Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 52. Aku Ingin Kita Berpisah...


__ADS_3

Lagi-lagi aku menatap langit. Mataku takjub menatap bintang senja yang mengkerling genit. Apa kabar cintaku di sana? Di sini aku menikmati langit senja bersama rindu yang semakin membiru. Untuk cintaku yang ada di sana, jangan pernah berpikir jika aku akan meninggalkanmu. Karena cinta, kasih sayang dan rindu ini hanya untukmu, lelaki tampanku.


Dan pada saat ini di sini, di balkon cafe aku berdiri dengan menengadah ke langit. Menatapi seluas langit sejauh mata memandangnya. Dan di sini juga aku begitu merasa sepi sekaligus merindukanmu.


Pukul lima lewat empat puluh lima menit. Ku sebut berulangkali nama mu sambil terus menatap langit. "Haruskah aku menghubunginya?" ucapku lirih dengan tangan yang menimang-nimang ponsel. Sedikit ragu aku akhirnya menuruti hati yang sedang kangen. Ku cari kontaknya dengan hati-hati. Dan...akhirnya aku menemukannya.


"Assalamu'alaikum..." ucap sebuah suara di ujung telepon. Suara dari sosok yang amat ku rindukan. Lama aku terdiam dengan fikiran yang sedang mengembara sebentar. "Siapa ini...?" ucap suara itu berulang kali. Aku terkesiap. "Wa'alaikumussalam..." jawabku sedikit gagu yang membuat kak Mirza hampir terpekik di ujung telepon. "Fara..." ucapnya menyebut kembali nama ku. "Apa kabar, sayang..." ucapnya bergelora. Ku dengar langkahnya begitu cepat dengan nafas yang sedikit memburu. Mungkinkah ia mencari tempat yang nyaman saat berbicara dengan ku? "Baik, Kak..." jawabku singkat. "Mengapa lama sekali kau baru menghubungiku?" tanyanya yang membuatku gamang. "Aku... khawatir mengganggu kebahagiaanmu, Kak..." ucapku akhirnya. "Prasangka macam apa itu, sayang. Sungguh aku menantikan kehadiran mu paling tidak telepon mu. Aku sangat merindumu. Bahkan aku cemburu pada orang-orang yang bisa bertemu denganmu." ucapnya penuh perasaan. Perbincangan pun berlanjut. Saling mencurahkan kerinduan. Dan bicaranya menjadi begitu lancar, sementara aku begitu gagu dalam menanggapi segala curahan perasaannya. "Meski menghabiskan sepanjang hari bersamamu, aku masih saja rindu ketika kamu pergi. Karena itu tolong mengertilah. Aku ingin bertemu lagi denganmu" ucapnya tiada henti. "Kapan...?" tanyaku singkat.


Pukul enam lewat sepuluh menit. Sebuah janji sudah dibuat. Aku tersenyum. Hatiku menari luar biasa. Esok hari aku akan bertemu kembali dengan kak Mirza di tempat yang sering kami datangi dahulu. Melonjak rasa di dada ini. Bergemuruh tak terungkapkan. Dan tak sabar rasanya menanti waktu pagi menjelang.


Pukul sembilan lewat sepuluh menit. Aku sedang meracik bahan untuk cupcake. Dan di sepanjang aktifitasku itu aku selalu tersenyum. Dan hal tersebut ditangkap oleh Dara dan Rio. Keduanya tampak saling bersikutan dan menatap. Aku yang melihat polah keduanya jadi tersadar. Pasti ada yang tidak biasa sedang terjadi padaku. Sedikit membulatkan mataku menatap keduanya. Dan hal tersebut tentu saja membuat keduanya tersenyum dan menutup wajah. "Lanjutkan..." ucapku kemudian yang langsung diaminkan keduanya.


Pukul sebelas lewat empat puluh. Ponselku berpendar berulangkali. Aku menyadarinya saat Dara menyentuh bahuku sambil menyodorkan ponselku yang masih berpendar. "Kak Mirza..." ucapku dalam hati saat melihat nama yang tertera pada layar ponselku. Kemudian beberapa langkah aku sedikit menjauh dari Dara dan Roy. "Ya, Kak..." ucapku membuka pembicaraan. Namun saat mendengar suara di ujung telepon aku jadi tertegun. Terutama saat ia melontarkan cacian kepadaku. "Pencuri...! karena hanya ingin bicara denganmu suamiku meninggalkan anaknya di atas tempat tidur hingga ia terjatuh. Kini kami sedang di rumah sakit. Sudah ku katakan jangan ganggu hidup kami...! Perempuan tak tahu diri...!" ucapnya begitu sinis penuh amarah. "Apa yang kau lakukan...?! terdengar suara kak Mirza yang menghardik Amara. "Kau masih saja menunggu perempuan yang sudah meninggalkanmu itu. Perempuan yang tidak diketahui kesuciannya kini...! ucap Amara lagi penuh amarah. "Lancang...!" ucap kak Mirza tak kalah diamuk amarah. "Kau tidak tahu apa pun. Jaga bicaramu...!" ucap kak Mirza berang. Aku terisak. Tubuhku lunglai bak tak berenergi. Dan akhirnya aku pun terduduk. Ada sejuta rasa yang kini ku rasa menyelimuti segenap jiwaku. Marah dan kecewa itu yang kini begitu lebih dominan. "Aku bukan pencuri. Kau yang pencuri...! Kau yang pencuri...!" ucapku histeris. Sesekali tanganku mengusap kasar wajahku dan sekali memukuli dinding tempatku bersandar. Dara yang mengetahui situasi dan kondisiku selama ini, begitu pilu turut terisak dan memelukku erat. "Kak..."ucapnya lirih hampir berbisik.


Pukul dua belas lewat lima puluh lima menit. Aku tak sanggup lagi menegakkan tubuh. Dan pada akhirnya aku benar-benar merebahkan tubuh pada kasur tipis di salah satu ruangan pada toko. Tubuhku menghadap dinding dan membelakangi Dara yang juga telah mendahului mengistirahatkan tubuh. Pun demikian, aku tidaklah dapat tidur sama sekali. Mataku menatapi dinding di hadapanku. Sementara Fikiranku kembali mengembara jauh entah kemana. Bermain-main sebentar dalam canda tawa saat ingatanku terpaut bersama kak Mirza. Segala hal saat bersama kak Mirza, kebaikannya, perhatiannya, bicaranya, caranya menatapku dan memegang tanganku. Namun kemudian aku menjadi menangis dalam luka dan kecewa juga saat ingatanku membersamai kehidupannya kini. Aku benar-benar menangis. Hati ku terluka. Jiwa ku merana. Aku harus apa? Tolong aku ya, Robb...


Pukul dua lewat sepuluh menit. Aku terkesiap dari lelapku. Rupanya aku berhasil memejamkan mata walau beberapa saat. Aku duduk diam, hanya sesekali tanganku mengusap wajahku dan membetulkan ikatan rambutku. Kemudian aku pun menuju kamar mandi, berwudlu.

__ADS_1


Ku kenakan mukena dan ku panjangkan sajadah meminta ketenangan dan pencerahan atas kegundahan yang sedang ku alami. Lama aku bertafakur dan bermunajat kehadirat-Nya. Mengurai kembali air mataku selama munajatku itu. Dan sebuah keputusan sudah kumantapkan kembali setelah menimbang segala rasa yang ada. Semoga ini jalan terbaik yang ku ambil demi kebaikan aku, dan kak Mirza di masa nanti. "Aku mohon ya, Robb...Aku mohon dengan sangat" ucapku berulangkali di akhir doa ku itu.


Drrt...Drrt...Drrt...


Ponselku kembali berpendar. Sebuah pesan menghiasi layar ponselku.


"Aku tahu dalam setiap ucapan dan tatapanku, terhalang oleh jarak dan waktu, tapi aku yakin kalau nanti kita pasti esok akan bertemu walau sejenak. Bukankah begitu...?" pesan kak Mirza. Mendapat pesan tersebut aku bimbang. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku datang? Aku khawatir ini hanya sebuah jebakan dari Amara. Tapi bagaimana jika benar ini adalah pesan dari kak Mirza. Lama aku termenung menimbang segala kemungkinan. "Ah, siapa pun dan apa pun yang akan terjadi harus aku alami. Bukankah aku membutuhkan sebuah kepastian...


Pukul tujuh lewat tiga puluhmenit. Aku sudah hampir berada pada tempat seperti yang di janjikan semalam. Walau belum pada waktunya, aku sudah memarkir mobil di tepian jalan dekat tempat pertemuan. Aku bermaksud menguasai situasi dan kondisi, menimbang segala kemungkinan yang akan terjadi dan siapa harus ku hadapi. Namun harapan terbesarku adalah kak Mirza yang akan menemuiku.


Kemudian aku pun mengiringi laju mobil Sport silver tersebut dari jarak tertentu sejauh mata memandang saja. Aku parkir agak sedikit jauh dari mobil sport silver tersebut. Dan aku tidaklah terburu-buru untuk keluar mobil, aku lebih memilih berdiam dalam mobil terlebih dahulu agar mengetahui kebenaran pemilik mobil tersebut.


Drrt... Drrt...Drrt..


Ponselku berpendar. Sebuah nama menghiasinya. "Dimana?" ucap seorang laki-laki di ujung telepon yang tidak lain adalah kak Mirza. "Kakak dimana...?" aku balik bertanya. "Di parkiran..." ucap kak Mirza. "Aku juga. Kakak dimana?" tanyaku lagi. "Tempat terakhir kita kunjungi" ucapnya sambil melangkah menuju tempat yang dimaksud. Berselang beberapa menit aku pun langsung menuju tempat dimana kak Mirza berada.


Berdesir jiwaku saat langkahku semakin dekat dengan lelaki yang menikahiku setahun enam bulan yang lalu itu. "Sayang..." ucapnya sambil terus. Langkah kakinya begitu panjang menyongsong kedatanganku. Kak Mirza pun mendekapku sesaat sebelum menggenggam tanganku dan membawaku berjalan beriringan pada taman tersebut. Selama perjalanan kami hanya diam. Belum ada kata yang berhasil memecah kebisuan diantara kami.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi anak kakak...?" tanyaku pada akhirnya. "Baik. Tidak ada apa-apa. Hanya kepanikan yang berlebih saja" ucapnya sambil tersenyum. Sementara matanya mengitari beberapa ruang taman yang menarik perhatiannya. "Maaf ya...atas kesalahfahaman semalam" ucapku lagi. "Itu bukan kesalahfahaman. Itu cemburunya dari seorang istri yang tidak ingin berbagi. Sama seperti halnya aku" ucapku dalam hari. Aku tersenyum menanggapi ucapan kak Mirza menyatakan bahwa aku baik-baik saja. Itulah dustaku saat ini. "Fara, pualnglah...Aku sangat membutuhkanmu" ucapnya sambil menatapku lekat. Langkahnya pun terhenti. "Untuk apa, Kak...?" ucapku tanpa menatapnya. "Kau milikku, Fara. Kau masih sah istriku" ucapnya yang memegang lenganku atau tepatnya mencengkram. Aku sedikit mengeluh atas perlakuannya tersebut. "Sakit, Kak..." ucapku.


Aku duduk pada sebuah kursi kayu bersebelahan dengan kak Mirza yang kembali terdiam. Sementara aku juga sibuk dengan fikiranku sendiri. "Em, apa kegiatanmu selama jauh dariku? Uang di debit card pun sepertinya tak kau sentuh sedikit pun hingga hari ini? Kenapa? Apa sudah ada yang membiayai penghidupan mu?" tanyanya sedikit mihatku dengan ekor matanya. "Keahlian ku seperti yang kakak tahu. Jadi...itulah yang ku manfatkan dan menjadi kegiatanku. Semua modal dari uang tabunganku dan nenek Merry. Aku masih sah istrimu, kak. Jadi tidak ada yang ku terima sebagai penjamin penghidupanku. Semua hasil usahaku sendiri" ucapku sambil menatapnya dalam. Mencari maksud lain dari semua pertanyaannya itu pada ketajaman tatapannya.


"Aku yakin, kau tanpa aku bisa bertahan. Tapi aku tanpa dirimu, aku sanksi. Entah apakah aku bisa atau tidak" ucapnya sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. "Kakak bisa. Sudah terbukti setahun enam bulan ini. Apalagi kini, seorang putri cantik telah hadir diantara kalian"ucapku sambil menatap ujung kaki ku yang sejak tadi kumainkan dengan mengayunnya berulang. "Apa maksud semua perkataanmu ini?ucap kak Mirza dengan sedikit kesal dan menatapku tajam. Aku menghela nafas panjang dan terasa begitu berat. "Apa yang Amara sudah ucapkan itu adalah keinginan terbesar hampir setiap istri. Bahwa harus hanya ia saja yang memiliki suaminya. Perempuan lain tidak. Aku pun demikian, Kak. Tapi saat melihat tawa bocah kecil yang begitu bahagia bermain dalam buaian kakak, aku jadi berfikir. Aku tak sanggup melihat kebahagiaan itu. Hatiku luka. Aku marah, Kak. Tapi aku juga tak sanggup mengambil tawa dari bocah secantik anak mu itu" ucapku hampir menangis. "Aku meminta maaf mu. Ini demi kebaikan semua. Aku ingin meminta kakak menceraikan ku" ucapku kemudian dengan suara bergetar karena menahan tangisku. "Apa ini, Fara...Bukan ini yang aku inginkan" ucap kak Mirza. "Tapi ini yang terbaik, Kak" ucapku sambil menatap hamparan bunga karena tak sanggup menatap wajah lelaki yang amat ku cintai ini.


"Apa kau tidak mencintaiku lagi hingga kau meminta perpisahan ini?" ucapnya dengan mata yang terus menatapku. Aku terdiam. Mataku menatap ujung kaki ku. Sementara air mataku mulai jatuh pada pangkuanku. Perih rasanya jika berkata tidak. Karena itu sebuah kedustaan terbesar. "Aku amat mencintaimu, Kak. Tidak ada yang lain. Namun sepertinya setelah menimbang segala rasa, aku lebih memilih menjauhi mu dan berpisah darimu" ucapku pilu. Kak Mirza terdiam. Matanya berkaca-kaca menatapku. Lama kami terdiam. Hanya mata kami saja yang saling menatap.


"Baiklah, pengacara akan mengurus semuanya" ucapku sambil berlalu cepat. Sesungguhnya aku terburu-buru meninggalkannya karena aku tidak ingin ia melihat air mataku lebih banyak lagi. "Tunggu...!" ucapnya menghentikan langkahku. "Aku belum menyetujuinya. Jangan terburu-buru. Berikan aku waktu untuk memikirkannya" ucapnya kemudian. "Baiklah. Ku harap tidak terlalu lama. Karena bisa menambah luka ini..." ucapku sesaat sebelum berlalu. Langkahku semakin cepat karena ada bulir bening yang sudah siap terjun bebas kembali. Hingga di dalam mobil merahku, barulah air mata ini bebas berurai. "Maafkan aku, Kak. Bukan aku tidak mencintaimu, justru sebaliknya. Aku sangat mencintaimu. Semua permintaan ini demi kebaikan semua.


"Jalan..." ucap kak Mirza yang tiba-tiba saja masuk ke mobilku dan duduk di sebelahku. Aku terdiam menatapnya. "Jalan..." ucapnya lagi dengan wajah serius. Akhirnya aku pun mengikutinya. Selama perjalanan kami tetap tak berbincang. Hanya suara kak Mirza saja yang sesekali terdengar saat mengarahkan kemana aku harus melaju. Walau hingga saat ini aku belum tahu pasti kemana tujuan yang sebenarnya, namun aku tetap mengikutinya. Entah mengapa demikian.


Langit masih terang dengan warna birunya. Awan putih pun berarak dengan setia menyelimuti sebagian langit. Dan aku terkejut ketika mobil diarahkan untuk berhenti pada sebuah taman. Aku tertegun saat melihat dikejauhan mama, bang David, mbak Mikaela dan Amara tengah berkumpul. Keempatnya tengah tertawa melihat polah kedua bocah kecil yang berbeda usia itu.


Kemudian, semua mendadak jadi sunyi saat melihat kehadiranku. Aku menjadi rikuh saat ditatap demikian. Dan bang David lah, orang pertama yang menghampiriku. "Fara..." ucapnya sambil mendekapku sesaat. "Akhirnya kau memenuhi janjimu" ucapnya yang ku balas dengan senyuman yang tipis saja. Ku kecup punggung tangan mama dengan takzim. "Mama ingin kau kuat seperti mama, Fara..." ucapnya yang membuat aku tertegun.


To Be Continued...

__ADS_1


__ADS_2