
Pukul enam lewat lima belas menit. Kumandang azan memenuhi pendengaranku. Perlahan aku membuka mata. Penglihatan ku sedikit samar terlebih ada cahaya lampu yang menyasar pada mataku. Ku regangkan tubuh saat kesadaran ku telah benar-benar pulih. "Maafkan aku, Fara..." ucap seorang laki-laki yang membuatku terkesiap. Sontak perhatianku langsung teralihkan pada sumber suara. Jiiaaahhh...ternyata benar, duduk pada kursi kak Mirza. Matanya masih menatapku. Sementara tangannya terlipat di depan dadanya. "Sejak kapan kakak di sini..." ucap gagu dengan sikap rikuh. "Sejak kau mendengkur. Tidur mu seperti bayi, Fara..." ucapnya sambil tersenyum. Senyum ejekan ku rasa. Hei...sejak kapan aku mendengkur? Aku manyun.
"Segeralah...Keenan menunggu mu" ucap kak Mirza sambil menghela nafas. "Kakak sudah sholat?" tanyaku yang langsung ia jawab dengan anggukan kepala. Kemudian ia pun berlalu meninggalkanku yang masih menatapnya hingga tubuhnya menghilang di balik dinding.
Pukul enam lewat empat puluh lima menit. Aku tengah bersiap. Setelah menjalankan ibadah sholat maghrib, kini perhatianku terpusat pada penampilanku. Ku patut diriku di depan cermin sambil merapikan bagian yang terlihat kurang rapi. "Ah, mengapa aku harus repot-repot berdandan jika hanya untuk bertemu Keenan" ucapku lesu.
Tok.
Tok.
Tok.
Secepatnya aku meraih ponsel ku dan membuka pintu kamar. Berdiri kak Mirza di hadapan ku. Matanya menatapku. Ia terpaku tak bergeming. "Ehem..." ucapku untuk menyadarkannya. "Maaf..." ucap kak Mirza rikuh. Kemudian ia pun terkekeh sambil mengusap wajah. "Pandai juga Keenan mendandanimu. Pakaian itu sangat cocok kau kenakan..." ucap kak Mirza sambil melangkah di sebelahku.
"Sebenarnya bukan karena Keenan, tapi karena memang Fara yang cantik..." selorohku. "Ya, betul juga. Fara yang cantik" ucap kak Mirza. Tangannya mengusap lembut pucuk kepalaku. Ah, mengapa terasa begitu nyaman diperlakukannya demikian?
__ADS_1
"Aku dan Azam akan menyertaimu dari kejauhan. Tak perlu khawatir, aku akan menjagamu..." ucapnya sambil membukakan pintu mobil. Aku tersenyum mendengar ucapannya tersebut. Lagi-lagi ada perasaan nyaman menyelimuti jiwaku saat ia berucap. "Pak Parno tolong antarkan Nyonya Fara ke cafe Za" ucap kak Mirza sambil menutup pintu mobil. "Baik, Tuan..." ucap pak Parno sambil mengangguk takzim.
Tak lama mobil pun melaju. Lajunya cukuplah membuat ku ciut. Mengingat kondisi jalanan yang mulai basah karena baru saja di guyur hujan. Suatu kondisi yang mengingatkanku akan peristiwa tiga tahun lalu. Peristiwa yang menjadi asal mula aku harus kehilangan kak Keanu, suamiku. Dan hingga saat ini aku masih merasa kecut, terutama saat berkendara di waktu hujan seperti ini. Berpegangan tanganku pada sisi kursi yang ku duduki. Aku yakin wajahku sudah menjadi pasi saat ini.
"Maaf, Nyonya...sudah sampai" ucap pak Parno membuyarkan lamunanku sekaligus mengakhiri kecemasanku. "Fiuh...syukurlah" ucap ku lega. Sambil berusaha mengendalikan rasa cemas, aku merapikan pakaian yang ku kenakan. Setelah itu barulah aku melangkah keluar mobil sambil mengurai senyum tipis menuju cafe seperti yang dimaksud Keenan.
Sejenak mataku mengitari ruang cafe dari ambang pintu. Aku mencari sosok Keenan. "Hei..." ucap Keenan yang ternyata berada tak jauh dari ku. Ia tampak tersenyum sambil mengulurkan lengannya. "Kau tidak ingin menyambut uluran lenganku? Apa kau ingin mempermalukanku?" ucapnya setengah berbisik. Terkesiap aku mendengar ucapannya itu. Kemudian sedikit ragu aku pun meraih lengannya. "Silahkan, sayang..." ucapnya sambil tersenyum sumringah.
"Lancang kau, Keenan..." gerutuku dalam hati mengiringi setiap langkah ku hingga di sebuah meja. Letaknya sedikit di sudut ruangan. Keenan tersenyum menatapku lekat tiada henti. Dan aku selalu mengalihkan tatapanku pada tempat lain. Aku tidak pernah mau menatapnya secara langsung. "Pesanan. Apa kita tidak memesan apa pun?" ucapku sedikit gagu. "Ah, ayolah Fara. Jangan rusak keromantisan kencan pertama kita ini" ucapnya sambil meraih tanganku dan bermaksud mengecupnya. Bersyukur aku berhasil menarik tanganku hingga maksudnya itu terpatahkan. "O, hahaha..." ia tergelak atas perlakuan ku itu.
"Mungkin setelah melihat ini, ucapan mu akan berubah" ucap Keenan santai. Matanya menatapku lekat. Mungkin ia menunggu reaksiku. Ku raih ponsel yang disodorkan Keenan dan langsung mendapati sebuah video. Terpekik aku saat menyaksikan isi video tersebut hingga membuat beberapa pasang mata memperhatikanku termasuk kak Mirza. "Apa yang akan kau lakukan terhadap Rafan...?" ucapku geram. "Tenanglah Fara. Kita jadi perhatian banyak orang" ucapnya menenangkan ku.
"Apa yang akan kau lakukan terhadap Rafan...?" tanyaku sekali lagi. "Aku akan melemparkannya dari atas gedung itu jika kau menolak menikah dengan ku" ucapnya santai sambil menyandarkan tubuh pada kursi.
Deg.
__ADS_1
Aku kacau. Mataku menatapnya penuh amarah. "Ayolah, Fara jangan seperti itu. Jangan rusak kecantikanmu dengan amarah yang tak penting itu. Dan lagi ini kencan pertama kita seharusnya kau berbahagia" ucapnya sambil menyeruput juice yang tersaji. "Pengecut kau Keenan..." ucapku makin geram. "Pengecut...? Ini bukan tindakan pengecut. Ini strategi Fara. Strategi..." ucapnya yang diakhiri dengan seringai dan kekeh yang membuat ku bergidik.
"Ku rasa kau sudah merusak suasana kencan kita. Aku sudah tak berselera makan lagi" ucapnya sambil berdiri. "Oya, sesungguhnya aku tidak memerlukan persetujuan darimu tentang pernikahan kita. Karena aku yakin kau pasti akan menyetujuinya..." ucapnya sesaat sebelum berlalu meninggalkan ku dengan segala amarahku.
Untuk beberapa lama aku terdiam. Aku kembali menghela nafas berulangkali. Sementara itu sebelah tanganku asyik memainkan ponsel yang ada di atas meja. Fikiranku kembali melambung, mencari cara terbaik untuk Rafan. "Strategi..." gumamku sambil mengangguk-angguk kecil.
Kemudian aku langsung saja melangkahkan kaki keluar cafe dengan tergesa. Beberapa tatapan mengikuti langkahku yang begitu cepat, namun aku tak memperdulikannya. Aku terus saja melangkah hingga keluar cafe. Ada sebuah kelegaan saat sudah berada di luar cafe. Kemudian kelegaan ku bertambah saat melihat mobil sport silver menghampiriku.
"Silahkan, Nyonya..." seloroh kak Mirza saat pintu mobil terbuka. Aku tersenyum tipis dan segera saja duduk manis di sebelahnya. "Terima kasih..." ucapku tanpa menatapnya.
"Bagaimana kencannya...?" ucap kak Mirza sambil melajukan mobil sport silver miliknya. "Dia hanya ingin memberitahukan bahwa dua hari lagi aku harus menikah dengannya. Dan Rafan menjadi jaminannya. Bahwa aku harus bersedia. Jika tidak, maka Rafan dalam bahaya" ucapku dengan suara bergetar karena amarah yang berkecamuk dalam dada. "Pengecut..." ucap kak Mirza. Ada amarah di nada ucapannya.
"Kita butuh strategi, kak..." ucapku. "Strategi...? Untuk apa?" ucap kak Mirza. Ucapannya bak mengandung umpan. "Strategi untuk menyelamatkan Rafan" ucapku. "Ku kira kita tidak perlu strategi, Fara. Kau hanya perlu menikahinya, maka Rafan akan selamat. Kalian pun akan menjadi keluarga yang bahagia" ucapnya tanpa menatapku. "Kakak fikir aku mau dinikahi Keenan? Keterlaluan kau, Kak..." ucapku yang berakhir dengan sebuah pukulan menyasar pada lengannya. Ia pun terkekeh atas perlakuanku tersebut.
"Tak berperasaan...!" ucapku dengan kesal.
__ADS_1