
Jam empat dini hari. Kesibukan pun sudah terjadi di rumahku. Tak peduli hawa dingin yang menyergap walau tubuh menggigil hebat. Ku lihat kedua sahabatku duduk dengan selimut yang membungkus tubuh. Keduanya pun tampak menggigil. "Teh hangatnya Sherlly, Ferry..." ucap nenek. Dan segera saja keduanya menyeruput teh hangat tersebut. Sementara itu aku mulai menggoreng kue onde-onde. Perlahan rasa dingin yang kurasa hilang dikalahkan hawa panas dari kompor di hadapanku.
Pukul lima tepat. Semua kue sudah selesai dibuat. Waktunya packing. Namun sebelum itu kami pun bersegera menunaikan ibadah sholat shubuh. Kurang lebih sepuluh menit masing-masing dari kami bertafakur. Bermunajat atas doa doa, memohon dikabulkan. Di akhir doa pun kembali ku sebut sebuah nama. Memohon atas kesehatan dan keselamatannya. Amah ku yang kini entah dimana. Ku tangkupkan kedua belah tangan ke wajah dengan perlahan. Mohon kabulkan ya, Robb. Aamiin...
Sejurus kemudian kami pun memulai packing seratus lima puluh kotak. "Semangat....!" ucap Ferry penuh semangat sambil mengangkat tangan ke udara. "Semangat...!" ucap kami semua mengikuti Ferry. Kurang lebih satu jam kami berkutat dengan aktifitas packing hingga matahari mulai turun dari peraduannya. Memberikan cahaya pada bumi. Dan tampak di langit awan putih berarak tanda siang nanti akan cerah. Ku rentangkan kedua tangan menghadap mentari sambil menghirup udara pagi nanenyegarkan. Ku sambut pagi ini dengan senyum dan harapan baru. Ini adalah kebiasaan ku ditiap pagi sebelum berangkat sekolah.
"Kita berangkat, tuan putri..." ucap Ferry setelah memasukkan seluruh kue ke dalam mobil. Aku pun tersenyum sumringah. "Hei...kok melamun? Ayok berangkat...!" kata Sherlly sambil mengamit lenganku. "Oke..Berangkaaat....!" kataku setengah teriak. Hal tersebut tentu saja membuat semua terkekeh.
Selama dua puluh menit mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, menyusuri jalanan yang masih lengang menuju toko Koh Ahong. "Mang Parno, terima kasih ya sudah membantu nenek" ucap nenek sambil meletakkan paper bag pada dashboard mobil. "Terima kasih,Nek. Wah, Nenek kok repot-repot..."ucap mang Parno sambil tersenyum dengan mata yang tetap fokus pada jalanan.
"Toko di sebelah kiri, mang.." ucapku sambil menunjuk pada sebuah toko di pinggir jalan sebelah kiri. Ku lihat di depan toko koh Ahong bersama seorang wanita separuh baya. Ujung kerudung panjangnya tampak sedikit melayang tertiup angin lalu. Aku pun langsung turun dan menemui koh Ahong. "Pagi, koh..." ucapku. "Pagi, Fara... Lo orang on time ya" ucapnya sambil tersenyum. "Ini ibu yang pesen Lo punya kue. Seratus lima puluh kotak" ucap koh Ahong lagi. "Assalamu'alaikum...Bu" ucapku. "Wa'alaikumussalam... bawa mobil ya?" tanya nya lagi yang langsung ku jawab dengan anggukan kepala. "Alhamdulillah...saya lagi kebingungan cara bawanya tadi. Mobil suami saya lagi di bengkel" ucapnya dengan wajah sumringah. "Nanti di antar sampai tempat, Bu" ucap Ferry yang tiba - tiba sudah ada di sampingku. "Alamatnya, Bu...?" tanyaku. Ia pun memberikan sebuah alamat lengkap dengan nomor ponselnya. Kalian ikuti saya saja. Em, pembayarannya sudah dengan koh Ahong ya" ucap ibu tersebut sambil menunjuk koh Ahong yang segera menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Mobil pun kembali melaju mengikuti laju motor bu Imah, begitu ia menyebut namanya. Kurang lebih dua puluh menit perjalanan, akhirnya kami sampai pada sebuah rumah berhalaman cukup luas. Kami pun segera menurunkan seratus lima puluh kotak kue. "Terima kasih ya" ucap Bu Imah sambil tersenyum. Kami pun berpamitan sambil meninggalkan nomor ponsel ku sesuai permintaan bu Imah. Fiuh...lega sekali rasanya dengan hasil kerja dari semalam hingga pagi ini. "Kita lari pagi, yuk..." ucap Ferry. "Ayok..." Sherlly menyetujui. "Fara...?" tanya Ferry saat melihat ku diam saja. "Ayoklah, Fara... Sebentar saja" ucapnya lagi. Setelah diam beberapa saat akhirnya aku pun menyetujuinya. Bersorak kedua sahabatku itu. Namun nenek memilih pulang daripada mengintili kami yang anak muda.
Setelah beberapa saat sampailah kami pada sebuah stadion olahraga. Berhamburan kami ke sebuah penjaja penganan kesukaan kami. Sekilas kulihat nenek menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat polah cucu-cucunya. Sejurus kemudian kami pun melanjutkan berlari kecil dengan penganan di tangan.
Dua putaran sudah kami mengelilingi stadion. Lelah pun sudah menyerang tubuh. Ku hempaskan tubuh pada rerumputan yang menghijau di sisi luar lapangan stadion. Ku atur nafas dan berusaha mendamaikan degup jantung yang berkejaran seirama dengan langkah cepat lari ku tadi. Ku teguk air mineral yang sejak tadi ku bawa. "Fiuh....aku sudah tak sanggup lagi. Pulang yuk..." ucapku dengan nafas tersengal. Keduanya menolak dengan alasan belum menemukan penganan yang enak. "Ini mau olahraga atau jajan?" ucapku. "Dua-duanya...." ucap keduanya kompak. Aku manyun. Ayoklah ...Fara, sesekali boleh donk kita jalan-jalan agar fresh nieh isi kepala. Belajar terus lelah juga,sayang" ucap Ferry. Aku tersenyum mendengar penuturan tersebut. Akhirnya aku juga mengamini penuturan Ferry tersebut. Dan lagi apa salahnya menyenangkan kedua sahabatku yang sudah bak saudara ini yang sejak kemarin hingga pagi ini Sudah membantuku. "Baiklah..." ucapku sambil merangkul keduanya.
Pukul Sepuluh. Barulah kami beranjak dari stadion olahraga. Masing-masing tangan kami pun menenteng penganan kesukaan. Namun penganan yang ku bawa adalah penganan yang sebagian besar untuk nenek. Pasti ia akan tersenyum sumringah saat melihat penganan ini. Tak lama kemudian taxi online yang dipesan Sherlly pun datang. Berhamburan lah kami masuk mobil dengan tawa yang selalu mengiringi candaan kami.
Lima belas menit aku mencari nenek. Namun tak kunjung kutemui. Kemudian aku pun menuju dapur dan mengambil segelas air dan meneguknya hingga habis. Fiuh...hilang sudah dahagaku. Pandanganku mengitari di setiap inchi ruangan. Fikiranku hanya tertuju pada nenek. Dan tiba-tiba saja mataku melihat sosok yang tergeletak di lantai, di belakang meja makan. "Nenek....!" teriak ku sejadinya. Kedua sahabatku yang sejak tadi duduk di kursi tamu pun berlarian ke arah ku. Ku guncang tubuh nenek berulangkali, namun tidak ada jawaban. Dan berurai lah air mataku mendapati kondisi nenek. "Tolong...tolong....!" teriak Sherlly di halaman rumah. "Tolong, nenek..." ucap Sherlly yang masih dapat ku dengar karena jarak halaman dan dapur tidaklah terlalu jauh. Bang David, seorang dokter muda pada puskesmas di daerah tempat tinggal ku pun datang dengan langkah cepat. Ia pun segera mengangkat tubuh nenek dan membaringkannya di sofa tanpa alas kepala. Kemudian bang David pun memiringkan kepala nenek untuk membuka saluran udara. Cekatan ia memeriksa kondisi nenek saat ini. Namun ada raut kekhawatiran terlukis di wajahnya. "Bagaimana nenek, Bang?" ucapku cemas. "Sebentar ya..." ucap bang David berusaha tenang. Seperti ada yang ia sembunyikan. Ia pun menelepon seseorang dan memintanya datang ke rumah. Kembali Bang David pun mengecek pernafasan nenek dan segera melakukan resusitasi jantung atau CPR. Hal ini bertujuan untuk memompa darah tetap mengalir ke organ - organ vital di dalam tubuh, termasuk otak. Berulangkali bang David melakukan CPR, namun tiada hasil. Nenek belum merespon perlakuan tersebut. Makin tumpah lah tangisku melihat kondisi nenek. Tak lama teman bang David, bang Aditya yang juga seorang dokter datang. "Sudah berapa lama?" tanya bang Aditya. "Lima belas menit sejak kedatanganku. Aku hanya ingin meyakinkan diri. Dan tak sanggup menyampaikannya. Kau tahu kan situasinya?" ucap bang David yang dibalas senyuman oleh bang Aditya.
Jam satu siang. "Fara...." panggil bang Aditya. "Nenek sudah tiada. Sejak satu jam yang lalu. Bahkan sebelum bang David datang" ucap bang Aditya yang membuat aku makin tersedu. "Nenek....!" teriakku berulangkali sambil mengguncang-guncang tubuhnya. Aku frustasi. Tangis ku pun kian menjadi. Terbayang sudah bagaimana hidup tanpa nenek. Aku harus apa? Tanpa ku sadari sebuah lengan meraihku begitu saja. Ia mendekap ku erat. Ternyata ia adalah bang David. Dalam dekapan eratnya, bang David berusaha menenangkanku. Bersandar kepalaku pada dadanya dalam frutasi sambil memukul sekenanya saja. Dan bang David menerimanya tanpa mengeluh sedikit pun.
__ADS_1
"Jika Fara seperti ini, kasihan nenek. Nenek tidak tenang nanti" ucap bang David. "Tapi nenek tidak kasihan pada Fara. Nenek meninggalkan Fara sendirian. Mengapa tak ajak Fara saja sekalian..." ucapku di sela tangisku. "Ssst....jangan lah berkata demikian. Semua sudah ditakdirkan demikian. Allah pasti punya rencana lain untuk Fara" ucap bang David menenangkan ku. Sedikit tenang hatiku menyimak penuturan bang David. Walau air mata tetap mengalir membasahi wajahku.
Jam dua siang. Para pelayat pun sudah berdatangan. Jenazah nenek pun sudah siap diberangkatkan ke musholla untuk disholatkan. Aku pun segera berwudhu dan mengiringi jenazah nenek. Sherlly dan Ferry pun dengan sabar selalu mendampingiku yang selalu berurai air mata. Sementara bang David, ialah yang telah rela hati bersibuk-sibuk membantu segala keperluan proses pemakaman nenek.
Jam dua lewat empat puluh lima menit. Tinggal aku, Sherlly, Ferry dan tentu saja bang David yang masih berada di pemakaman. Bersimpuh aku pada pusara nenek. Tak sanggup rasanya membayangkan bagaimana hidupku tanpa nenek nanti. Tengadah tanganku memunajatkan doa terbaik untuk nenek. Dan ku peluk batu nisan bertulis nama nenek. Air mata ku tak terbendung lagi. Aku pun berlari dengan berurai air mata. "Fara...!" teriak ketiganya yang berusaha menghentikan lari ku. Entah apa yang ada dalam fikiranku saat ini. Aku berlari sekenanya hingga tepian jalan raya."Fara.... astaga...!" ucap bang David sambil menarik tubuhku tepat sesaat sebelum mobil menghantamku atau paling tidak menyerempet tubuh ku . "Apa yang kau fikirkan, Fara?" ucap bang David sambil menguncang tubuhku. Untuk kedua kalinya bang David merengkuh tubuhku dan mendekapnya. Untuk kedua kalinya juga dada bidangnya menjadi sandaran kepalaku. Kembali aku menangis dalam pelukannya. "Aku...aku bingung, bang" ucapku dalam pelukannya. "Sabar...kita semua pasti mempunyai masalah dalam hidup ini. Yakin saja Allah pasti punya solusinya. Gembok saja ada kuncinya" ucap bang David sambil tersenyum "Fara...masih ada aku, Sherlly dan juga orang-orang yang menyayangimu. Jangan lah berlaku demikian,sayang" ucap Ferry. "Benar Fara. Kau adalah saudara Perempuanku. Apa perlu ku umumkan sekarang bahwa kita saudara kembar?" ucap Sherlly. "Ga lucu...." ucapku manja sambil menyusut air mataku dan menegakkan kepalaku dari dada bidang bang David. Seulas senyum pun tampak tipis menghiasi sudut bibirku. "Nah...kalau senyum kan jadi cantik" ucap Ferry. "Kalau cantik mah sudah takdir, Fer..." ucap Sherlly sambil mencubit lengan Ferry. "Iya ya. Sudah takdir..." ucap Ferry terkekeh renyah.
"Terima kasih ya Sher, Fer dan...Bang David" ucapku lirih. Kemudian beriringan kami berjalan hingga di rumah yang masih tampak ramai pelayat. Aku pun menyalami satu persatu. "Bu Ratna...?" ucapku dengan terkejut saat aku mendapati sosoknya. Dipeluknya erat tubuhku sambil mencium kedua pipiku. Aku pun kembali terisak dalam pelukannya. "Sabar ya, sayang..." ucapnya sambil terus memelukku. Ia pun mengusap air mataku dan air matanya sesaat setelah kami saling melepaskan pelukkan. "Guru se-killer Bu Ratna saja bisa se-melow ini" bisik Sherlly pada Ferry yang masih dapat ku dengar. Karena keduanya duduk bersebelahan denganku.
Jam lima lewat tiga puluh menit. Para pelayat pun mulai meninggalkan rumah. Pun demikian dengan Bu Ratna dan beberapa guru lainnya. Tinggallah aku bersama ibu-ibu yang sedang sibuk menyiapkan penganan untuk acara doa bersama malam nanti. Sementara Sherlly dan Ferry pamit pulang sejenak.
Matahari mulai kembali ke peraduannya hanya menyisakan semburat merah di kaki langit sebelah barat. Kawanan burung pun berterbangan kembali ke sarang. Sementara aku masih berdiri dekat jendela. Pandangan mataku menerobos bingkai jendela menatap langit sebelah barat yang masih berwarna kemerahan. Melayang kembali fikiranku pada sosok yang hampir tujuh belas tahun ini selalu menimang ku. Dan menyanyikan lagu Nina bobok untukku. Dan sosok yang selalu ada jika datang tangisku. Nenek...hari ini nenek sudah meninggalkanku. Entah apa yang akan terjadi esok hari padaku saat nenek sudah tidak bersamaku lagi....
__ADS_1