
Pukul tujuh lewat tiga puluh lima menit. Dalam mobil sport silver aku bergelayut manja pada lengan kak Keanu. Rasanya enggan beranjak dari kehangatan yang tercipta. "Kak...kita kemana nieh?" tanyaku sambil mendongakkan kepala menatapnya. "Em, kemana kita Satria...?" ucap kak Keanu sambil tertawa kecil. "Ish, ditanya malah nanya. Bagaimana sich...?" ucapku sedikit kesal. Langsung saja aku betulkan posisi duduk dan mengedarkan mata keluar jendela. Menatapi pepohonan yang tampak berkejaran di sepanjang jalan. Sementara itu langit begitu cerah dengan taburan bintang-bintang yang mengkerling manja. Di tengahnya tampak sempurna bukan menggantung. Cahayanya begitu syahdu dan menenangkan.
"Kita makan malam, sayang. Sudah lama kita tidak makan malam di luar" ucap kak Keanu sambil menggeser posisi duduknya. Aku acuh. Mataku masih asyik menatapi langit begitu cerah. "Lihat apa sih...?" tanya kak Keanu sambil membersamai tatapanku. Lengannya bertumpu pada kursi melampaui tubuhku. Aku menahan nafas. Berusaha sekuatnya menyembunyikan deru nafas yang mulai memburu dan juga degup jantung yang sedang berkejaran. Walaupun kami sering berdekatan bahkan tak berjarak, namun tetap saja membuat jantung ini berdegup bertalu.
"Indah ya..." ucap kak Keanu sambil menatap ku sesaat dan membetulkan posisi duduknya. Fiuh...lega rasanya terlepas dari siksaan rasa seperti tadi. Hihi....aku saja yang baper. Nyatanya kak Keanu biasa saja. Hadeuh...Fara- Fara.
"Maaf, Tuan. Kita sudah sampai" ucap Satria yang juga berhasil membuyarkan lamunan liarku. Sebuah bangunan indah berdiri di depanku. Dan ada banyak lampu yang menghiasinya. Sebuah nama tertera di sini dinding luar, Cafe Bx. Em, cukup menarik perhatian. Tap jika dibanding dengan cafe milikku, tentu masih lebih baik cafe ku. Ahai...air laut asin sendiri. Hehe...
Baru saja aku berdiri di ambang pintu sebuah suara mengejutkan ku. Sontak mataku mencari sumber suara. "Kak Olivia.." panggilnya sekali lagi. Kali ini dengan embel-embel di depannya. Tak lama seorang laki-laki bertubuh tinggi menghampiriku. Usianya tak melebihi kak Keanu kurasa. Ia tersenyum menatapku. "Selamat datang, Olivia. Akhirnya sampai juga ke cafe ku" ucapnya saat sampai di depanku. Ia pun menjabat tangan kak Keanu sambil mengangguk takzim.
Melihat kebingunganku, ia pun segera mengungkapkan identitasnya. "Valdo...dua bulan magang di cafe kak Olivia" ucapnya sambil tersenyum. "Ah, ya...Apa kabar...?" ucapku sumringah. "Baik...Dan ini hasil magangnya. Saya perbaiki konsep cafe saya dan boom..." ucapnya sambil tertawa. "Thanks ya, sudah bantu saya..." ucapnya. "Sudah penuh kah?" tanya kak Keanu sambil tersenyum. "Aah, Ya...Maaf. Silahkan. Saya pilihkan tempat yang special untuk teman-teman special" ucapnya sambil berisyarat pada suatu tempat.
Aku tertegun melihat keluar jendela. Kerlip lampu-lampu kota tampak jelas bak kerling bintang di angkasa. "Bagaimana, keren kah?" tanya Valdo antusias. "Ya...aku suka, kak" ucap ku sambil terus menatap keluar jendela. "Well kalau begitu silahkan menikmati suasananya, sementara saya menyiapkan hidangannya" ucap Valdo. "Tapi kita belum pesan loh.." ucap kak Keanu tersenyum. Valdo terkekeh. "Untuk teman-teman special tanpa repot memesan. Sekali tepuk makanannya langsung tersaji" ucap Valdo yang terus terkekeh sambil berisyarat berlalu.
"Teman kamu lucu..." ucap kak Keanu tersenyum tipis saja. Matanya menatapku lekat. Entah apa yang dia cari dengan tatapan seperti itu. "Ada apa, kak? Aku takut jika kakak menatapku demikian" ucapku datar sambil menyimpan tatapanku pada meja yang mulai terisi hidangan. "Tidak ada. Aku hanya sedang mengagumi mu. Setiap hari aku selalu jatuh hati pada mu. Karena kau kian hari kian cantik saja" ucap kak Keanu tersenyum. Kali ini tangannya meraih jemariku dan menggenggamnya erat. Lagi-lagi ada rona merah ku rasa di wajah ku. Aku begitu tersanjung dan....
__ADS_1
Dum...
Sebuah suara dentuman keras menyasar ke telingaku. Bahkan nyaris menghilangkan ketajaman telingaku. Dan bersamaan dengan itu ada hawa panas yang telah menghempaskan tubuhku dan kak Keanu ke sisi lain ruangan. Aku mengaduh hebat. Ya, Allah..." ucapku lirih sambil membuka mata perlahan. Kak Keanu pun segera merengkuh dan mendekap erat tubuhku. "Sayang, kamu tidak apa-apa" ucapnya begitu Khawatir. "Tidak, Kak. Fara baik-baik saja" jawabku dengan lirih dan tubuh gemetar.
Asap pekat menyelimuti seluruh ruangan. Suasana benar-benar menjadi kacau. Teriak histeris pun mewarnai udara saat ini. Dan perlahan hawa panas mulai menebar sebelum kami tersadar akan apa yang telah terjadi. Kobaran api mulai menjalari seluruh ruangan. Perih kurasakan pada beberapa bagian tubuh. Ternyata memang ada beberapa luka di tubuh ku karena hempasan dan pecahan kaca yang mengenai ku. Pun demikian dengan kak Keanu. Kulihat ada bercak darah di kemeja yang ia kenakan. Aku menatapnya lekat. Menilik setiap inci tubuhnya. "Aku baik-baik saja, sayang. Ini hanya luka kecil" ucapnya yang berusaha menenangkan. Aku kecut. Terlebih saat melihat beberapa tubuh yang terbujur dengan luka yang cukup hebat. Sebentar lalu kak Keanu memeriksa tubuh-tubuh tersebut. Ia menggeleng. Ternyata sudah tak bernyawa. "Innalillahi wa Inna ilaihi rojiuun..." ucapku sambil menutup wajah karena tak tega menyaksikannys. Berpegangan erat aku pada kak Keanu. "Tak apa, sayang. Tahan nafas mu..." bisik kak Keanu. Tangannya segera meraih kain alas meja yang cukup besar dan panjang. Dia pun membasahi kain alas meja tersebut dengan air wastafel yang berada tak jauh dari tempat kami berada. Dan hal tersebut pun diikuti oleh beberapa orang yang melihatnya.
"Sayang, kita akan segera keluar" ucap kak Keanu yakin sambil menyelimutkan alas meja yang telah dibasahi ke Tubuhku. "Olivia...!" panggil Valdo. Setengah berlari ia menghampiriku. Di belakangnya tampak Satria dengan luka serius pada lengan dan kepalanya. "Tuan muda tidak apa-apa?" ucapnya mengkhawatirkan tuan nya, walau ia sendiri menderita luka cukup serius. "Tidak apa-apa..." ucap kak Keanu.
"Semuanya...tolong ikuti saya...!!" seru Valdo sambil berisyarat untuk segera mengikutinya. Seruannya pun berhasil membuat orang-orang mengikutinya. "Tongkat ku..." ucap ku dengan mata yang menilik tempat dimana aku duduk. "Tidak perlu..." ucap kak Keanu yang langsung berjongkok di hadapanku. "Cepatlah..." ucapnya lagi. Sedikit ragu aku pun memeluk bahunya dari belakang. Ku selimutkan kain alas meja yang sudah dibasahi kembali pada tubuh yang sudah dalam gendongan kak Keanu.
Langkah kak Keanu pun begitu cepat mengikuti iringan yang dipandu Valdo. Ada kobaran api yang berhasil kami lewati. Ternyata bobot tubuh kurusku tidaklah penjadi penghalang baginya. Kemudian sesekali aku menutup telinga karena letupan beberapa benda yang terbakar. Astaga...ternyata hampir seluruh gedung terbakar. Aku semakin kecut saja melihatnya. Melalui sebuah tangga darurat kami pun berhasil melewati lantai dua.
Sungguh aku merasa tak kuasa menahan hempasan yang terjadi. Mengaduh aku merasai luka yang bertambah di tubuh. Mataku mengitari dan menyasar pada kak Keanu yang berada sedikit jauh dariku. Kak Keanu...mengapa ia tak bergerak sedikit pun. Apakah terjadi sesuatu padanya? Ya, Robby jangan biarkan sesuatu terjadi padanya. Aku mogon dengan sangat ya, Robb. Aku membatin sambil bergerak merangsek mendekatinya. Susah payah aku menggapainya. "Bangun kak...Kak Keanu! Bangun kak...!" teriakku histeris. "Nyonya..." ucap Satria yang menghampiriku dan segera membantu ku melangkah mencapai kak Keanu.
"Kak...!" ucapku setengah teriak. Bergetar suaraku. Tumpah sudah tangisku melihat kondisinya saat ini. Ku peluk erat tubuh kak Keanu. Bangun, Kak...!' ucapku mengguncang tubuhnya berulangkali.
__ADS_1
"Sayang..." ucap kak Keanu lirih di sela batuknya. Sontak aku menatap wajahnya yang sedikit kotor dan bercampur dengan darah. Tangis ku makin pecah. "Aku tidak apa-apa, sayang..." ucap kak Keanu lagi yang langsung ku peluk. Ia pun memelukku dan menenangkan ku.
Tak lama tim medis pun menghampiri. Satu bentuk pertolongan dari Tuhan YME ku rasa. Sigap tim medis memberi pertolongan pada korban termasuk kak Keanu, Satria dan aku. "Lahaulawalaquwwata Illa Billah...Tiada daya upaya, selain karena pertolongan Allah..." Aku membatin.
Pukul sebelas lewat lima belas menit. Malam mulai merangkak jauh. Hawa dingin mulai menelusup hingga ke tulang. Sebentar lalu tubuhku menjadi gigil dibuatnya. Dan lagi-lagi kak Keanu menjadi pelindungku dengan memakaikan jaket ke tubuhku yang sudah basah. Dan kini aku sudah duduk kembali pada mobil sport silver kak Keanu. Pun demikian dengan kak Keanu dan Satria. Masing-masing kami masih diam. Fikiranku menyasar pada peristiwa yang baru saja terjadi. Lama kami berdiam diri, tak saling bicara atau mengeluhkan sesuatu. Tampaknya masing-masing masih mengulas kembali peristiwa yang satu-satu melekat dalam ingatan.
Ya...Robby, ternyata kematian itu amatlah dekat dan nyata. Aku bergidik melihat orang-orang yang kehilangan nyawa akibat peristiwa ini.
"Tak ada yang lepas dari kematian, tak ada yang bisa sembunyi dari kematian, pasti."
"Kak...kita ke rumah sakit dahulu, ya. Akan lebih baik jika kakak dan Satria check up secara keseluruhan" ucapku sambil mengusap peluh yang mengembun di wajahnya.
"Tapi tidak malam ini ya. Besok saja. Malam ini kita istirahat dahulu, toh tadi sudah mendapat penanganan tim medis" ucap kak Keanu sambil mengusap pucuk kepalaku. "Kak, malam ini saja. Jika mengetahui lebih awal, akan jauh lebih baik. Jangan ditunda-tunda..." ucapku. "Begitu ya. Baiklah..." ucap kak Keanu yang sebentar lalu menghela nafas panjang.
Kemudian mobil pun melaju menyusuri jalanan yang mulai sepi aktifitas. Hanya sesekali saja kami menemui kendaraan lain. Itu pun berkecepatan tinggi. Sementara itu di langit bulan masih sempurna menggantung berteman kerling bintang yang bertaburan. Aku bahagia menyaksikan itu semua, Terlebih Saat berada dekat dengan kak Keanu. Suami tampanku ini.
__ADS_1
Namun saat asyik menatapi langit, tiba-tiba saja aku merasa nyeri yang teramat pada kedua kaki ku. Aku mengaduh lirih sambil memejamkan mata. "Kenapa, sayang..." tanya kak Keanu khawatir. "Kaki ku sakit sekali, kak..." begitu ucapku hampir menangis. Aku mengaduh hebat sebab semakin lama semakin nyata ku rasa sakitnya. Begitu luar biasa.
"Kita ke rumah sakit. Satria, tolong agak cepat sedikit" ucap kak Keanu sambil merengkuhku dalam dekapannya. Betapa egoisnya aku. Kak Keanu yang mendapat luka lebih serius dari ku, justru lebih memperhatikan aku. Dan sialnya akulah yang meminta perhatian kak Keanu lebih. Maaf kan aku, kak. Aku sendiri tak berdaya dengan kondisiku saat ini. Maafkan...