
Pukul empat lewat lima belas menit. Waktu menjelang subuh. Aku asyik menatapi raut wajah kak Keanu. Matanya yang terpejam membuat ku leluasa menilik setiap detil wajah tampannya. Ah, laki-laki yang menjadi suami maianan saat aku masih ingusan dahulu kini benar-benar sudah menjadi suamiku seperti janjinya dahulu sebelum ia pergi bersama kedua orangtuanya. Sungguh perilakunya membuatku merasa istimewa. Semua pembuktiannya juga telah membuatku jatuh hati. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Sebentar lalu aku sempat berfikir, mungkin kak Mirza adalah suami pertamaku. Tapi aku merasa kak Keanu adalah cinta pertamaku yang dahulu pernah hilang. Dan semoga hingga nanti aku dan kak Keanu tetap bersama dalam cinta. Aamiin...
Pukul empat lewat empat puluh menit. Adzan berkumandang. Aku masih menatapi kak Keanu yang terbaring. Luka-lukanya ternyata mengharuskannya menginap di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan insentif. Pun demikian dengan Satria. Sementara aku, lebih beruntung. Luka yang ku alami hanya goresan kecil saja. Dan sakit pada kaki ku pun berangsur hilang. Menurut dokter, prihal rasa sakit yang semalam ku rasa adalah sebagai reaksi atas aktifitas fisikku yang berlebihan. Tapi hal tersebut tidak menjadi sebuah kekhawatiran, justru sebuah kabar yang cukup menggembirakan. Artinya seluruh otot mulai bekerja maksimal. Dan ambang kesembuhan ku mulai menyata didepanku. Pun demikian, tidaklah juga dibenarkan jika aku memaksakan aktivitas otot ku karena dapat membahayakan juga. Artinya lagi aku tetap harus berhati-hati dan sebaik mungkin melatih gerak otot kaki ku sesuai porsi saja. Tidak berlebihan tidak pula kekurangan. Semua pas...
"Sayang..." ucap kak Keanu yang menatapku. "Hei... Bagaimana perasaannya sekarang?" ucapku sambil tersenyum lebih mendekat padanya. "Perasaanku...? Em, aku makin mencintaimu..." ucap kak Keanu. "Gombal...." ucapku tertawa kecil. "Gombal...?"
Cup.
Sebuah kecupan mendarat pada pipi ku. Dasar tuan muda labil. Bisa-bisanya mencuri kesempatan. Pun demikian, tiada kata yang terucap. Aku terdiam sambil menyimpan rona merah di wajah. Melihat itu kak Keanu terkekeh. "Curang..." ucap ku kemudian sambil berlalu. "Kemana?" tanyanya. Akubtak menjawab dengan kata. Aku hanya berisyarat dengan kedua tangan mengikuti gerakan sholat, yaitu takbir. Kak Keanu pun mengangguk sambil tersenyum menatapku.
Tak berapa lama aku sudah bersiap menunaikan sholat Shubuh. Pun demikian dengan kak Keanu. Ia sudah bertayamum dan bersiap sholat. Ia adalah imamku kini. Ya...Salat adalah obat bagi jiwa ku yang sedang hampa, pikiran ku yang bimbang, dan hati yang terluka. Satu-satunya media yang selalu membuat jiwa ku tenang karena berhasil mengurai doa-doa panjangku.
***يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah: 153***)
Sholat ku telah usai. Dan doapun telah diuntai sedemikian rupa. Ada banyak pengharapan di dalamnya. Karena aku yakin bahwa doa mampu membuka jalan tersulit dan paling mustahil dalam hidup ku. Karena bagi Allah segala sesuatu itu mungkin terjadi.
Seperti seorang bijak yang mengatakan 'usaha tanpa doa adalah sombong dan doa tanpa usaha adalah bohong. Karenanya usaha dan doa bagi ku bak dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Selalu beriringan dan selalu terhubung.
Pukul lima lewat lima menit. Aku melipat mukena dan merapikan sajadah. Sajadah yang sudah menjadi basah dengan derai air mata ku yang tumpah tak terbendung lagi. Dan sesekali tanganku mengusap wajah yang masih tersisa air mata.
"Doa apa yang kau panjatkan, hingga kau berderai air mata" ucap kak Keanu sambil menatapku. "Em, rahasia..." ucapku santai. "Hei, dengan orang lain kau boleh berahasia tapi dengan suami mu tidak akan ku biarkan demikian. Kau istriku, kau milikku. Hanya milikku" ucap kak Keanu yang berhasil menarik tanganku sedikit kasar. "Sakit, kak..." keluhku. "Katakan dahulu, baru aku lepaskan..." ucapnya lagi. "Katakan..." ucapnya lagi. Kali ini ia berhasil mendekapku.
"Kak menintimidasiku? Ini sakit, Kak..." ucapku. "Oya? Jika begini, apakah masih sakit?" ucap kak Keanu sambil menciumi pipiku. "Astaga...kak Keanu" ucapku sambil berusaha menghindar. Dan hal itu membuat kak Keanu terkekeh.
"Maaf tuan muda,.Nyonya. Kita harus segera meninggalkan rumah sakit ini" ucap Satria khawatir. Matanya berisyarat saat menatap kak Keanu. Aku termangu. Hanya mataku saja yang menatap keduanya bergantian. "Baiklah..." ucap kak Keanu sambil menatapku dan menggenggam tangan ku. "Biaya rumah sakit?" tanyaku sambil mengikuti langkah cepat kak Keanu. "Satria yang akan mengurusnya..." ucap kak Keanu yang langsung diamini Satri dengan anggukan kepala.
__ADS_1
"Pandai kau menyembunyikan wanita mu, Keanu..." ucap seorang laki-laki saat kami baru saja melangakah kuar dari ambang pintu. Suara yang tentu saja aku kenal. Sontak kami pun memutar tubuh dan mendapati si empunya suara. Berdiri kak Mirza tak jauh dari kami. Tangannya menggenggam sebuah tongkat penyangga. Sementara kepalanya terdapat perban yang melekat. Ada beberapa luka di wajahnya. Baik aku ataupun kak Keanu menatap lekat kak Mirza.
"Kak Mirza..." ucapku lirih. "Ya, Fara. Ini aku. Mirza mu dahulu" ucap kak Mirza yang langsung di balas dehem kak Keanu. "Fara, milik ku sekarang..." ucap kak Keanu. "Ya, aku tahu. Dan yang pasti aku puny perhitungan tersendiri terhadapmu, Keanu" ucap kak Mirza.
"Perhitungan..?" tanya kak Keanu sedikit mengerutkan dahinya. "Pertama aku ingin tahu perihal penyamaranmu sehingga kau menjadi bodyguard ku. Kedua aku ingin tahu sejak kapan kau mencintai Fara. Apakah saat masih menjadi istri ku? Atau saat setelah bercerai dariku?" ucap kak Mirza menatap lekat kak Keanu. Namun sesaat kemudian, ia berganti menatapku. Astaga...sebuah tatapan yang masih sama. Tatapan seperti dahulu. "Cukup, Fara. Jangan diteruskan. Palingkan wajahmu darinya. Ada Kak Keanu disini" aku membatin. Tapi sayangnya aku justru tak berkedip menatapnya.
Sebentar fikiranku mengembara. Terutama saat-saat kebersamaan kami. Tangan itu yang sudah memberikan ku ketenangan dan kasih sayang. Dada itu pernah menjadi tempatku membenamkan wajah saat tangisku tak tertahankan. Dan bibirnya itu pernah memberi rasa di setiap inci Tubuhku. "Cukup, Fara...!" aku kembali membatin.
"Aka kabar, Kak Mirza...?" ucapku kemudian sedikit ragu dengan tangan yang langsung memeluk lengan kak Keanu. Kak Mirza tersenyum sambil melangkah sedikit mendekat. "Aku baik. Allah masih memberi kesempatan kepadaku rupanya" ucap kak Mirza. "Maaf, aku tidak bersama mu saat kau mengalami semua ujian hidup mu" ucapnya sambil menatapku sendu. Ces...hatiku lumer setelah beberapa tahun ini membeku atas perbuatannya yang telah melukai perasaan ku.
"Jika kau penasaran, kau boleh menemuiku nanti. Tapi saat ini ada hal yang harus aku lakukan terlebih dahulu" ucap kak Keanu. "Tidak. Aku ingin saat ini. Jika nanti, khawatir tidak ada kesempatan lagi bertemu.." ucap kak Mirza.
"Baiklah jika demikian. Kita ke cafe di depan rumah sakit ini saja. Bagaimana...?" ucap kak Keanu yang langsung disetujui kak Mirza.
"Aku minta tidak terlalu cepat melangkah. Kondisi ku tidak memungkinkannya" ucap kak Keanu. Sebelah tangannya mengusap punggung tanganku tiada henti. Entah mengapa ia melakukan hal tersebut.
"Aku mempunyai alasan tersendiri. Mengapa aku menjadi bodyguard mu, Mirza" ucap kak Keanu datar. Astaga...Coll sekali. Nyaris tak berekspresi. Tatapannya begitu dingin. Mendengar itu kak Mirza menghentikan menyeruput kopi dan langsung meletakkan kembali. Matanya tajam menatap kak Keanu yang tak bergeming sedikitpun.
"Ayahku mengalami kecelakaan belasan tahun yang lalu. Kecelakaan itu terjadi tak lama setelah tuan William, papa mu mendatangi rumah kami. Kemarahan bercampur kebencian yang terpancar di wajah papa mu telah membuatku yakin, bahwa papa mu lah yang menjadi dalang di balik kematian ayahku" ucap kak Keanu datar.
"Aku yakin itu hanya tuduhan tanpa bukti dari mu.." ucap kak Mirza. Tangannya mengepal. "Persis. Lebih tepatnya aku salah sasaran. Bukan papa mu, bang David atau kau yang menjadi penyebab kematian ayah ku, tapi kakak tertua mu dari ibu yang lainlah penyebabnya" ucap kak Keanu. Pengakuan kak Keanu membuat kak Mirza membulatkan matanya. Aku yakin ia terkejut dengan penuturan kak Keanu.
"Tapi bukankah kalian berteman?" tanya kak Mirza. "Bukan teman. Lebih tepatnya hanya sebuah hubungan mutualisme saja. Aku membutuhkan seseorang untuk menjaga Fara saat aku tidak berada bersama Fara. Aku yakin orang yang mencintai tak kan pernah menyakiti. Dan bagi Roy, selain dapat berdekatan dengan Fara ia juga membutuhkan sebuah pekerjaan. See...hubungan mutualisme seperti yang ku katakan tadi" ucap kak Keanu sambil menyeruput kopi di akhir tuturnya.
Ku lihat kak Mirza menghela nafas. Matanya terus menatap kak Keanu tanpa menyasar sedikit pun pada yang lain. "Aku masih mendengarkan. Teruskan..."
"Kemudian tentang Fara..." ucap kak Keanu. Kali ini ia menatapku sendu dan tersenyum. "Aku mencintainya jauh sebelum ia bertemu denganmu, Tuan Mirza. Sesungguhnya kami adalah sahabat di masa kecil. Kami dahulu di jodohkan. Namun terpisah oleh jarak dan waktu sehingga kami tak dapat mengenali satu sama lain" ucap kak Keanu yang terus mengumbar senyum kepadaku.
__ADS_1
"Fara, apakah kau mencintai Keanu...?" tanya kak Mirza tiba-tiba saja. Aku menghela nafas. "Kak Keanu adalah suami masa kecilku dahulu. Kami sering bermain sebagai suami istri dahulu. Dan memang benar kami dijodohkan oleh kedua orang tua kami yang bersahabat. Dan mungkin ini juga yang menjadi penyebab hubungan kita tidak lenggeng..." ucapku sedikit menyembunyikan wajahku. "Apa penyebabnya?" tanya kak Mirza menatapku lekat. "Karena ada laki-laki yang sudah menungguku dan benar-benar berani mencintaiku dengan segala kekuranganku" ucapku datar dan sepintas mungkin terlihat begitu tenang. Namun sesungguhnya tidaklah demikian. Hati ku begitu gamang menjawab pertanyaan kak Mirza tersebut. Jantungku saja berdegup hebat dengan irama yang aku sendiri tak mengetahuinya.
"Apa sedikit saja kau tidak mencintaiku lagi, Fara..?" ucap kak Mirza. Aku terdiam. "Sudah, cukup. Tak perlu di jawab, Fara. Sudah tak penting lagi..." ucap kak Keanu setengah geram. "Kenapa? Kau takut? Takut menghadapi kenyataan bahwa Fara masih mencintaiku" ucap kak Mirza. "Aku tidak takut. Karena aku tahu bagaimana perasaan Fara terhadapku..." ucap kak Keanu sambil menarikku sedikit kasar.
"Tunggu. Aku yakin kau takut Keanu" ucap kak Mirza sambil menghalangi langkah kak Keanu dengan tongkat penyangga tubuhnya. "Jangan melampaui batasanmu, Tuan Mirza...!" ucap kak Keanu geram setengah teriak. Wajahnya mengeras. Sebelah tangannya mengepal hebat.
Tak ingin berlarut-larut, aku pun bermaksud mengakhiri perbincangan pagi ini dengan statement ku. Ku tepis perlahan tangan kak Keanu dan berdiri tegak. Entah kekuatan dari mana sehingga aku mampu berdiri tanpa tongkat penyangga. Mataku menatap kak Mirza.
"Kau tahu Fara, aku masih Mirza yang sama seperti dahulu. Mirza yang selalu mencintaimu. Mirza yang selalu menanti kehadiranmu. Hingga tempat dan waktu pun selalu berpihak pada kita" ucap kak Mirza sambil menatapku tanpa mempedulikan kehadiran kak Keanu yang mulai gusar.
"Kita berada pada tempat dan waktu yang sama, Fara. Cafe Bx. Aku pun jadi satu diantara korbannya. Sesungguhnya aku mengetahui keberadaan mu di sana. Hati ku merasa bahwa hati ini telah dipanggil-panggil oleh hatimu. Aku yakin perasaan ini benar. Bahwa kita masih saling mencintai. Akuilah, Fara.
Kemudian saat kejadian semalam jiwaku benar-benar berontak, terutama saat melihatmu mengaduh. Sungguh aku ingin segera menolong mu semalam. Ingin rasanya aku langsung pergi memeluk mu. Membawamu serta selamanya. Namun semua itu urung kulakukan. Langkahku begitu berat saat menatap Keanu yang selalu mendekapmu. Selain itu, kondisiku dan Amara juga lah yang membuat langkahku terhenti dan urung merengkuh serta membawamu serta. Pun demikian, aku tetaplah Mirza mu dahulu, Fara. Tak kan pernah berubah" ucap kak Mirza sambil terus menatapku. Aku tahu tatapan macam itu. Tatapan dari seorang Mirza yang penuh perasaan.
"Cukup...!" ucap kak Keanu berang. Tangannya menggenggam kemeja yang dipakai kak Mirza. Sementara sebelah tangan lainnya mengepal, siap menghantam kak Mirza. Kak Mirza terkekeh, tanpa perlawanan. "Benar dugaan ku, kau takut Keanu. Takut menghadapi kenyataan..." ucap Mirza di sela kekehnya.
"Kau...!" ucap kak Keanu semakin geram. "Apa..?! Ingin memukulku? Silahkan...Walau kondisi ku seperti ini, Sepertinya aku masih sanggup melayani jurus-jurus mu. Apalagi dari seorang sepengecut dirimu, Keanu..." ucap kak Mirza lagi.
"Jangan, Tuan. Jangan kotori tangan tuan walau hanya dengan setetes darahnya..."ucap Satria mencegah kak Keanu. "Hei...jaga bicaramu terhadap tuan ku...!" ucap seorang bodyguard kak Mirza. Dan tak ayal lagi keempat laki-laki itu saling berhadapan. Keempatnya sudah bersiap dengan jurus jitu masing-masing. Menatap itu aku jadi kecut. Mataku menatap kak Keanu dan kak Mirza bergantian. Apa maksud dari semua yang dilakukan kak Mirza? Mengapa tiba-tiba saja ia mengutarakan hal yang menurutku sudah basi dan tak perlu dipertanyakan lagi. Dan kak Keanu aku yakin sekali ia cemburu. Bukan hanya karena penuturan blak-blakan kak Mirza, namun juga atas kelambatan ku bersikap atas perilaku dan penuturan kak Mirza.
"Cukup...!" ucapku dengan lantang pada detik-detik ketika keempatnya saling mengayunkan pukulan. Mendengar teriakanku, keempatnya urung beradu jurus dan langsung membaut jarak. Terlebih saat isak ku mulai terdengar. "Cukup...Jangan lakukan apapun lagi" ucapku dengan suara bergetar. Ada badai yang sedang berkecamuk di dadaku.
"Sayang..." ucap kak Keanu yang hampir merengkuhku, namun aku mencegahnya. "Berhenti, Kak..." begitu ucapku tanpa menatapnya. Hanya sebelah tanganku saja yang mengembang sebagai isyarat agar kak Keanu menghentikan langkahnya. Maafkan aku, Kak. Aku tidak bermaksud mempermalukanmu, aku hanya ingin adil sebelum statement ku usai.
"Aku...Aku..." aku gagu. Hanya tangis dan tatapan ku yang mewakili perasaan ku saat ini. "Aku...Aku..." ucap ku lagi, gagu.
To Be Continued....
__ADS_1