Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 12. Pertemuan Yang Mengejutkan


__ADS_3

"Fara..." kata mama Anna, ibu dari kak Mirza. Seorang perempuan cantik setengah baya kini menatapku. Sorot matanya begitu lembut bak sinar rembulan di malam hari. "Pakai ini, Nak. Sebentar lagi dokter memeriksa mu. Kita akan kirim perempuan jahat itu ke balik jeruji besi" kata mama Melissa. Kilat matanya kini menunjukkan kebencian saat menyebut perempuan jahat. Aku terdiam mencoba memaknai setiap kata yang meluncur dari bibir tipisnya. "Kamu cantik, Fara. Pantas Mirza begitu mencintai mu. Tapi aku yakin bukan karena kecantikanmu, Mirza hingga membawa mu ke sini dan mempertemukan mu dengan ku" katanya lagi yang membuat aku tersipu. "Selama ini, Mirza tidak pernah membawa seorang gadis pun ke rumah atau menemui mama. Tapi hari ini ia begitu resah terhadapmu. Begitu cemas akan keselamatanmu" katanya lagi sambil mengusap sebagian wajahku. "Cepatlah ganti pakaianmu, dokter segera datang" katanya lagi sambil kembali menyodorkan paper bag kepadaku. Tak perlu menunggu lama aku pun mengambil Papare bag tersebut dan membawanya ke kamar ganti. Sepuluh menit aku mematut diri di depan cermin sesaat setelah aku berganti pakaian.

__ADS_1


"Aku jadi penasaran, Ma. Gadis seperti apa yang telah memikat hati adikku itu" kata seorang laki-laki yang berhasil membuat jantungku berdegup kencang. Karena aku yakin mengenal suara khas itu. Dengan sedikit ragu dan sambil berusaha mendamaikan irama jantungku, aku membuka pintu kamar ganti. Ku lihat seorang lelaki berdiri memunggungi ku. Berdesir hatiku melihat sosoknya. "Nak...sini" ajak mama sambil menepuk kursi sofa di sebelahnya. Mendengar itu sontak lelaki itu memutar tubuhnya. Dan betapa terkejutnya saat aku memandang wajah tampannya. Pun demikian dengan nya. Wajahnya begitu menyiratkan keterkejutannya. "Fara...!" katanya dengan suara khasnya. "Bang David..." ucapku dengan suara bergetar. Ingin rasanya aku berlari kedalam pelukannya. Merasai kembali kehangatan yang pernah menyelimutiku dahulu. Tak terasa ada bulir bening turun membasahi pipi, namun segera ku seka cepat. "Kalian saling kenal...?" tanya mama Anna penasaran. "Ma, dia Fara. Gadis yang pernah aku ceritakan dahulu" bisik bang David. Mama Melissa tampak terkejut. Matanya bergantian menatapku dan putra sulungnya itu. Ada kecemasan di tatapannya itu. "Kenapa, sayang...?" kata kak Mirza tiba-tiba. Segera ia mendekatiku dan mengusap air mataku yang kembali mengalir. "Bibirnya mendesis sambil merengkuh kepalaku dan menenggelamkannya pada dada bidangnya. Kak Mirza pun mengarahkan ku duduk pada sofa dekat mama Melissa. Kemudian ia berjongkok di hadapanku dan memegang tanganku. Memandang lekat ke dalam mataku dan tersenyum. "Jangan jadi gundah. Aku akan selalu menjagamu" katanya seakan tak menghiraukan kehadiran mama Melissa dan bang David. Aku berusaha tersenyum seindah mungkin walau ada badai dalam hatiku yang mulai berkecamuk. "Dasar semprul...Minggir" kata bang David sambil memukul kepala kak Mirza dengan kertas yang sejak tadi ia pegang. Cukup berhasil perlakuan bang David tersebut. Terbukti dengan bergesernya kak Mirza ke sisi lain agar bang David bisa memeriksaku.

__ADS_1


Dengan teliti bang David memeriksa setiap luka dan lebam yang ada di tubuhku. Dan seringkali ia menatap wajahku walau sesaat. Ada banyak kata yang ingin ku ungkap setiap ia menatapku. Kata yang sudah ku tahan sejak beberapa waktu lalu. "Hei...kau akan baik-baik saja. Jangan khawatir. Adikku itu lelaki yang baik" katanya sambil mengusap pucuk kepalaku dan sebagian wajahku. "Dia gadisku..." ucap kak Mirza menepis tangan bang David. "Why not...! Dia calon adik ipar ku" kata bang David sambil duduk di sofa dekat denganku. "Matamu berbicara lain, bang..."kata kak Mirza yang langsung duduk di antar kami. "Sebegitu posesif nya adik kesayanganku ini..." ucap bang David sambil mengacak kepala kak Mirza. Ku lihat mama Melissa tersenyum kecut menatap perilaku kedua anak lelakinya. Seakan ia tahu kejadian yang sedang dan akan terjadi. Terselip kegundahan di tatapan lembutnya saat menatap kami bergantian. "Baiklah, aku akan kembali ke rumah sakit dan mengeluarkan hasil pemeriksaan hari ini secara resmi dari rumah sakit. Hasilnya sore ini akan ku berikan padamu" kata bang David sesaat sebelum ia berlalu.

__ADS_1


Pukul tiga lewat tiga puluh menit. Pintu kamar kembali diketuk. Ku buka perlahan dan kembali wajahku tak dapat menyembunyikan keterkejutan ku. "Bang David..."kataku tertahan. Aku pun mengikuti langkah panjangnya menuju balkon di sisi lain kamar. Entah mengapa air mataku kembali mengalir begitu saja. "Mengapa bang David pergi begitu saja tanpa memberitahu Fara?" kataku pada bang David yang berdiri tak jauh di sebelahku tanpa menatapnya. "Ceritanya panjang, Fara" katanya sambil menarik nafas dalam. "Aku masih menunggu penjelasan mu, bang" kataku. Dan sekali lagi ia menarik nafas begitu dalam dan menghembuskannya sedikit kasar. "Satu bulan aku koma setelah mengalami sebuah kecelakaan. Setelahnya aku harus menikahi seorang gadis yang sudah ku gagahi walau tanpa kesadaran ku. Jika saja tidak ada rekaman video perbuatanku itu, maka tentu aku tak akan pernah mengakuinya. Karena memang aku tidak merasa melakukannya. Aku dijebak, Fara. Minumanku dibubuhi obat. Pun demikian gadis tersebut" katanya tanpa melihatku. Matanya jauh menatap. Entah kemana. "Dia gadis yang baik. Ia pun tak berdaya. Ia menyerah pada keadaan demi menyelamatkan ayahnya. Aku memang tidak mencintainya, tapi aku belajar menerimanya karena kebaikannya. Maafkan aku, Fara. Aku terlalu pengecut untuk memberitahu mu. Atau bertemu dengan mu. Aku takut aku tak akan sanggup melihat kekecewaan mu"katanya. Semua penuturannya semakin membuatku terenyuh. Segudang kata yang sejak bertemu tadi, ingin aku utarakan perlahan sirna. Hanya air mataku saja yang semakin deras mengalir. "Aku bahagia kau ada yang menjaga. Adikku itu lelaki yang baik. Sungguh..Memang sifatnya sedikit berbeda denganku. Ia berani, bertanggungjawab, dan penyayang walau terkadang terkesan berlebihan. Dan satu lagi, ia sanggup membalikkan gunung sekalipun jika cintanya terusik" katanya sedikit tertawa kecil. "Tiga persamaan kami hingga saat ini, yaitu sama-sama memiliki ayah yang sama, sama-sama tampan dan sama-sama mencintaimu" katanya lagi. "Aku harap kau menerima Mirza seperti ia menerimamu. Ia mencintaimu. Ia akan menjagamu. Yang ku tahu cintanya istimewa, karena ia berprinsip mencintai sekali dan berbahagia selamanya." katanya menatapku. "Ya, Bang. Fara mencintai...kak Mirza" kataku sedikit ragu. Ia tersenyum menatapku sambil menghela nafas perlahan. Pun demikian di tatapan matanya mengisyaratkan hal yang berbeda. Ada kilatan kekecewaan atas jawabanku tersebut. "Maafkan aku, bang..." kataku dalam hati.

__ADS_1


Pukul empat lewat empat puluh lima menit. "Fara...sayang. Dimana...?" suara kak Mirza yang mencari ku. "O... ada pak dokter juga" katanya saat melihat bang David berjalan di belakang ku. "Aku mengantarkan ini..." kata bang David sambil menunjuk amplop putih ber-kop sebuah rumah sakit ternama. "Kau serahkan pads pak Fredy saja, biar pengacara kita itu yang mengurusnya" kata bang David sambil duduk pada sofa dekat kak Mirza. Ku pandangi kedua lelaki tampan itu bergantian. Entah apa yang ada dalam hati dan fikiranku saat ini. Aku gagal memaknainya. "Aku sudah menghubungi beliau. Esok beliau ke kantor ku" kata kak Mirza. "Bu Anna tolong bawakan ini ke kamar. Ini perlengkapan non Fara" kata kak Mirza yang menunjuk pada beberapa paper bag. "Sayang...ini ponselmu. Aku menggantinya. Termasuk nomor kontak mu. Ponsel lama mu tidak dapat digunakan lagi. Aku pun sudah menyimpan nomor kontak ku dan beberapa nomor penting lainnya. Sherlly dan Ferdy juga sudah ku simpan kan" kata kak Mirza sambil menyodorkan paper bag berisi sebuah ponsel merk ternama. "Oya, kuharap kau tidak sembarangan memberikan kontak mu kepada orang lain" kata kak Mirza sambil melirik bang David. "Hei...yang kau sebut orang lain itu siapa? Dasar anak nakal...." kata bang David sambil menimpakan tubuhnya pada kak Mirza. Jadilah keduanya bergumul saling mengalahkan. Pun demikian keduanya tampak tertawa dan menikmati pergumulan tersebut. "Jangan heran, non. Itu biasa keduanya lakukan" kata Bu Anna setengah berbisik. Aku pun meng-o panjang sambil terus menatap keduanya dan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2