Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 37. Pertemuan...


__ADS_3

Pukul dua lewat sepuluh menit. Aku masih dalam ruang kerja kak Mirza. Menatapinya di segala kesibukannya. "Ya, pak Danu..." ucap kak Mirza ketika menerima telepon. "Mendadak sekali? Tidak bisakah di re-Schedule?" ucap kak Mirza lagi. Kali ini matanya menatap ku sambil tersenyum tipis. "Baiklah..." ucap kak Mirza mengakhiri sambungan pada ponselnya. Ia tersenyum dan menatapku. Kakinya melangkah cepat ke arahku dan duduk disebelah ku. "Em, sayang... sepertinya aku ada meeting dadakan di cafe X, pada pusat perbelanjaan daerah W. Nah, begini saja... sementara aku meeting kau bisa berbelanja keperluan mu. Bang Pandu akan menyertaimu walau dari kejauhan" ucap kak Mirza sambil membuka dompet dan menyodorkan debit card. Aku terdiam. Hanya mataku saja yang menatapnya dalam. "Bagaimana..." tanya kak Mirza sambil menggoyangkan debit card di depan wajahku. "Baiklah..." ucapku sambil tersenyum dan mengambil debit card walau sedikit ragu. "Good..." ucap kak Mirza sambil mengusap pucuk kepalaku dengan perlahan. Ia pun kembali pada meja dan merapikan berkas di meja kerjanya. "Kita berangkat sekarang..." ucap kak Mirza sambil tersenyum manatapku.


Pukul dua lewat tiga puluh menit. Aku melangkah ke luar ruangan mengiringi kak Mirza. Aku pun sudah bersiap menerima berbagai tatapan dari segenap karyawan. Dan benar saja baru beberapa langkah dari ambang pintu ada banyak pasang mata yang menatapku. Mulai dari tatapan penghargaan, hingga tatapan penuh tanda tanya. Namun dengan genggaman erat tangan kak Mirza pada jemariku, aku cukup percaya diri melenggang di sisinya sebagai nyonya Mirza.


"Wait..." ucap kak Mirza yang langsung menghentikan langkah tepat di depan lift. "Jangan bergerak..." ucapnya yang membuatku kecut. Ia tersenyum. "Tidak ada apa-apa, Sayang. Aku hanya ingin merapikan kerudung mu?" bisiknya dengan tangan yang terus merapikan kerudungku dengan perlahan. Sesekali matanga menatap ku. Tak lupa seulas senyum menghiasi wajahnya.


Ting...

__ADS_1


Lift berdenting dan pintu pun terbuka. Seulas wajah dalam lift tampak pasi saat melihat kak Mirza dan aku. Matanya menatap kami bergantian. "Selamat sore, Pak..." ucapnya kikuk sambil menggeser posisi berdirinya. "Selamat sore..." ucap kak Mirza sambil melangkah masuk lift. Ku lihat wajah kak Mirza dengan ekor mataku, tiada ekspresi apapun di wajahnya atas kehadiran perempuan tersebut. Tak lama lift pun berhenti dan kami pun melangkah menuju pintu keluar.


"Pak Danu..." ucap kak Mirza. "Kita berangkat sekarang, Tuan..." ucapnya. "Pak Danu di sopiri pak Dirman ya. Saya bersama istri saya" ucap kak Mirza sambil tersenyum. "Baik, Tuan..." ucap pak Danu sambil mengangguk takzim.


Pukul tiga lewat empat puluh lima menit. Mobil pun melaju meninggalkan gedung perkantoran menuju tempat yang dijanjikan. Tak membutuhkan waktu lama, mobil pun sudah parkir kembali pada area parkir sebuah pusat perbelanjaan. Langkah kami begitu cepat menyusuri tiap anak tangga yang ada. Hingga di depan sebuah cafe kak Mirza menghentikan langkahnya. "Aku meeting di cafe ini. Nyonya besar silahkan shopping dulu" bisik kak Mirza sambil menatapku. Aku pun tersenyum dan langsung mengambil langkah seribu saat melihat pak Danu dan seorang tamu lainnya datang.


Pukul empat lewat sepuluh menit. Langkahku masih belum lelah mengitari pusat perbelanjaan di lantai dasar. Mata ku dimanjakan oleh deretan berbagai barang dari berbagai merk. Pun demikian belum ada satu barang pun yang aku beli. Aku hanya mengitari pusat perbelanjaan tersebut. "Nyonya tidak berbelanja" ucap seorang lelaki yang aku yakin ia adalah salah satu orang kepercayaan kak Mirza. "Aku pun membalikkan tubuh dan tersenyum saat mendapatinya berdiri dengan menyodorkan juice. Tanpa ragu dan curiga sedikitpun aku langsung meraih juice tersebut dan menyesapnya perlahan. "Bang Pandu, kemana.." tanyaku. "Em...bang Pandu tadi ke toilet. Ya, ke toilet..." ucapmya sedikit bingung. Aku pun meng-o singkat dan kembali melangkah. Dan baru beberapa langkah, tiba-tiba saja tatapanku serasa berputar. Lama-lama menjadi samar dan akhirnya aku jatuh terduduk. "Nyonya....!" ucap lelaki itu yang samar masih dapat ku dengar. Setelah itu aku sudah tidak tahu apa-apa lagi. Aku tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Apakah cinta harus dipaksakan? Karena sesungguhnya aku tidak mencintaimu sama sekali. Aku mencintai seseorang yang kini sudah menikahiku" ucapku sambil menunjukkan jemariku yang dilingkari sebuah cincin. Ia pun tertegun menatap jemariku. Seakan tak percaya ia pun membulatkan matanya untuk memastikan cincin yang melingkar di jari. "Kau sungguh sudah menikah?" tanyanya lagi. Kali ini tatapannya berubah. Ada amarah di sana. Ia berdiri dengan tangan terkepal hebat. "Ya. Aku suadah menikah...Jadi aku minta jangan lagi mencoba mencari ku. Atau berkhayal untuk memiliki ku lagi..." ucapku tegas. Mendengar ucapanku, ia justru tertawa. "Fara...Fara, cintaku tidak semudah itu kau patahkan. Walaupun kau sudah menikah aku tetap mencintaimu. Dan akan tetap berusaha memilikimu sampai kapanpun, karena kau adalah millikku. Selamanya..." ucapnya sambil menyeringai memperlihatkan deretan giginya.


Dan saat aku melihat sebuah kesempatan, segera aku berlari ke arah pintu dan berusaha membukanya. Maksud hati ingin melarikan diri. Sekali, dua kali, tiga kali dan berulang-ulang aku berusaha membuka pintu, namun gagal. Pintu terkunci. "Aku tidak bodoh, Fara..." ucapnya sambil menggoyangkan kunci di tangannya. Aku menangis pilu. Aku berteriak sambil memukuli pintu yang tertutup rapat. "Tolong...!" teriakku berulangkali. "Percuma Fara kau berteriak. Rumahku ini jauh dari jangkauan" ucapnya lagi yang membuatku kacau. "Ya, Robb... tolonglah aku" doa ku lirih.


Dalam tangis ku, ku lihat ia mendekatiku. Dan segera aku berlari menghindar ke sisi lain ruangan. "Jangan mendekat...!" ucapku sambil menodongkan vas bunga yang sejak tadi ku pegang. "Ayolah Fara...Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya mencintaimu..." ucapnya dengan tatapan dingin sedingin es. "Aku tidak sudi kau cintai..." ucapku lantang. Bukannya surut ia justru melangkah mendekatiku. "Jangan mendekat...! Atau..." ucapku. "Atau apa, Fara? Kau akan memukul ku dengan vas itu? ucapnya setengah teriak. "Aku tak peduli, Fara...Aku hanya ingin memelukmu. Melepaskan kerinduan selama setahun lebih ini" ucapnya lagi sambil terus menatapku. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja ia sudah berada di dekat ku. Bahkan begitu dekat. Matanya menatap lekat. Dadanya naik-turun dengan cepat. Aku panik. "Kau..." kataku sambil melayangkan vas ke kepalanya. Vas pun mengenai sisi kiri kepalanya dan pecah berantakan. Darah mengalir membasahi sebagian wajahnya. Tak lama ia pun roboh. Aku menjatuhkan vas. Tanganku gemetar. Beruntung aku cepat tersadar. Aku segera mencari kunci pada kantong baju dan celananya. "Ini dia..." ucapku lirih saat berhasil menemukannya. Aku pun segera melangkah bermaksud membuka pintu. Namun langkahku terhenti saat ia meraih tanganku. "Jangan pergi, Fara. Jangan tinggalkan aku..." ucapnya sambil memegang tanganku untuk beberapa saat. Kemudian pegangan itu melonggar dan akhirnya benar-benar terlepas. Aku tertegun. Mataku langsung menatap tubuhnya yang terkulai tak berdaya. Mendapati situasi tersebut, ibaku timbul Terlebih saat melihat tetesan darah dari kepalanya. Ya...Robby, apa yang harus aku lakukan?


Mataku beredar kembali mengitari seisi ruangan. Aku mencari tempat yang dimungkinkan menyimpan obat-obatan. Kemudian mataku pun langsung tertuju pada nakas di samping tempat tidur. Dan segera saja ku langkahkan kaki dan membuka nakas. Benar saja aku menemukan kotak berisi obat-obatan dan perban. Ku angkat dan ku rebahkan kepalanya pada pangkuanku, agar aku lebih mudah mengobatinya. Perlahan ku bersihkan luka dari darah yang mengalir. Kemudian membubuhkan obat dan membalutnya. Beruntunglah lukanya terbilang cukup ringan, hanya berupa goresan akibat pecahan vas bunga yang tadi ku hantamkan. "Terima kasih, Fara..." ucap Darius tiba-tiba yang baru saja tersadar dan masih berada di pangkuannya. "Hei, aku melakukannya bukan karena aku mencintaimu tapi karena rasa kemanusiaan ku" ucapku setengah teriak dan nada kesal. Segera ku letakkan lagi kepalanya pada lantai tanpa alas. Ia pun mengaduh, namun aku tak mempedulikannya. Sedikit lega aku menatapnya terutama karena ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi karena tangan dan kakinya sudah ku ikat tadi. "Mengapa kau ikat aku..." ucapnya sambil berusaha membetulkan posisi duduknya. "Agar kau tidak macam-macam lagi" ucapku yang membulatkan mata. Ia terkekeh. "Melihatmu seperti itu aku makin jatuh hati, Fara..." ucapnya. "Dasar orang gila..." ucapku seenaknya saja. Ia makin tertawa.

__ADS_1


"Astaga...apa yang harus aku lakukan?" ucapku lirih. Teringat aku pada kak Mirza. Aku pun segera mengambil ponsel dan bermaksud menghubunginya. "Tidak...jangan kak Mirza" ucapku dalam hati sambil memainkan ponsel. "Em, ya...bang Pandu" ucapku dengan senyum tipis saja. Dan segera ku hubungi bang Pandu. Ku share loc dimana aku berada. Tak butuh waktu lama karena memang bang Pandu sedang mencariku di sekitar tempat tersebut. Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit bang Pandu pun sudah menemukan ku. "Nyonya...! suara bang Pandu yang langsung di sambut beberapa orang. Baku hantam pun tak terelakkan lagi.


"Nyonya...!" panggil bang Pandu lagi sambil membuka pintu yang sudah tak terkunci lagi. "Bang..." ucapku yang duduk sedikit jauh dari tuan Darius. "Nyonya mu hebat bisa mengalahkanku" ucap tuan Darius sambil tertawa. Tak peduli lagi dengan ucapan tuan Darius, bang Pandu pun langsung membawaku keluar dari rumah tersebut. "Nyonya tidak apa-apa?" ucap bang Pandu. "Aku baik-baik saja..." ucapku sambil mensejajarinya. "Kak Mirza...?"bisikku sambil setengah berlari dan masuk mobil. "Tuan masih meeting, Nyonya. Maafkan saya, Nyonya. Saya lengah. Tadi ada info ada yang hendak melakukan sesuatu pada tuan. Jadi saya buru-buru menemuinya. Infonya begitu meyakinkan sebab disampaikan oleh anak buah saya sendiri. Dan ternyata ia adalah kaki tangan tuan Darius" ucap bang Pandu. "Sudahlah, bang. Saya mengerti situasinya. Dan tidak perlu memberitahu Tuan. Saya tidak mau membuatnya khawatir berlebihan" ucapku sambil merapikan kerudungku. "Kita kemana, Nyonya?" ucap bang Pandu sambil menatap bercak darah yang menempel pada pakaianku. Aku diam sesaat dan mengerutkan dahi. Dengan situasi ku saat ini sepertinya tidak memungkinkan jika aku menemui kak Mirza. Kecuali...aku berganti pakaian dahulu. "Kita ke butik dahulu membeli pakaian lalu ke cafe X lagi" ucapku. "Jika begitu kita ke boutique adik saya saja" saran Bang Pandu. "Adik...?" tanyaku singkat. "Ya, Rani. Dia adik saya satu ibu berbeda Ayah denganku" ucap Bang Pandu lagi. Aku pun meng-o panjang menyimak penuturan bang Pandu.


__ADS_2