
Ku hentikan laju mobil merahku tepat di depan sebuah pagar yang tinggi menjulang. Pada seorang security aku tersenyum dan meminta untuk diperkenankan menemui tuan Keanu. Ia pun mempersilahkan aku masuk karena sejatinya ia sudah dapat mengenaliku. Kemudian aku langsung memutar kemudi memasuki halaman rumah nan luas itu. Hingga benar-benar mobilku parkir barulah Satria menghampiriku. "Tuan ada di taman, Nyonya.." ucapnya sambil tersenyum dan mengangguk takzim. Berdasar pada informasi tersebut, aku langsung melangkahkan kaki dengan cepat menuju taman. Memutari sebentar sisi lain rumah hingga sampai di taman. Kemudian mataku mulai mengitari taman mencari sosok laki-laki yang ku yakini tengah menyimpan kekesalan kepadaku. Semua karena ulahku yang tak menepati janji yang sudah ku buat sendiri.
Pukul tujuh lewat empat menit. Langkahku sempat terhenti saat mataku menemukan sosok kak Keanu yang berdiri membelakangi ku. Rambut hitamnya yang sudah sebahu itu tampak tergerai. Dan sesekali diterbangkan angin hingga terkadang menutup sebagian wajahnya. Kursi rodanya berada tak jauh darinya. Namun ia sudah mulai melatih kekuatan kakinya dengan menggunakan tongkat di kiri-kanan lengannya. "Kak..." ucapku lirih setengah tertahan. Dan kak Keanu tetap tak bergeming. Aku menghela nafas panjang. Kemudian sekali lagi aku memanggilnya. Namun tetap sama. Ia tak bergeming sedikitpun. Sebegitunya kah ia kepadaku hingga ia tidak mempedulikan kehadiranku lagi. Akhirnya aku pun memutar akal untuk mendapat perhatiannya.
"Hai...tuan muda labil" ucapku setengah teriak sambil melompat ke hadapannya dan memasang wajah sesumringah mungkin. "Astaga, Fara...." ucapnya kemudian. "Hei...suami masa kecilku" selorohku. Ia tersenyum menatapku. "Aku memenuhi janjiku hari ini. Apa kabar? Apa tuan muda masih kesal padaku?" ucapku sambil menghempaskan tubuhku pada rerumputan hijau di bawah pohon nan rindang.
"Semalam aku melamar seorang gadis..." ucapnya tiba-tiba. Aku begitu terkejut mendengarnya. Namun bukan Fara jika tidak bisa menutupi rasa keterkejutannya itu. Tanpa menatapnya aku mengucapkan selamat kepadanya. "Sepertinya kau tidak senang" ucapnya sambil menatapku lekat. Mungkin ia sedang menilik perasaanku. Tentu saja aku berkelit atas tuduhan tersebut. "Mana mungkin aku tidak bahagia. Akhirnya suami masa kecilku ini akan melepas masa lajangnya" begitu aku berucap.
"Fara...Kapan datang?" ucap mama Wina sambil memeluk ku. "Belum lama kok, Ma..." ucapku sambil tersenyum. "Oya, mama juga tidak memberitahuku jika semalam melamar seorang gadis tuk kak Keanu. Kenapa, Ma..?" ucapku sambil mencomot kudapan di atas meja. Mama terdiam sejenak. "Ma..." ucapku lagi. "Em, itu. Mendadak. Gadisnya ingin ke luar negeri tuk menyelesaikan pendidikannya. Jadi dipercepat" ucap mama. Aku pun meng-o singkat. "Cie...yang punya kekasih" selorohku yang membuat kak Keanu tersenyum dan menatap mama Wina.
"Nyonya Fara..." ucap Satria yang menyodorkan sebuah paper bag kepadaku. "Ah, ya. Aku lupa. Terima kasih kak.." ucapku. "Em, selamat hari lahir kak Keanu. Semoga selalu bahagia. Dipercepat ke jenjang pernikahannya.." ucapku sambil tersenyum. "Terima kasih..." jawab kak Keanu sambil mengacak pucuk kepalaku. "Oya, Fara pamit ya, Ma. Kak Keanu. *W*eekend toko dan cafe ramai. Jadi harus stand by" ucapku sambil mencium takzim punggung tangan mama Wina. "Tunggu dulu..." ucap mama yang menghentikan langkahku. "Nanti malam datang. Ada acara di rumah. Tidak banyak hanya sahabat dan beberapa relasi saja. Aku pun ingin mengenalkan seseorang" ucap kak Keanu. "Haruskah...?" ucapku singkat. "O..jadi tidak datang? Okay..." ucap kak Keanu kesal. Wajahnya tak menampakkan senyum sedikitpun. "Fara usahakan..." ucapku sambil tersenyum. Namun tiada balasan kata dari kak Keanu lagi. Aku pun berlalu. Selintas aku mengangguk takzim pada mama. "Sebelum jam tujuh, Satria akan menjemputmu...!" teriak kak Keanu di sela langakhku. "Tidak perlu..." ucapku sambil berisyarat dengan tangan kananku.
Aku langsung berlalu meninggalkan halaman rumah itu dengan mobil merahku. Aku hanya menyusuri jalanan, namun tak tahu arah tujuan. Kali ini aku mempunyai perasaan yang aku sendiri tak mengerti. Perasaan yang membuat ku tak tenang. Benar tak tenang.
Pukul sembilan lewat sepuluh menit. Aku parkir mobil dekat kedai yang ramai dikunjungi. Aku tidak mendatangi kedai, karena itu bukanlah tujuanku. Mataku lebih tertarik pada sebuah pemandangan di sisi lain kedai. Hamparan hijau pepohonan dari lembah yang begitu memanjakan mata. Aku pun memberanikan diri memijak tepian pagar pembatas. Ku pejamkan mata sambil merasai hembusan angin yang menerpa wajah. Aku pun merentangkan tangan sambil menghirup udara dan kembali merasai hembusan angin yang membasuh wajahku. "Jangan bergerak atau kau akan jatuh ke bawah..."bisik suara seorang laki-laki yang membuatku terkejut. Dan hampir aku memutar tubuh. Rasa penasaranku menjulang. Aku ingin segera mengetahui siapa laki-laki yang tepat berada di belakang ku ini. Sekali lagi aku bermaksud memutar tubuh, namun laki-laki itu lagi-lagi mencegahku. "Diamlah. Tetap pejamkan mata" bisiknya lagi. Akhirnya aku diam. Mengikuti ucapannya sambil mencari kesempatan untuk menghindarinya dan melarikan diri. Suaranya hampir saja aku kenali saat ia mulai berucap memberiku arahan. "Tutup matamu dan ubah wajahmu menjadi angin. Rasakan itu menyapu kulitmu dalam samudra rasa yang tak terlihat. Kau tahu, keberadaan angin kadang tak dihiraukan, namun angin tiada henti menyejukan. Angin mengajarkan kita bahwa yang tidak terlihat belum tentu tidak ada. Seperti halnya aku dan cinta ku yang bak angin. Kau tidak akan bisa melihatnya, tapi kau bisa merasakannya" ucapnya sambil melingkarkan tangannya pada pinggangku. Aku terkesiap dan lagi-lagi hampir berontak. Namun kesekian kalinya ia mencegahku.
__ADS_1
"Kamu tahu kadang aku iri pada angin yang mampu memelukmu sewaktu-waktu. Karena itu biarkan aku memelukmu sebentar lagi saja. Hanya memelukmu, kekasih hatiku" ucapnya yang membuatku begitu penasaran terhadapnya.
"Dan ingatlah...Fara-ku tidak boleh menjadi pohon kaku yang mudah patah. Jadilah bambu yang mampu bertahan melengkung melawan terpaan angin" ucapnya lagi seakan mengakhiri perbincangan satu arahnya. Dan benar saja tak lama ia melonggarkan dekapannya hingga benar-benar lepas. Dan tak kurasakan lagi hembusan nafas halusnya ataupun bisikan-bisikannya. "Hei...kemana dia" aku membatin. Aku pun langsung memutar tubuh dan segera mencari sosok laki-laki yang baru saja mendekapku. Tapi sayangnya suasana sudah menjadi ramai. Dan sepertinya ia langsung berbaur di keramaian. Dan aku gagal mengenalinya. Benar-benar misterius. Aku tertegun. Mencoba memaknai setiap kata yang sudah ia lontarkan. Pun mencoba menerka identitas lelaki tersebut.
Pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Dengan menyimpan rasa penasaran, aku kembali melajukan mobil merahku. Dan lagi-lagi tak berarah tujuan. Aku hanya ingin meyelami perasaanku sambil mencari sebuah keputusan tentang hati dan hidupku.
Drrt...Drrt...Drrt...
Ponselku berpendar. Sebuah pesan lagi-lagi menghiasi layar ponselku yang tergeletak pada kursi. Ku tepukan mobil pada sisi jalan dan meraih ponselku. "Maaf Nyonya. Nyonya ada dimana? Saya ingin mengantarkan titipan tuan Keanu" pesan Satria. "Titipan? Apa lagi tuan labil ini.." aku membatin. "Titipkan saja di cafe. Aku menuju cafe" ucapku berdusta. "Baik, Nyonya. Terima kasih..." pesan Satria kembali.
Tok...Tok...Tok...
Jendela pintu mobil diketuk. Sontak aku menatap keluar jendela. Seorang laki-laki tampak sedikit menjura. Matanya menilik ke dalam mobil. Mungkin ia mencari tahu kondisi si empunya mobil. Perlahan ku buka kaca mobil sambil berusaha mendamaikan degup jantungku. "Nona, tidak apa-apa?" tanya laki-laki tersebut. Ku taksir usianya tak lebih dari kak Keanu. "Tidak..." jawabku singkat dengan lirih. Kemudian tangannya menyodorkan sebotol air mineral kepadaku. Teringat aku pada pengalaman terdahulu. Gara-gara air minum yang ku terima dari seseorang aku harus mengalami penculikan kembali. Karena itu aku menerimanya tapi tak langsung meminumnya. "Mungkin sebaiknya nona keluar dan beristirahat sejenak sambil menghirup udara segar" ucapnya. Aku yang tak pernah menatap menatap wajahnya hanya tersenyum tipis. Pun demikian akhirnya aku pun lebih menepikan mobilku. Ternyata hanya beberapa langkah terdapat sebuah kedai. Dan laki-laki tersebut mengajakku ke kedai tersebut.
Duduk aku pada sebuah kursi di dalam kedai. Tanganku mulai menempelkan plester pada luka di keningku. Bukan luka serius. Hanya tergores sedikit. Darah yang keluarpun hanya menitik saja. Sementara itu kini mataku menatap air cucuran atap yang menumpahkan hujan. Aku sungguh tidak memperhatikan gerak-gerik atau pun wajah laki-laki itu. "Teh, Nona...Silahkan" ucapnya yang membuyarkan lamunanku. "Terima ka..." ucap ku terhenti saat menatap wajah laki-laki di hadapanku. Aku terkejut mendapati wajah laki-laki duduk di hadapanku yang dengan sumringah menatapku. "Jadi sejak tadi kau tidak mengenaliku?" ucapnya hampir tergelak. "Kak Mirza...." ucapku lirih. "Apa kakak juga yang di lembah tadi?" tanyaku yang menatapnya sekilas. "Menurut mu..?" tanyanya balik. "Bukan...." jawabku singkat. "Ya sudah jika demikian" ucap kak Mirza. Ish...tidak berubah juga nieh, orang. Aku membatin. Kak Mirza pun menanyakan banyak hal. Mulai dari kabar, kondisi cafe, toko, perasaanku hingga niat untuk menikah. "Apa.. menikah? Aku enggan memikirkannya saat ini" ucapku. "Ayolah, sayang...menikahlah. Maksud ku menikah lagi dengan ku. Aku tidak sanggup jauh darimu" ucapnya penuh perasaan. "Amara tahu tidak kakak di sini...?" ucapku sedikit ketus yang dijawabnya dengan senyum tipis saja. "Aku sudah enggan berurusan dengannya. Bukan aku takut. Aku hanya sungkan beradu argumen tentang statusku" ucapku tanpa menatapnya. "Tapi aku tidak bahagia..." ucapnya yang menatapku lekat. "Aku tidak ingin mengambil tawa anak mu, kak. Dan lagi kau sudah mengambil tanggungjawab keluarganya dengan menikahinya tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Jadi jangan pernah menyesal, Kak. Jalani saja mungkin inilah yang disebut takdir" ucap ku. Mataku menatap matanya.
__ADS_1
Pukul sebelas lewat sepuluh menit. Aku melangkah meninggalkan kedai, meninggalkan kak Mirza yang masih duduk termangu. Terakhir sebelum aku berlalu ku lihat ia begitu murung. "Maafkan ucapanku, Kak. Semoga ini yang terbaik untuk kita" ucapku lirih saat duduk di belakang kemudi. "Jika hati mu begitu luka, terlebih aku Kak" ucapku lirih lagi.
Drrt...Drrt...Drrt...
Belum lagi aku melajukan mobil merahku, ponselku kembali berpendar. Sebuah pesan mampir di layar ponselku.
" Aku memang tidak bisa mengubah arah angin, tapi aku bisa mengatur layar untuk selalu mencapai tujuan. Dan tujuan ku saat ini yaitu kamu." begitu kalimat dari pesan yang ku baca. Aku terdiam. Hatiku penuh tanya. Memang ini pertama kalinya nomor kontak ini mampir di ponselku, namun kata-katanya seratus persen membuatku penasaran. Ah, mungkin saja orang salah kirim. Bisa jadi kan...? aku membatin. Tapi...jika difikir lagi kata-katanya serupa dengan laki-laki di lembah tadi. "Ah, pusing jika harus berteka-teki seperti ini" ucapku sambil mengusap wajahku Berulang kali.
Kemudian aku melajukan mobil merahku pada jalanan yang sudah basah sempurna setelah beberapa saat di guyur hujan. Kali ini aku memiliki tujuan, yaitu cafe. Dan saat ini sepertinya langit masih enggan kembali cerah. Awan hitam pun masih betah menutupi matahari. Rupanya hujan masih akan menyapa bumi lagi setelah reda beberapa saat. Akhirnya aku pun sudah kembali parkir pada halaman toko dan cafe yang mulai ramai pengunjung, terutama cafe. Aku pun langsung menaiki anak tangga menuju cafe. Menerima sapaan dari beberapa pegawai yang berpapasan dengan ku, tentu saja dengan senyum khas ku. Setelah berbincang sejenak dengan Dara di dekat meja kasir aku langsung menuju office. Dan mataku langsung tertumbuk pada kotak berwarna hitam dengan pita silver di atasnya. "Aku tersenyum, mungkinkah ini dari kak Keanu seperti yang dimaksud Satria beberapa waktu lalu" ucapku lirih sambil membuka kotak tersebut. Dan aku menjadi terdiam saat isi kotak tersebut terlihat nyata. Sebuah gaun berwarna maroon tertata apik, lengkap dengan kerudungnya. Tak lupa secarik kertas menyertainya.
"*Pukul tujuh Satria menjemput mu. Pakailah gaun ini.
Keanu*.
Begitu isi pesan pada secarik kertas tersebut. Kemudian aku duduk bersandar. Mataku menatap langit-langit. Aku masih menimbang rasa ini. Rasa yang sejak pagi tadi tak dapat ku maknai. Aku harus apa saja, aku tidak tahu. Akhirnya mataku menatap menerobos pintu kaca office. Memperhatikan hiruk pikuk suasana cafe. Sesaat mataku menatap pada sosok kak Roy yang tengah berdiri tak jauh dari Dara. Selintas aku menangkap kerikuhan pada Data ataupun kak Roy. Hey...ada apa dengan keduanya. Dan mataku terus menatapi keduanya. Sesekali ku lihat Dara tertunduk malu, menyembunyikan wajahnya saat kak Roy menatap lekat. "Ya Robby...apakah kak Roy tengah mendekati Dara? Hei, semoga saja..." ucapku sambil menyimpan rasa bahagia di ujung hati ku.
__ADS_1
Pukul dua belas lewat lima belas menit. Kak Roy mengetuk pintu office. Di tangannya sebuah kotak terbungkus rapi. Ia berdiri di ambang pintu sambil menatap ku. Tatapan yang ku rasa sudah sedikit berbeda. Terbersit tanya mengenai tatapannya pada Dara, namun tak sanggup mengutarakannya. Biarlah ini menjadi rahasia dahulu sebelum ia berujar mengakuinya.