Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 7. Hubungan Tanpa Status


__ADS_3

Pukul enam kurang sepuluh menit. Mataku kembali basah saat teringat nenek. Lara jiwaku memikirkan hidup tanpa nya. Tidaklah menjadi masalah besar jika kondisi ku baik-baik saja. Namun jika sedang seperti saat ini maka apalah dayaku. Perlahan namun pasti aku berusaha melangkah menuju kamar mandi, dengan bertumpu pada dinding atau apa saja sehingga aku dapat sampai di kamar mandi. Melakukan segala keperluan pribadi dengan kondisi seperti ini, cukuplah membuatku tersiksa.


Pukul enam lewat sepuluh menit. Kumandang adzan terdengar sudah hampir berakhir. Kini aku telah sampai kembali pada kamar yang hampir tujuh belas tahun ini ku tinggali. Ku kenakan mukena dengan rapi dan memanjangkan sajadah. Kemudian ku tarik perlahan sebuah kursi kayu hingga dekat sajadah yang sudah terurai memanjang. Dan ku mulai sholat ku dengan duduk pada kursi kayu tersebut. Lama aku bertafakur. Bermunajat penuh kekhusyukan. Bukanlah ingin sekedar mengadu dan berkeluh kesah pada Tuhan sekalian alam, namun aku pun meminta segalanya atas hidup dan penghidupanku. Ku usap wajahku dengan kedua tangan saat mengakhiri doa. "Mohon dengan sangat kabulkan ya Robb...Aamiin" ucapku menutup doa.

__ADS_1


Pukul enam lewat tiga puluh menit. Aku keluar kamar menuju pintu depan. Karena aku yakin telah mendengar ucapan salam di depan pintu. Ku intai melalui jendela untuk memastikannya. Dan benar saja ku lihat bang David tengah duduk pada kursi di teras rumah. Segera ku buka pintu dan menemuinya. "Bagaimana keadaanmu, Fara..." ucap bang David sambil tersenyum dan memandangku. "Alhamdulillah...sudah jauh lebih baik, bang" ucapku sambil duduk di hadapannya. "Ini.." ucapnya singkat sambil menyodorkan box berisi nasi lengkap dengan lauk dan sayur. "Aku suap ya..?" ucapnya sambil mengambil sendok. "Bang yang sakit itu kaki ku, tanganku tidak" ucapku sambil tertawa kecil. "Iya juga ya..." ucapnya tertawa lepas. "Tapi entah mengapa aku selalu ingin memanjakan mu" ucapnya lagi sambil mengacak pucuk kepalaku. "Besok ujian mu bagaimana" tanyanya. Aku terdiam. Mataku menatap tanganku yang mengaduk-aduk nasi. "Jangan khawatir abangmu ini yang akan mengantar dan menjemputmu sekolah" ucapnya sambil menatapku. "Kenapa bang David begitu baik? Jangan terlalu baik, bang. Aku tidak bisa membalasnya" ucapku dengan suara bergetar. "Tidak perlu difikirkan. Aku baik pada siapa saja. Terlebih pada Fara. Beberapa waktu lalu nenek pernah menitipkan Fara pada Abang hingga Fara mandiri, sekiranya nenek mendahului kita. Abang kira itu sebuah candaan saja tapi nyatanya sebuah kenyataan" ucapnya sambil sesekali menatap langit-langit. Terjun bebas sudah bulir bening yang sejak tadi ku tahan. Kini sudah berubah menjadi Isak tangis lirih yang begitu memilukan. "Terima kasih, bang" ucapku sambil merapikan box makan ku.


Pukul tujuh tepat. Bang David pamit. Ia menatapku seakan berat untuk meninggalkan ku. Aku tersenyum. "Aku baik-baik saja, Bang" ucap ku yang membuatnya tersenyum. Dan sekali lagi ia mengacak pucuk kepalaku. Belum lagi lima langkah ia berjalan aku sudah memanggilnya. Ia pun segera memutar tubuh atletisnya dan kembali mendekatiku. "Apa..." tanyanya singkat sambil menatapku penuh tanya. "Em, Fara minta maaf. Fara tahu siapa yang hampir menabrak Fara" ucapku. "Siapa..?" ucap bang David sambil menatap lekat wajahku. "Em, dia adalah...perempuan yang pernah Fara lihat di rumah Abang. Saat Fara mengantar kan makan siang Abang dua bulan yang lalu" ucapku lirih. "Mira...." ucapnya geram. Wajahnya tampak mengeras dan ia pun berlalu tanpa berkata apa pun kepadaku.

__ADS_1


Pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Ku buka kembali soal-soal Fisika sambil sesekali mengintip materi pembelajarannya saat aku lupa. Tiga puluh soal telah ku lahap habis tanpa ampun. "Alhamdulillah... " ucapku sambil merapikan lembar soal yang telah diberikan bang David tiga hari lalu. "Surprise...." ucap Sherlly sambil membuka pintu dan menyembulkan kepala di pintu. "Hei....!" teriakku sambil berusaha berdiri. Namun Sherlly mencegahnya. Ia melangkah cepat dan memelukku. "Mengapa tidak memberitahuku?" ucapnya sambil terisak. "Assalamu'alaikum..." ucap suara di ambang pintu. "Om, Tante...!" teriakku sumringah. Ku cium punggung tangan keduanya dengan takzim. Sementara Tante Vina, mama dari Sherlly memelukku erat. "Bagaimana luka mu, sayang...?" ucap om Radit. "Sudah lumayan baik, Om..." ucapku sambil tersenyum. "Mulai malam ini Sherlly menemani Fara. Tapi Tante sekalian titip Sherlly. Tante minta tolong Fara mengajari Sherlly selama ujian ini" ucap Tante Vina yang membuat aku dan Sherlly teriak kegirangan. "Tenang, ma. Sherlly akan belajar rajin" ucap Sherlly.


Drrt...Drrt...Drrt...

__ADS_1


Sebuah pesan membuat ponsel ku berpendar. "Sedang apa, cantik?" pesan bang David. "Mengerjakan soal latihan Geografi" balasku. "Jangan terlalu malam. Nanti justru kelelahan"pesannya lagi. "Sebentar lagi selesai. Ada Sherlly juga. Oya, esok Fara berangkat sekolah bersama Sherlly. Jadi tidak perlu mengantar Fara" balasku lagi. "Baiklah. Pulang bagaimana?" pesan bang David lagi. "Done...!" ucap Sherlly setengah teriak. Aku pun tersenyum melihat ekspresi lega Sherlly. Benar kata Ferry, Sherlly tampak lucu jika tegang. Sahabat bak saudara ku yang satu ini memang lucu. Selain itu ia pun cantik, pintar dan baik hati. Sempurna semua yang ada pada dirinya.


Pukul sepuluh malam. Aku dan Sherlly mulai mengantuk. Berbeda halnya dengan Sherlly, aku tidak dapat memejamkan mata. Selain rasa nyeri pada luka ku yang kurasa, fikiranku menerawang terbang melayang terbawa hembusan angin. Kemana lagi jika bukan pada bang David. Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba merasai dan atau menyelami perasaan ku yang sedikit kacau. "Bagaimana lukanya?" sebuah pesan kembali membuat ponselku berpendar. Bang David, kembali ia mengirimiku pesan. "Nyeri, Bang. Banget..." ucapku. "Obatnya sudah diminum?" pesannya lagi. "Sudah Bang. Jam delapan tadi" balasku. "Besok Abang bawakan obat yang lebih ampuh. Jangan terkena air dulu ya, Fara sayang..." balasnya lagi. "Terima kasih Abang, sayang..." balasku. Begitulah perbincangan kami terus berlanjut. Perbincangan dari sebuah hubungan tanpa status yang pasti. Hubungan yang sulit dinamai. Entah hingga kapan, aku tak tahu. Apa dayaku. Yang pasti hingga aku terlelap tidur malam ini. Jauh...jauh malam sekali.

__ADS_1


__ADS_2