ku hari ini begitu kacau. Ia kalut saat mendapati ku anfal untuk kedua kalinya. Kemudian dia kembali sumringah saat degup jantungku sudah kembali menguat. Ia melangkah cepat menghampiri ku. Matanya menatapku. "Alhamdulillah...Terima kasih, sayang" ucapnya berulangkali sambil mengecupi punggung tanganku. Dan sekali ia mengecup kening ku.
"Fara..." Entah sejak kapan kak Mirza berdiri tak jauh dari ranjang dimana aku berada. Laki-laki yang menjadi suamiku selama sepuluh hari. Laki-laki yang pernah mencurahkan hatinya kepada ku. Laki-laki yang juga sudah memberiku kebahagiaan sekaligus kedukaan. Kak Mirza. Dan kak Keanu pun terkejut atas kehadirannya. Dia langsung bangkit. Tangannya terkepal. Matanya menatap tajam. "Kau..." ucap kak Keanu. Tangannya meraih kerah kemeja kak Mirza dan siap melayangkan kepalan tangannya. Beruntung mama Wina berhasil menghentikannya. "Keanu..." ucap mama Wina sambil memegang tangan kak Keanu. "Dia dan istrinya selalu membuat Fara menderita. Selalu membuat Fara menangis. Untuk apa kau datang? Apa kau ingin mengetahui apakah Fara masih hidup atau sudah mati? Aku katakan Fara akan hidup. Selama masih ada aku. Pergilah..." ucap kak Keanu.
Diam kak Mirza tak bergeming. ia tak mengindahkan hardikan kak Keanu. Ia hanya menatapku. Ada kepiluan di ujung tatapannya. "Aku hanya ingin melihatnya. Bagaimanapun juga ia adalah satu-satunya perempuan yang aku cintai. Ia cinta pertamaku" ucap kak Mirza. "Jika kau mencintainya, mengapa kau menceraikannya?" ucap kak Keanu datar. "Karena aku mencintainya. Aku fikir dengan menceraikannya, Fara akan menjauh dari jangkauan jahat Amara. Ternyata tidak. Semula aku sendiri tidak percaya atas apa yang dilakukan Amara. Namun saat melihat bukti-bukti yang ada aku jadi semakin gusar. Sekarang aku semakin sadar bahwa keputusanku itu salah" ucap kak Mirza lagi.
"Dulu aku pernah mengingatkan mu, Mirza untuk tidak mengambil keputusan tergesa-gesa. Tapi kau sepertinya terlalu angkuh untuk mendengarkanku. Bahkan untuk mengakui bahwa kau salah mengambil keputusan pun tak kau akui" ucap kak Keanu.
"Aku tahu. Aku salah" ucap kak Mirza. Matanya sudah basah. Kemudian ia pun berlalu begitu saja. Kak Keanu diam menatap kepergian kak Mirza. "Sayang..." ucap mama sambil memeluk dan mengusap punggung kak Keanu. "Oya, ini bunga pesananmu" ucap mama lagi.
Tersenyum kak Keanu menatap bunga putih kesukaanku itu. Ia pun langsung meraihnya dan membawanya dekat dengan ku. "Sayang... hari ini kita menikah seperti yang sudah direncanakan. Bunga ini jd saksinya. Aku berjanji akan menjadi suami yang terbaik untukmu. Dan setelah kau bangun nanti, kita akan langsung menikah" ucap kak Keanu sambil meletakkan bunga di sampingku. Bunga cantik, sayang. Tapi kalah cantik dengan mu" ucapnya sambil mengecup pucuk kepalaku.
"Sayang..." ucapnya berulangkali. Aku membuka mataku perlahan. Silau ku rasa saat menatap sinar lampu tepat di atasku. Sadar dengan ketidaknyamanan ku, kak Keanu pun meletakkan telapak tangannya menutupi cahaya lampu, sehingga tidak langsung mengenai mataku. Sempurna mataku terbuka. Hingga wajah tampannya dapat ku tatap sempurna. Aku terisak dan bulir bening itu pun meluncur begitu saja. Pun demikian dengan kak Keanu. Ia begitu suka cita dalam tangisnya.
"Hei...sayang. Sudah sadar rupanya" ucap bang David bersama beberapa dokter dan perawat lainnya. Surut tubuh kak Keanu memberi ruang kepad bang David agar memeriksaku. Ia menatapku dengan senyum yang mengembang tiada henti. Bibirnya pun berisyarat. "I love you..." begitu ku artikan. Aku pun tersenyum dan menatapnya sekilas.
"Aku bahagia, akhirnya aku melihat kembali cinta di mata mu" ucap bang David sambil mengusap pucuk kepalaku dan tersenyum. "Good... pemeriksaannya kita lanjutkan esok hari bersama dokter spesialis. Sekarang istirahat dulu. Tidak banyak bergerak. Ingat aku doktermu. Dari dahulu hingga sekarang bahkan sampai nanti. Jadi tidak boleh membantah ya" ucap bang David sambil mengusap pucuk kepalaku.
"Ma..." ucapku lirih sambil melihat dengan ekor mataku ke arah dimana kak Keanu dan bang David berbincang. Sepertinya keduanya begitu serius. Terlebih saat melihat wajah kak Keanu yang bereaksi tak wajar.
"Ya, sayang..." ucap mama sambil mengusap lenganku. "Kau ingin apa, sayang...?" ucap mama. Aku menggeleng sambil memejamkan mata sejenak. "Dingin, Ma..." ucapku lirih. Mendengar itu mama langsung menyelimuti sebagian tubuhku dan menormalkan suhu ruangan. "Terima kasih ya, Ma..." ucapku lirih. Aku tak berenergi sama sekali. Bahkan untuk meraih tangan mama pun aku tak sanggup.
__ADS_1
"Hai istriku..." ucap kak Keanu membuat ku tersenyum dan mengalihkan tatapan ku padanya. "Bolehkah aku menikahi Fara hari ini, Ma...?" ucap kak Keanu sambil menatap mama Wina. Senyum pun mengembang menghiasi wajah mama Wina. Aku yakin itu adalah wujud restunya. "Tak perlu seperti itu, Kak. Aku saja masih belum bisa bergerak sedikit pun" ucapku lirih. "Justru karena itu, agar aku bisa lebih menjagamu" ucap kak Keanu sambil memainkan ponselnya. Berbincang sebentar dengan Satria sambil terus mengurai senyum.
"Tidak mengapa, sayang. Bukankah hari ini pun memanglah mestinya menjadi hari pernikahan kalian" ucap mama sambil mengusap pucuk kepalaku. Aku terdiam. Hanya mataku saja yang menatap keduanya yang tampak sibuk berbincang melalui ponsel masing-masing.
"Fara..." ucap kak Noah. Sumringah aku melihat kehadirannya. Dia pun mengecup lembut keningku. "Pengajuan cutiku tidak sia-sia sepertinya. Hari ini kau akan menikah" ucap kak Noah. Ada titik bening yang membayangi kedua matanya. Dan tentu saja ia berusaha menutupinya.
Tak lama kemudian, satu persatu orang yang dihubungi mama dan kak Keanu berdatangan. Mulai dari asisten rumah tangga yang membawa jas kak Keanu, membawa kerudung panjang berenda milik ku. Hingga Satria yang membawa maskawin sekaligus petugas pencatat pernikahan. Aku tersenyum melihat kak Keanu yang tengah memakai jasnya.
"Hei..." ucap bang David sambil tersenyum. Tangannya melepas beberapa alat dari tubuh ku. "Aku akan menjadi saksi pernikahan mu" ucap bang David sambil mengumbar senyum. "Aku akan bahagia saat melihat mu bahagaia" ucapnya lagi. Kali ini tangannya lagi-lagi mengusap pucuk kepalaku dan mengusap sebentar wajah ku.
Persiapan pun telah selesai. Berdiri kak Keanu di sebelahku. Ia menatapku sambil mengurai senyum khasnya. Aku akui ia laki-laki tertampan saat ini. Aku membalas senyumannya dan menatapnya. Sebelah matanya mengkerling saat tahu jika aku tengah menatapnya. Ah, tuan muda labil. Begitu ngototnya ia untuk menikahiku saat ini juga. Entah apa yang ada dalam fikirannya saat memutuskan untuk menikahiku saat ini juga.
Acara pun berlanjut. Tergenggam erat tangan kak Keanu dan kak Noah selaku waliku. "Aku terima nikah dan kawinnya Olivia Faradilla binti Permana Raharjo dengan maskawin dua puluh gram emas dibayar tunai" ucap kak Keanu lantang dan tegas. Tiada keraguan sedikitpun yang tergambar di matanya, wajahnya ataupun kata-katanya. Ya, Alalh..." ucapku lirih. Ada sebuah kelegaan yang menyelimuti hati ku hingga membuatnya jadi merah jambu. Di tengah rintihku, aku menjadi tidak peduli lagi karena jiwa sedang mengharu. "Sah..." seru kedua saksi disambut ucap syukur kami. "Alhamdulillah..." ucap kami hampir bersamaan.
Sumringah wajah kak Keanu menatapku. Ia pun menghampiriku. Menyematkan cincin di jari manisku dan mengecup sesat keningku.
Berderai air mata mama Wina menyaksikan situasi saat ini. Semoga itu air mata bahagia yang akan menjadi doa-doa untuk kami selamanya.
"Pernikahan adalah ibadah, dan setiap ibadah bermuara pada cinta-Nya sebagai tujuan. Sudah sewajarnya setiap upaya meraih cinta-Nya dilakukan dengan sukacita"
Seakan tak ingin jauh dariku. Kak Keanu melepas jas dan menarik kursi dekat dengan ku. "Kau bahagia, sayang. .?" ucapnya menatapku sendu. Aku pun mengedipkan mata perlahan sambil mengurai senyum. Ah, rasa sakit ku jadi penghalang keinginanku untuk memeluk laki-laki yang dahulu menjadi suami mainanku di masa kecil. Dan kini menyata jadi suami ku. Jangankan memeluknya, menggerakkan sedikit saja tubuh aku tak sanggup. Rasa sakit di sekujur tubuh ini membuatku harus menyerah sementara pada keadaan. Kemudian perlahan ku pejamkan mata. Bukan ingin tidur, tapi menyimpan keluh kesaku. Aku tidak ingin kak Keanu melihat ku mengeluh berkepanjangan.
"Kenapa...? Sakit...?" tanyanya yang ku tanggapi dengan gelengan kepala walau sedikit saja. "Jujur itu lebih baik..." bisiknya sambil mengusap pucuk kepalaku tiada henti. Dan mendengar ucapan nya aku jadi tersenyum walau dengan mata yang tetap terpejam.
__ADS_1