Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 21. Aku Bukan Pelacur..


__ADS_3

Pukul enam lewat empat puluh menit. Tepatnya satu Minggu setelah toko beroperasi. Tersenyum aku menatap ayah yang tengah bersenandung. " Ih, ayah keren suaranya" pujiku yang membuatnya tertawa renyah. Senandung pun berlanjut hingga mobil terhenti di depan toko. Tampak empat orang karyawan toko ku tengah berdiri menghadap toko. Keempatnya seperti mengamati sesuatu. Sungguh aku terkejut saat ku dapati sebuah coretan pada dinding toko. "Pelacur....!" baca ayah sedikit keras.


Deg...


Entah benar atau tidak ditujukan untukku namun goresan itu berhasil membuat dadaku bergemuruh bak ada badai hebat yang berkecamuk. Gemetar tubuhku saat berulangkali membaca goresan pada dinding tersebut. Tak terasa mataku telah basah. Bulir bening itu terjun bebas begitu saja. Ku tutup wajahku dengan kedua tanganku. Pilu sekali. Sebuah penghinaan seakan menderaku kembali. Di peluk erat tubuhku oleh ayah yang tampak geram menatap tulisan tersebut. "Kita pasti bisa melaluinya..." kata ayah menenangkan ku. "Aku bukan pelacur, yah..." kataku. "Ayah tahu. Kita akan mencoba mencari tahu siapa pelakunya" kata ayah yang mengusap pucuk kepalaku.


Pukul tujuh lewat tiga menit. Ku lihat ketiga karyawan ku sedang menyusun kue dan bolu pada etalase yang ada. Sedangkan seorang karyawan ku, mengecat ulang untuk menghilangkan goresan pada dinding. Pilu rasanya hati ini pagi ini. Pun demikian, aku menjadi penasaran. Segenap jiwa ku berontak ingin segera mengetahui pelaku vandalisme tersebut. Lamunan ku pun menjadi liar dengan tatapan yang menerawang jauh entah kemana.


"Fara...." kata bang David yang tiba-tiba saja sudah berada di sampingku. Matanya menatapku sendu. "Bang...." panggil ku sambil mengusap air mata yang baru saja terjun bebas lagi. "Jangan bersedih, Fara...." katanya sambil mengusap kepalaku dan lelehan bulir bening pada sebagian wajahku. "Fara....!" teriak kak Mirza saat memasuki toko. "Sayang..." katanya tanpa menghiraukan keberadaan bang David dan langsung merengkuhku dan mendekap erat dalam pelukannya. "Aku bukan pelacur, Kak..." kataku dalam dekapannya. "Aku tahu pasti. Dan aku akan segera menangkap pelakunya. Aku akan memberi pelajaran terberat dalam hidup pelakunya. Seumur hidup ia tidak akan melupakannya" kata kak Mirza yang terus mendekap ku. Dekapannya menjadi longgar ketika bang David menepuk bahunya. Matanya mengarahkan pada pintu. Tampak beberapa pelanggan mulai bermunculan memasuki toko. "Mari silahkan...." kata bang David menyambut dengan senyum khasnya. Senyum yang pernah mengisi dan menghiasi relung hatiku.


Pukul dua lewat dua puluh menit. Masih di toko. Situasi saat ini begitu ramai. Pengunjung datang dan pergi. Sepertinya pengunjung benar-benar memanfaatkan promo buy one get one yang akan segera berakhir. Masih antusias pengunjung menikmati gelaran promo, ketika ada sekelompok lelaki bertubuh kekar mendatangi toko. Kurang lebih lima orang. Wajahnya cukup sangar dan sempat membuat kecut hatiku. "Siapa pemilik toko ini?" kata seorang lelaki bertubuh paling kekar. "Saya...Ada yang bisa dibantu?" kata ayah dengan santainya. Belum selesai ayah berbicara lelaki tersebut memukul ayah. Beruntung ayah sigap menghindarinya. Kemudian ayah berusaha mengarahkan kelimanya ke halaman toko diikuti kak Mirza, Bang David, seorang bodyguard kak Mirza dan seorang karyawan ku yang ternyata cukup menguasai ilmu beladiri. Dan terjadilah baku hantam yang cukup sengit antara kesepuluh lelaki tersebut.

__ADS_1


Berhamburan lah pengunjung keluar toko. Sementara aku dan beberapa karyawan lainnya berdiri di depan pintu toko sambil membawa senjata seadanya. Jaga-jaga seandainya lelaki garang itu merangsek masuk toko kembali. "Ayah....!" pekikku ketika beberapa pukulan mengenai ayah. "Ayah....!" teriakku lagi saat melihat ayah sempat terjatuh dan beberapa kali mengaduh. Aku kacau. Tidak tahu harus berbuat apa.


Aku kembali terpekik. Kali ini kak Mirza lah penyebabnya. Saat satu pukulan telak menghantam perutnya. Bukannya surut kak Mirza justru menyeringai memperlihatkan deretan gigi putihnya dan kembali menantang lelaki bertubuh kekar itu. Ada darah yang menitik pada ujung bibirnya saat sebuah pukulan telak bersarang kembali pada wajah tampannya. Aku pun begitu khawatir melihat situasi saat ini. Degup jantungku berlarian rasanya. Iramanya tak menentu. Ingin rasanya aku menghambur dan membantu, namun lagi-lagi apa dayaku.


Sekali lagi aku menutup wajah dengan kedua tangan. Alih-alih tak sanggup melihat situasi yang ada, aku pun berlari menjauh ke balik etalase. Di sana aku tersedu sejadinya. Menutup kembali wajah dengan kedua tanganku. Dan meratap kacau. Entah berapa lama aku demikian. "Sayang..." kata kak Mirza yang langsung mendekap ku. Jadilah aku menangis dalam dekapan kak Mirza. Lelaki yang sudah memberi warna dan harapan baru kepadaku. "Semua pasti berlalu, sayang. Jangan menjadi takut. Aku yakin kau mampu melewatinya" kata kak Mirza lagi. Tangannya perlahan menghapus bulir bening yang sudah membasahi wajahku. Ada senyum yang menghiasi wajahnya di sela anggukan mantap kepalanya. Mendapat perlakuan itu, aku pun berusaha menyusut air mataku. Dan seulas senyum pun berusaha aku berikan, walau tipis saja. "Itu baru Fara ku..." kata kak Mirza sambil mencubit hidung bangir ku.


"Aku ingin menikahi mu Fara..." kata kak Mirza sambil menatap ku sendu. "Kalau bercanda jangan kelewatan dech..." kataku sambil membetulkan kerudung yang membalut kepalaku. "Aku tidak bercanda, sayang. Aku sungguh sungguh" katanya lagi sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya plus dua lubang papa pipi nya. " Aku sungguh sungguh..." kata kak Mirza lagi. Ada kesungguhan di kilatan matanya saat katanya terlontar. "Kenapa...? Apa baru kena badai? Sehingga kakak berkata demikian?" tanyaku. "Aku ingin bersamamu, sayang. Memberikan penjagaan dan menghilangkan semua kekhawatiran di jiwa. Karena aku sudah memilihmu. Aku mencintaimu..." katanya sambil duduk mensejajariku. "Tapi kak...Fara masih takut" kataku tertunduk. "Hei...kau masih Fara ku seperti yang dulu. Tidak akan pernah berubah sampai kapan pun" kata kak Mirza yang menatapku lembut dan terus berusaha meyakinkan ku.


"Fara...bang David juga setuju jika kalian menikah dalam waktu dekat ini" katanya sambil menatapku. "Yang perlu pendapat bang David, siapa?" kata kak Mirza sambil menyikut perut bang David. Lelaki yang pernah ku cintai dan memberi perhatian lebih itu pun tertawa lepas atas perlakuan adiknya tersebut, Mirza.


Pukul empat lewat empat menit. Masih di toko. Tampak olehku kelima lelaki bertubuh kekar itu kini duduk terikat. Ada banyak luka di tubuh kelimanya. Sesaat kemudian raungan sirine mobil polisi pun menghiasi sekitaran toko sesaat untuk kemudian berangsur menghilang bersamaan dengan dibawanya kelima lelaki bertubuh kekar itu. "Terima kasih, Kevin sudah mendatangkan polisi..." kata ayah sambil tersenyum dan menghampiri toko Kevin yang bersebelahan dengan toko kami. "Sama-sama, Yah..." jawab Kevin sambil tersenyum dan sepintas lalu ia menatapku.

__ADS_1


"Bang David..." kataku setengah teriak saat ku lihat tubuh bang David terhuyung. "Astaga..." kata kak Mirza yang berhasil memegangi tubuh bang David. "Sorry...sudah lama aku tak berolah jurus. Habis tenagaku dan sedikit pusing saja" kata bang David. "Lemah kau, Bang..." ledek kak Mirza sambil menolak tubuh bang David dengan tepian tubuhnya. "Sialan..." kata bang David.


"Menikahlah dengan Mirza. Ia baik..." kata bang David sesaat setelah kak Mirza meninggalkan kami untuk mengambil air mineral di etalase. "Fara...." kataku terhenti saat tangan bang David menggenggam erat jemariku. "Menikahlah...agar aku pun menjadi tenang. Sungguh aku menjadi khawatir jika kau selalu dalam situasi seperti ini. Jadi menikahlah dengan Mirza. Ia akan menjaga mu karena ia benar-benar mencintaimu. Dan lagi ia bukan pengecut seperti aku" kata bang David sambil menatapku lekat. "Bang..." kata ku lirih yang kembali terhenti saat ku lihat kak Mirza datang dengan menenteng sebotol air mineral.


Sedikit kikuk saat aku mendapat tatapan kak Mirza. Kepalanya sedikit terangkat seakan mengisyaratkan sebuah tanya terhadap situasi yang ada. "Tidak ada apa-apa, Mirza...Hanya obrolan kecil saja" kata bang David. Dan kak Mirza pun meng-o pendek atas jawaban bang David. Seakan memilih opsi tidak percaya, terlihat kak Mirza menatapku dalam. Diperlakukan demikian aku semakin kikuk saja. "Aduh..." keluh bang David berhasil mengalihkan perhatian kak Mirza dan aku. "Kita ke rumah sakit ya, Bang..." kata kak Mirza cemas. "Akh, ga lucu. Dokter kok sakit..." gurau bang David. "Dokter juga manusia, Bang..." kataku terkekeh. "Yoklah di bawa ke rumah sakit..." kata kak Mirza. "Ke rumah saja. Ini hanya lelah. Istirahat sebentar juga sudah pulih..." kata bang David. "Baiklah..." kata kak Mirza.


"Aku pamit ya...Nanti kita lanjutkan kembali obrolan kita" kata kak Mirza sambil memapah bang David. Aku pun tersenyum dan menatap kepergian keduanya hingga hilang di ujung jalan.


Hari ini perasaanku kembali menjadi sendu karena perlakuan ketiga lelaki yang ku sayangi ini. Terlebih kak Mirza yang mempercayaiku lebih dari segalanya...


To be continued ....

__ADS_1


__ADS_2