Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 80. Salah faham


__ADS_3

Mataku menatap gamang hamparan biru lautan yang tampak berkilauan diterpa cahaya mentari. Aku berdiri di tepiannya. Dan ku biarkan kaki terbasuh diterpa hempasan riak ombak yang datang dan pergi sesuka hati. Seperti halnya suasana hati ku saat ini yang kadang tenang, kadang gamang dan kadang gundah bak badai berkecamuk.


Masih menatapi lautan nan luas. Aku berdiri tak bergeming sedikitpun. Tanganku menggenggam erat tongkat penopang tubuh yang beberapa bulan terakhir ini setia menjadi teman di setiap langkahku. Tangisku hampir pecah. Bulir beningnya sudah mengambang di pelupuk mata, dan hampir tak sanggup lagi ku tahan. Aku menghela nafas berulangkali berusaha mendamaikan gejolak di dada yang semakin merangsek memaksa ke luar.


"Ya, Robby...aku masih setia menanti mukjizat-Mu. Dan aku pun masih setia menanti kemustajaban dari setiap doa-doa yang ku munajatkan" Aku membatin. Kesedihan ini masih rapi ku simpan di ujung hati. Karena yang tampak adalah senyum dan tawa di setiap hariku. Sebuah kedustaan untuk menghadirkan ketegaran dalam menjalani hidup. Terlebih saat berada di hadapan kak Keanu. Aku tidak ingin pilu menjadi kelemahan ku saat bersamanya.


Pukul tiga lewat empat puluh menit. Aku masih menanti kabar kak Keanu. Sebuah kejutan kecil sudah ku siapkan. Tepat hari ini genap dua tahun usia pernikahan kami. Sesuai kesepakatan akulah yang memilih tempat pertemuan kami kali ini. Dan tempat ini adalah tempat yang ku pilih sebagai tempat pertemuan kami. Namun hingga saat ini tiada kabar yang kuterima dari kak Keanu. Bahkan Satria pun bak kehilangan jejak kak Keanu.


Tiga jam sudah aku berdiri menatapi laut. Dan beberapa kali Satria menawariku untuk duduk pada sebuah gazebo yang sudah dipesan sebelumnya. Entah mengapa aku menolaknya. Aku lebih memilih untuk menikmati hempasan riak ombak yang tiada lelah membasuh kaki. Kemudian lamat-lamat telingaku menangkap riak tawa dari seseorang yang amat ku kenal. Sontak aku menilik sumber tawa tersebut.


"Nyonya..." ucap Satria yang seakan tahu apa yang sedang aku tilik. Matanya mengarah pada sudut lain pantai tak jauh dari tempatku berada. "Mama, kak Keanu dan..." ucapku. Hampir terlonjak saat aku mendapati sosok terakhir yang berhasil ku kenali. "Sarah..." ucapku sedikit kecut. Mengapa ada Sarah di sini bersama kak Keanu dan mama? Dan ada bocah kecil yang tengah bermain manja di pangkuan kak Keanu. Usianya tak kurang dari satu tahun. Gelak tawa si bocah jelas ku dengar. Dan kak Keanu begitu sukacita memainkan si bocah. Ah, kerinduannya akan kehadiran seorang anak mungkin tak dapat dibendung lagi.


Dan aku...hingga saat ini, belum sanggup memberikan apa yang diinginkan mama terlebih kak Keanu. "Maafkan aku, Kak..." ucapku sambil mengusap bulir bening yang mulai membasahi pipi. Hari ini aku semakin tahu apa keinginan terbesar kak Keanu. Anak... Ya, anak. Dalam tawanya tadi jelas ku lihat ada bahagia yang begitu kentara. Ada binar yang begitu luar biasa dan tak dapat ku maknai sepenuhnya.


Tapi mengapa perempuan cantik itu tetap bersama kak Keanu? Apa kah ia berhasil membuat luluh hati kak Keanu, sehingga kak Keanu menerimanya? Dan bocah kecil itu...apakah ia anak yang dikandung Sarah saat itu?


Aku kalut. Ku putar tubuh menuju mobil ku. "Nyonya..." ucap Satria dengan wajah khawatir. "Aku baik-baik saja, Kak..." ucapku saat duduk di kursi dekat kemudi. "Apa tidak sebaiknya nyonya menemui tuan Keanu terlebih dahulu? Em, maksud saya...agar segala sesuatunya lebih jelas" ucap Satria sambil duduk di belakang kemudi. Aku termenung. Fikiranku sesaat mengembara. Tawa yang baru ku dengar dan rona bahagia yang baru ku saksikan, begitu lekat. Dan begitu menghantui ku. Sekali lagi aku menghela nafas. Kali ini terasa begitu berat.

__ADS_1


Mataku kembali menatap tepian pantai yang selalu basah di basuh ombak. Melangkah cepat kak Keanu di belakang bocah kecil yang sedang belajar melangkah. Langkahnya begitu kecil dan tertatih. Sekali-kali si bocah terjatuh, namun dengan dukungan kak Keanu so bocah kembali bangkit dan kembali memulai langkahnya. Melihat itu, hatiku perih. Haruskah terulang kembali peristiwa saat bersama kak Mirza? Aku mengalah karena seorang bocah. Ah, jika demikian maka hidupku serasa kembali ke titik nol.


Mataku memanas saat langkah ku dipacu menuju tepian pantai. Berdiri aku dekat kak Keanu yang berdiri membelakangi ku. Sesekali punggungnya terguncang oleh kekehnya bersama si bocah. "Boleh kita berbicara sebentar?" ucapku tanpa basa basi. "Fara...." ucap kak Keanu sambil memutar tubuhnya. Matanya menatapku lekat. Ada rasa keterkejutan di ujung tatapannya. Melihat kehadiranku, Sarah langsung merengkuh bocah kecil itu dari buaian kak Keanu. Sesekali kali Sarah menatapku sambil memacu langkah dan menjauh dari keberadaan kami.


"Hampir tiga jam aku menunggu, kakak. Tapi jangankan memenuhi keinginan ku berkirim kabar pun tidak. Apa yang kakak inginkan sebenarnya?" ucapku menatapnya. "Jika hubungan kita sudah tak sepenting dahulu, aku rela kakak menjauh pergi. Aku pun menyadari bagaimana situaaiku sebenarnya" ucapku datar. Yes, aku berhasil tegar di hadapannya. Tidak boleh ada air mata yang mengalir kali ini.


"Kak... berbicaralah. Apa keinginan kakak? Apakah kakak bahagia bersama Sarah? Kulihat demikian. Terlebih dengan adanya bocah kecil tadi" ucap ku lagi. Kali ini mataku menatap pada si bocah yang tengah bercengkrama bersama mama Wina.


"Kamu salah faham, sayang..." ucap kak Keanu. Tangannya meraih sebelah tanganku dan menggenggamnnya. "Salah faham?" ucapku sedikit bergetar. "Aku benci dengan sikap sok tegar mu, sayang. Jujurlah pada dirimu sendiri dan aku. Jujur bahwa kau sebenarnya tidak sekuat yang kau tampakkan. Fara..." ucap kak Keanu yang menatapku.


Mendengar itu aku tak tahan membendung air mataku lagi. Yaelah...akhirnya aku menangis juga. Tertunduk wajahku menyembunyikan tangisku. Kini bulir beningnya berjatuhan disambut riak ombak yang sedang kembali ke pantai. "Hidupku. bermula dari titik nol lagi, Kak. Hari ini perasaanku hampir sama saat aku melihat kak Mirza bersama Amara dan putri kecil mereka. Kebahagiaannya pun jelas sama dengan mu saat ini. Bedanya kali ini aku yang menjadi tidak beruntung karena kondisiku. Fisikku tidak sempurna. Aku cacat..." ucap ku. Suaraku benar-benar makin bergetar dan terbata karena tangisku.


Aku berdiri menatap kak Keanu sesampainya pada tempat dimana mama Wina dan Sarah betada.Keduanya tampak asyik memainkan si bocah. "Ma...." ucap kak Keanu yang berhasil mencuri perhatian mama. Mama Wina pun menatapku sejenak dan tersenyum seadanya. Terkesan dipaksakan. Duuh, perih rasanya mendapat perlakuan seperti itu. Teringat bagaimana mama Wina begitu mendukungmu saat itu. Begitu mengharap aku menjadi pendamping kak Keanu. Tapi kini semua sudah berubah. Terlebih saat kondisiku tak kunjung seperti sediakala. Aku harus bagaimana,Ma...? Aku sendiri tak berdaya. Aku pun masih menanti kemustajaban dari setiap doa-doa yang ku munajatkan selama ini. Dan usahapun tiada pernah berhenti ku lakukan. Ayolah, Ma...dukung Fara lagi seperti dahulu. Aku menatap mama yang masih asyik memainkan bocah ganteng itu.


"Em, sayang. Sarah adalah..." ucap kak Keanu terpotong oleh suara laki-laki dari belakangku. "Istriku..." ucap laki-laki itu. "Hai, kakak ipar..." ucap laki-laki itu menyapaku. "Aku adik-adik laki-laki kak Keanu. Aku sengaja disembunyikan demi keselamatanmu saat itu. Tapi ternyata aku lebih nyaman dengan kondisiku yang disembunyikan" ceritanya. Aku menatap kak Keanu meminta penjelasan. Dan kak Keanu hanya tersenyum tipis menatapku.


"Keanu tak mungkin sanggup mengkhianati mu, Fara. Ia terlalu cinta kepadamu. Mama saja tidak bisa memberinya saran yang menurut mama demi kebaikan dan masa depannya" ucap mama sedikit sinis tanpa menatapku. Ia sibuk dengan mainan barunya. "Kak Fara lupa dengan ku? ucap laki-laki itu yang sebentar lalu ku ketahui bernama Kenan. Aku menatap wajah tampannya, tapi nihil tak kutemui sedikitpun guratan yang mampu mengingatkan ku padanya.

__ADS_1


"Kita pernah bertemu tiga tahun lalu. Aku hampir mendamprat kak Fara karena berhenti mendadak" ucapnya sambil tertawa kecil. Aku masih mengerutkan kening. "Em, aku urung mendamprat setelah melihat kak Fara. Aku sudah tahu bahwa kak Fara adalah perempuan yang amat dicintai kak Keanu. Aku sempat meminta no ponsel kak Fara" ucapnya lagi. Aku tersenyum karena sebuah garis ingatan kini mengusik ku. "Ya, aku ingat sekarang..." ucapku sambil menatapnya. "Dan kak Fara tidak perlu salah faham, Sarah itu istriku dan anak laki-laki itu anak kandungku. Aku telah berlaku tidak baik terhadap Sarah. Tapi aku mencintainya..." ucapnya sambil menatap Sarah penuh perasaan.


"Gimana, masih perlu penjelasan ku?" ucap kak Keanu yang melingkarkan lengan pada bahuku. "Masih..." ucapku sambil menatap mama yang terus saja asyik memainkan bocah laki-laki itu. Pilu rasanya mendapat perlakuan tersebut. Segera ku putar tubuh dan melangkah. Mengapa? Karena mataku sudah memanas dan bulir bening nya siap meluncur.


"Sayang...." ucap kak Keanu yang mensejajari langkahku. Saat itu beriring pula air mataku yang menetes satu-satu tak terbendung. "Maafkan aku sudah salah faham padamu, Kak..." ucapku saat menghentikan langkahku. "Maafkan aku juga tidak memberitahumu..." ucap kak Keanu yang langsung merengkuh dan mendekapku erat.


Sesaat aku membenamkan wajahku pada dadanya. Cukuplah tangisku yang mewakili bagaimana perasaanku saat ini. Antara penyesalan dan kepiluan yang ada. Semua bersatu hingga aku sendiri sulit memaknainya. "Lalu kenapa kakak tidak datang menemuiku? Bukankah aku sudah mengirimi kakak pesan?" ucapku sambil mendongakkan wajah dan menatapnya. "Aku...Aku lupa. Maaf..." ucap kak Keanu sambil melonggarkan dekapannya dan memilih duduk pada sebuah kursi bambu yang tak jauh dari tempatku berdiri. Aku mengikutinya dengan tatapanku sambil menyusut tangisku. "Aku kehilangan waktu saat bersama Aidan. Bocah kecil itu selalu menarik perhatianku. Maafkan..." ucapnya sambil menundukkan kepalanya. Jangan khawatir kak, aku mengerti bagaimana keinginanmu itu. Anak...Ya, anak. Sosok yang kau rindu sejak di tahun kedua pernikahan kita. Tapi maafkan aku, ternyata aku belum dapat memberikannya kepadamu.


"Maafkan aku, Kak. Aku belum mampu memberi mu anak. Apa dayaku, Kak. Semua Allah yang mengatur. Kita hanya mampu berusaha. Tapi Allah penentunya" ucapku sambil menghela nafas. Kak Keanu pun menatapku lekat yang tengah asyik memainkan pasir putih dengan ujung kaki ku. Ada pilu yang menelusup mengisi relung hati ini saat kata itu meluncur. Anak...bilakah aku dapatkan? Ah, aku menunggu kemustajaban dari doa-doa yang ku sudah ku munajatkan. Sungguh aku masih setia menantinya, jawaban dari setiap doa-doa panjangku itu.


Kulihat kak Keanu kembali menghela nafas. Kaloi ini bersamaan dengan tatapannya yang begitu sendu. "Aku masih sabar, sayang. Kau tidak perlu khawatir. Apalagi hingga membuang perasaanmu terhadapku. Percayalah kepadaku seperti aku mempercayaimu" ucap kak Keanu.


"Kesetiaan bermula dari kebersamaan, berkembang karena pengertian, dan bertahan karena rasa saling percaya"


"Sampai kapan?" tanyaku datar. "Sementara orang-orang yang sebelumnya mendukungku saja kini satu-satu mulai menentang ku karena ketidakberdayaanku" ucapku pilu. "Yang menentang biarkan. Yang mencaci jangan pedulikan. Yang berpura-pura jangan dipandang. Aku sendiri hanya meyakini cintamu dan kebesaran-Nya" ucap kak Keanu. Ah, kata-kata penghiburan yang membuai. Tapi aku tahu apa keinginan terdalammu. Hanya kehadiran seorang anak yang akan membuatmu bahagia dengan sempurna kak. Aku yakin betul. Tapi lagi-lagi apa dayaku. Kekuatan doa ku belum lagi menjadi mukjizat.


Matahari semakin malu untuk menguatkan sinarnya. Seiring berlalunya arakan awan putih dan menyisakan hamparan langit yang juga hampir memudar dan berwarna kemerahan. Aku masih berdiri di tepian pantai. Membiarkan riak ombak membasuh kedua kaki ku dan memercik ke sebagian pakaianku. Sementara itu, angin pun menerbangkan ujung kerudungku.

__ADS_1


Aku masih berdiri menatap lautan. Dan masih setia menanti kemustajaban doa-doa yang sudah ku munajatkan. Baik terucap lisan maupun tersimpan dalam hati. Itulah harapan terbesarku saat ini.


__ADS_2