
Langakhku surut beberapa langkah menjauhi Keenan. "Fara...Fara...!" ucap Keenan berupaya meraihku. "Aku tidak ingin menikah dengan mu, Keenan. Kau laki-laki tak punya hati. Kau egois, kau tega melakukan penculikan anak kakak mu sendiri. Sungguh menyedihkan kau Keenan..." ucapku dengan suara bergetar karena tangis yang sudah tak sanggup ku tahan lagi.
"Aku melakukannya karena aku mencintaimu, Fara. Fara...!" ucap Keenan setengah teriak karena aku langsung berlalu. "Berhenti, Fara...!" teriak Keenan dengan lantang berbarengan dengan suara desing peluru. Aku tersentak. Bahkan tak sedikit tamu yang hadir histeris mendengarnya. "Berhentilah, Fara. Dan kembali pada kursi mu. Jika tidak, maka peluru selanjutnya akan bersarang di tubuh mu..." acam Keenan sambil memuntahkan kembali butir peluru. Suaranya begitu memekakkan telinga.
"Akh..." teriakku. Tangan kanan ku langsung memegang lengan kiri ku yang terasa menghangat. "Fara...!" teriak mama Wina saat melihatku mengaduh.
"Bukan ini yang ku inginkan, Fara. Aku hanya ingin membahagiakanmu" ucap Keenan. Ia tampak kacau. Sikapnya benar-benar menunjukkan kegamangan. Terutama saat melihat beberapa orang bertubuh tegap menghampiri lokasi dan bersikap begitu waspada.
"Apa yang kau lakukan, Keenan...!" ucap mama histeris. "Aku sungguh tidak tahu, Ma. Bukan seperti ini rencana Keenan" ucap Keenan makin gamang dan penuh kerikuhan.
"Kau ingin kehilangan anak mu selama-lamanya, Fara?" ucap Keenan kemudian. Ia makin kacau. Ku lihat tangannya sigap mengotak-atik ponsel. Aku yakin ia tengah menghubungi seseorang. Berulangkali ia mencobanya, namun gagal. Dan hal tersebut tentu saja membuatnya makin kacau. Ku rasa ia belum mengetahui jika Rafan kini sudah aman.
__ADS_1
"Semua sudah berakhir, Keenan. Hentikan semua ini. Kau tak dapat memaksakan kehendak mu" ucap kak Mirza dengan sikap waspada. "Ow...Tuan Mirza" ucap Keenan sambil terkekeh. Namun dari sikap yang ia tunjukkan terlihat sekali jika ia begitu kacau.
Sementara itu aku mengaduh menahan perih karena luka di lenganku. "Fara..." ucap Kenan yang berjarak hanya beberapa langkah saja. Entah bagaimana, tiba-tiba saja Keenan telah mendekapku. Tangannya begitu kuat mencengkram leherku. Ia menjadikanku tameng. Melihat situasi tersebut, semua menjadi panik. Terutama kak Mirza dan mama Wina. "Maafkan aku, Fara. Aku mencintaimu. Tapi jika situasi ini tidak menguntungkan ku, maka terpaksa aku memanfaatkanmu" ucap Keenan sambil membawaku paksa menjauh dari ruangan.
Aku turut panik, terutama saat ditodong senjata api seperti ini. Hilang taktik ku bahkan jurus-jurus ku pun melemah dan menjadi samar. "Satu gerakan saja yang dapat menyudutkanku, maka tak segan-segan aku pastikan pistol ini meletup ke kepala Fara" ancam Keenan. Entah mengapa ia sanggup berlaku demikian.
Langkah ku begitu rikuh mengikuti langkah cepat Keenan. Aku berusaha berontak di bawah ancaman Keenan. Dan hal tersebut menjadi sia-sia saat ia kembali menodongkan pistolnya ke kepala ku. Aku kecut. Tak ada jalan lain, selain menuruti segala keinginannya untuk saat ini sambil mencari sela untuk melepaskan diri.
Kemudian Keenan menolak keras tubuhku hingga jatuh tersungkur. Aku mengaduh hebat atas perlakuannya tersebut. Sementara itu Keeann berhasil melarikan diri dengan mengendarai mobil sport berwarna hitam miliknya. Aku menatap kepergiannya hingga menghilang di ujung jalan yang tampak panjang. Ada sebuah kelegaan sesaat menatap kepergiannya itu.
Tak lama kemudian, aku terhenyak. Sebuah ingatan menyadarkan ku. "Rafan...!" ucapku menatapnya. Kak Mirza pun tersenyum membalas menatapku. "Rafan aman, Fara..." ucap kak Mirza sumringah sambil mengusap pucuk kepalaku. Namun belum lagi hilang bahagia di wajah, Azam datang menghampiri. Langkahnya begitu cepat, menyusul di belakangkan Bribda Selvi dan seorang lainnya. Tampak wajah Azam menampakkan kekhawatiran. Nafasnya sedikit memburu karena langkah cepatnya.
__ADS_1
Azam menatapku. Tangannya menyodorkan secarik kertas berwarna putih. "Maafkan saya, Non..." ucap Azam dengan lirih. Ada sesal di ujung tatapannya. Melihat Azam, timbul tanya besar menelusup dalam relung hati. Dengan tangan sedikit gemetar, aku meraih kertas tersebut. Fikiranku pun sempat mengembara sejenak, menerka hal yang tengah terjadi. "Fara..." ucap kak Mirza yang berhasil mengembalikan kesadaran ku. Tipis saja aku tersenyum menatapnya sambil berusaha memenangkan kegelisahan yang ada.
Perlahan aku mengamati deretan huruf yang tertera pada lembar kertas. Bersamaan dengan hembusan sang Bayu yang selalu berhasil menggoyangkan dedaunan atau pun meliukkan batang pohon seakan membentuk iringan tarian nan cantik. Sementara itu semilirnya juga sempat menerbangkan ujung kerudungku. Pun demikian ternyata tak sanggup mengalihkan perhatian ku pada deretan huruf yang semakin membuatku penasaran. Beriring dengan irama degup jantung yang bertalu aku mulai memaknai setiap katanya.
"***Maafkan mama, Fara. Melihat situasi yang ada mama sangat mengkhawatirkan Rafan. Mama tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Rafan. Karena itu mama membawa Rafan untuk sementara waktu.
Jika situasi sudah lebih baik, mama akan mempertemukan Rafan kembali. Percayakan Rafan pada mama dan kedua asisten mu itu, mbak Min dan Bu An. Kami akan menjaga Rafan sebaik-baiknya.
Fara...lanjutkan hidupmu. Hidupmu sungguhlah berharga. Menikahlah***..."
"Mama..." teriakku tertahan. Hanya bulir air mata yang kembali berjatuhan pada pangkuanku, membasahi ujung lembar kertas putih di tanganku. Aku sungguh tak mengerti maksud sebenarnya mama. Mengapa mama melakukan ini semua. Seharusnya ia membincangkannya terlebih dahulu dengan ku. "Ya, Robby...aku tak meminta lebih. Aku hanya ingin anakku. Aku mohon ya, Robby..." ucapku dalam hati sambil berusaha menyusut air mata. Namun apa daya, tangis ku ternyata begitu sulit di tuntaskan karena keinginan yang tak terwujud.
__ADS_1
"Ada apa, Fara..." tanya kak Mirza. Tangannya langsung menarik kertas yang ada di tanganku. Ia membacanya sejenak lalu terduduk lesu di sebelahku. Kedua lengannya menopang pada kedua pahanya. Sesekali tangannya mengusap wajahnya sedikit kasar.
Sang Bayu kembali menerbangkan ujung kerudungku dan membasuh wajahku yang masih basah oleh air mata. Rasa ku semakin kacau. Dan tiada sadar, bahu kak Mirza menjadi sandaran kepala ku. Lama aku berlaku demikian. Pun demikian, kak Mirza membiarkan perlakuanku tersebut. Dia hanya Diam. Benar-benar tanpa kata. Sesekali aku merasakan helaan nafas panjangnya.