
"Sudah sampai..." ucap kak Mirza saat menghentikan laju mobil sport silver-nya. Pun demikian, aku masih enggan beranjak pada lamunanku. Hingga kak Mirza menepuk bahu ku, barulah kesadaran ku sempurna. "Maaf..." ucapku mengakhiri lamunanku.
Tapi..Hei, wait ! Aku terkesiap saat melihat sekitar yang terasa asing. "Dimana ini...?" tanyaku sambil terus menatap setiap inci bangunan di hadapanku. "Rumahku..." ucap kak Mirza santai.
Deg.
"Rumah kak Mirza...?" ucapku gagu. Mataku beralih menatap kak Mirza yang tampak tersenyum tipis. Sepertinya ia tengah merayakan kemenangan atas keberhasilannya membawaku ke rumahnya. "Ini penculikan, Kak..." ucapku sedikit ketus. "Apa peduliku..." ucapnya sambil menutup pintu mobil dan berlalu meninggalkanku yang masih pada kekesalanku. "Ayo..." ucapnya yang terkesan memerintah saat aku belum mengekori langkahnya. "Tidak...!" ucapku ketus yang berhasil menghentikan langkahnya. Ia pun memutar tubuh dan menatapku. "Aku tidak akan masuk, sebelum kakak memberitahuku mengapa kakak membawaku ke rumah ini?" ucapku semakin ketus.
Tanpa menjawab pertanyaan, kak Mirza memacu langkah menghampiriku. Dan lagi-lagi tanpa ba-bi-bu ia mengangkat tubuhku dan meletakkannya pada bahu kanannya. Aku terkejut atas perlakuan nya tersebut. Sejenak aku meronta sambil memukulinya. "Turunkan, Kak..." ucapku kesal. Bukannya menurunkan, kak Mirza justru memacu langkahnya dengan cepat. Hingga di ruang tengah barulah kak Mirz menurunkan ku tepat pada sebuah sofa berwarna putih.
"Mirza....!" ucap seorang perempuan dengan lantang.
Deg.
__ADS_1
Mendengar suara nan khas itu, ingatanku langsung menguat. Aku yakin suara itu milik mama Mellisa, mama kak Mirza. Tatapan ku langsung beralih pada sumber suara. Dan benar saja, berdiri mama Mellisa di ambang pintu. Matanya menatap lekat. Aku tertegun menatap perempuan yang pernah menjadi mama mertua ku itu. Tak banyak perubahan padanya. Ia tetap cantik walau beberapa guratan menghiasi wajahnya.
"Jika tidak demikian, maka akan lebih banyak pertanyaan yang ia lontarkan. Jadi agar lebih cepat, maka Mirza membopongnya" ucap kak Mirza sambil menghempaskan tubuhnya pada sofa tak jauh dari ku.
"Ma..." ucapku sesaat setelah mama Mellisa berdiri di hadapanku. Ku raih tangannya dan mengecup punggung tangannya dengan takzim. "Apa kabar, Fara...?" tanyanya dengan suara bergetar. Ada bulir bening yang mengambang di sudut matanya. "Baik, Ma. Mama bagaimana...?" ucapku. "Baik, sayang..." ucap mama sambil memeluk ku erat. Air matanya berurai tak terbendung lagi. Pun demikian dengan ku.
"Sudah lama mama ingin bertemu dengan mu Fara. Mama ingin menjadi mama mu lagi. Ada atau tidak ada hubungan karena ikatan perkawinan. Bukan sebagai mertua tapi mama mu saja" ucap mama Mellisa. Aku terdiam. Hanya air mataku saja yang mengungkapkan bagaimana perasaan ku saat ini.
"Mendengar cerita tentang perjalanan hidup mu, mama jadi ikut bersedih" ucap mama. "Dan mama selalu memintaku agar aku segera membawamu ke rumah ini. Terutama saat kau kehilangan penglihatan mu. Dan hampir saja aku membawa mu ke rumah ini, bukan ke rumah dokter Faaz" ucap kak Mirza. "Tapi Mirza tidak menyetujuinya..." ucap mama Mellisa. "Ma, aku hanya menjaga perasaan Fara" ucap kak Mirza. Entah apa yang ia maksud dengan menjaga perasaan ku itu.
"Oma...!" teriak seorang bocah perempuan cantik. Ia berlari menghampiri mama Mellisa. "Kok bangun, sayangnya Oma...?" ucap mama Mellisa sambil merengkuh tubuh bocah perempuan itu ke atas pangkuannya. "Shanum takut. Ada petir..." ucapnya sambil memeluk mama Mellisa yang disebutnya Oma. Apakah mungkin ia anak kak Mirza? Bocah yang dulu menjadi alasan kuat ku untuk meninggalkan kak Mirza.
"Dia shanum, anak Amara..." ucap kak Mirza. Aku membulatkan mata ke arah kak Mirza. "Oya..."ucapku sedikit terkejut. "Shanum, ini Tante Fara" ucap mama Mellisa mengenalkan ku. Sontak si bocah mengalihkan perhatiannya kepadaku. Matanya begitu betah menilik setiap inci wajahku. "Tante kan yang di foto kamar papa? Dalam dompet papa juga ada..." ucap Shanum sambil memperhatikan wajahku. Belum lagi usai katanya, kak Mirza sudah menutup mulutnya dan mengangkat tubuhnya sambil sesekali dibuat terkekeh dengan menggelitik perutnya. Dan aku menatap kepergian keduanya dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Begitulah Mirza..." ucap mama Mellisa. Matanya beralih menatapku sambil tersenyum. Tangannya mengusap-usap punggung tangan ku. "Kau tahu, Fara...Mirza tidak pernah move on. Dan tidak bermaksud melakukannya. Dunianya tetap bersama mu walaupun saat ia bersama Amara" ucap mama Mellisa lagi.
Deg.
Mengapa jantungku menjadi bertalu. Iramanya berhasil membuat desiran aneh kembali menjalari hati ku. Wajahku serasa memerah mendengar penuturan mama Mellisa sekaligis berbuah kerikuhan pada sikapku.
"Ma..." ucap kak Mirza sambil menuruni anak tangga. "Fara tidaklah seperti dahulu. Fara begitu mencintai Keanu, suaminya" ucap kak Mirza sambil duduk bersandar pada sofa. Mama tersenyum. "Maaf..." ucapnya dengan suara sedikit bergetar. Sementara itu tangannya menepuk-nepuk punggung tanganku. "Antarkan Fara ke kamar. Biarkan Fara beristirahat" ucap mama Mellisa. "Tapi Fara tidak bermaksud menginap, Ma..." ucap ku sambil bergelayut pada lengannya. Entah mengapa aku melakukannya. Mungkin sisi keibuannya telah mengusik kerinduanku pada sosok amah yang telah tiada.
"Sudah malam. Menginap saja. Mama juga masih ingin berbincang dengan mu esok pagi" ucap mama Mellisa. Ucapan seorang ibu bagai perintah bagiku. Aku terdiam..Fikirku menimbang-nimbang apa yang diucapkan mama Mellisa. "Fara..." ucap mama sambil mengusap bahu ku. Sungguhlah aku terkesiap. Lamunanku buyar. Dan seulas senyum pun ku urai sambil menatap mama dan kak Mirza bergantian. "Baiklah, Ma..." ucapku mengakhiri kebimbangan. "Kalau begitu aku antar..." ucap kak Mirza sambil tersenyum tipis. Ada kelegaan diujung tatapannya. Entah mengapa ia berlaku demikian.
Ku ikuti langkahnya dengan hati-hati. Pun demikian dengan kak Mirza. Langkahnya bak ditahan. Aku yakin karena ada aku yang mengekori langkahnya. "Silahkan Nyonya besar..."ucap kak Mirza sambil tersenyum saat sampai di depan sebuah ruangan berpintu ukiran sederhana. Tangannya memutar gagang pintu dan membukanya. "Terima kasih...." ucapku sambil tersenyum dan hampir terkekeh.
Berdiri aku di ambang pintu. Ketika aku memulai langkah pertama, perhatianku teralihkan. Tatapan ku tertuju pada anak tangga di sisi kiri ruangan, di ujung lorong. "Itu menuju atap. Tempat bersantai aku dan mama" ucap kak Mirza yang sepertinya mengetahui tanya di hati saat menatapnya. Aku pun meng-o singkat sambil tersenyum.
__ADS_1
"Fara ingin ke atas...?" tanya kak Mirza. Dari nada bicaranya terkesan bahwa ia begitu berhati-hati. "Boleh...?" tanyaku sambil menaikkan sedikit alisku dan mengurai senyum. "Tentu saja..." ucapnya sambil menarik lenganku. "Oh, maaf..." ucapnya lagi saat menyadari jika ia tengah memegang lenganku. Ia menjadi rikuh atas polahnya sendiri. Sementara aku hanya tersenyum terutama saat melihat kerikuhan sikapnya tersebut.