Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 51. Aku bukan Pencuri...


__ADS_3

Pukul satu lewat lima menit. Hujan masih saja mengguyur bumi. Sepertinya angin masih enggan mengusir awan hitam yang tampak setia menggantung sehingga langit pun menolak menyusut hujan yang tercurah saat ini. Mobil ku melaju menerobos derasnya hujan di bawah kendali Kak Keanu, suami mainan masa kecilku itu. Ia begitu ngotot akan menyertaiku pulang setelah melihat air mataku kembali terjun bebas beberapa saat lali. Dan ia membiarkan Satria, asisten pribadinya yang membawa mobil sport silver miliknya saat ini. Aku bersyukur memiliki sahabat sepertinya, dan menyesal kenapa selama lebih dari setahun ini aku menghindarinya padahal ia begitu mengkhawatirkan ku.


Aku tersenyum menatapnya yang begitu fokus pada jalanan. Hanya sesekali saja ia melirikku dengan ekor matanya sambil tersenyum. Tanpa bertanya pada ku, ia terus saja melajukan mobil menuju rumahku seakan ia tahu alamat rumahku saat ini. Namun aku hanya diam saja dan akhirnya aku kembali menyandarkan kepalaku pada sandaran kursi. Mataku rasanya baru sebentar saja terpejam, namun saat ku rasa mobil melaju melambat aku kembali membuka mata. Dan benar saja saat ini mobil sudah parkir di halaman rumah yang ku tempati. Kak Keanu tersenyum dan menatapku. "Sudah sampai, Nyonya..." ucapnya kemudian. Kusambar tas dan sebuah paper bag yang semula ingin ku berikan pada kak Mirza, namun urung.


Pukul satu lewat tiga puluh menit. Hujan masih saja mengguyur bumi. Berlari kami menuju teras rumah. Matanya menatap sekitar rumah seakan ia menilik sesuatu. Kemudian langkah panjangnya pun memasuki rumah dan langsung ia duduk pada sofa hijau di tengah ruangan. Segera ku melangkah mengambil handuk dan T-shirt yang baru saja ku buka di kamar, ku sodorkan kepada kak Keanu. Ia menatapku sesaat dan kemudian meraih T-shirt dari tanganku. Dan tanpa ba-bi-bu lagi ia langsung membuka kemejanya di hadapanku. "Astaga tuan muda jangan di sini. Di kamar mandi atau di kamar depan" ucapku sedikit kesal sambil berlalu menuju dapur. "Ah, cuma ganti baju. Dan lagi aku ini kan suami mu. Jadi tidak masalah...!" ucapnya begitu saja setengah teriak. Aku tertegun mendengar kata yang meluncur dari bibirnya terasa begitu ringan, seakan tiada beban sama sekali.


"Silahkan dinikmati..." ucapku yang menyodorkan secangkir teh hangat lengkap kudapannya. Kak Keanu pun langsung menyeruput teh hangat tersebut. Sementara matanya menatap keluar melalui jendela yang tampak basah karena titik hujan yang dihembuskan angin lalu. Di ujung bibirnya ku lihat senyuman yang begitu tipis. Aku menghela nafas cukup panjang saat matanya menatapku dan mengurai senyum. "Jadilah selalu seperti ini, Nyonya. Selalu tenang walau sedang ada badai yang berkecamuk. Toh, angin tidak berhembus untuk menggoyangkan pepohonan, melainkan menguji kekuatan akarnya" ucapnya. "Ya, tuan muda..." ucapku sedikit berseloroh. "Aku serius..." ucapnya. Wajahnya begitu berkharisma saat berkata bijak sehingga tampaklah sosok sebagai tuan mudanya. Pintar, acuh tapi memperhatikan, kharismatik dan tampan. Soal ketajiran boleh diuji.


"Serius amat..." ucapnya Sotoy sambil mengacak pucuk kepalaku dengan sembarang. "Kak Keanu..." ucapku kesal. Mataku kembali menatapnya yang tengah asyik menikmati kudapan. Inilah sisi lain yang tidak dimiliki tuan muda yang lain, yaitu penuh kegilaan dan mudah membuat orang lain tertawa dan bahagia. Fix aku mengatainya sebaagi tuan muda labil. Wkwkwk...


Pukul dua lewat dua menit. Masih di ruang utama rumah nenek Merry. Dan masih duduk pada sofa sambil menikmati teh hangat dan kudapan di hari yang sedingin saat ini diselingi obrolan ringan penuh makna. Sementara itu, langit rupanya sudah mulai bersahabat dengan angin sehingga awan gelappun berhasil diusir dan langit pun kembali bersih dengan mentari yang kembali menampakkan wujudnya. Kak Keanu pun pamit. Langkahnya begitu panjang melewati ambang pintu. Baru beberapa langkah ia pun terhenti. Langkahnya menjadi berputar kembali. "Oya, beberapa hari ke depan aku keluar kota. Jadi Nyonya besar tidak dapat melihat ketampananku ini. Tapi jangan khawatri, aku meminta Satria untuk selalu mengawasi Nyonya besar" ucapnya. Dan lagi-lagi tangannya mengacak pucuk kepalaku yang terbungkus kerudung. Aku menatap punggungnya dengan langkah panjangnya sesaat setelah ia berucap. Sungguh aku kesal saat ia tidak memberiku kesempatan untuk membalas ucapannya sedikitpun, walaupun kata-kata itu sudah berada diujung lidahku. "Tidak bisakah menungguku berkata sebentar? Dasar tuan muda labil.." ucapku kemudian. "Aku dengar...!" teriaknya. "Ups...Maaf!" teriakku sambil menahan tawaku.


Pukul dua lewat tiga puluh menit. Aku duduk di bibir tempat tidur ku. Dan menyandarkan tubuhku sesaat kemudian. Fikiranku pun kembali mengembara jauh melintasi lorong rasa yang menyentuh jiwa. Kemudian satu-satu peristiwa yang ku alami hari ini menjelma kembali. "Kak Mirza..." ucapku saat seulas wajah mulai menari-nari dalam ingatanku. Kembali aku teringat dengan semua ucapannya yang penuh pengharapan itu dan berhasil melambungkan jiwaku. Aku tersenyum saat rasa ini tercurahkan. Namun saat mengingat Amara, hati ku begitu terluka. Terutama saat mengingat kata-katanya. "Kedatangan mu hanya merusak tawa anakku. Pergilah...Dasar Pencuri!" begitu aku mengingat ucapannya. Ada amarah di hatiku yang kian meledak-ledak. "Aku bukan pencuri. Kaulah yang pencuri, Amara...!" teriakku. Dan tanpa ku sadari tanganku meraih sebuah vas yang berada di atas nakas dan melemparnya sembarang hingga hancur tak berbentuk. "Aku bukan pencuri. Kaulah yang sudah mencuri lelaki yang ku cintai. Kau yang pencuri, Amara...bukan aku" ucapku lirih dengan pilu. Ada amarah di setiap kata yang terucap.

__ADS_1


Pukul dua lewat empat puluh lima menit. Aku duduk tak berdaya bak tak berenergi lagi. Wajahku pun telah basah dengan air mata. Berulangkali aku mengusap kasar wajahku dan melepaskan kerudung yang sejak tadi sudah berantakan. Aku kacau. Pun demikian aku berusaha keras mendamaikan hati yang sejak tadi penuh amarah.


Drrt...Drrt...Drrt...


Ponselku berpendar. Dan itu membuatku tersadar dari lamunan panjangku. Sedikit ragu aku pun meraih ponselku itu. "Kak, ada tamu yang memaksa ingin bertemu dengan kakak" ucap Dara di ujung telepon. "Tiga puluh menit kakak sampai di cafe" ucapku diakhir percakapan. Ku letakkan ponselku begitu saja di atas kasur dekat tasku. Sementara itu, sedikit enggan aku pun bersiap-siap menuju cafe. Kupatut diriku di depan cermin. Memoles bedak dan lipstik tipis-tipis saja. Mataku menatap wajah dalam cermin. Dan sekali lagi aku tertegun. Fikiranku kembali mengembara pada saat-saat sepuluh hari setelah pernikahanku bersama kak Mirza. Walau hanya sepuluh hari namun ada banyak peristiwa yang kini menjadi kenangan manis dan indah. Yang jika diingat akan membuat senyumku sumringah. Namun sekali lagi, sekilas wajah Amara membayang dalam cermin sehingga mataku kembali berkaca-kaca. Ada genangan yang mengambang dan siap meluncur. "Jangan...Jangan..." ucapku sambil mengibas-ngibaskan kedua tangan pada wajah berusah menahan tangis.


Pukul tiga lewat sepuluh menit. Aku melangkah cepat sambil menyambar tas dan ponselku. Kemudian menuju mobil merah ku yang terparkir. Aku pun men-staternya dan bermaksud segera meninggalkan halaman, namun urung saat melihat nenek Fat tergopoh-gopoh menghampiriku. "Neng...tunggu, Neng!" ucapnya setengah teriak sambil melambaikan tangan. Nenek berumur enam puluh lima tahun itu masih tampak kuat walau beberapa penyakit mulai menggerogiti kesehatannya. "Tadi pagi ada seorang laki-laki datang dan menitipkan ini kepada nenek untuk neng Fara" ucap nenek Fat sambil menyodorkan sebuah paper bag berukuran sedang. "Terima kasih, Nek..." ucapku sambil bergelayut manja pada lengannya.


Pukul tiga lewat lima belas menit. Aku sudah melaju dalam kecepatan sedang menyusuri jalanan yang sedikit lengang, mungkin karena hujan beberapa saat lalu. Tak lama kemudian, aku sudah menghentikan mobil di areal parkir yang tidak begitu luas. Langkahku begitu ringan saat memasuki pintu toko. Dan beberapa pegawai ku pun menyambut kedatanganku dengan senyuman dan anggukan takzim. Aku pun berbincang sebentar dengan mereka. Menanyakan kepada mereka keadaan toko setelah hampir dua hari aku tinggalkan. Dan menurut mereka semua baik-baik saja dan berjalan seperti biasanya. Mendengar itu aku begitu sumringah dan mengucapkan terima kasih kepada para pegawai ku itu.


"Cupcake nya sudah di pesan?" tanyaku kemudian. "Sudah. Bahkan sudah di mobil" ucapnya santai. "Lalu apalagi? Kenapa masih di sini?" tanyaku ketus. "Ingin bertemu kak Olivia lagi sebelum aku keluar kota. Hitung-hitung persiapan agar aku tidak kangen akut kepada Nyonya besar, istri masa kecilku ini" ucapnya setengah berbisik. "Tau, ah...gelap" ucapku kesal. "Tidak ada kata-kata mutiara kah? Aku kan akan pergi beberapa hari?" ucapnya yang tak kutanggapi. "Tolong berikan ini pada mama. Dari anak perempuan nya" ucapku sambil menyodorkan paper bag. "Oke. Thanks ya...Ku sampaikan Jika ini dari mantunya" ucapnya sambil menatapku yang tampak kesal. "Huh..." dengusku kesal. Ia pun berlalu sambil tertawa dan menuruni anak tangga.


Drrt...Drrt...Drrt...

__ADS_1


Ponselku kembali berpendar. Sebuah pesan tampak menghiasi layarnya.


"Hidup bukan tentang mendapatkan apa yang di inginkan, tetapi tentang menghargai apa yang di miliki" pesan kak Keanu. Aku tersenyum membaca tiap deret kata yang lebih makna itu. "Terima kasih, Kak..." ucapku dengan menambah emoji hati.


Pukul empat lewat lima menit. Aku duduk pada kursi dekat meja kasir. Mataku menatap seisi ruangan yang di penuhi pengunjung. Dan kesibukanpun terus berlanjut. "Fiuh... sepertinya kak Olivia harus tambah pegawai dech. Dengan pengunjung seramai ini, jujur kami sudah kewalahan kak" ucap Rio yang baru saja berdiri di sebelahku. "Begitu ya, nanti kita bicarakan di meeting esok pagi ya..." ucap sambil tersenyum.


"Selamat sore, ingin pesan apa? ucapku ramah sambil tersenyum kepada beberapa pelanggan yang mengunjungi kami sore ini. Begitulah aktifitas ku sore ini. Bertemu pelanggan secara langsung. Menanyakan pesanan ataupun berbincang sebentar dengan mereka. Tak jarang kami pun tertawa bersama Karen suatu hal yang menurut kami patut ditertawakan. Ada juga yang mencoba membuat lelucon dan tentu saja itu juga menarik perhatian sekaligus mengundang gelak tawa pelanggang di sekitarnya.


Pukul empat lewat empat puluh menit. Aku kembali duduk pada sofa di sebelah meja kasir. Kali ini aku sambil memijat-mijat kedua kakiku yang terasa lelah. Peluhku pun terasa membanjiri seluruh tubuh.


Drrt...Drrt...Drrt...


Ponselku kembali berpendar. Sebuah pesan kembali menghiasi layar ponselku. "Memaafkan akan membawa ketenangan hati dan jiwa, sedangkan menghujat hanya akan menciptakan kedengkian di hati" begitu pesan kak Keanu lagi. "Ya, taun muda labil..." balasku kemudian. "Nyonya muda labil..." balasnya yang membuat aku terkekeh saat membacanya. Dan hal tersebut tentu saja membuat beberapa pegawaiku mengalihkan pandangannya kepadaku.

__ADS_1


Pukul lima lewat empat puluh lima menit. Cafe dan toko masih saja ramai dikunjungi. Sementara langit sudah mulai berangsur berubah menjadi gelap karena sang mentari mulai kembali ke peraduannya. Dan lampu jalanan pun mulai berpendar satu-satu menghiasi dan memberi cahaya temaram di sekitarnya. Aku pun memulai ibadah sholat Maghrib sesaat setelah adzan berkumandang. Ku kenakan mukena biruku dan kupanjangkan sajadah. Sesaat lalu aku sudah memulai peribadatanku sebagai wujud penghambaan ku kepada sang Khaliq. Di tengah kesendirian dan kesulitan ku menjalankan hidup, maka ritual lima waktulah saat yang ku manfaatkan untuk mengadu dan meminta segala bentuk penghidupanku. Karena aku yakin, apapun yang ku anggap itu sulit, maka Allah mampu membuat itu mudah untuk ku. Karena itu aku berdoa. Doa yang merupakan permohonan, pengharapan, senjata ampuh, dan juga pintu segala kebaikan. Doa juga adalah obat bagi jiwa yang hampa, pikiran yang bimbang, dan hati yang terluka. Yah...jika tidak ada pundak untuk bersandar, setidaknya masih ada lantai untuk bersujud.


Tak lama kemudian aku pun menyudahi sholatku. Ku tangkupkan kedua tanganku pada wajah menutup doaku. Dan ku seka air mataku yang sejak tadi mengalir begitu saja. "Kak Olivia menangis? Kakak sedang sedih ya" ucap Laila, seorang pegawaiku. "Tak semua tangisan berarti duka. Terkadang, air mata adalah kebahagiaan yang tak mampu diungkapkan oleh lisan" begitu jawabku sambil tersenyum menatapnya yang tampak manggut-manggut. Tanda mengerti.


__ADS_2