Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 119. Jangan Sakiti Anak Ku


__ADS_3

Rafan...!" teriakku sambil berlari dan merengkuh tubuh gembul bocah dua tahun itu. Histeris Rafan dalam dekapan ku. Tangisnya begitu memilukan. "Jangan takut, sayang. Ada mama..." ucapku sambil mendekap dan menghadiahinya ciuman pada wajah gembulnya.


Tangan kecilnya mendekap ku begitu erat. "Mama. Mama...Afan atut" gumam Rafan dalam dekapanku. Sebentar kemudian aku menenangkannya, Rafan pun tertidur pulas. Dan aki enggan meletakkannya. Aku masih mendekapnya dalam buaian ku. "Ah, akhirnya kau mengerti maksud ku. Aku akan segera memberitahu mu kapan dan mana kita akan menikah..." ucap Keenan yang kemudian berisyarat agar mbak Min mengambil Rafan dari bulan ku. "Maafkan saya, Nyonya..." ucap mbak Min. Tangannya meraih tubuh Rafan yang masih terlelap. Aku terdiam. Aku tak berdaya. Benar-benar tak berdaya. Ku biarkan tubuh gembul anak laki-laki ku itu berpindah tangan tanpa perlawanan sedikit pun. Aku hanya mampu menatap pilu wajah Rafan yang masih tertidur pulas itu.


"Ambil ini. Dan tunggu kabar dari ku" ucap Keenan sambil melemparkan sebuah paper bag ke dekat ku sesaat sebelum ia berlalu bersama Rafan juga lainnya. Aku terdiam. Bak tersihir pada situasi tersebut.


Kemudian aku menangis seakan baru tersadar dengan situasi yang ada. Berulangkali aku mengusap wajahku dengan kasar. Amarah pun makin mengisi relung hati ku yang berubah mendaki badai. Amuknya semakin dahsyat seiring tangis yang makin pilu.


"Non Fara..." ucap seorang laki-laki dari belakangku. Aku pun segera menyusut air mataku dan membetulkan letak kerudungku yang masih berantakan. "Aku tidak apa-apa, Azam. Kita pulang..." ucapku sambil berdiri dan melangkah meninggalkan ruangan tersebut.


Sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam. Tiada kata yang mampu ku urai sedikit pun. Yah, fikiranku kini tengah mengembara. Aku tengah menimbang segala kemungkinan yang akan terjadi berdasar hukum sebab-akibat, jika...maka. "Ya, Robby...tolong hamba" gumamku. Ada kegamangan besar yang tengah menghantuiku saat ini. Kegamangan yang berhasil membuat kepercayaan diriku terkikis.


Kusandarkan kepala sekedar menenangkan tubuh yang mulai terbawa fikiranku yang begitu kalut. "Kak Mirza kemana, Zam...?" tanyaku baru tersadar ketidakberadaannya saat ini. "Tuan Mirza ada meeting yang tidak bisa ditinggalkan" ucap Azam yang mencuri pandang lewat kaca spion mobil. Aku pun meng-o singkat dan menyandarkan kembali kepalaku.


Drrt.

__ADS_1


Drrt.


Drrt.


Ponselku berpendar. Sebuah pesan menghiasi layar ponselku. "Keenan..." ucapku lirih sambil membuka isi pesannya. "Ku jemput pukul tujuh malam ini. Ku rasa akan lebih baik jika kita berkencan dahulu sebelum kita menikah. Kenakan pakaian yang sudah kusiapkan untukmu dalam paper bag yang barusan ku berikan" begitu Keenan berpesan. Begitu kesal aku membaca tiap baris isi pesan tersebut. Dan ku lempar sembarang ponselku sebagai pelampiasan amarah ku.


Melihat itu, Azam melemparkan tatapannya kepadaku. Ia begitu khawatir atas ku. "Non..." ucapnya. "Aku tidak apa-apa, Zam. Aku hanya kesal pada Keenan yang semena-mena terhadap ku" ucapku.


"Artinya non Fara sedang tidak baik-baik saja..." ucap Azam sambil menghentikan laju mobil di halaman rumah ku. Kemudian setengah berlari aku memasuki rumah. Tak ku hiraukan sapaan dan tatapan mbok Jum saat aku melewatinya. Kesal ku makin menjadi sehingga ku tutup pintu kamar sedikit kasar sehingga menimbulkan suara yang mengejutkan telinga.


Tok.


Tok.


Tok.

__ADS_1


"Non, ini mbok Jum. Mbok masuk ya..." pintarnya. "Masuklah, mbok..." ucapku dengan suara parau mengakhiri diam ku. "Walaaah...Non" ucap mbok Jum saat melihat suasana dalam kamar. Terlebih saat mendapati ku. Tergopoh langkahnya menghampiriku. Ia pun memelukku erat. "Mbok..." ucapku kembali terisak. Bagi ku mbok Jum bukan sekedar asisten rumah tangga, ia bak jelmaan nenek ku sendiri. "Ada apa, Non...? Cerita sama mbok, biar lega" ucap mbok Jum dengan logat khasnya. Ada banyak kecemasan di ujung tatapannya.


"Aku sudah tidak apa-apa, mbok" ucapku sambil berdiri dekat jendela. Tatapan ku langsung menerobos bingkai jendela bergorden warna biru dengan motif bunga warna merah muda. Fikiranku langsung menyasar pada peristiwa yang baru kualami. Di saat aku mulai menata hati untuk menerima tawaran Keenan demi Rafan, ternyata separuh jiwaku berontak. Yah, separuh jiwaku benar-benar menolak. Semua terjadi setelah aku mendengar ungkapan kak Mirza. Ah, kini kegamangan kembali mengisi relung hatiku.


"Aku harus bagaimana, Mbok...?" tanyaku lirih tanpa menatapnya. "Bagaimana apa, Non...?" ucap mbok Jum. Dari nada suaranya jelas ia tidak mengerti dan sedikit bingung atas pernyataanku. "Ah, entahlah mbok. Aku sendiri tidak tahu..." ucapku kemudian mengakhiri lamunanku.


"Non...Nyonya Wina" ucap Azam khawatir. Tangannya menyodorkan ponsel kepadaku. "Kak Mirza...?" ucapku saat melihat siapa melihat pengirim sebenarnya. "Tuan Mirza yang meneruskan pesan dari Nyonya Wina" ucap Azam. Aku terdiam. Mengapa kak Mirza tidak langsung menghubungiku? Ah, apakah ini berkaitan dengan peristiwa siang tadi? Apa mungkin kepergiannya pun berkaitan dengan ucapanku. Mungkinkah perkataanku benar-benar telah melukainya?


"Rafan di culik..." begitu isi pesan tersebut.


Deg.


Jiwa ku berdesir hebat saat membaca pesan singkat tersebut. Aku benar-benar kalut. "Rafan..." ucapku lirih sambil melangkah mondar-mandir. "Keenan...Pasti ia yang melakukan ini semua..."ucapku sambil mengambil ponsel. Mataku sibuk mencari kontak Keenan. Sementara gemuruh di dada ini kembali membuncah. "Hei, sayang. Baru juga bertemu sudah kangen" ucap Keenan sambil terkekeh.


"Dimana Rafan...?!" tanyaku penuh amarah. "Rafan di rumah?" ucapnya santai. "Mama baru saja mengirim pesan bahwa Rafan di culik. Kau kan yang menculiknya...?!" ucapku. Keenan tertawa hebat. "Jika kau ingin tahu dimana Rafan datang ke cafe Za pukul tujuh. Kenakan pakaian yang ku berikan" ucap Keenan mengakhiri sambungan telefon. Ah...! ucapku penuh amarah. Lagi-lagi ponsel ku jadi sasaran amarahku. Aku melemparnya hingga terberai bagian-bagiannya.

__ADS_1


"Non..." ucap mbok Jum dan Azam hampir bersamaan. Nafasku begitu memburu tanda amarahku kian membuncah dan hampir tak terkendali. "Aku harus bagaimana Mbok...?" ucapku lesu. Hampir aku terjatuh saat pandanganku tiba-tiba saja menjadi samar. Aku limbung. Tanganku berusaha menggapai pegangan, namun gagal. Beruntung Azam berhasil menangkap tubuhku. "Aku lelah, Zam..." ucapku sebelum kesadaran ku hilang.


__ADS_2