Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 71. Keyakinan ku...


__ADS_3

Hari masih pagi. Matahari pun masih malu beranjak dan menampakkan wajah nya, sehingga hawa dingin masih terasa menerpa wajah dan tubuhku. Aku duduk pada rerumputan yang masih lembab karena belum disapa sinar mentari. Bersandar tubuh ku pada pohon nan rindang yang sesekali bergoyang tertiup angin lalu dan menjatuhkan bulir embun bening yang semula bergantung diujung dedaunan. Pun kadang satu atau dua lembar daun pun berjatuhan menimpaku. Ku buka satu demi satu lembar buku tebal usang berwarna biru itu. Masih ada beberapa lembar lagi yang terlihat belum tertoreh tinta. Mungkin beberapa bulan ke depan sudah tak dapat di gunakan lagi. Hehe...


Pukul lima lewat empat puluh lima menit. Jemariku mulai menorehkan kata demi kata dengan lancarnya. Kali ini rasa bahagiaku lah yang menghiasi lembarnya. Sebuah nama pun ku torehkan di awal kalimat.


*Keanu...


Sadar atau tidak rasamu makin ku rasa


Bukan tentang kapan, tapi bagaimana


Aku tersenyum bahagia, saat kata ajaibnya meluncur dari bibirnya. Menikah yuk...


Bukan hanya sekali tapi sudah kesekian kalinya kata ajaib itu meluncur. Tuturnya selalu membuatku tertegun dan tersanjung


Keanu...


Nama mu makin mengisi hati ku. Asa mu makin menyelimuti jiwaku. Dan cintamu makin menyadarkan ku, bahwa aku pun menerima mu dengan segala yang ada pada diriku*.


*Keanu...


Duka ku bukanlah milik mu, tapi kau selalu menyertakannya sebagai milikmu juga. Tangisku bukanlah karena mu, tapi kau selalu memberikan bahu mu sebagai sandaran kepalaku. Dan air mataku tak pernah surut, tapi kau yang selalu berusaha menyekanya.

__ADS_1


Keanu...


Laki-laki pecinta sejati. Yang sejatinya aku cintai*.


Pukul enam lewat tiga puluh menit. Ku tutup buku tebal usang berwarna biru itu. Kudongakkan wajah ke atas menantang angkasa dengan mata terpejam. Kubiarkan wajahku di sapa semilir angin lalu yang terasa begitu menyejukkan. Sebuah ingatan pun timbul tenggelam bersama seulas wajah yang menghiasi ingatanku. Aku tersenyum. Aku bahagia. Sambil menikmati pendaran cahaya mentari yang menyirami wajah dan begitu menghangatkan. Ataupun mengecupi kuncup bunga mewangi yang mulai bermekaran. Yang wanginya sudah membasuh luka di hati. Yang besar mekarannya berhasil menyelimuti segenap jiwa. Ah, tak kan bosan rasanya bercumbu dengan luasan keindahan yang terbentang seluas ingatanku.


Tengah asyik bercengkrama dalam lamunan ku, sekonyong-konyong aku dikejutkan dengan sebuah hentakan pada pangkuanku. Sontak lamuannku buyar. Mataku pun langsung menatap pada pangkuan. Seulas wajah tengah menatapku sambil mengumbar senyum khasnya. "Kak Keanu...?" ucapku. "Ya. Memang siapa yang kau harapkan?" ucapnya sambil membetulkan posisi duduknya. Aku terkekeh mendengarnya. Dasar tuan muda labil selalu saja berucap seenaknya.


"Apa yang kau tulis, yank...?" ucapnya kemudian sambil meraih buku tebal usang berwarna biru. Buku yang tergeletak di sisi kanan ku. Dan tentu saja aku berusaha mempertahankannya. Karena sebagian hidupku ada di dalamnya. Terlebih pada lembar terakhir. "Jangan Kak..." pintaku memelas. "Aku jadi semakin penasaran. Jangan-jangan kau menulis puisi atau surat cinta untuk lelaki lain" ucapnya sambil membuka buku tersebut tepat di lembar terakhir. Aku hampir menangis melihatnya demikian. "Tapi tidak. This is your privacy..." ucapnya sambil tersenyum. Tangannya menutup kembali buku usang berwarna biru itu. Lega hatiku. Sumringah wajahku. Semua rahasiaku tak jadi ia ketuahui. Padahal aku sudah bersiap-siap menyembunyikan rona merah ku jika ia membaca goresan di lembar terakhir tersebut. Ah, tuan muda labil bisa-bisanya membuat jantungku berlarian.


Segera ku raih cepat buku tebal usang berwarna biru itu. Dan kak Keanu pun tersenyum mendapati polahku itu. "Sayang...sayang..." ucapnya sambil mengusap pucuk kepalaku. "Em, kita lari pagi yuk" ajaknya kemudian. Tampak aku berfikir sejenak. Hanya mataku saja yang menatapnya. Kemudian aku pun mengangguk kecil. Langkahku berpacu dengan semilir angin yang baru saja menerbangkan ujung kerudungku. Ku ambil ponsel dan beberapa lembar uang seratus ribuan. Memasukkannya ke dalam kantong bajuku.


Setengah berlari aku menghampiri kak Keanu yang sudah menanti di belakang kemudi mobil kesayangannya. "Sudah siap...?" ucapnya sambil menatapku. "Menikah? Tentu aku siap" canda ku sambil mengalihkan pandangan. Karena sejatinya tentulah aku masih sungkan berkata demikian. Tapi entah mengapa aku berkata demikian. Kak Keanu terkekeh. Tangannya lagi-lagi mengusap pucuk kepalaku. "Duuh...jadi ga sabar, nieh. Besok ya kita menikah?" ucapnya. "Ah, jangan suka bercanda..." ucapku sambil menghadiahinya cubitan kecil pada sekitar pinggangnya. Ia pun mengaduh. Namun kemudian ia terkekeh. Sepertinya ia justru menikmati perlakuanku tersebut. Aku tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala perlahan. Sungguh aneh ku rasa. Tapi itulah cinta deritanya tiad akhir. Pun demikian, deritanya selalu menjadi obat mujarab ketika di suatu masa terjadi kekhilafan kata.


Tak lama kemudian, kak Keanu pun menghentikan laju mobil sport silver nya pada pelataran parkir sebuah gedung olahraga. Ia tersenyum menatapku. "Kita adu cepat lari di sini saja ya.." ucapnya sambil turun mobil. Adu cepat? Hei...apa yang ada di fikiran tuan muda satu ini ya? Seenaknya saja...


Kemudian aku pun melangkah mengekori kak Keanu. Langkah panjangnya sedikit membuatku kewalahan. Dan lama kelamaan langkah pun menjadi lari kecil bak memburu angin. Pun demikian ternyata itu tidak berlangsung lama. Satu putaran cukuplah membuat aku terengah. Seiring nafas yang memburu, langkah pun semakin melambat dan akhirnya berhenti. Mataku menatap punggung kak Keanu yang masih berlari kecil. Ah, tuh tuan muda labil tenaganya seperti baterai tak ada matinya. On terus...


Sadar aku tak mengiringi langkahnya lagi, kak Keanu pun memutar tubuhnya. Sambil tetap berlari kecil ia menghampiriku yang berdiri sedikit jauh darinya. Aku masih berusaha mendamaikan nafas dan degup jantung yang berirama tak menentu. "Kak, capek..." ucapku sedikit manja sesaat setelah kak Keanu berada dekat dengan ku. Ia pun tersenyum tipis. Tangannya langsung meraih tanganku dan menggenggamnnya erat. "Sedikit lagi..." ucapnya kemudian sambil mengapit lenganku. Beriringan kami melangkah menyusuri sisi stadion.


"Janda sedang jatuh cinta itu ternyata norak ya..." ucap seseorang. Dari suaranya sepertinya aku mengenal siapa pemiliknya. "Jangan pedulikan..." bisik kak Keanu. "Bapak, ibu, mbak dan mas...lihat ada perempuan pencuri laki-laki" ucapnya lagi bak penjual obat di pinggir jalan. Bibirnya mengeluarkan kata-kata sindiran yang membuat hatiku semakin panas. Duh....ingin ku robek-robek tuh bibir rasanya. Aku memutar tubuh dan mendapatinya masih bercerita di tengah kerumunan yang berhasil ia buat.

__ADS_1


"Hei...spertinya kau tidak puas-puas mengusik hidup ku?" ucapku sambil mengamit lengannya. Hal itu tentu membuatnya menghentikan katanya dan berbalik menatapku. "O..pencuri sudah datang" ucap Amara ketus. Huh...di katai demikian hati ku semakin bergelora, bak gunung berapi siap meletus. Aku yakin letusannya akan menghanguskan segalanya. Karena itu aku berusaha meredamnya. "Bapak, ibu, mbak dan mas...Mbak ini mengatai saya sebagai pencuri laki-laki. Nah yang menjadi pertanyaannya laki-laki yang mana? Laki-laki yang kini menjadi suaminya?" ucapku tergelak. "Lucu dan aneh rasanya..." ucapku lagi disela gelak dan tepuk tangan ku. "Aku yang mestinya menikah dengan laki-laki yang kini menjadi suamimu itu terlebih dahulu. Di tengah perjalanan kau potong kompas dan kau buat dia menikahimu lebih dahulu dan aku kemudian. Dan dengan segala cara kau menjauhkan ku darinya. Sungguh cara yang kampungan..! Aku selama ini diam bukan karena aku takut tapi aku menghargai laki-laki yang masih menjadi suamiku saat itu dan juga keluarga keluarganya. Pun demikian, akhirnya aku memilih pergi menjauhi segala cintanya kepadaku. Apa kau pernah bertanya, apakah suamimu itu betul-betul mencintaimu?" ucapku panjang. Suaraku menggujes panjang bak kereta api yang melaju begitu cepat.


Merah wajah Amara mendengar ucapan ku. "Dan satu lagi..." ucapku sesaat setelah mengurungkan langkahku. "Bisa saja aku melaporkan mu kepada yang berwajib" ucapku. "Atas tuduhan apa?" ucapnya dengan suara sedikit bergetar namun masih terdengar ketus. "Pencemaran nama baik dan dalang pembakaran toko juga cafe ku" ucapku datar. Amara tercenung. Wajahnya mulai pasi. "Oya, satu lagi..." (Kok banyak amat ya? Hehe...) "Aku bisa saja menggugat pernikahanmu itu. Dan aku yakin menang. Kenapa? Karena pernikahanku sah adanya, tercatat rapi di akta dan buku nikah negara. Sedangkan kau...kau hanya dinikahinya secara siri. Aku ulangi secara siri" ucapku membalas semua kata dan perlakuannya selama ini.


"Jadi bapak, ibu, mbak dan mas semuanya silahkan menilai. Saya istri sah nya tapi yang harus mengalah untuknya. Sungguh aneh bukan? Pun demikian, sesungguhnya hal ini sudah berlalu, saya sudah meminta cerai dan sudah berpisah lama. Tapi ternyata ia belum puas juga mengusik hidup saya" ucapku dan berlalu.


"Sudah lega?" tanya kak Keanu yang sejak tadi diam menatapku. Aku tahu ia memperhatikan wajahku dengan lekat sejak dimulainya drama tak berujung tadi. Mungkin ia mencari sesuatu di wajahku. Atau kah ia cemburu atas apa yang ku utarakan?


Aku pun mengagenggam lengannya. "Maaf dan Terima kasih ya..." ucapku. Dua kata ini meluncur penuh perasaan. "Untuk apa?" ucapnya. "Em, maaf atas kata-kata ku tadi. Kata-kata yang seolah aku masih mengharapkan kak Mirza. Padahal itu hanya luapan masa lalu. Luapan yang hanya untuk menjawab amarah yang tidak semestinya dari Amara. Dan Terima kasih karena selalu ada untuk ku" ucapku yang mengeratkan genggaman tangan ku pada lengannya.


"Kita pulang ya..." ucap kak Keanu tanpa menanggapi ucapanku dengan kata lainnya. Ia hanya tersenyum. Sebelah tangannya mengusap lembut jemariku yang masih menggenggam erat lengannya. Aku pun mengiyakannya. Belum sampai pada parkiran mobil sebuah suara lagi-lagi menghentikan kami. "Fara..." ucapnya dengan suara khas yang sangat aku kenal. "Aku minta maaf atas perlakuan Amara" ucap kak Mirza yang sudah berdiri di hadapan kami. Matanya tampak menatap kak Keanu dan sebentar lalu ke arah dekapan tanganku. Hei...masalah untuk mu jika aku menggandeng lengan laki-laki lain? Hehe...


"Belum bisa juga memberi pengertian kepada istrimu, Kak? Tolong jangan usik hidupku lagi. Aku sudah jauh melangkah meninggalkan masa lalu ku di belakang. Dan tak kan pernah ku tengok lagi" ucapku datar namun ketus. "Secepat itu kau menjadikan ku sebagai kenangan? Apa sudah hilang semua cinta mu padaku" ucapnya lagi tanpa mempedulikan kehadiran kak Keanu. Aku tertegun. Mataku menatap wajah tampannya. Sementara tanganku makin mengeratkan dekapan pada lengan kak Keanu. "Jawablah, Fara..." ucap kak Keanu datar. Ku lirik dengan ekor mataku, ada seulas senyum yang menghiasi wajah kak Keanu dengan mata yang menatap lekat kak Mirza.


"Aku mengakui awalnya amat sulit meninggalkan kakak di belakang sebagai kenangan. Karena begitu banyak hal yang sudah kita lalui bersama. Tapi seiring waktu, ternyata aku bisa. Hidupku baik-baik saja tanpa mu, Kak" ucapku mantap. Sampai sini faham kan maksudnya...?


"Tapi mata mu berkata lain..." ucapnya. Huh...kesal hatiku mendengar ucapannya. Keinginan ku saat ini adalah menyambit mulutnya yang selalu berhasil menyulut api di hati ini. Kesal dengan ucapannya aku pun menarik lengan kak Keanu untuk melanjutkan langkah. "Selamat Keanu. Kau berhasil. Aku pinta kau menjaganya dengan baik" ucap kak Mirza.


"Tak kau pinta pun, aku akan menjaganya dan memberinya kebahagiaan. Karena dia adalah hidupku, Cintaku dan segalanya bagi ku" ucap kak Keanu sambil tersenyum menatapku. Selintas lalu matanya pun menatap tajam kak Mirza. Inilah tatapan dingin seorang Keanu, tuan muda Keanu. Kemudian kami pun melangkah kembali. Dan kali ini aku benar-benar meninggalkan kak Mirza di belakang ku yang masih menatap kepergian ku bersama laki-laki lain.


Dari spion mobil aku masih melihat bagaimana kak Mirza menatap kami. Ada gundah di ujung tatapannya. Juga sedikit sesal sepertinya di sana. Aku yakin itu. Tatapan yang sebelumnya hampir tidak pernah aku lihat selama aku bersamanya. Semua ada masanya, ada saatnya. Semua tidak selamanya berjalan sesuai kehendak kita. Adakalanya lurus, adakalanya melenceng tak beraturan. Itulah hidup. Karena kita wayang yang berdalangkan Yang Maha Kekal. Dan segala ketentuannya tak bisa terelakkan jika sudah menjadi ketetapan-Nya.

__ADS_1


"Sayang...kamu tidak apa-apa?" tanya kak Keanu saat mobil sudah jauh meninggalkan stadion. Aku pun mengangguk sedikit lesu. "Kamu yakin, sayang..?" ucapnya sekali lagi yang membaut ku menatapnya. Menilik reaksi pada wajahnya. "Aku yakin, kak..." ucapku sambil bergelayut pada lengannya sebagai upaya menetralisir rasa cemburu yang mungkin sedang menggelayuti ujung hatinya.


Pukul sembilan lewat lima belas menit. Langit sedikit mendung. Awan hitam mulai menggantung. Arakannya perlahan menutupi langit yang semula membiru. Mentari pun mulai samar tertutup awan. Pun demikian, tetap melaju mobil sport silver kak Keanu dengan cepat menyusuri jalanan yang mulai dipadati kendaraan. Diakhir pekan ini volume kendaraan meningkat karena hampir sebagian besar memanfaatkan waktu libur bersama keluarga menuju tempat-tempat wisata atau pun saling mengunjungi keluarga.


__ADS_2