Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 19. Mirza ku...


__ADS_3

Berlari aku sambil berurai air mata. Separuh jiwaku berontak dan mengutukku atas ketidakberdayaan ku. Bukan aku menyerah pada keadaan. Namun aku belum siap menghadapinya, setelah apa yang kualami tiga bulan terakhir ini. Tertelungkup aku di atas kasur, meratapi ketidakberdayaan ku. "Sayang...." kata ayah di balik pintu. "Boleh ayah masuk?" katanya. Ku buka pintu kamar dan langsung menghambur pada pelukannya. Tangisku pun pecah tak terbendung lagi. "Maafkan ayah, Fara. Ayah tak dapat menjagamu" kata ayah sambil mendekap ku. Ku dengar ia pun terisak pilu. Nafasnya turun naik tak beraturan karena tangisnya itu. "Istirahatlah, sayang. Ayah akan menjagamu" kata ayah. "Sherlly juga akan menjagamu" kata Sherlly sambil cengengesan.


Pukul sembilan lewat dua menit. Aku memejamkan mataku dan berusaha terlelap. Namun gagal. Usahaku jadi sia-sia. Walau mata terpejam, fikiranku melayang dan terbang entah kemana. Ada bayang sosok tampan yang mengganggu waktu malam ku saat ini. Sosok yang selalu ku rindu. Sosok yang namanya selalu tersebut saat tangan jahat tuan Darius menggerayangi tubuhku. "Kak Mirza..." ucapku lirih. Dan tiada terasa lagi air mataku pun kembali mengalir. Pilu rasanya hati ini. Sakit rasanya jiwaku ini. Masih dalam tangisku, tiba-tiba saja suasana berubah sunyi. Tiada suara sedikitpun yang menyasar ke telingaku. Bahkan degup jantungku pun tak dapat ku rasai. Kemudian terbukalah di hadapanku sebuah tempat nan luas membentang. Dengan bunga berwarna-warni yang menghiasinya. Dengan setiap kuncup yang bergoyang ditiup angin lalu. Di sana, pada tengah rumpun bunga Krisan berdiri sesosok lelaki. Ia begitu tampan bahkan teramat tampan. Matanya begitu sendu menatapku. Bibirnya pun menyunggingkan sebuah senyuman. Dan kekar tubuhnya membuatku amatlah terpesona. Aroma maskulin tubuhnya pun mampu membuatku mabuk kepayang saat berada tak jauh darinya. "Kak Mirza..." kataku sekali lagi. Ia pun tersenyum menyambut kehadiranku sambil mengembangkan kedua lengannya. Tak perlu berfikir panjang lagi, menghambur aku dalam dekapannya. Merasai aroma maskulin tubuhnya sambil sesekali mencium lembut dada bidangnya. Dan untuk kesekian kalinya, bahasa tubuhnya tetap membuatku begitu nyaman. Tiada rasa khawatir atau pun jijik. Lama kami saling berdekapan seakan tak ingin saling melepaskan. Dan kemudian ia pun mengecup lembut bibirku. Mata ku terpejam merasai kecupan tersebut. Bukan hanya sekali, tapi berulang kali ia mengecup lembut bibirku.


Dan beberapa waktu kemudian, kecupan itu tak ku rasai lagi. Wajah tampannya tampak mulai memudar. Tubuh kekarnya pun mulai berpendar dan perlahan menjadi samar kemudian menghilang. Aku mulai menangis. Berulangkali aku memanggil namanya. Namun tiada jawaban. Sosoknya menguap begitu saja bak asap. "Kak Mirza....Dimana kau?" teriakku. "Aku di sini sayang. Mirza mu di sini" kata sebuah suara yang begitu dekat denganku. "Kak Mirza..." teriakku yang terbangun dari lelap ku. Aku menangis sejadinya sambil mendekap kedua lututku. "Sayang..." ucap sebuah suara lagi. Dan alangkah terkejutnya aku saat melihat sosok di dekatku. Pada sebuah kursi kayu ia duduk menatapku dengan sendu. Kedua matanya telah basah oleh air mata. "Kak Mirza..." kataku. Rasa kangen ternyata mengalahkan segalanya. Aku pun larut dalam dekapannya. Dekapan yang selalu berhasil menghangatkan hatiku. Namun mendadak aku teringat akan noda di tubuhku bekas tangan tuan Darius. Segera ku dorong tubuh Kak Mirza hingga surut beberapa langkah. Sedikit limbung tubuh kak Mirza karena tolakan ku yang tiba-tiba itu. "Jangan mendekat, Kak. Aku bukan Fara mu yang dahulu. Aku kotor" kataku sambil surut beberapa langkah menjauhi kak Mirza.

__ADS_1


"Sayang...kau tetap Fara ku. Dan aku tetap Mirza mu. Tiga bulan aku mencari mu bak orang gila. Semua sudah ku kerahkan untuk mencari mu. *B*odyguard keluargaku, dan polisi. Mereka sudah menyisir tempat-tempat dengan segala kemungkinan. Namun kau menghilang bak ditelan bumi. Kini kau sudah kembali. Sepertinya Tuhan yang sudah mengembalikan mu padaku" katanya sambil melangkah mendekati ku yang terduduk di sudut ruangan sambil berurai air mata. Susah payah ia berusaha meraihku, karena aku terus saja berontak dan menghindarinya. Beberapa pukulan ku pun sempat mampir di tubuhnya. Namun ia tetap sabar. Dan akhirnya aku menyerah dalam dekapannya. Aku menangis pilu. Ku benamkan kepala pada dada bidangnya. Sementara sebelah tanganku terus saja memukul-mukul kecil dada atau pun lengannya. "Aku kotor,Kak....Aku hina" kataku berulang kali. Bibirnya pun mendesis mencoba menenangkan ku. Dan pada akhirnya tubuhku pun menjadi lunglai, tak berdaya. Entah berapa lama aku tak sadarkan diri.


Pukul satu lewat dua puluh lima menit dini hari. Aku membuka mata dengan perlahan. Mataku kembali mengitari seisi ruangan. Ruangan yang amat ku kenal. Karena aku masih berada dalam kamarku. "Sayang...." Kembali kak Mirza memanggilku saat mengetahui aku sudah sadarkan diri. Nada suaranya begitu lembut dan khas. Segera ku dapati sosok tampannya tepat di sebelah kanan tempat tidurku. Ia duduk sambil menggenggam tanganku. Sementara sebelah tangannya yang lain mengusap-usap pucuk kepalaku dengan perlahan. Matanya menatapku dengan sendu dan penuh kasih sayang. Aku kembali terisak. "Ayahmu sudah menceritakan semuanya padaku. Semua hal yang menimpamu. Dan aku tetap pada pendirian ku. Aku tetap memilihmu untuk menjadi teman hidupku selama kita bisa. Kita akan melanjutkan kembali rencana kita dahulu. Menikah" kata kak Mirza. Sungguh hatiku mencair mendengar penuturannya tersebut. Dan tangisku pun kembali pecah.


Pukul tiga lewat lima menit dini hari. Aku berusaha terlelap, namun gagal. Walau mata ku terpejam, fikiranku terus ber-traveling entah kemana. Fikiranku terus menyusuri kembali setiap suka atau pun duka yang selama ini hadir dalam hidupku. Dan saat ini aku mulai menyusun kembali rencana-rencana yang pernah tertunda. Rencana untuk melanjutkan hidup. Kali ini ada ayah yang akan menjagaku.

__ADS_1


Entah apa yang akan terjadi esok hari. Aku tak mampu menerkanya. Terlebih tentang hubunganku dengan kak Mirza. Dengan kondisi ku saat ini, aku belum yakin keluarganya dapat menerimaku seperti halnya kak Mirza. Belum lagi tentang penghidupanku. Aku belum mengetahui dengan jelas bagaimana aku harus menjalaninya. Dan akhirnya traveling ku berakhir pada titik lemahku dan ketidakberdayaan ku. Hingga akhirnya aku berpasrah pada Tuhan. Pemilik setiap jiwa-jiwa.


Semoga aku dapat melalui semuanya dengan senyuman...


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2