Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 76. Kak Noah? Lagi...?


__ADS_3

Perasaan ku kian membuncah. Saat laju mobil sport silver kak Keanu semakin mendekati cafe. Terbayang sudah wajah setiap pegawai ku itu. Timbul-tenggelam celoteh mereka di ingatanku. Sumringah wajahku terutama saat mengingat Sekolah KARDUS. Polah dan celoteh anak-anak nya membuatku semakin merasakan rindu.


Dan benar saja, belum lagi sempurna aku duduk pada kursi roda ku mereka sudah menyambutku. Raut gembira pun tergambar jelas di wajah mereka. Hei... mereka menyambutku dengan membawa bunga Krisan berwarna putih. Aku menatap kak Keanu yang tengah mengurai senyum khasnya. Fiuh...tampan sekali.


"Aku yang memberitahu kak Roy..." bisik kak Keanu. Aku pun meng-o singkat. Tanganku mengusap lengan kak Keanu sambil menatapnya penuh senyuman. "Apa...?" tanya nya karena ditatap demikian. "Terima kasih..." ucapku dengan nada dan memasang wajah seimut mungkin. Dan sekali lagi aku jatuh cinta kepadanya.


Seorang bocah menangis memelukku. Ia Dania. Bocah yang ku temui saat sedang di ganggu beberapa preman saat itu. Ia yatim. Aku mengusap kepalanya dengan lembut. "Dania khawatir, kakak tidak mau kembali ke sekolah kita" ucapnya sambil terisak. "Iya, kak..." ucap semua anak hampir bersamaan. Mereka pun mengerubungi ku. "Tidak begitu, sayang. Kak Olivia sedang berusaha untuk sembuh. Jadi kakak mengikuti beberapa terapi dan harus menunda bertemu kalian. Padahal kakak kangen sekali..." ucapku. Tanganku mengusap bulir bening yang hampir jatuh. "Dan sekarang kakak hampir sembuh. Menjauh...Ayo menjauh..." ucapku sambil berisyarat dengan tangan.


Aku menghela nafas. Dalam hati aku tidaklah seyakin dengan apa yang ku tampakkan pada wajahku atas apa yang akan ku lakukan ini. Namun demi anak-anak aku akan mencobanya. Semoga berhasil...


Sekali lagi aku menghela nafas. Ku tatap satu-satu wajah anak-anak di hadapanku. Terakhir aku menatap kak Keanu yang tersenyum sumringah menatapku. Bismillah....Ku mulai dengan bergantian menurunkan kedua kaki ku. Sedikit berat, namun aku berhasil. Ayo, Fara...kamu bisa. Aku menyemangati diriku sendiri. Sedikit demi sedikit aku mulai bangkit berusaha berdiri menggunakan kaki ku sendiri. Bergetar kaki ku menahan beban tubuh ku. Aku berusaha sekuat hati membahagiakan anak-anak di hadapanku ini. Tersenyum mereka melihatku berdiri. Begitupun dengan kak Roy, Dara, segenap pegawai dan terutama kak Keanu. "See... kakak bisa berdiri sekarang" ucapku Sumringah. aku sendiri tidak percaya atas apa yang sudah aku lakukan saat ini. "Fara...kamu berhasil. Kamu berhasil, Fara..." ucapku dalam hati penuh suka cita.


Namun ternyata hal tersebut tidak berlangsung lama. Dalam sekejap tubuhku kembali roboh. Kaki ku belumlah sekuat itu. Terpekik semua anak berusaha menyangga ku. Beruntung kak Keanu yang berhasil menopang tubuhku. "Aku bisa, Kak..." bisikku sambil memeluknya. "Aku tahu. Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil" ucap kak Keanu sambil mendekap dan mengecup lembut pucuk kepalaku.


Kembali tanganku melingkari leher kak Keanu. Menapaki anak tangga menuju cafe. Beberapa pegawai menitikkan air matanya saat menatapku. Aku pun berisyarat dengan menggelengkan kepalaku untuk tidak meratapi keadaanku. Karena aku akan baik-baik saja kembali.


Pukul sebelas lewat lima belas menit. Aku duduk menghadap jendela. Mataku menatap bunga Krisan putih yang berjejer rapi di dekat jendela. Sebuah usapan lembut pun berhasil membangunkan ku dari lamunan. Aku tersenyum menatap wajahnya. "Aku baik-baik saja, Kak..." ucapku sambil memegang lengannya yang mudah ku jangkau karena letak duduk kami begitu dekat. Tak bosan rasanya aku bergelayut manja pada lengan kekar laki-laki yang sudah menjadi suamiku ini. Laki-laki yang sudah mengambil bagian atas semua duka ku selama ini. Laki-laki yang sudah berusaha memberiku bahagia lahir dan batin. Dan lagi-lagi itu membuatku jatuh cinta kepadanya. Berulangkali...


Pukul sebelas lewat tiga puluh menit. Aku tersenyum menatap kak Keanu yang sedang menghabiskan suapan chees cake terakhirnya. Wah, ternyata ia begitu menyukainya. Maaf aku kak. Aku hampir lupa akan kesukaanmu itu. Aku terlalu sibuk dengan urusanku hingga aku lupa akan semua hal tentang diri mu. Maafkan aku, Kak...


"Setelah dari sini bagaimana jika kita mampir ke toko bahan kue?" tanyaku. "Untuk apa?" tanyanya singkat sambil menatapku. "Beli mobil..." ucapku ketus. "Mobil..? Becanda..." ucapnya sambil mengacak pucuk kepalaku dan tertawa kecil. "Jelas-jelas kalau ke toko bahan kue pasti mau beli bahan kue. Tapi tuan muda masih tanya juga. Dasar ya..." ucap ku sambil mencubit perutnya. Ia pun mengaduh tapi kemudian tertawa.


"Baik, Nyonya besar.." ucap kak Keanu. "Kakak..Maafkan ya, jadi sudah mengerjai" ucapku sendu sambil terus bergelayut di lengannya. "Tidak sama sekali. Hari ini adalah hari kita berdua. Jadi kemana pun istri cantikku ini ingin pergi, aku pasti akan dengan senang hati menyertainya" ucap kak Keanu sambil mengusap pucuk kepalaku.


"Em, so sweet...Jadi kepingin" ucap Dara sambil membersamai kami duduk. Di sebelahnya duduk serta kak Roy. Namun wajahnya sedikit muram. Aku menilik wajahnya sebentar lalu beralih pada Dara. Aku pun berisyarat kepada Dara menanyakan situasi kak Roy. Dan tentu saja Dara tidak mengetahuinya. Hal tersebut ku ketahui dari isyarat yang ia berikan.


Pun demikian, aku tak berani menanyakannya kepada kak Roy secara langsung. Karena aku hafal tabiatnya itu. Tak mungkin ia akan memberitahukannya kepada siapa pun dengan mudah, terlebih kepadaku. Ah, ada-ada saja. Walau bagaimana pun ia masih merasa sungkan kepadaku. Dan lagi ia ingin selalu terlihat sempurna di mataku.


Tak lama kemudian aku berpamitan. Dan berjanji akan selalu datang ke cafe. Doakan aku selalu, hingga aku mampu melewati segala cobaan ini. Aku membatin...

__ADS_1


Pukul satu siang. Aku sudah berada pada mini market aneka bahan kue dimana aku biasa berbelanja untuk memenuhi kebutuhan cafe. "Kak Olivia....Kok tidak kasih kabar?" ucap koh Ming saat melihat kedatanganku. "Em, cuma mau beli beberapa bahan saja. Untuk keperluan di rumah" ucapku sambil tersenyum. "O.. Begitu. Mari-mari silahkan. Untuk kak Olivia saya kasih diskon. Pelanggan istimewa sebabnya...." ucap koh Ming dengan logat khasnya. "Wah, terima kasih, Koh..." ucapku sambil berlalu dengan ditemani seorang pegawai koh Ming. Sementara kak Keanu menunggu ku sambil berbincang dengan koh Ming.


Tak berapa lama dengan di temani seorang pegawai koh Ming, aku pun sudah mendapatkan beberapa bahan kue yang aku butuhkan. "Sebentar, Nyonya. Saya ambil keranjang dahulu" ucap pegawai itu sesaat sebelum berlalu. Aku pun tersenyum sambil berisyarat dengan ibu jariku.


"Jangan berteriak. Atau peluru ini akan menembus tubuhmu" ucap seorang laki-laki bertubuh tegap yang berdiri di sebelahku. Sebagian wajahnya tertutup ujung topi. Aku tertegun. Fikiranku beradu taktik mencari cara agar bisa terlepas darinya atau paling tidak kak Keanu mengetahui keadaanku. "Jangan coba-coba melakukan hal konyol yang bisa membahayakan diri mu" ucapnya lagi.


Nafas ku sedikit susah saat sebuah tangan mendekap mulutku. Aku berusaha meronta, namun sia-sia. Beberapa detik kemudian aku sudah tidak tahu apa-apa lagi. Aku tidak sadarkan diri dibawah pengaruh obat bius.


Sesaat kemudian....


Aku memegang kepalaku. Mataku belum terbuka sempurna, namun lamat-lamat terdengar suara yang membuatku terperangah. Sekonyong-konyong aku pun membuka mata dan segera menajamkan penglihatan ku. Menilik situasi yang ada. Di sudut ruangan aku lihat dua laki-laki tengah berbicara kasar dengan seorang laki-laki lainnya yang duduk terikat pada sebuah kursi. Pakaiannya telah basah dengan darah. Bahkan wajah nya sedikit tak dapat dikenali karena lebam yang ada.


"Katakan dimana berkas itu...!" hardik seorang laki-laki lainnya. "Cih, jika pun aku tahu aku tidak akan memberitahumu...!" ucap laki-laki yang terikat. Ada desiran aneh saat mendengar suara laki-laki itu.


"Kau tidak peduli dengan nasib mu sendiri. Baiklah. Bagaimana dengan perempuan di sudut sana? ucap laki-laki sambil mengarahkan pandangan kepadaku.


Deg.


Langkahnya begitu cepat mendekati ku. "Kita sedikit beratraksi. Pertama kita lepaskan ikatannya. Kemudian...." ucap laki-laki itu tertawa saat mendorong kursi rodaku. Tak ayal lagi tubuhku pun terguling dan terhempas begitu saja. Terpekik aku pada kondisi itu. Pun demikian dengan laki-laki terikat itu. "Fara..." ucapnya teriak sambil berontak.


Aku yang sedang mengeluh atas perlakuan laki-laki tersebut, mendadak jadi memusatkan perhatian padanya. Aku hampir terpekik saat menyadari siapa laki-laki yang duduk terikat itu. Ia menatapku lekat sambil menganggukkan kepalanya seakan menjawab pertanyaanku tentang siapa diri nya. "Kak Noah...." ucapku dengan suara bergetar. Dan sekali lagi ia mengangguk perlahan. Sebelah matanya yang masih terbuka tampak menatapku pilu.


"Jadi tuan Noah, apa keputusanmu? berkas itu atau adik mu? Atau begini saja...agar lebih meyakinkanmu, aku akan memotong jari tangan adik mu satu-satu. Ow...atau mengiris sedikit demi sedikit setiap daging di tubuhnya dan ku berikan pada anjing ku..." ucap lelaki itu sambil terkekeh hebat. Bergidik aku mendengarnya. Tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi. Begitu sadis...


"Jika berkas itu begitu penting, jangan berikan kak..." teriakku yang langsung dihadiahi sebuah tamparan telak di wajahku.


Prok...Prok...Prok...


Suara tepuk tangan dari seorang di belakangku. "Bagus...reuni kakak-beradik yang sangat menyentuh" ucap seorang perempuan. "Fara...Fara. Miris hidup mu. Terdepak dari pangkuan Mirza, kini kau lumpuh" ucap perempuan itu sambil terkekeh.

__ADS_1


Ku dongakkan wajah menatapnya. Siapa dia? Mengapa ia mengenalku? Ingatanku berputar mencari sosoknya di masa laluku. Nihil. Aku tak menemukannya. Siapa dia? Aku membatin...


"Aku dari masa lalu mu. Kau mungkin lupa, tapi aku akan selalu ingat. Bagaimana rasanya dicampakkan Mirza? ucapnya sinis tanpa melihatku. Dari bibir merahnya mengepul asap dari rokok yang ia hisap berkali-kali.


"Siapa kau?" ucapku sambil berusaha membetulkan posisi duduk ku. "Walau sudah ku sebut nama Mirza, kau belum mengingat siapa diriku" ucapnya. "Aku kira setelah dibuang ke rumah remang-remang. Digerayangi banyak laki-laki, kau tidak akan berani untuk menampakkan diri ke hadapan Mirza. Tapi ternyata tidak. Dengan semua noda kau justru makin mendapat simpatinya. Dasar perempuan ******...!" ucapnya yang kemudian dengan sebelah tangannya ia mencengkram wajahku hingga mendongak dekat wajahnya. "Anita..." ucapku tercekat.


"Ya...kau mulai mengingtnya" ucap perempuan itu sambil menghembuskan kepulan asap ke wajahku. Aku pun terbatuk dibuatnya saat tanpa sengaja menghirupnya. "Ya, aku perempuan yang berhasil kau singkirkan dari hadapan Mirza. Perempuan yang tidak pernah di lirik Mirza. Apa kau puas...!" ucapnya sambil mendorong wajahku hingga hilang keseimbangan ku.


"Aku tidak ada kaitan dengan semua masalah mu itu. Sebab cinta tak dapat dipaksa. Lalu apa kaitanku dengan kasus kali ini?" ucapku dengan lelehan air mata karena menahan sakit.


"Tidak ada. Ini hanya satu kebetulan. Tapi bagiku sekali tepuk dua lalat mati" ucapnya sambil tertawa hebat. Dan hal itu membuatku bergidik.


"Bagiku kau mati karena bersengkokol dengan kakak mu, atau karena hal lain itu sama saja. Karena sesungguhnya aku mengharapkan mu mati saat ini juga?" ucapnya sambil melayangkan beberapa pukulan kepadaku. Tak ayal lagi aku menjadi bulan-bulanannya.


Berteriak kak Noah atas perlakuan tersebut. "Cukup...! Jangan sakiti adik ku. Aku akan mengatakannya" ucap kak Noah. "Tidak...! Jangan, Kak. Kakak sudah mempertaruhkan nyawa untuk menjaganya. Jangan karena aku, kakak menjadi pengkhianat negara. Aku tidak izinkan, Kak.." teriakku sambil berurai kata dan menerima beberapa pukulan lagi pada tubuhku.


"Cukup...!" ucap seorang laki-laki dari ambang pintu. "Kau melewati batas, Anita.." ucapnya lagi. Dan aku tentu saja mengenal empunya suara itu. "Mirza..." teriak Anita sedikit terkejut.


"Lancang...!" ucap kak Mirza melayangkan sebuah tamparan pada wajah Anita. "Tak Sudi namaku kau sebut, bahkan dalam tidur mu sekalipun!" ucap kak Mirza geram. "Aku memang mencintaimu, Mirza. Tapi itu dahulu. Kini cinta itu telah berubah jadi dendam. Aku membencinu, Mirza..." ucapnya sambil terkekeh dan berlalu cepat.


"Ow...tuan Mirza, kita bertemu lagi. Urusan kita ternyata menjadi panjang" ucap seorang laki-laki yang langsung menyerang kak Mirza. Tak terelakkan lagi baku hantam pun terjadi dengan hebat. Dua lawan satu. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Kak Noah, mataku langsung tertuju padanya. Ia lunglai terduduk pada kursi. Ia pun masih terikat pada kursinya itu.


"Kak Noah..." ucapku. Entah kekuatan darimana aku memulai langkah dan mendekati kak Noah. Satu, dua, tiga, empat....bahkan sepuluh langkah berhasil aku lakukan. Walau dengan sedikit tertatih tapi aku berhasil melakukannya. Dan lagi-lagi aku harus kecewa. Tersisa beberapa langkah lagi mencapai kak Noah, aku limbung. Tubuhku terhuyung dan hampir saja jatuh. Beruntung kak Keanu berhasil menopang tubuhku. Namun ternyata bukan hanya kak Keanu, tapi juga kak Mirza. Bertatapan keduanya karena sama-sama menopang tubuhku.


"Kak Noah...!" teriakku yang berhasil membuyarkan lamunan keduanya. Segera ku lingkarakan tanganku pada kak Keanu. Dan hal tersebut tentu membuat kak Mirza sedikit kecewa. Hal itu terlihat jelas diujung tatapannya.


"Kak, bangun kak. Bangun..." ucapku sambil menggugah tubuhnya. Berulangkali aku melakukannya. Namun tiada jawaban. Aku histeris. Melihat keadaannya kini, amatlah wajar jika terjadi hal serius kepadanya. "Fara..." ucapnya ketika tubuhnya sudah terlepas dari ikatan. "Kak..." ucapku sambil memeluknya. "Tak bisakah kita pulang saja. Aku lapar.." ucapnya yang membuat kami tertegun. "Astaga, Noah... bisa-bisanya masih memikirkan makanan" ucap kak Keanu sambil memukul lengan kak Noah. "Sakit, Kak..." ucapnya yang kemudian diikuti dengan tawa yang sedikit saja.


Dasar semprul....

__ADS_1


To Be Continued...


__ADS_2