
"Ikut aku..." ucapnya dan lagi-lagi ia menarik tanganku. Ia pun membawaku pada sebuah ruangan tak jauh dari tempatku berada tadi. Mataku kembali dikejutkan dengan isi ruangan. Hatiku berdesir hebat saat menatap setiap foto yang ada. "Kau sudah ingat, Fara...?" tanya nya yang membuatku kembali menatap wajahnya. "Kau..." ucapku ragu. Pandanganku kembali mengedar pada foto-foto yang tergantung pada dinding. "Itu kamu kan, Fara..." ucapnya sambil menunjuki setiap foto dengan anak kecil perempuan di dalamnya. Aku mengangguk yakin. Dan mataku kini tertuju pada foto berukuran sedang yang tergantung sedikit di sudut ruangan. Foto yang sama dengan foto yang selalu ku bawa dahulu. Foto yang kini hilang entah kemana. Foto yang selalu ku tatapi dahulu. Ingatanku kembali melambung pada masa kecilku dahulu. "Kak Keanu..." ucapku lirih. "Ya. Ini aku, Fara..." ucapnya tersenyum sumringah karena aku berhasil mengingatnya kembali. Ia pun merengkuh ku kembali dalam dekapannya. "Kak...begitu lama kakak meninggalkanku. Sehingga waktu pun hampir menghapusnya dari ingatan ku" ucapku sambil berurai air mata. "Maafkan aku. Ceritanya begitu panjang, Fara. Tapi aku bersyukur akhirnya aku menemukanmu. Walau pertemuan kita ini sedikit menyakitkan ku" ucapnya sambil mengeratkan dekapannya.
"Kalian di sini...?" ucap mama Wina yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang kami. "Ma..."ucap kak Keanu yang langsung melonggarkan dekapannya. "Maaf kan Fara, Ma. Fara tidak mengenali mama sama sekali" ucapku sambil memeluknya. "Tidak apa-apa, sayang. Mama mengerti" ucap mama Wina sambil mengecup lembut keningku.
Pukul sepuluh lewat lima menit. Aku sudah di kamar. Ada mama Wina dan kak Keanu. Keduanya tampak begitu serius menyimak ceritaku. Semua ku ceritakan mulai dari nenek Merry yang meninggalkanku hingga cerita pilu penyekapnku. Hingga aku dipertemukan kembali dengan ayah. "Setelah bertemu kembali dengan kak Mirza, tentu kak Keanu sudah mengetahui bagaimana cerita tentang hidupku" ucapku sambil sesekali menyeka air mataku yang kadang mengalir begitu saja. Kak Keanu pun terenyum dan mengangguk kecil tanda mengiyakan sebagi jawaban dari pertanyaan ku.
"Sayang...maafkan mama Wina ya?" ucap mama sambil mengusap pucuk kepalaku. "Kenapa mama harus meminta maaf?" ucapku heran. Ku dengar helaan berat nafas mama Wina. Matanya menatapku penuh kesedihan. "Dulu kami pernah saling berjanji bahwa akan selalu menjaga anak-anak jika terjadi sesuatu pada salah satu dari kami. Dan saat amah mu pergi, mama tidak dapat memenuhi janji itu" ucapnya sambil menyeka air matanya. "Ma, tidak ada yang patut disalahkan. Semua sudah jadi garis tangan Fara..." ucapku yang memeluk mama erat. "Ya... untuk selanjutnya semoga Fara selalu bahagia. Kalau pun saat ini sedang bermasalah, semoga cepat terselesaikan" ucapnya. "Aamiin..." ucapku sambil tersenyum menatap kak Keanu.
Pukul sebelas lewat lima menit. Perbincangan pun terus berlanjut walau malam terus merangkak jauh. "Lalu kenapa kakak bisa menjadi bodyguard kak Mirza?" ucapku yang hanya dibalas senyuman dan usapan pada pucuk kepalaku. "Sudah malam, istirahatnya Nyonya besar" ucapnya meledekku. "Apaan sih, kak..." ucapku sambil melemparnya dengan bantal sofa. Ia pun tertawa sambil menghindari lemparanku. "Besok kita cerita lagi. Okey...?" ucapnya sambil menggandeng mama dan berlalu. Aku pun menatap punggung keduanya hingga hilang di balik pintu.
Pukul sebelas lewat lima belas menit. Aku tak dapat memejamkan mata sekali pun. Fikiranku benar-benar terganggu. Dan serentetan peristiwa yang ku alami pun timbul tenggelam dalam ingatanku. Suka-duka, pahit-manis hingga bagaimana rasanya kehilangan pun semua sudah ku lalui sepertinya. Dan kali ini saat bahagia itu datang, lagi-lagi kedukaan pun datang menjelang. Haruskan aku kembali kehilangan kak Mirza. Setelah sekian lama aku terombang-ambing dalam kebimbangan dan ketidakpercayaan diri. "Ya...Robb, apa yang harus aku lakukan?" ucapku lirih.
Tut...Tut...Tut...
__ADS_1
Sebuah suara membangunkan ku dari lamunan. Mataku langsung mengarah pada telepon kabel pada sisi kiri tempat tidur yang tampak berkedip-kedip. "Ya..." ucapku sesaat setelah mengangkatnya. "Tidak bisa tidur...?" ucap sebuah suara yang ku kenal betul. "Aku harus apa, Kak. Dengan semua yang ku alami tentunya tidur ku akan terganggu" ucapku sambil menatap diriku pada pada cermin. "Mari kita berbincang. Lima menit lagi ku jemput di depan pintu kamar ya..." ucap kak Keanu yang langsung ku iyakan tanda setuju.
Pukul satu dini hari. Pintu kamar ku buka perlahan hingga deritnya nyaris tak terdengar. Aku tersenyum saat ku dapati seulas senyum di wajah tampan milik kak Keanu. "Kita duduk di sana saja ya?" ucapnya sambil menunjuk Bean bag di ruang antara kamar kami. Selain itu lagi-lagi sofa navy menghiasi ruang tersebut. "Malam ini dingin sekali ya..." keluh kak Keanu yang langsung merapatkan jaketnya. "Em, sebentar..." ucapnya lagi kemudian. Ia pun berlalu sebentar untuk kemudian kembali lagi dengan membawa selimut. Ia pun tersenyum menatap ku sambil menyodorkan selimut tersebut kepada ku. Sebuah bentuk perhatian yang menurutku sangat manis dari seorang lelaki kepada seorang perempuan. Dan menjadi pertanyaan ku adalah mengapa kak Keanu masih melajang? Apakah tuntutan pekerjaannya? Atau ada hal lainnya?
"Bagaimana perasaan Fara sekarang?" uvmcaonya tiba-tiba yang membangunkan ku dari lamunan liarku. "Em, campur aduk" jawabku sekenanya sambil merapatkan selimut ke tubuh. Sebuah jawaban terbodoh yang pernah ku lontarkan. "Jika perasaanmu demikian, sungguh aku sulit menerka bagaiman keadaan mu sekarang..." jawab kak Keanu yang tersenyum seadanya. Mungkin ia kecewa atas jawabanku tersebut. "Fara sendiri tidak tahu harus menggambarkan perasaan saat ini. Entahlah. Yang pasti Fara tidak tahu harus melakukan apa terhadap hubungan kami?" ucapku sambil menatap ujung kaki ku. "Kau mencintai Mirza?" ucap kak Keanu menyelidiki perasaanku. Matanya tak lepas menatapku. Aku mengangguk kecil sambil mencuri pandangnya. Sekilas ada kekecewaan diujung tatapannya. Ia pun jadi terdiam sesaat. "Lalu apa lagi yang Fara tunggu? Jika benar kau mencintainya, pertahankan. Ambil kembali Mirza" ucapnya kemudian. Mendengar itu aku terkekeh. "Bagaimana bisa? Perempuan itu juga istri sah nya berdasar hukum agama dan lagi ia istri pertama kak Mirza. Sekalipun aku tuntut secara hukum negara, aku tetap kalah. Aku istri kedua kak..." ucapku sedikit pilu. "Dan lagi perempuan itu sedang mengandung anak kak Mirza" ucapku yang membuat kak Keanu terkejut. Jelas sekali terlihat dari reaksi di wajahnya. Aku pun menghela nafas panjang. Tatapan ku mengitari seisi ruangan. "Kini kakak tahu bagaimana perasaan ku?" ucapku sambil tersenyum tipis saja.
"Seandainya kakak diposisi ku, apa yang kakak lakukan" ucapku sambil merebahkan kepala pada tepian sofa. "Pertama aku akan menghajar Mirza karena sudah tidak jujur. Kedua aku akan tetap bersama nya. Karena cinta. Dan aku akan merebutnya kembali" ucap kak Keanu. "Lalu menutup mata atas derita perempuan lain?" ucapku. Kak Keanu tertawa atas pernyataan ku tersebut. Barulah kali ini aku melihatnya sedemikian rupa hingga gigi putihnya terlihat jelas. "Untuk sementara, bertahanlah. Jika luka semakin dalam karena Mirza, maka obrolkan bersama Mirza. Jika justru makin terluka, maka akan lebih baik selesaikan dan pergilah sejauh mungkin" ucapnya lagi dengan wajah serius. Aku terdiam. "Mungkinkah aku sanggup melakukannya?" ucapku lirih. "Lebih baik mencoba daripada hanya diam dan merutuki diri" ucap kak Keanu tanpa ekspresi ataupun menatapku. Dan aku terdiam, namun hati ku membenarkan apa yang baru saja diutarakan kak Keanu. Baiklah aku akan kembali pada kak Mirza. Aku harus mencobanya. Atas dasar kemanusiaan kak Amara berhasil merebut perhatian kak Mirza. Tapi atas dasar cinta aku akan mencoba mengerti keputusan yang sudah diambil kak Mirza. Aku akan mengambil kembali cinta ku itu. Dan aku pastikan cintaku bukanlah cinta yang lemah.
Keanu Flashback On
"Indra jaya...Keluarlah!" ucap tuan William yang masuk paksa ke dalam rumah. Tampak di belakangnya tiga orang bertubuh kekar dan seorang lelaki muda berperawakan tinggi, tampan dan gagah. "Tidak ada di rumah, Tuan..." dusta mama sedikit bergetar. Aku tahu papa baru saja menyelinap keluar rumah. Tangannya memegang lenganku. "Dia sudah berlaku tidak adil. Perusahaan ku hancur karenanya...! Aku ingin meminta pertanggungjawabannya" ucap tuan William berang. Meja kaca di ruangan itu pun menjadi sasaran amukannya. Pecah berantakan tak berbentuk lagi. Mama pun histeris melihat itu semua. Tangannya mencengkram lenganku begitu kuat.
Pukul dua lewat lima belas menit. Aku dan mama yang masih duduk pada sofa dikejutkan dengan dering telepon dari nomor tak dikenal. "Ya..." jawab mama dengan raut wajah yang berubah. "Dimana...?" ucap mama lagi. Wajahnya benar-benar sudah berubah. Bahkan genangan air mata pun mulai terjun bebas bak air terjun. Aku kalut melihat mama demikian. Ku tanya berulangkali, namun mama diam saja. Hanya jerit histeris dan suara isaknya saja yang menghisi ruangan. "Papa mu telah tiada, Keanu. Papa mu mengalami kecelakaan..." ucap mama di sela tangisnya. "Apa....!" ucapku terkejut. Aku lunglai. Tubuh ku surut dan terduduk. Tiba-tiba saja amarahku timbul. "Pasti ini perbuatan tuan William. Bangsat....!" ucapku sambil berdiri dan hampir berlalu. Mama pun mencegah kepergian ku. Susah payah ia memenangkan amarahku. "Mama tidak ingin kehilanganmu juga. Jangan pergi, Nak..." ucap mama histeris. Ku peluk mama erat. Tangis kami saat itu menghiasi ruangan.
__ADS_1
Pukul lima lewat dua puluh menit. Aku dan mama masih di tanah pekuburan. Walau pejiarah sudah lama meninggalkan pusara papa. Dan aku masih bersimpuh di atas pusara papa. Air mata ku masih belum mampu dibendung. Segala nasihat pun belum mampu menenangkan hatiku yang penuh amarah. Bukan amarah pada Tuhan. Ini amarah untuk tuan William. Tangan ku mengepal hebat. "Aku akan membalas mereka, Pa..." ucapku berulang kali.
Pukul lima lewat dua puluh menit. Di hari dan bulan yang sama, tepatnya tiga tahun yang lalu. Aku duduk dekat pusara papa. Mataku sudah kering, namun amarahku tak kunjung reda. "Pa, aku sudah semester lima. Semua kulalui dengan sangat baik. Dan lihat, Pa...tubuhku sudah berbeda. Tubuhku jauh lebih berisi, kekar dan tampan seperti papa. Aku sudah mendalami ilmu beladiri hampir tiga tahun ini. Dan hampir sempurna. Sebentar lagi aku akan membalas perlakuan tuan William, Pa" ucapku lirih sambil menabur bunga.
Matahari semakin tenggelam dan meninggalkan semburat merah pada kaki langit. Burung-burung pun telah kembali pulang ke sarang. Ku lalui jalan setapak di tanah pekuburan yang merah itu. "Tuan..." ucap Satria sambil membukakan pintu mobil. "Sudah ada jalan agar aku bisa masuk ke keluarga William?"tanya ku pada Satria yang sudah duduk di belakang kemudi. "Sudah tuan...Putra bungsu tuan William sepertinya satu kampus dengan tuan. Namanya Mirza Adhiatma" ucap Satria. "Oya...? Semester berapa dan jurusan apa?" tanyaku penasaran. "Sama seperti tuan, Namun beda jurusan. Tuan Mirza manajemen bisnis. Dan di usianya saat ini ia sudah mempunyai sebuah perusahaan sendiri. Itulah hebatnya Mirza. Kakaknya David seorang dokter" ucap Satria lagi. Aku tersenyum mendapat informasi tersebut. Ternyata Tuhan mempermudah jalanku untuk mendekati keluarga William.
Keanu Flashback Off
Aku termangu mendengar semua penjelasan kak Keanu. Mataku menatapnya tajam. "Dan kamu tahu, apa tugas pertamaku saat aku berhasil menjadi bodyguard tuan Mirza?" ucap kak Keanu yang ku jawab langsung dengan gelengan kepala. "Menemukanmu..." ucapnya sambil menatapku. Aku pun meng-o singkat sambil tersenyum tipis menatapnya. "Namun ada alasan tersendiri yang membuatku menyanggupinya..." ucapnya lagi. "Apa...?" tanyaku singkat. "Kamu Fara. Karena aku tahu itu kamu. Sahabat masa kecilku yang juga sedang ku cari" ucapnya sambil mengacak pucuk kepalaku.
"Terima kasih sudah menemukanku. Terima kasih juga sudah menjaga dan selalu ada untuk ku" ucapku sambil merapatkan selimut pada tubuh. "Lalu mengapa hingga kini dendam kakak belum terbalaskan" tanyaku. "Aku sadar semua yang terjadi pada papa tidak mutlak menjadi kesalahan tuan William, Mirza atau David. Bahkan ketiganya tidak ada kaitannya sama sekali. Semua murni kelakuan Roy, anak pertama tuan William dari istri yang lain" ucap Kak Keanu dengan menatap menerawang jauh. "Jadi target kakak sekarang Roy?" tanyaku. "Entahlah..." ucapnya yang mengalihkan pandangannya kepadaku. Tangannya kembali mengusap pucuk kepalaku.
"Jadi esok tuan putri akan kembali ke rumah tuan Mirza?" tanyanya sambil sedikit membulatkan mata. "Entahlah..." jawabku singkat. "Em, kak Keanu esok mau kemana?" tanya ku lagi. "Kerja..." jawabnya singkat. "Kerja? Emang ada perintah lagi dari tuan Mirza mu itu?" ucapku yang membuat kak Keanu tertawa hingga tubuhnya guncang. "Kamu fikir bodyguard itu kerjaan utamaku? Aku juga punya perusahaan, sayang. Aku punya tanggung jawab di sana. Suami masa kecilmu ini direktur utama, sayang..." ucapnya di sela tawanya. Dan lagi-lagi tangannya mengacak pucuk kepalaku.
__ADS_1