Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 53. Peristiwa Di 21 Tahun Ku


__ADS_3

"Masih berani kau menemui suamiku?" ucap Amara saat ia memelukku. Aku tersenyum menatapnya lekat. "Karena aku juga punya hak atas kak Mirza. Ia suami ku juga" ucap ku sambil terus menatapnya. "Jadi stop mengintimidasi ku..." ucapku dengan suara tegas penuh penekanan. Mendapat perlakuan tersebut Amara menunjukkan sikap tidak sukanya. Wajahnya memerah, matanya menatapku sinis. "Aku yang pertama dinikahi, jadi aku lebih berhak" ucapnya tanpa ragu. "Yang pertama dinikahi belum tentu dicintai" ucapku sambil menatapnya. Entah dari mana aku mendapatkan keberanian sebesar itu.


"Tapi sebelum bola panas bergulir semakin jauh, aku ingin menjelaskan sesuatu..." ucap ku. Kak Mirza tampak memandangiku. Ia tersenyum sambil menggelengkan perlahan kepalanya. "Maaf, Kak. Aku tidak dapat memenuhi permintaan mu itu. Aku sudah muak diberi label pencuri dan diragukan kesucian ku oleh istri pertamamu itu" aku membatin. "Hari ini, Fara meminta berpisah dari kak Mirza" ucapku datar. Hampir semua terkejut mendengar ucapanku itu. Namun lain halnya dengan Amara. Ia menanggapinya dengan nyinyir. "Baguslah jika kau sadar siapa diri mu di antara kami. Kamu hanya pencuri.." ucapnya. Merah padam wajah kak Mirza mendengar ucapan Amara. Hampir saja ia menghadiahi Amara dengan sebuah pukulan, namun mama berhasil mencegahnya. "Tidak di depan anak-anak, Mirza" ucap mama.


"Harapan Fara ini adalah jalan terbaik untuk semua. Ma, maaf...Fara tidak bisa sekuat mama. Yang mampu menerima wanita lain di kehidupan suaminya" ucapku. "Waktu...aku meminta waktu untuk memikirkan ini semua. Aku tidak ingin terburu-buru" ucap kak Mirza. "Tapi Fara tidak ingin berlarut-larut. Karena aku tahu bagaimana tabiat istri pertama kak Mirza" ucapku sambil menatap Amara. "Apa maksudmu..?!" ucap Amara dengan membulatkan matanya. "Sudah cukup...!" ucap mama setengah teriak. "Mama harap persoalan ini dapat segera di selesaikan" ucap mama.


Matahari semakin tinggi. Sinarnya begitu terik membuat siapa saja akan lebih memilih berdiam dalam rumah. Pun demikian denganku kini. Setelah dalam perjalanan yang cukup panjang, aku pun parkir di halaman rumah lama nenek Merry. Namun sesaat sebelum berlalu, perhatianku tertuju pada sebuah paper bag di kursi belakang. Paper bag yang dititipkan pada nenek Fat dua hari lalu dan belum ku ketahui siapa pengirimnya. Kemudian aku pun berlalu menuju rumah dengan membawa paper bag tersebut. Khawatir terlupakan kembali, maka aku langsung membuka paper bag tersebut. Aku tertegun saat mengetahui isi paper bag tersebut. Mukena, tasbih, dan kerudung biru dengan motif bunga kecil warna merah muda. Ada amplop yang juga berwarna biru yang di dalamnya terdapat beberapa baris kalimat.


" Jika tidak ada pundak untuk bersandar, maka setidaknya masih ada lantai untuk bersujud...Met hari lahir Olivia Faradila Permana. Wish you all the best...(Keanu-suami masa kecilmu 😜)"


"Tuan muda labil..." ucapku lirih sambil tersenyum mengusap lembut mukena dan kerudung di hadapanku. Kau paling bisa membuatku tersenyum setelah kak Mirza tentunya. Kemudian ku pakai mukena tersebut, mengabadikannya dengan kamera ponselku dan mengirimkannya ke kak Keanu. "Terima kasih, kakak..." tulis ku di bawah foto. Lalu aku berganti mengenakan kerudung yang juga ia berikan. Aku pun mengirimkan foto ku itu dengan caption yang sama.


Pukul emapt lewat tiga puluh menit. Aku merebahkan tubuh di tepian tempat tidur setelah membersihkan tubuh. Tanganku asyik mengotak-atik ponsel. Ada beberapa nomor yang ingin sekali aku hubungi saat ini diantaranya ayah, Sherlly, dan bang David. Bolak-balik aku men-scroll antara ketiga nomor kontak tersebut. Akhirnya ku putuskan untuk menghubungi satu diantara ketiganya. Berulangkali aku menghubunginya dan akhirnya terhubung..."Ayah..." ucapku. "Fa..." ucap ayah terhenti dan berganti dengan menyebut sebuah nama. "Tuan Darius..." ucap ayah setenagh terkejut. Aku pun tak kalah terkejutnya me dengar nama tersebut diucapkan ayah. Artinya Darius atau pun Roy tengah mendatangi ayah. Aku begitu cemas. "Pak Robert...apa kabar?" ucap Roy datar. Dan ayah pun menjawabnya dengan sama datarnya. "Aku ingin bertemu Fara. Apakah pak Robert mengizinkannya?" ucapnya lagi. "Saya sendiri tidak mengetahui dimana keberadaan Fara" ucap ayah. "Jika saya menemukannya, apa boleh saya menemuinya?" ucap Roy lagi. "Mengapa harus meminta kepada saya. Apa ruginya hanya sebuah pertemuan" ucap ayah. "Aku hanya ingin pak Robert tahu, aku bukan Darius yang dahulu. Justru aku ingin menjaga Fara..." ucapnya. "Baguslah jika demikian. Fara sudah banyak mengalami kesulitan, jadi jangan ditambah lagi" ucap ayah lagi. "Percayalah padaku..." ucap Roy yang langsung menghentikan ucapannya saat mendengar suara bersinku yang terdengar dari telepon. Menyadari hal tersebut ayah kandung menutup panggilan teelpon. "Nanti ku hubungi..." ucap ayah kepadaku.

__ADS_1


Aku termenung. Aku mencoba memaknai setiap kata yang diucapkan Roy atau pun tuan Darius. "Mungkinkah ia bisa berubah sederastis itu? Ah, entahlah..." gumamku sambil mengusap wajah dan membetulkan ikatan rambutku. Tak ingin berlama-lama berasumsi tentang Roy aku pun kembali bersiap-siap karena harus ke toko dan atau cafe. Setelah selesai bersiap, aku pun langsung meninggalkan rumah. Ku lajukan mobil merahku dengan kecepatan sedang. Hanya butuh waktu dua puluh menit aku pun telah sampai di areal parkir toko dan cafe yang tidak begitu luas. Dan aku menjadi tertegun menatap deretn bunga berwarna putih mnghiasi teras toko. "Langkahku tak cepat seperti biasanya. Deretan unga Krisan putih telah mencuri perhatianku. "Ada apa..?" tanya ku sambil menunjuk deretan bunga pada Danu saat berpapasan dengannya. "Ada berkali-kali paket bunga untuk kak Olivia. Anehnya semua bunga dalam pot bukan bunga potong" ucap Danu. "Apa maksudnya dengan semua...?" tanyaku penasaran. "Deretan bunganya hingga di cafe, Kak.." ucap Danu lagi yang membuatku semakin penasaran.


Dengan rasa penasaran ku yang membuncah itu, aku pun langsung menaiki anak tangga menuju cafe. Dan benar saja ada banyak bunga Krisan putih berjejer rapi. "Maaf, kak. Karena banyaknya bunga yang berdatangan, maka kami berinisiatif untuk menggunakannya sebagai pajangan di toko dan cafe" ucap Dara sambil tersenyum. "Pengirimnya...?" tanyaku penasaran. "Berasal dari empat orang. Sepertinya keempat pengirim begitu mengenal kak Olivia, hingga tahu bunga kesukaan kakak" ucap Dara sambil tersenyum. Ku lihat empat ikat bunga potong yang juga Krisan putih di atas etalase dengan dilengkapi kartu ucapannya. "Bang David, Kak Keanu, Kak Roy dan Kak Mirza..." ucapku saat membuka satu persatu kartu pada bunga. Keempatnya sama-sama mengucapkan selamat hari lahir untukku. Aku tertegun. Wajahku begitu sumringah mendapat ucapan tersebut. " Dengan semua kiriman tersebut artinya bang David, kak Mirza dan Roy sesungguhnya sudah mengetahui dimana keberadaan ku. Tapi selama ini ternyata mereka menjaga privasi ku. Ya, Robb..." ucapku dalam hati. Pun demikian, ada kecemasan yang bergelayut di ujung hatiku. Terlebih karena Roy sudah dapat mengendus keberadaan ku saat ini. Mungkin saat menemui ayah sore tadi, sebenarnya Roy sudah mengetahui keberadaanku. "Ya, Robb...tolonglah aku" ucapku lagi dalam hati.


Pukul lima lewat lima puluh menit. Lampu-lampu jalanan satu-satu sudah menyala. Temaram cahayanya sedikit memberi warna pada jalanan sekitarnya. Sementara itu warna langit mulai berangsur menjadi gelap. Sang mentari sudah sempurna kembali ke peraduannya dan hanya meninggalkan sedikit semburat merahnya saja. Sementara itu kumandang adzan sudah terdengar. Aluannnya begitu syahdu memanggil jiwa-jiwa yang terpanggil. Ku kenakan mukena dan memanjangkan sajadah. Mengurai doa dalam sujud nan panjang di tiap rakaatnya sepanjang tiga rakaat. Diakhir sholat, ku kembali bermunajat atas ketenangan, penghidupan dan kebahagiaan ku juga untuk orang-orang di sekitarku.


Pukul enam lewat lima belas menit. Aku kembali pada dapur. Meracik bahan cupcake, muffin dan beberapa kudapan lainnya dan mendiamkannya selama satu jam. Aku mulai lebih awal bukan tiada maksud. Hal tersebut agar tidak sampai jauh malam saat menyelesaikannya nanti. Dengan demikian waktu istirahat aku dan creew agak lebih panjang nantinya. Aku harap demikian.


Drrt...Drrt...Drrt...


Ponselku berpendar berulangkali. "Met hari lahir, sayang... Maaf aku tidak mengucapkannya secara langsung. Aku tahu kau menjaga kerahasiaan keberadaanmu. Oya, kirimanku sudah kau terima sayang?" ucapnya diujung telepon. "Terima kasih. Kirimannya sudah Fara terima. Sekali lagi terima kasih" ucapku. "Seandainya diperbolehkan, aku ingin menemuimu malam ini sayang. Bolehkah?" ucap kak Mirza penuh harapan. "Maaf kak. Seperti yang sudah kakak utarakan sendiri. Aku sangat menjaga kerahasian keberadaanku" ucapku. "Sayang sekali..." ucapnya kecewa. "Oya, kak, aku pinta jangan lama memutuskan urusan kita. Semakin lama ku akan semakin terluka, Kak"pintaku. Dan sambungan telepon pun terputus begitu saja saat permintaanku itu terlontar. Aku mengernyitkan dahi mendapati perlakuannya yang sedemikian.


Pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Tanganku sudah kembali fokus pada beberapa adonan di meja.

__ADS_1


Drrt...Drrt...Drrt...


Dan lagi-lagi ponselku berpendar. Sebuah panggilan video dari ayah. "Ayah..." ucapku sambil tersenyum. "Sedang apa, sayang...?" y


tanya ayah, mungkin karena melihat background ku saat ini. "Sedang buat cake, yah di dapur" ucapku sambil terus mengisi deretan cup. "Ayah bangga pada mu, Nak. Oya, selamat hari lahir ya sayang. Teruslah bersemangat dalam mencari penghidupan dan kebahagiaan" ucap ayah. "Maaf ayah dan mami tidak membersamaimu dalam situasi sulitmu seperti saat ini" ucap ayah dengan suara sediki bergetar. "Tidak apa-apa, ayah. Doakan Fara ya, Yah. Agar Fara bisa melalui semua ini" ucapku hampir tersedu sambil menutup sambungan telepon. Terpejam mataku sambil mendekap ponsel. Aku tersedu pilu sekali.


Pukul sepuluh tepat. Pekerjaan ku hampir selesai. Dengan kapasitas oven yang memadai, maka pekerjaan pun menjadi lebih cepat. Sementara mataku sudah hampir tenggelam dalam lelap. Jika bukan karena dibangunkan Dara karena sebuah alasan, mungkin aku makin terbenam dalam mimpi karena memang kantukku sudah menyerang. "Kak... Olivia cepat. Ada keributan!" ucap Dara setengah teriak. Wajahnya begitu khawatir. Nafasnya memburu karena langkahnya begitu cepat tadi. Aku pun terkesiap mendengar ucapan Dara. Jantungku berdegup hebat. Ada sedikit trauma jika mendengar kata keributan. Aku pun langsung menuju tempat seperti yang disampaikan Dara, yaitu halaman toko dan cafe. Langakhku begitu cepat apalagi saat mendengar teriakan dari beberapa pegawaiku. "Ada apa ini?!" tanyaku lantang. Dua orang laki-laki bertubuh tegap nan kekar tengah berdiri dihadang pegawai laki-laki ku. "Panggil Polisi" bisikku pada salah satu pegawai. Kemudian karena mendengar teriakkan ku itu, pandangan kedua laki-laki itu beralih menatapku. Matanya tampak memerah Sepertinya pengaruh minuman keras. Langkahnya pun sedikit limbung. "Kak, di dalam saja!" ucap beberapa pegawai toko ku. Terutama yang laki-laki. Ah, aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Di mana tanggung jawab ku selaku pimpinan jika sampai meninggalakan mereka. Dan peringatan para pegawai pun tak ku hiraukan. Langkahku semakin cepat mendekati lokasi kejadian.


"Apa mau kalian?" ucapku kemudian. Seorang lelaki melangkah mendekatiku. "Hei, tunggu..." ucap seorang laki-laki yang tak lain adalah Satria. Namun saat Satria mendekat, seorang laki-laki lainnya justru menyerangnya. Olah jurus pun tak terelakkan lagi. Sementara seorang lagi yang semula mendekatiku, kini berdiri tepat dihadapan ku. Matanya menatapku. Dan secepat kilat ia menyabetkan sebilah pisau ke tubuhku. "Nyonya...!" ucap seorang laki-laki yang baru saja datang. Sebagian wajah berpenutup selembar kain berwarna gelap, sehingga aku tak dapat mengenalinya. Mendadak pandanganku menjadi kabur, terlebih saat melihat darah yang mengucur dari lengan dan perutku yang robek. "Nyonya...!" teriak laki-laki itu lagi. Tubuhku terasa ringan saat laki-laki bercadar itu membopong tubuhku dan membawanya pada sebuah mobil. Lamat-lamat ku dengar Satria masih terus berusaha meringkus kedua laki-laki bertubuh kekar itu. "Maafkan saya, Nyonya. Saya terlambat datang..." ucapnya. Matanya mengisyaratkan penyesalan. Dan dengan luka dan darah yang terus mengucur, aku tidak sadarkan diri. "Nyonya...Nyonya...!"


Entah ini sudah pukul berapa saat ini. Aku tidak tahu. Hanya tik tok jarum jam pada dinding yang begitu terasa mengusik isi kepalaku. Ku raba kedua luka yang sudah terbalut sambil menahan nyeri yang bukan kepalang. Dan Fikiranku kembali mengrmbara. Ingatanku kembali mengulas kejadian yang menimpaku dengan runtut. "Ya, Robb..." ucapku dengan suara bergetar hampir menangis. Mataku mengitari seisi ruangan yang berwarna putih itu. Dan di ujung ranjang yang ku tempati terdapat sosok laki-laki yang memunggungiku. Tubuhnya juga yang kekar berdiri sedikit bersandar pada ujung ranjang yang ku tiduri. Tingginya tak jauh beda dari kak Mirza. Rambutnya sedikit panjang namun terikat rapi. Kedua tangannya dilipat di depan dada. Aku teringat ada laki-laki yang menolongku selain Satria. Apakah laki-laki itu. "Siapa, kau...?" tanyaku lirih. "Nyonya..." ucap Satria yang sejak tadi menatapku. Ia menghampiri ku. Sementara laki-laki itu hanya diam saja. "Siapa, Kau..." tanyaku lagi. Dan ia pun akhirnya membalikkan tubuhnya. Aku terkejut melihat wajahnya. "Kau...!" ucapku.


To Be Continued...

__ADS_1


__ADS_2