
Pukul delapan lewat lima belas menit. Aku sudah bersiap. Seperti yang sudah direncanakan, aku dan kak Keanu akan menjenguk kak Noah yang masih mendapat perawatan intensif di rumah sakit. Hari ini adalah hari keempat sejak peristiwa penyergapan.
Mataku mengitari seisi ruangan. Aku mencari sosok tampan laki-laki yang sudah menjadi bagian penting hidupku itu. Namun nihil. Aku tak mendapatinya. Kemudian ku lajukan kursi roda keluar. Dengan harapan dapat menjumpainya. Dan benar saja, lamat-lamat kudengar percakapan dari kamar mama. Dari suaranya aku yakin itu kak Keanu dan mama. Sudah ada yang siap meluncur dari bibir ini, namun urung saat ku dengar mama mwnyebut nama ku.
"Sudah lebih enam bulan Fara terapi, tapi kemajuannya minim sekali. Mama khawatir, Keanu" ucap mama. Mungkinkah Fara akan seperti sediakala lagi? Mama ragu itu jika melihat kemajuannya kini. Bagaimana masa depanmu? Mama juga ingin menimang cucu. Mama sudah tidak muda lagi, Keanu..." ucap mama lagi.
"Ma, masa-masa seperti ini sudah pernah kita lalui. Lalu mengapa mama menjadi tidak sabar. Fara saja tetap menerima Keanu saat Keanu pada saat seperi ini. Ayolah, ma beri dukungan dan kesempatan kepada Fara" ucap kak Keanu. Ku rasa ada Kepiluan di tiap katanya.
"Sampai kapan, Keanu? Mama sanksi, Fara akan pulih cepat. Kami harus cepat mengambil langkah. Mama tidak ingin penantianmu jadi sia-sia..." ucap mama.
Deg.
"Mama..." ucapku lirih. Jelas ada kepiluan terselip di ujung hatiku. Dan sebuah tanya besar bergelayut dan mendiami hati. Ada apa dengan mama? Mengapa tiba-tiba berbalik arah menentang ku seperti ini?
"Fikirkan Keanu, mama mohon segera ambil langkah. Mama tidak ingin semua menjadi terlambat. Oya, Mama akan keluar kota beberapa hari. Mama harap sepulang mama nanti Keanu sudah mempunyai keputusan" ucap mama yang ku dengar jelas.
Pukul delapan lewat tiga puluh menit. Ku kayuh kursi roda menjauhi kamar mama. Menuruni lift dengan perasaan kalut. Pilu itu semakin menyeruak dan memenuhi hati. Bulir bening pun mulai mengambang di mata, namun aku berusaha menahannya.
Segera ku sembunyikan wajahku saat tiba di lantai dasar dan bertemu Satria. "Nyonya..." sapa Satria sambil mengangguk takzim. Ku balas perlakuan Satria itu dengan ssnyuman kecil sambil melajukan kursi roda ku menuju mobil. Kali ini mobil sport hitam yang sudah di siapkan Satria.
"Nyonya baik-baik saja...?" ucap Satria saat membantuku berpindah ke dalam mobil. "Terima kasih, Kak. Em, akus baik-baik saja" dustaku. Baik-baik saja adalah kalimat yang tidak menggambarkan perasaanku kini. Sebab sesungguhnya aku sedang menyimpan kepiluan dan kebingungan sehingga membuatku gamang.
"Nyonya yakin...?" ucap Satria lagi. "Aku harus bagaimana lagi, Kak? Selain mengatakan baik-baik saja. Walau ada segunung kepiluan di hati, namun aku harus tetap mengatakannya. Semua demi membangkitkan semangat di jiwa ini" ucapku tanpa menatapnya. Dan pada kuncup bunga lah ku tujukan perhatianku. Bunga yang sesekali bergoyang ditiup angin lalu. Sama seperti perasaan ku saat ini yang terombang-ambing kian kemari hingga berat otak rasanya.
Fiuh...aku menghela nafas dan jelas itu membuat Satria makin memperhatikan ku dari spion mobil.
__ADS_1
Drrt...Drrt...Drrt...
Ponsel ku berpendar. Sebuah nama tertera. "Dimana, sayang...?" ucap kak Keanu. "Di dalam mobil..." ucapku datar. "O...sudah di bawah. Kok tidak bilang?" ucap kak Keanu yang langsung memutus sambungan telepon tanpa menunggu jawabanku.
Tak lama, ku lihat kak Keanu berdiri di ambang pintu sesaat, mengedarkan pandangan kemudian melangkah menuju mobil yang sudah parkir sejak tadi. "Kok mendahului..." ucap kak Keanu sesaat sampai dan sempurna duduk di sebelahku. "Kakak yang menghilang. Jadi Fara turun. Siapa tahu kakak sudah di bawah. Eh, nyatanya belum juga" ucapku yang ternyata diperhatikan Satria lewat spion mobil.
"Maaf, tadi bincang dengan mama. Kebetulan mama akan kelur kota untuk beberapa hari" ucap kak Keanu. "Oya... ? Kok tidak memberitahu? Kalau begitu kita turun lagi. Fara ingin bertemu mama" ucapku dan berniat turun mobil lagi.
"Ada apa Fara..?" ucap mama yang ternyata sudah berdiri dekat mobil lainnya. "Mama kok tidak bilang jika ingin keluar kota?" ucapku sambil menyembulkan kepala dari jendela. "Mendadak, sayang..." ucap mama. Tapi mengapa terasa begitu hambar panggilan sayang yang mama berikan? "Kapan terapi lagi, Fara...?" ucap mama. "Besok, Ma..." ucapku yang dibalas mama dengan meng-o singkat. "Semangat ya..." ucap mama sambil duduk dalam mobil. "Hati-hati di rumah Fara. Keanu jaga Fara ya..." ucap mama. Ah, mama jika saja tak ku dengar perbincangan tadi, mungkin kata kekhawatiran seperti itu akan membuatku bahagia karena merasa diperhatikan. Namun berbeda hal setelahnya, semua terasa begitu hambar.
"Hati-hati, Ma..." ucapku setengah teriak ketika mobil mama mulai melaju. Pun demikian masih sempat ku lihat mama melambaikan tangan dan tersenyum.
"Kita berangkat Satria..." ucap kak Keanu sambil merengkuh bahuku. Mobil sport hitam pun melaju menembus keriuhan lalu lalang kendaraan lain. Mata ku gamang menatap pepohonan yang tampak berkejaran di tepi jalan. Sesekali selintas ku lihat burung bertengger pada beberapa dahan di beberapa pohon yang ku lalui. Fix...Sepanjang perjalanan tak ada celoteh yang terjadi. Aku terdiam. Fikiranku kembali mengembara pada percakapan yang baru saja ku dengar. Ku telaah hati-hati setiap katanya dan ku coba memaknainya. Pilu, itu yang kurasa saat ini. Mama... sedikit demi sedikit mulai berbalik menentang keadaanku. Ah, jika di fikir siapa yang ingin dihadapkan pada keadaan seperti ku saat ini. Duduk pada kursi roda dan bergantung pada pertolongan orang lain. Kemudian ku lihat kak Keanu dengan ekor mataku. Ia pun sama dengan ku, diam tanpa kata berarti. Hanya satu-dua ku dengar ia menghela nafas panjang. Bak ada beban yang mengusik ketenangan jiwanya. Aku yakin seratus persen aku mengetahuinya. Ini adalah kebimbangan yang sudah berhasil mama hembuskan kepada kak Keanu. Namun setelah ku fikir, mama ada benarnya juga.
Pukul delapan lewat lima puluh menit. Mobil berhenti pada sebuah rumah sakit kedinasan. Sebuah senyum pun menyapa kehadiran kami saat langkah mulai menapaki lorong seiring derit kursi rodaku. Kevin, partner kerja sekaligus sahabat kak Noah. "Saya kebetulan yang bertugas menjaga Noah" ucapnya yang tak lepas mengumbar Senyum.
"Maaf ya kak baru menjenguk kakak lagi hari ini" ucapku sambil menghampirinya. Mataku pun berisyarat menanyakan Zahra. Dan kak Noah pun tersenyum. Tangannya berisyarat agar aku mendekat. "Calon kakak mu..." ucap kak Noah berbisik. Pun demikian, masih dapat didengar Zahra yang berdiri tak jauh dari kami. Dan hal tersebut tentu saja membuatnya tersipu dengan wajah yang sedikit memerah. Aku pun meng-o singkat sambil bergantian menatap kak Noah dan Zahra.
"Bagaimana kabar kakak..." ucapku menyimpan sedih dan hampir menjatuhkan bulir bening yang tiba-tiba saja muncul. "Jauh lebih baik, sayang. Tak perlu khawatir..." ucap kak Noah sambil mengusap pucuk kepalaku. "Hei...jagoan" ucap kak Keanu yang baru saja masuk setelah menerima telepon beberapa waktu lalu. "Merasa jauh lebih baik, kak..." jawab kak Noah. "Apa rencana setelah sembuh..." ucap kak Keanu sambil tersenyum. "Tentu kembali bertugas. Peristiwa seperti ini sudah menjadi resiko dan bagian dari tugas" ucap kak Noah sambil terbatuk sesaat.
Waktu berlalu begitu cepat saat obrolan berlanjut. Canda-tawa pun menghiasi ruang perawatan tiada henti. Ada banyak celoteh yang diutarakan kak Keanu dan membuat kami tak mampu menahan tawa. Duuh...suami tampanku ini bisa juga membuat guyonan. Di luar kebiasaan seorang tuan muda. Dasar labil. Hehe...
Pukul dua belas lewat empat puluh lima menit. Mobil kembali melaju meninggalkan rumah sakit setelah terlebih dahulu menunaikan sholat dzuhur. Sunyi, itu yang kurasa selama perjalanan. Tiada lagi celoteh seperti yang diluncurkan saat dalam ruang perawatan kak Keanu tadi. Kak Keanu lebih banyak diam. Mungkin celotehnya sudah habis tadi. Hehe...
"Kita makan dahulu, ya..." ucapnya kemudian. Matanya menatapku yang hanya sekali menatapnya sambil tersenyum tipis. Mobil pun melambat memasuki sebuah parkiran. Hei...ini taman tempat aku dan kak Mirza pernah kunjungi beberapa kali. Aku tertegun. "Sayang...sudah sampai" ucap kak Keanu membuyarkan lamunanku. "Iya kak..." ucapku gagu.
__ADS_1
Setelah beberapa langkah kami pun sampai di sebuah meja resto. Aku baru tahu jika tempat ini dilengkapi resto. Baru saja sempurna duduk, ponsel kak Keanu berpendar. "Mama..." ucap kak Keanu. "Ya, Ma..." sapa kak Keanu mengawali perbincangan. "Apa, Ma? Putus-putus. Sebentar, Ma..." ucap kak Keanu sambil berisyarat kepada ku dan berlalu menjauh. Benarkah putus-putus? Entahlah...
Kulajutan kursi roda ku dan didiringi Satria. Dekat pohon rindang yang dikelilingi bunga aku menghentikan laju kursi roda ku. Dan Sayria berdiri sedikit menjauh dariku. Ia menjaga privasi ku rupanya. Kemudian aku menatap sejauh mata memandang. Seluas hamparan bunga dan pohon rindang yang tumbuh subur dan tertata apik.
"Sayang..." ucap kak Keanu sambil memeluk ku dari belakang. "Kak..." panggilku lirih. "Hem..." jawabnya singkat tanpa melepaskan dekapannya. "Sepertinya apa yang mama katakan ada benarnya" ucapku. Ku dengar kak Keanu menghela nafas. Sesaat ia mengitari ku dan duduk pada sebuah kursi tepat di hadapanku. Matanya menatap ku sendu. "Itu hanya kegundahan seorang ibu. Jangan terlalu diambil hati, sayang..." ucapnya kemudian. Tangannya meraih jemariku dan menggenggamnya erat. Ia menghela nafas panjang dan tersenyum menatapku kembali.
"Dengarkan aku, sayang. Tiada sedikit pun aku bermaksud mendengarkan ucapan mama dalam kasus ini. Kau adalah cintaku. Cinta lama hilang dan baru saja ku temukan kembali. Tak mungkin aku akan melepaskan mu begitu saja" ucap kak Keanu meyakinkanku. "Kak, sebelum bertemu lagi dengan ku, hanya mama lah teman kakak. Sosok yang sudah mendukung mama. Jadi naif sekali jika kakak tidak mengindahkan perkataannya atau pun keinginannya" ucap ku.
"Aku tetap pada pendirianku..." ucap kak Keanu tegas setengah teriak. "Dan melukai perasaan mama?" ucap ku. Kak Keanu terdiam. Matanya menatapku lekat. Mungkin ia tengah menyusuri perasaanku, ingin mengetahui keinginanku sebenarnya.
"Apa pun yang kau curi dengar dari percakapan kami, belum tentulah seperti yang kau sangkakan" ucap kak Keanu. Matanya jauh menatap hamparan bunga dan pepohonan seluas mata memandang.
"Maaf, tuan muda. Makanan sudah siap" ucap Satria. "Kita makan, perbincangan kita lanjutkan nanti" ucap kak Keanu sambil mengusap pucuk kepalaku dan mengecupnya lembut. Kemudian aku pun mengekori langkahnya. Sementara Satria membantu melajukan kursi roda ku.
"Aku rela jika kakak harus sudah bersiap-siap meninggalkanku. Aku sadar situaaiku tidak menguntungkan. Karena aku tidak baik-baik saja" ucapku.
Celetak...
Kak Keanu meletakkan sendok pada piring dengan tiba-tiba. Ia membersihkan sisi makanan yang menempel pada bibirnya. Bersamaan dengan itu terlihat ia menghela nafas panjang. Kemudian kak Keanu menatapku. Matanya sendu. "Jangan biarkan peristiwa lalu berulang. Kau berkorban demi membahagiakan orang lain. Dan lagi perbincangan ini terlalu dini. Kita baru saja menikah. Baru genap enam bulan lebih sedikit. Jadi masih banyak waktu untuk kita lebih berusaha" ucap kak Keanu.
"Bagaimana jika tidak ada perubahan terhadap kondisi ku?" ucap ku. Berdiri kak Keanu sambil menghela nafas panjang. Nafasnya turun-naik sedikit tak beraturan. Aku yakin ia sedang menahan kekesalan. "Satria, tolong antarkan istriku" ucap kak Keanu tanpa melihatku. "Lalu tuan muda, bagaimana?" ucap Satria yang langsung menyudahi santap siangnya. "Tak perlu kau fikirkan..." ucap kak Keanu ketus.
Jika sudah demikian, apa dayaku. Aku pun langsung melajukan kursi roda ku tanpa menatapnya lagi. Terselip pilu atas perlakuan kak Keanu barusan. "Maafkan aku, Kak. Fara mu ini tidaklah bermaksud demikian. Aku hanya takut kehilanganmu saja" ucapku dalam hati. Hingga di parkiran aku baru tersadar ada sesuatu yang hilang. "Ponsel..." ucapku. Aku pun langsung memutar kursi roda menuju tempat dimana tadi berada. "Biar saya yang mengambilnya, Nyonya..." ucap Satria. Namun ku tolak. Dalam hati seperti ada sesuatu yang menarik agar aku kembali pada tempat semula berada.
Aku tertegun saat melihat kak Keanu tengah duduk bersama seorang perempuan cantik. Rambutnya terurai panjang. Dan sesekali kak Keanu mengacak pucuk kepalanya di sela tawa yang dihadirkan. "Cepat sekali reaksimu, Kak..." sindirku. "Fara..." ucap kak Keanu berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya. "Siapa, Mas..?" tanya perempuan itu lembut. "Istriku..." ucap kak Keanu sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ow, kalau begitu nanti saja dilanjut lagi. Saya permisi, mas..." ucap perempuan itu. "Tidak perlu mbak. Silahkan dilanjutkan ngobrolnya. Saya hanya ingin mengambil ponsel" ucapku sambil menunjuk pada ponsel yang tergeletak di meja. Aku pun tersenyum menatap kak Keanu tanpa berkata apapun. Dasar tuan muda labil... Cepat sekali kau berpaling. Baru saja aku meninggalkanmu dengan kata-kata seperti itu. Kau sudah mengambil langkah begitu cepat tanpa berfikir panjang. Dasar tuan muda labil....!