
"Fara menikahlah dengan ku..." ucap kak Mirza lagi. Kali ini tangannya menggenggam erat tangan ku. Entah kapan ia meraihnya.
Deg.
Jantungku kembali bertalu atas perlakuannya tersebut. "Aku...Aku..." ucapku gamang. Sekali lagi aku menatap wajahnya. "Kenapa...? Masih Belum yakin...?" ucap kak Mirza tanpa melepaskan genggamannya di tangan ku. "Entahlah, Kak... bayang-bayang perpisahan kita saat itu masih menghantui ku. Kakak mungkin tidak tahu Bagaimana kekecewaan ku saat itu. Dan bagaimana aku bangkit dengan susah payah" ucapku dengan suara bergetar karena tangis ku kembali terurai tak terbendung lagi.
"Aku tahu. Aku mengerti. Maafkan aku sudah membuatmu menangis dan bersedih. Tapi kau pun kau harus tahu Bagaimana perasaanku saat itu..." ucapnya sambil menyandarkan tubuh. Matanya menatap langit.
"Sejak kau meminta berpisah, aku pun mengalami kesedihan yang mendalam. Aku hancur, Fara. Jiwaku tak sanggup menerima perpisahan yang memang tak ku kehendaki. Dan saat berpisah pun aku tak benar-benar mengeluarkan mu dari hati ku bahkan hidup ku. Karena kau adalah hidup dan jiwaku" ucap kak Mirza. Matanya terus menerawang menatap langit. Sementara itu isak ku makin menjadi.
Ku lihat kak Mirza menghela nafas panjang. Matanya beralih menatap ku. Lama ia menilik wajah ku. Entah apa yang dia cari di wajah ku yang tengah basah karena air mata hingga ia berlama-lama menatapnya. Kemudian tangannya mengusap lembut air mata ku yang masih mengalir. Ya, Robby...baru kusadari bahkan sentuhan dan kelembutannya pun masih sama ku rasa. Desir aneh pun kembali menyergap ujung hati ku. Entah bagaimana lagi aku mendeskripsikan situasi hati ku saat ini.
"Fara jika memang kau sudah tidak ingin menerima ku lagi, aku ikhlas yang penting kau bahagia. Apa pun pilihan mu, aku akan mendukung mu. Tapi satu pintaku jangan keluarkan aku dari hidup mu, karena itu akan membuat hidup ku semakin terpuruk" ucapnya dengan suara sedikit bergetar. Aku tahu itu. Tanda bahwa separuh jiwanya berontak atas apa yang ia utarakan barusan. Aku tersenyum di ujung tangis ku. Sementara tanganku merapatkan sweater saat hawa dingin menyergapku.
"Well, baiklah. Aku pamit walau belum ada jawaban pasti yang ku dapat karena sudah malam" ucap kak Mirza sambil berdiri dan merapikan pakaian yang dikenakannya. Aku mendongakkan kepala menatapnya. "Maafkan aku, Kak. Aku belum memberi jawaban apapun kepada mu" ucapku sambil berpegangan pada lengannya saat aku berdiri.
"Tidak apa-apa. Yang terpenting kau tidak menolak ku..." ucapnya sambil tertawa kecil. Aku pun turut tertawa sambil mencubit kecil lengannya. Kembali ia mengaduh atas perlakuanku tersebut. "Apa tidak lebih baik Kakak menginap saja? Kamarnya sudah disiapkan..." ucap ku sesaat sebelum kakinya melangkah.
"Ah, sepertinya tidak. Pagi-pagi sekali aku harus on the road luar kota. Aku pun belum bersiap" ucap kak Mirza. "Em, bukankah kakak baru saja pulang dari luar kota?" ucapku mensejajari langkahnya. "Ya, ada hal yang harus aku selesaikan disana" ucap kak Mirza. "Istirahatlah...sudah malam" ucap kak Mirza yang mengantar ku hingga ambang pintu rumah.
__ADS_1
"Aku pamit ya..." ucap kak Mirza sambil mengusap pucuk kepalaku dengan lembut. "Terima kasih atas semua yang kakak lakukan. Entah aku harus bagaimana membalasnya" ucapku lirih. "Cukup dengan senyum dan tawa mu saja kau membalasnya. Karena itu sudah menjadi kebahagiaan ku" ucap kak Mirza.
"Walau perpisahan saat itu masih menghantuiku, namun hati ku sudah memaafkan mu. Aku sudah berdamai dengan apa yang telah terjadi. Sedikit demi sedikit luka ku mulai sembuh" ucapku sambil tersenyum.
"Baiklah. Aku senang mendengarnya. Aku pamit..." ucap kak Mirza sambil tersenyum dan melangkah pergi. Walau sejenak, aku sempat melihatnya berbincang dengan Azam. Entah apa yang keduanya bincangkan. Terlihat begitu serius. Mungkin berkaitan dengan penjagaan ku selama kak Mirza pergi. Entahlah...
Pukul dua belas lewat lima menit. Aku terkesiap dari tidur saat telinga menangkap suara langkah kaki. Tepatnya dekat jendela kamar ku. Kembali aku menajamkan telinga untuk memastikan kebenaran apa yang ku dengar sebelumnya.
Dan benar saja, kembali aku mendengar suara langkah. Kali ini dibarengi dengan ketukan pada daun jendela kamar ku. "Siapa..?" tanyaku sedikit kecut. "Saya Non. Azam..." ucapnya. "Azam...?" ucapku sambil melangkah mendekati jendela.
Aku pun membuka jendela perlahan. "Azam...?" ucapku lagi. "Ya, Non. Saya menyampaikan titipan tuan Mirza. Ini untuk non Fara..." ucap Azam. Tangannya menyodorkan sebuah cake bertulis sebuah ucapan. "Selamat hari lahir, Fara..." begitu yang tertulis. "Ada-ada saja..." ucap ku lirih.
Drrt.
Drrt.
Drrt.
Alih-alih penasaran dengan ucapan Kak Mirza, Aku pun langsung menuju pintu. Ku buka daun pintu dengan derit nya yang begitu nyaring karena suasana malam begitu sunyi.
__ADS_1
Sepi. Itu kesan pertama yang langsung mampir di benak ku. Ah, mungkin kak Mirza mengerjaiku. Nyatanya tidak ada apa pun di luar kamar ku.
"Met hari lahir, Fara..." ucap seorang laki-laki yang ku yakini sebagai kak Mirza. "Astaghfirullah...!" pekik ku karena terkejut. Sontak aku mengalihkan tatapan ku pada si empunya suara. Berdiri kak Mirza bersandar pada dinding. Sebelah kakinya menopang pada dinding di belakangnya. Sementara sebelah tangannya menggenggam seikat bunga berwarna putih, bunga kesenangan ku.
"Ya, Tuhan. Kak Mirza...Bukankah kakak sudah pulang?" ucapku sambil menghampirinya dan menerima seikat bunga yang ia berikan. "Semula demikian. Tapi teringat dengan tawaran menginap, aku jadi tergiur" ucap kak Mirza tertawa kecil. "Dusta..." ucapku sambil mencubit kecil lengannya.
"Bicara apa gitu, jangan cubit terus. Sakit tahu..." ucapnya sambil mengusap-usap bekas cubitan ku. Akhirnya aku pun terkekeh melihat polahnya itu. "Hadiahnya mana...?" ucapku sedikit merajuk manja.
"Kau tidak lihat di hadapan mu? Inilah hadiahnya..." ucapnya sambil tersenyum dan menatap ku. "Suka bercanda. Hem...Suka bercanda ya..." ucap ku sambil melayangkan cubitan kecil ke lengan dan perutnya. Bukan sekali tapi berulangkali. "Cukup, sayang. Cukup...sakit banget" ucapnya berusaha menghindari ku. Melihat kak Mirza demikian aku jadi terkekeh dan sekaligus menghentikan perlakuan ku tersebut.
Aku pun duduk pada sofa berwarna maroon. "Kemarilah Mbok, Azam..." ucapku sambil tersenyum dan membetulkan letak kerudung ku. Keduanya tampak sumringah. Mungkin setelah melihat kegilaan tuan nya. Hehee...
"Ini hadiahnya..." ucap kak Mirza. Tangannya menyodorkan sebuah kotak berwarna putih. Aku menatap wajahnya sambil tersenyum. "Bukalah..." ucap kak Mirza lagi sambil duduk di sebelahku. Aku mengerutkan kedua alis. Seakan berfikir sejenak.
"Em, kakak saja yang buka..."ucapku sambil menyodorkannya kembali. Kak Mirza pun meraih dan membukakannya untukku. "Pakaikan..." pinta ku. "Hadeuh...Nyonya besar" ucap kak Mirza yang membuat Azam dan mbok Jum tersenyum melihat polah kami.
"Em...akhirnya aku dilamar juga, Mbok" ucapku sekenanya saja. Dan ucapanku telah berhasil membuat kak Mirza tertegun. Dia teediam. Hanya matanya saja yang menatapku. Ada tanya di ujung tatapannya itu.
"Sungguh..." ucap kak Mirza. "Aku menerimanya, kak..." ucap ku lagi. "Aku tidak salah mendengar kan? ini nyata kan? Kau tidak sedang mengerjai ku kan?Atau tidak sedang bermimpi kan?ucap kak Mirza seakan tak percaya.
__ADS_1
"Ya, kak. Aku menerima lamaran, kakak" ucapku setengah berbisik.
"Alhamdulillah...." ucap kak Mirza.