
Ku ayunkan tongkat kesana-kemari menuju pintu yang sepertinya terbuka. Dan langkah ku terhenti saat terdengar suara percakapan. Aku yakin itu antara dokter Faaz dengan seorang perempuan. Hm, siapakah perempuan itu. Karena seingat ku belum pernah sekali pun dokter Faaz membawa seorang perempuan ke rumah selama aku di sini.
"Sampai kapan perempuan itu di sini?! ucap perempuan itu.
Deg.
Perempuan? Apakah yang dimaksud adalah aku? "Jika kau masih mempertahankan dia, maka ini menjadi sebuah bukti bahwa kau menyimpan perempuan lain di rumah ini! Dan aku tidak Sudi kau duakan.." ucap perempuan itu dengan lantang. "Aku tidak pernah menduakan mu. Fara itu amanat sahabat ku. Maka aku harus menjaganya seperti yang diajarkan Keanu.." ucap dokter Faaz tenang.
"Kau mempertaruhkan rencana pernikahan kita, Mas. Dan sekarang aku makin curiga. Jangan-jangan anak yang dikandung, anak mu..." ucap perempuan itu bernada sinis. "Jaga bicaramu, Karina...!" ucap dokter Faaz dengan sedikit berang. "Apa...!" kau ingin melayangkan tanganmu? Belum menikah saja kau berani ringan tangan padaku? Ini semua karena perempuan itu..!" ucap perempuan itu yang akhirnya ku ketahui bernama Karina.
Deg.
Berdesir darahku mendengar tuduhan tak berarti itu. Air mataku hampir jatuh. Tak terasa sebelah tanganku memegang erat lengan Aiman yang sejak tadi berdiri tak jauh dari ku.
"Tidak demikian, sayang..." ucap dokter Faaz berusaha melunak. "Cukup...! Jika kau terus mempertahankannya, aku akan pergi. Batalkan saja rencana pernikahan kita...!" ucap Karina lagi.
"Maaf..." ucapku sedikit pilu. "Fara...?" ucap dokter Faaz. Jelas dari nada suara nya, dokter Faaz terkejut akan kehadiranku. "Maaf, jika kehadiranku menjadi sumbu pertengkaran diantara kalian. Sungguh aku tidak bermaksud demikian" ucap ku sedikit bergetar. "Nona Karina tidak perlu khawatir. Dokter Faaz orang baik. Beliau tidak mungkin melakukan hal-hal seperti yang dituduhkan. Yakinlah..." ucapku dengan suara makin bergetar karena menahan tangis.
"Sekali lagi maaf..." ucapku sambil berlalu dengan langkah cepat. Tanganku pun sibuk mengayun kesana-kemari. "Aku ingin sendiri, kak Aiman..." ucapku dengan tangan berisyarat mencegah langkah Aiman. "Tapi Fara..." ucapnya. "Aku baik-baik saja, Kak. Aku hanya ingin sendiri" ucapku lagi sesaat sebelum melanjutkan langkahku.
Entah pukul berapa saat ini. Karena tiktok jam belum lagi memberitahuku. Yang ku tahu hanya perasaan pilu di hati ini. Kemudian ku tutup pintu kamar rapat-rapat. Ku sandarkan tubuh pada pintu yang tertutup sambil mengurai tangis. Hanya lirih saja suaranya. Aku khawatir isi rumah mengetahui kegundahan ku.
Kemudian aku memilih duduk pada tepian tempat tidur. Aku terdiam. Sesekali aku menghela nafas berat. Saat ini fikiranku tengah mengembara, merajut beberapa keping kenangan selama perjalanan hidup ku beberapa tahun terakhir. Dan pada sebuah keping kenangan, aku menjadi sadar. Ini tentang keberanian, ketegaran dan kemandirian saat cobaan mendera. Dan aku sudah pernah melaluinya. Mengapa aku jadi ragu? Ayolah Fara yakinlah bahwa ujian saat ini juga pastilah dapat kulalui sama seperti ujian sebelum-sebelumnya.
Mengingat peristiwa barusan. Pengembaraan ku menjadi samar. Ini sebuah kenyataan bahwa aku harus mengambil keputusan. Aku tidak ingin menjadi penyebab pertengkaran diantara dokter Faaz dan Karina. Apalagi saat menjelang rencana pernikahan keduanya. Ya, Robby...kuatkan hamba.
Tiktok jam dinding memberitahuku bahwa saat ini pukul empat. Dan sudah kuputuskan bahwa aku akan ngalih. Aku akan meninggalkan rumah dokter Faaz. Demi kebaikan semua. Tapi yang menjadi fikiranku saat ini adalah tujuanku. Kemana? Akhirnya pada titik ini aku terdiam. Tanpa kata, tanpa pengembaraan fikir. Hanya diam.
Tok.
Tok.
__ADS_1
Tok.
"Siapa...?" tanyaku. "Faaz..." suara dibalik pintu. "Tidak dikunci, Kak..." ucapku sambil menyusut air mataku. Ku dengar derit pintu dibuka. Sesaat kemudian langkah pun terdengar dan terhenti di hadapan ku. Dan sepertinya dokter Faaz berdiri dekat jendela.
"Ada apa, Kak...?" tanyaku sambil menarik bantal dan meletakkan pada pangkuanku. Ku dengar Faaz menghela nafas panjang. Sepertinya ada gundah di hatinya.
"Aku...Em, aku meminta maaf atas nama Karina. Tidak semestinya ia berkata demikian" ucap dokter Faaz. "Tidak apa-apa, Kak. Fara mengerti. Dan memang semestinya Fara tidak memanfaatkan kebaikan kak Faaz dengan berlama-lama tinggal di sini" ucapku sambil berusaha tersenyum. "Tidak. Jangan pernah berfikir kau memanfaatkan ku. Sama sekali tidak. Aku hanya memenuhi permintaan Keanu. Permintaan terakhirnya. Kau sudah diamanatkan Keanu kepadaku. Aku harus memenuhinya" ucap dokter Faaz penuh perasaan.
"Terima kasih karena kakak sudah memenuhi amanat itu. Sudah enam bulan lebih aku menerima kebaikan kakak. Dan kakak pun sudah memenuhi janji kakak pada kak Keanu. Dan demi kebaikan bersama, Fara memutuskan untuk menempati rumah lama Fara" ucapku sambil menyimpan wajah di ujung pangkuanku.
"Aku tidak memintamu pergi, Fara. Aku hanya butuh waktu menjelaskan situasi ini pada Karina. Aku yakin dia bisa mengerti" ucap dokter Faaz.
"Kak...janji kakak masih bisa dipenuhi kok. Walaupun Fara tidak di sini. Kakak kan masih bisa menjenguk sewaktu-waktu. Itu pun harus seizin mbak Karina" ucapku sambil terkekeh.
Sekali lagi ku dengar dokter Faaz menghela nafas. Kemudian ia terdiam. Lama tiada kata yang meluncur dari bibirnya. Apa yang kau fikirkan, Kak? aku membatin.
"Bisakah Aiman menyertaimu? Jadi sewaktu-waktu aku bisa mengetahui kondisimu" ucap dokter Faaz. Aku tersenyum memalingkan wajah dimana ia berada.
"Mbok saja yang menyertai non Fara, Tuan dokter" ucap mbok Nah yang tiba-tiba saja berada di dalam. Dokter Faaz terkekeh mendengar ucapan si mbok. "Lalu saya bagaimana?" ucap dokter Faaz yang masih terkekeh. "Kan nanti ada non Karina, istri tuan dokter..." ucap mbok Jum sekenanya.
"Non, bener. Mbok sama non aja yach. Di sini mbok jadi ngeri" ucap mbok Jum sambil mengusap lenganku. "Kenapa mbok? Bukannya mbok sudah lama di sini? ucapku sambil mengambil lengannya dan bergelayut.
Mbok Jum terkekeh kecil. "Sebentar lagi kan tuan dokter menikah. Nah, non Karina itu galak. Kemarin saja mbok dimaki-maki. Iih, serem.." ucap mbok Jum. Aku justru terkekeh mendengarnya. "Pokoknya mbok ikut non Fara aja, ya..." ucap mbok Jum.
"Jadi sedang merencanakan kudeta, mbok...?" ucap seorang laki-laki. Dari suaranya aku tahu itu Aiman. "Ah, den Aiman ini ada-ada saja" ucap mbok Jum saambil berpamit dan berlalu meninggalkan aku dan Aiman.
Berdiri aku dekat jendela. Aku kembali merasakan bisik sang bayu pada dedaunan agar ikhlas luruh bersama hembusannya. "Kak Aiman ada apa menemuiku?" ucapku sambil merapikan tirai jendela yang melayang membelai wajahku. "Aku baru berbincang dengan dokter Faaz tentang niat mu meninggalkan rumah ini. Dan aku pikir, aku bisa membantumu" ucap Aiman terkesan berhati-hati.
Lagi-lagi aku tersenyum sambil merasakan belaian sang Bayu yang baru saja menyapaku. "Membantu bagaimana lagi? Bukankah kakak sudah banyak membantu" ucapku sekenanya. "Em, aku punya rumah kecil. Agak jauh dari keramaian. Kalau Fara berkenan, aku akan mengantarmu dan mbok Jum mungkin" ucap Aiman yang diakhiri dengan kekehnya.
"Siapa sebenarnya kak Aiman ini?" tanyaku sekenanya saja. "Apa maksud Fara...?" jawab Aiman gagu. "Kakak begitu baik...Bagaimana Fara membalasnya?"ucapku. "Orang baik tidak meminta balasan..." ucap Aiman sambil tertawa kecil. Kemudian aku mendengar langkah kakinya menjauh. Juga derit pintu yang terdengar ditutup.
__ADS_1
Aku kembali terdiam. Kali ini fikiranku benar-benar kembali mengembara. Ada banyak keping kenangan berseliweran silih berganti. Setiap kepingnya mewakili satu peristiwa dan seulas wajah. Mendadak aku mendapati sosok-sosok yang amat ku rindu selama ini, yaitu Amah, Ayah, nenek, mami Vira dan kak Keanu tentu saja. Hati ku jadi gerimis saat mengingatnya. Ya, Robby... Begitu batinku sambil mengusap lembut perutku yang makin membesar. Di situasiku seperti saat ini, rasanya tidak mudah untuk menjalani kehidupan ku nanti terutama saat anakku lahir. Tapi aku yakin Allah akan memudahkan jalan hidupku. Semuanya aku serahkan pada-Mu, ya...Robby.
"Dasar perempuan penjilat...!" ucap seorang perempuan sambil membuka pintu dengan kasar. Aku tersentak dan memutar wajah ke arah pintu. Dari langkahnya, aku tahu ia tengah mendatangiku.
Plak...!
Dia menyarangkan tamparan ke wajahku. Bukan hanya sekali tapi beberapa kali. Tak pelak lagi semua tamparan itu tepat mengenai wajahku, tanpa sedikit pun aku dapat menghindarinya. Aku berontak saat tubuhnya mulai menindihku. Aku khawatir dengan bayi di perutku saat ini.
"Perempuan kurang ajar..." ucap Karina sambil terus memukul ku. Sekuat tenaga aku menangkis atau menahan pukulannya namun hanya beberapa saja yang bisa aku tahan, selebihnya tepat bersarang di beberapa bagian tubuhku. Leluasa ia melakukannya karena ketidakberdayaanku saat ini. "Ya, Robby...tolong aku" ucapku sambil terus berusaha melindungi perutku dari amuknya yang kian menjadi. Aku meringkukkan tubuh demi melindungi bayi dalam perut ku.
"Karina...!" ucap dokter Faaz yang tiba-tiba saja sudah berada dalam kamar. Sebentar saja ada sedikit tolakan pada tubuhku sehingga melonggar himpitan Karina pada tubuh ku. Perlahan ia surut dari atas tubuhku.
"Apa yang kau lakukan Karina..?! Sungguh memalukan perbuatan mu ini..!" ucap dokter Faaz geram yang dibarengi dengan langkah cepat Karina diikuti langkah dokter Faaz. Keduanya berlalu begitu saja, meninggalkanku terisak. Perih ku rasa dibeberapa bagian tubuhku. Tapi hati ku yang paling merasakan perihnya, hingga gerimis pun mulai memenuhinya.
"Ya, Allah...! Non Fara...!" ucap mbok Jum sambil memelukku yang masih terisak. "Kita pergi sekarang, Mbok...Aku sudah merasa tidak nyaman. Ini juga demi kebaikan dokter Faaz dan semua" ucapku lirih. "Tidak berperasaan sekali non Karina itu. Tega sekali..." ucap mbok Jum. Tak berapa lama aku mendengar suara langkah. Langkah yang begitu tergesa. Langkah yang sama. Langkah mondar-mandir.
"Kita pergi sekarang, Fara" ucap Aiman dengan nafas memburu. Ada kekesalan dan kekecewaan di hembusan nafasnya yang memburu itu. "Fara...berhentilah menangis. Kita bersiaplah. Kita pergi sekarang...!" ucap Aiman sambil mengguncang tubuh ku yang masih tertegun. Fikiranku masih mengembara entah kemana. Aku ikut saja saat tanganku di tarik Aiman hingga keluar rumah.
"Non..." ucap mbok Jum saat aku duduk dalam mobil. Ternyata ia mewujudkan ucapannya, menyertaiku. "Kemana, Kak...?" tanyaku saat ku dengar pintu depan mobil tertutup. "Tempat yang nyaman..." ucap Aiman singkat. "Tak bisakah aku menemui dokter Faaz dahulu?" tanyaku. "Bukan sekarang Fara..." ucap Aiman. Ku dengar deru panjang mobil membelah kesunyian. Kata mbok Jum saat ini pukul sepuluh malam. Pantas saja hawa dingin sempat menyergap saat di halaman rumah tadi.
Deru mobil terus melaju. Entah kemana. Kegelapan ini membuatku tak mampu mengurai kata panjang. Bahkan sekedar menggambarkan bagaimana rasaku saat ini pun, aku tak mampu. Hanya untaian doa memohon pertolongan kepada sang Kholik yang masih sanggup aku munajatkan ditengah hatiku yang gerimis.
"Non..." ucap mbok Jum sambil mengguncang lenganku. Aku terkesiap. Rupanya aku tertidur. Entah berapa lama. "Sudah sampai, Non..." ucap mbok Jum Setengah berbisik. Aku pun langsung mengusap wajah dan membetulkan posisi duduk.
Kaki ku langsung merasakan rumput tebal saat turun dari mobil. Suasana begitu hening. Menurut mbok Jum saat ini pukul sebelas lewat tiga puluh menit. Artinya cukup jauh aku meninggalkan rumah dokter Faaz, kira-kira satu setengah jam perjalanan. "Bagaimana rumahnya?" bisikku pada mbok Jum sambil merapatkan baju hangat karena hawa dingin yang kembali menyergap tubuhku. "Bagus, bersih, asri. Rumah berlantai satu, halamannya luas dengan rumput hijau tebal seperti di rumah tuan dokter" ucap mbok Jum menggambarkan situasi sekitar rumah.
Tok.
Tok.
Tok.
__ADS_1
Suara pintu di ketuk. Tak lama ku dengar derit pintu di buka. "Tuan Mir...." seorang perempuan menyapa, tapi mengapa ia menghentikan ucapannya. "Tuan Mister Aiman..." ucapnya. "Ya, Bu. Maaf kemalaman. Oya, ini non Fara. Ia akan tinggal di rumah ini. Mohon di bantu segala kebutuhannya. Ini mbok Jum" ucap Aiman mengenalkan. "Nah, Fara beliau ini Bu An..." ucap Aiman yang sedikit terjeda. "Tepatnya Bu Ainun. Tapi saya memanggilnya Bu An, agar lebih singkat. Bu An yang merapikan dan menjaga rumah ini. Jika ada apa-apa minta saja pada bu An" ucap Aiman.
"Mari non Fara saya antar ke kamar" ucap Bu An dengan suara bergetar. Aku tertegun sesaat mendengar warna suara Bu An. Suara yang sangat familier di telinga ku. Ah, tapi di kondisiku saat ini hampir semua warna suara sama. Jangan berfikiran macam-macam, Fara. Aku membatin. Tapi...