
"Aku harap kedatanganku tidak membawa masalah bagi mu, Nyonya..." ucap Satria sambil menyusut air mata yang sejak tadi menghujani sebagian wajahnya. Kepiluan dan penyesalannya benar-benar telah menggelitik sisi melankolisnya. Aku menatapnya sambil menggeleng perlahan. "Tidak sama sekali, Kak" ucapku pilu.
"Dan aku sudah mengetahui bagaimana perpanjangan cerita itu, Kak. Dan kini kak Keanu benar-benar telah menjadi kenangan terindah dalam hidupku. Ow, bukan kenangan, tapi cerita terindah. Karena bagian dirinya kini ada pada ku. Aku mendapatkan kembali penglihatanku berkat kak Keanu. Ia yang memberikan kedua matanya kepadaku" ucapku sendu penuh pilu.
Ku lihat wajah Satria yang sedikit terkejut dan gagal ia sembunyikan. "Darimana nyonya mengetahuinya? Bukankah itu hanya menjadi rahasia diantara kami saja?" ucap Satria dengan wajah terkesima. "Jangan meremehkan ku, Kak. Aku kan istri dari seorang perwira yang banyak diincar penjahat kelas kakap..." ucapku terkekeh yang nyatanya tetap terasa garing karena pilu yang kembali bergelayut di ujung hati. "Nyonya..." ucap Satria yang menatap ku.
"Lalu apa rencana mu selanjutnya, Kak?" tanyaku setengah menyelidik. "Entahlah..." jawab singkat Satria sambil mengangkat bahu dengan lesu. Ia pun tampak menghela nafas berat.
"Menikahlah, Kak. Berkeluarga lah...Hiduplah bahagia" ucapku sambil tersenyum tipis dan menatapnya. Lagi-lagi ku lihat ia menghela nafas panjang dan begitu berat. Matanya tampak menerawang jauh. Entah kemana.
"Jika berkenan saya ingin melanjutkan amanat tuan Keanu..." ucapnya kemudian mengakhiri diamnya. "Amanat apa, Kak...?" tanyaku sambil menatapnya penasaran. Sementara tanganku mulai memainkan ujung kerudungku, tanda kegamangan mulai menghinggapi jiwa. "Menjaga nyonya Fara..." ucapnya.
Deg.
Aku terdiam. Pilinan pada ujung kerudungku pun semakin menjadi. "Menjaga bagaimana, Kak?" tanyaku mencoba polos. "Seperti dahulu. Saya siap menyerahkan nyawa demi keselamatan nyonya. Saya dan Azam..." ucapnya yakin. "Azam...? Darimana kakak tahu tentang Azam?" tanyaku. "Dia adik ku, Nyonya..." ucap Satria. Aku terdiam. Sungguh di luar dugaan. Bagaimana bisa? Aku membatin.
"Azam memanglah atas perintah tuan Mirza untuk menjaga Nyonya. Karena Azam bekerja pada tuan Mirza. Tapi sejauh ini adalah suatu kebenaran bahwa ia masih memiliki aliran darah yang sama dengan ku karena ia adalah adik kandungku" ucapnya panjang. Astaga....aku benar-benar tepok jidat atas apa yang ku dengar barusan. Aku masih terdiam mencoba mempertimbangkan tawaran Satria yang baru saja ia sampaikan.
"Baiklah..." ucapku kemudian di ujung gamang ku. "Tapi saya akan samar. Antara ada dan tiada. Maksud saya penjagaan secara diam-diam. Hanya nyonya dan Azam saja yang mengetahui tentang keberadaan saya" ucapnya sesaat sebelum berlalu. Bahkan kata setuju ku pun belum terlontar dari bibir ini. Astaga...dasar orang aneh. Gerutuku.
"Baiklah..." ucapku kemudian walau wajah tak lagi dapat ku lihat. Hanya punggung kekarnya saja yang masih ku tatapi hingga hilang di balik dinding ruangan ku.
"Fiuh..." dengusku sesaat setelah menghela nafas panjang. Ku pejamkan kembali mataku. Aku mencoba memaknai setiap peristiwa yang kualami. Hingga pada kesimpulan akhirmu, bahwa semua sudah menjadi takdir yang harus aku jalani. Dan hanya dengan sabar, ikhlas dan kekuatan doa aku akan mampu melaluinya.
"Nyonya..." ucap Azam yang berdiri di ambang pintu. Pada tangannya terdapat sebuah amplop berwarna putih. Langkahnya menjadi tergesa saat memasuki ruangan. "Saya baru saja menerimanya. Seorang kurir mengirimnya" ucap Azam sambil menyodorkan amplop berwarna putih tersebut.
__ADS_1
Sesaat aku menilik amplop. Sebuah nama tertera di atasnya. "Olivia Faradilla Permana. Cafe Seroja..." gumamku membaca tulisan pada amplop. Ku bolak balik amplop tersebut dengan harapan dapat ku temukan pengirimnya. Namun nihil, selain namaku tak kujumpai lagi keterangan lainnya. Bahkan inisial pun tidak.
Sedikit ragu, aku pun membuka amplop berwarna putih tersebut. Ada desir aneh saat mengetahui nama pengirim yang tertera di bawah surat. "Keenan...." ucapku terkejut menatap nama yang tertera. "Keenan...?" ucap Azam mengulangi. "Adik laki-laki kak Keanu. Em, dari ayah yang berbeda" ucapku sedikit menjelaskan. Dan Azam pun meng-o singkat sambil mengangguk perlahan.
Dear Fara, kakak ipar ku...
*Sudah sejak pertama kali kita bertemu atau sebelum kak Keanu menyadari bahwa kau adalah gadis yang ia cari selama ini, aku sungguh telah jatuh hati padamu.
Aku sungguh-sungguh mencintaimu...
Biarkan aku menggantikan kak Keanu untuk menjaga dan menjadi sandaran mu*.
Sudah lama aku tidak dapat menemukanmu, karena mau menghilag bak ditelan bumi. Barulah beberapa waktu lalu aku mengetahui keberadaan mu dari media sosial seorang teman yang memuji cafe mu. Di sana kulihat wajahmu terpajang samar. Pun demikian aku tahu jika itu adalah kamu, Fara. Perempuan yang amat ku cintai...
Aku merindukanmu... Sungguh merindukanmu.
Oya, kau pasti enggan menemuiku, Fara.Tapi aku tidak bodoh seperti kak Keanu. Sebagai jaminan nya, jika kau tidak menghubungi atau menemui ku dalam 1x24 jam maka rahasiaku akan ku bongkar kepada mama. Kau kira aku tidak tahu jika diam-diam kau menemui Rafan, anak laki-laki mu itu? Hah... Dan kedua asisten mu itu akan hengkang dari rumah, sehingga kau tak dapat lagi menemui atau pun mengetahui kabar tentang anak laki-laki mu itu.
*Jika ingin semua baik-baik saja, maka segera temui aku...
Hubungi aku pada 08xx xxxx xxxx
Yang selalu mencintaimu,
Keenan*
__ADS_1
Gila....! Kegilaan macam apa lagi ini. Aku membatin. Sementara sebelah tanganku meremas kesal kertas kiriman Keenan tersebut. "Tak tahu malu..." ucapku geram kemudian membuangnya sembarang saja. "Huh.... bisa-bisanya ia berlaku demikian. Apa dia fikir aku akan mengikuti keinginannya?" ucapku benar-benar geram.
Brak...!
Meja pun menjadi sasaran amuk ku. Ku gebrak meja hingga berserakan apa yang ada di atasnya. Melihat polahku, Azam terdiam. Hanya matanya saja yang sesekali menatapku khawatir. Ku usap wajahku sedikit kasar sekedar menetralisir kekesalan hati yang kian membuncah.
Tok.
Tok.
Tok.
Lagi-lagi pintu diketuk. Dan tak lama Sonia menyembulkan wajah cantiknya dari balik pintu. "Kak, ada tamu lagi. Namanya Keenan" ucap Sonia yang membuatku membulatkan mata dan mengedarkan tatapanku pada Azam yang masih tegak berdiri tak jauh dari tempat ku berada.
"Nyonya...?" ucap Azam sedikit khawatir. Aku kacau. Ingin rasanya ku labrak ia dan ku caci maki habis-habisan. Namun alangkah tidak elegannya perilaku ku tersebut. Lalu aku harus bagaimana? Aku terdiam. Ingatanku kembali menyusuri lorong kenangan dan mencari sosok Keenan, adik laki-laki kak Keanu. Dan sungguh aku merasa semakin kesal saat ingatnku menyatakan sosoknya. Ah, Keenan. Cerita apa yang akan kau berikan padaku?
"Azam, tolong kau temui Keenan. Katakan aku akan menemuinya. Tapi tidak hari ini. Aku akan segera menghubunginya untuk menentukan kapan dan dimana akan menemuinya..." ucapku sambil merapikan meja yang sudah. erabtakan karena ulahku sendiri. "Baik, Nyonya..." ucap Azam sesaat sebelum berlalu. Dan ku lihat langkahnya begitu cepat karena aku tak dapat lagi menatapi punggung kekarnya walau baru saja ia meninggalkan ruangan dimana aku berada.
Pukul sembilan malam. Cafe semakin ramai. Semarak cahaya lampu hias menambah indah suasana. Terlebih saat alunan live music mengalir bak gemericik air pada muncratan air di kolam. Ah, namun ternyata semua itu tetap saja membuat hati ku tak semeriah suasana cafe. Ya, Robby...bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Tolonglah ya, Robby...
Brak...!
Tiba-tiba saja pintu ruangan di buka paksa. Pintunya telah terbuka lebar yang sebelumnya menghantam dinding ruangan berkali-kali. Berdiri sesosok laki-laki di ambang pintu. Wajahnya samar karena tertutup topi dan syal yang melilit pada lehernya. "Siapa, kau...?" tanyaku sambil berdiri.
"Kau lupa, sayang...?" ucapnya sambil melangkah dan membuka topi dan syal. Setengah teriak aku saat menatap jelas wajahnya. "Kau...?!"
__ADS_1