Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 31. Ayah...


__ADS_3

Aku duduk termenung. Dari balik meja kasir mataku tiada henti mengitari seisi toko yang mulai ramai di kunjungi. Guyuran hujan yang membabi-buta ternyata tidak mengurangi animo pengunjung atas ketersediaan cake di toko kami. Alhamdulillah...syukurku tiada henti atas segala yang telah diberi.


Pukul dua lewat empat menit. Hampir satu jam bumi disapa hujan. Namun belum ada tanda-tanda akan berakhir. Dan pengunjung pun tertahan dalam toko. Berdiri berjejer dekat dinding kaca sebelah pintu. Hampir semua menatap penuh kecemasan. "Andai ada yang bisa aku lakukan..." gumamku sambil menatap jejeran pengunjung dalam toko.


"Mbak Mar, masak air panas satu panci besar berapa lama?" bisik ku pada mbak Mar, salah satu pegawai di toko. "Kalau memasak ulang sepuluh menit juga mendidih lagi, mbak. Emang kenapa, mbak Fara?" ucap mbak Mar. "Kalau begitu info info ke bagian dapur untuk membuat teh. Waktunya sepuluh menit untuk dua puluh lima orang" ucapku yang langsung disambut mbak Mar dengan senyuman sumringah. Langkahnya begitu cepat dengan tugas yang ku berikan.


Sepuluh menit berlalu. Teh pun siap lengkap dengan potongan brownies yang sudah tertata di piring saji. "Sajikan..." ucapku pada beberapa pegawai. "Wah...gratis nieh, mbak Fara?" tanya seorang ibu langganan kami sambil tersenyum menatapku. "Gratis, Bu. Silahkan dinikmati" ucapku tersenyum sumringah. "Mbak Fara dan toko Kun memang juara...." ucap seorang lagi. Aku tersenyum menyimak setiap pujian yang ada. "Semoga bisa mengurangi kejenuhan dan mampu menghangatkan suasana" ucapku lirih sambil tersenyum. Mataku tiada henti menatap hiruk pikuk yang sedang terjadi. Walau sederhana, namun cukup membuatku tersenyum.


"Mbak Fara memang Juara. Juara di hatiku.." bisik sebuah suara dekat telingaku yang tentu membuatku terkejut. Segera ku alihkan pandanganku menilik sumber suara. "Kak Mirza....!" ucapku setengah teriak yang langsung disambut dengan usapan pada pucuk kepalaku. "Sejak kapan?" tanyaku. "Sejak lama aku mencintaimu..." ucap kak Mirza tersenyum. "Gombal..." ucapku sambil terkekeh. Sementara tanganku asyik memotong brownies menjadi beberapa bagian. "Sajikan...." ucapku pada salah satu pegawai. "Sejak tadi ku perhatikan suasana toko berubah menjadi seperti sebuah cafe?" ucap kak Mirza. "Hanya mencoba memberi sedikit kenyamanan pada pelanggan. Tapi jujur itu memang menjadi keinginan Fara. Melebarkan usaha. Coba bayangkan di bawah toko kue di atas cafe. Bagaimana?" ucapku dengan mata berbinar. "I think good idea, honey..." ucap kak Mirza sambil turut serta menikmati teh hangat beserta kudapan. "Em, ayah mana?" tanya kak Mirza lagi. "Ke KUA..." ucapku singkat. Kak Mirza pun meng-o singkat. "Kita kapan, yank...?" ucap kak Mirza. Matanya menatapku lekat sambil tersenyum seakan mencari jawaban atas pertanyaannya tadi. "Em, setelah ayah dan Tante Vira ya..." bisik ku sambil membuat nota pembelian. "Karena hujan, saya sampai membeli kue lagi nieh mbak Fara" ucap seorang ibu tertawa sambil menerima uang kembalian. Aku terkekeh mendengarnya. "Terima kasih Bu. Berkah dan sehat selalu..." ucapku tersenyum sumringah sambil mengangguk takzim. "Alhamdulillah... akhirnya ada kejelasan juga" ucap kak Mirza. "Apa...?" tanya ku singkat. "Waktu menikah kita..." ucap kak Mirza. Tangannya mencubit singkat hidungku. Dan aku pun tertawa kecil sambil menundukkan pandangan.


Pukul tiga lewat dua puluh menit. Hujan mulai reda. Dan pengunjung pun berangsur mulai meninggalkan toko. "Terima kasih. Somoga berkenan..." ucapku ketika para pengunjung meninggalkan toko. Tentu saja dengan senyum khas ku yang terurai. "Semoga berkenan..." ucap kak Mirza yang tiba-tiba saja ada di belakangku. Ia berdiri tak jauh dariku. Ia menatapku sambil mengurai senyum khasnya. Senyum yang selalu berhasil membuat irama jantungku tak menentu. Sementara itu tangannya menyodorkan bunga berwarna putih yang merupakan warna favorit ku. "O...so sweet" ucap segenap pegawai toko hampir bersamaan. "Yang mau menikah bapak, tapi yang berbunga-bunga mbak Fara..." ucap mbak Mar dan disambut sorak-sorai lainnya. Aku dan kak Mirza pun tergelak.


"Terima kasih, ya. Aku selalu tersanjung dengan semua perlakuan Kakak. Thank you... banget" ucapku saat berjalan beriringan. Ah, tak dapat ku lukiskan bagaimana rasa di jiwa saat itu. Namun dengan degup jantung yang berirama tak menentu, cukuplah bagiku untuk membuat ku yakin bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi, aku sedang bahagia. Bahagia karena selalu merasa bahagia.

__ADS_1


Pukul tiga lewat empat puluh menit. Ponselku berpendar sedikit mengejutkanku. Sebuah panggilan dari Tante Vira. "Ya, Tante..." ucapku. Namun belum selesai sapa ku, aku sudah di kejutkan dengan tangisnya. Pasti ada yang terjadi. "Ada apa, Tante..." tanyaku khawatir sedikit keras dan mengejutkan yang lainnya. "Ayahmu terluka. Sekarang ada di rumah sakit X" ucap Tante Vira yang membuatku terpekik. Aku kalut. "Ayah..." ucapku lirih. Segera ku rapikan beberapa keperluanku dan langsung menarik kak Mirza keluar toko menuju rumah sakit yang dimaksud. Dan ku limpahkan tanggungjawab kepada mbak Mar atas penjagaan toko.


Berurai air mataku dan mulai membasahi sebagian wajah. "Ayolah, sayang...tenangkan dirimu. Kita tidak tahu kondisi ayah yang sebenarnya. Jadi jangan berargumen berlebihan dahulu" ucap kak Mirza yang berusaha menenangkan diriku dengan mata yang tetap fokus pada laju mobil sport silver-nya pada jalanan yang masih tampak basah karena guyuran hujan tadi. Mendengar penuturan kak Mirza aku pun berusaha keras mengendalikan kekhawatiran hebat yang sedang bergejolak di jiwa. Kekhawatiran akan kondisi ayah. Fikiranku menerawang dan terus menerka-nerka siapa pelaku yang melukai ayah.


Tak lama kemudian, kami pun memasuki rumah sakit X sesuai arahan Tante Vira. "Bang David..." panggilku saat sepintas melihat sosoknya. Dan yang dipanggil pun akhirnya menghampiri dengan senyum khasnya. "Ayah mu sudah baik-baik saja. Masa kritisnya sudah lewat" ucap bang David ketika sudah berdiri betul di hadapan ku. Ia menatapku sambil tersenyum dan mengusap pucuk kepalaku dengan perlahan. Ingin rasanya aku menghambur dan melampiaskan tangisku ini. "Terima kasih, bang..." ucapku sendu pada lelaki yang pernah memberiku asa dan perlindungan itu. Melihat situasi tersebut kak Mirza pun mengamit lenganku dan mengajakku ke ruang perawatan ayah. Matanya menatapku lekat. Ada kecemburuan terbersit di sana. Di kedua manik matanya yang tiada henti memperhatikan raut wajah dan polahku serta bang David.


Khawatir dengan argumen yang sembarang, aku pun segera melangkahkan kaki menyusuri lorong sambil memeluk erat lengan kak Mirza. "Pecemburu..."ucapku menggoda kak Mirza. "Siapa...?" ucap kak Mirza singkat. "Kucing..." jawabku sembarang. Ia pun tertawa. Tak lama menyusuri lorong, kami pun sampai di ruang perawatan ayah. Dan Tante Viralah yang menyongsong kedatangan kami dengan deraian tangisnya. "Fara...." ucap Tante Fara sambil memelukku. "Bagaimana keadaan ayah?" tanyaku yang langsung menghambur dan mendekati ranjang dimana ayah berada sambil tetap merangkul Tante Vira. Ini adalah bukti kedekatanku dengan Tante Vira. Sosok perempuan baik dan sudah berhasil membuat ayah bahagia. Sosok perempuan yang sebentar lagi menjadi ibu sambungku.


Tante Vira Flashback On


Waktu itu Satria (bodyguard yang diperintahkan Mirza memberi pengawalan kepad Fara dan keluarga) berizin ke toilet. Sembari menunggu Satria kami melangkah perlahan dan memilih berdiri dekat eskalator. Mata ku beredar mengitari sekitar pertokoan yang ramai pengunjung. Tidak terselip kecurigaan sedikit pun saat seorang lelaki bertubuh kekar mendekati kaki. Ku lihat bang Permana pun biasa saja. Tida reaksi apa pun atau berubah waspada pada sikapnya atas kehadiran lelaki bertubuh kekar tersebut. Dan belum lagi tersadar dengan situasi yang ada ternyata lelaki itu mengambil belati dari balik jaket hitamnya. Ia pun langsung menyerang bang Permana yang langsung refleks menghindarinya walau tak sempuna. Karena ternyata belati tersebut berhasil merobek tubuh bang Permana. Aku hiateris terutama saat melihat ceceran darah yang keluar dari luka pada perut bang Permana. Bukan hanya aku, tapi ada banyak pasang mata yang menyaksikan hal tersebut pun turut bereaksi panik. Beruntung Satria cepat datang. Dengan sigap ia meladeni permainan jurus lelaki kekar tersebut. Sementara bang Permana terduduk di sisi lain sambil mendekap luka yang terus mengeluarkan darah. Aku pun langsung turut mendekap luka bang Permana. Tak terasa aku menangis menyaksikan lelaki yang akan segera menikahi ku itu terluka tak berdaya.


Pukul dua lewat lima menit. Aku masih mendekap tubuh bang Permana. Sementara Satria berhasil meringkus pelaku dan menyerahkannya kepada security untuk selanjutnya di proses di kepolisian. Kemudian kami pun membawa bang Permana ke rumah sakit X untuk segara mendapat pertolongan.

__ADS_1


Tante Vira Flashback Off


Aku terdiam menyimak penuturan Tante Vira. Mata ku berkaca dan bibirku bergetar menahan pilu. "Apakah ini ulah tuan Darius? Karena selama ini ia lah yang selalu mengusik hidup kami?" ucap ku lirih. Sebuah lengan mendekapku dan menjadikan dadanya sebagai sandaran kepalaku. "Tenanglah, sayang..." bisik kak Mirza sambil sesekali mengusap pucuk kepalaku yang rebah pada dada bidangnya.


Pukul delapan lewat empat puluh menit. Bang Pandu baru saja masuk dengan membawa obat dari apotik sesuai yang telah diresepkan. "Maafkan saya, Tuan. Saya gagal menjaga tuan Permana. Saya tidak waspada" ucap Satria penuh rasa bersalah saat menemui kak Mirza. "Sudahlah..." ucap kak Mirza sambil menepuk bahu Satria. Tak banyak yang diucapkan kak Mirza saat itu. Ia hanya menatap ku dalam sambil mengurai senyum.


Kemudian lamat-lamat terdengar kak Mirza berbincang dengan bang Pandu dan Satria. Ketiganya begitu serius. Terlihat jelas di raut wajahnya. "Maaf, Tuan. Apakah tuan sudah bercerita kepada Nyonya tentang..." ucap bang Pandu terhenti saat melihat isyarat tangan kak Mirza. "Apakah ini ulah dari orang yang disebut tuan Darius itu?" ucap Satria yang membuat kak Mirza dan bang Pandu berpandangan. "Aku tidak yakin. Jika obsesi Darius saja begitu besar untuk memiliki Fara, maka aku yakin bukan ia pelakunya. Sebab mana mungkin orang yang mencintai sanggup untuk menyakitinya..." ucap kak Mirza yang lagi-lagi menatapku. Entah mengapa di tatapannya aku melihat kegelisahan yang teramat. Ingin rasanya aku bertanya namun apa daya ku, keberanian ku dikalahkan rasa segan ku terhadapnya.


Pukul sepuluh lewat sepuluh menit. Aku masih di ruang perawatan ayah. Kepalaku rebah pada bahu kekar kak Mirza. Mataku pun terpejam walau belum lelap saat ponselku berpendar. "Darius...." ucapku dalam hati karena pendaran itu berasal dari ponsel ku yang lain.


Deg.


Khawatir salah faham, kemudian aku memberikannya kepada kak Mirza. Ia pun langsung menanggapi isi pesan yang menghiasi layar ponsel. Dengan teliti ia membaca setiap deretan huruf yang tertera. Belum lagi aku membacanya, kak Mirza justru mengantongi ponsel tersebut. Menyimpannya di balik jaketnya. Aku diam saja. Mungkin menurut kak Mirza, tidaklah penting aku mengetahuinya sehingga ia langsung menyimpannya. "It's okay...Aku yakin itu untuk kebaikan ku" ucapku dalam hati. "Ponsel yang ini di buang saja. Sudah tidak diperlukan lagi" ucapnya sambil tersenyum tipis. Aku pun hanya mengangguk dan kembali memejamkan mata. Kali ini aku menyandarkan tubuh pada sofa di sudut ruangan.

__ADS_1


__ADS_2