
Tiga Minggu sudah berlalu. Semua ku jalani biasa-biasa saja. Tiada yang istimewa. Tak seperti biasanya yang selalu meng-up and down seluruh rasa dalam hidupku. Dan senyum ku pun kini sudah mulai mengembang, pertanda bahwa aku sudah baik-baik saja. Bahkan gerimis yang selalu menduduki hati ku pun kini mulai memudar. Semua telah berganti dengan keikhlasan. Ikhlas atas kepergian kak Keanu, suami tampan ku itu. Ya...rasa itu kini sudah bermekaran dan mendiami segala relung hati. Bukan melupakan, tapi belajar menyadari. Menyadari bahwa segala yang bernyawa pasti akan mati, yang datang suatu saat pun pasti akan pergi.
Hah...aku menghela nafas panjang dan menghembuskan sedikit cepat. Ada sebuah kelegaan yang terlukis disini. Aku tersenyum pertanda aku tengah baik-baik saja dan aku bahagia.
"Ya, Mbok. Ada apa?" ucapku saat mendapatinya tengah menatapku sambil tersenyum. "Tidak apa-apa, Non. Mbok hanya senang melihat senyum di wajah, Non. Senyum yang bahagia Sepertinya" ucap mbok Jum. "Ah, mbok. Semestinya sudah sejak lama aku harus nya berbahagia" ucapku sambil tertawa kecil. "Saat itu kan wajar jika Non Fara bersedih. Mengingat tuan Keanu adalah sosok suami yang baik dan penyayang" ucap mbok Jum. Aku pun kembali tersenyum sambil mengangguk kecil menanggapi ucapannya tersebut.
Sementara itu aku masih setia duduk di sebuah kursi teras rumah. Mata ku menatap langit yang tampak cemerlang. Dengan bulan separuh yang menggantung dan juga taburan bintang yang selalu mengkerling genit. Ah, sempurna Tuhan menciptakan. Ini adalah kebiasaan ku bersama kak Keanu dahulu. Sejak kami kecil hingga kami menikah kebiasaan ini tak pernah hilang. Menurut kami menatap langit itu menenangkan sekaligus mengingatkan betapa kecilnya kita. Karenanya tak patut bersombong atas apa yang dimiliki.
Drrt.
Drrt.
Drrt.
Ponsel ku berpendar. Bukan hanya sekali namun berulang kali. Pun demikian, perhatianku belum teralihkan dari cemerlangnya langit. "Non..." ucap mbok Jum. Tangannya menyodorkan ponsel yang masih berpendar. Aku pun tersenyum sambil meraihnya. "Kak Mirza..." ucapku dalam hati. "Serius sekali menatap langitnya? Sampai-sampai panggilanku tak dihiraukan" ucapnya sedikit terkekeh. Aku pun tertawa kecil sambil mengedarkan mata mencari sosok kak Mirza. Hal yang mustahil jika ia tak berada di sekitarku, namun ia mengetahui apa yang tengah aku lakukan. Satu, dua, tiga langkah aku mulai mencarinya. Namun nihil dan akhirnya kembali duduk di kursi sambil terus mengedarkan mata ku.
"Hei...kakak dimana?" ucapku kemudian. "Tebak lah... Aku sangat dekat dengan mu" ucapnya di ujung telefon. "Non, den Aiman..." bisik mbok Jum sambil mengarahkan pandanganku pada sosok laki-laki yang kini berdiri tak jauh dari ku.
"Aiman...?" ucapku. Mungkin yang dimaksud mbok adalah kak Mirza. Karena sesungguhnya keduanya tiada berbeda. Kak Mirza tampak tersenyum menatapku. Wajahnya terlihat tampan dibawah pendar lampu taman. Tapi tunggu... sepertinya ada sesuatu hal yang membuatnya sedikit berbeda. Tapi apa? Aku menilik detil dari ujung kaki hingga kepalanya.
__ADS_1
"Apa kabar, Fara...?" ucapnya sambil mengurai senyum. "Kak Mirza...Tunggu dulu" ucapku sambil berisyarat dengan tangan. "Ada apa...? Hei...!" ucap kak Mirza. Kemudian aku melangkah mengitarinya sejenak. Aku mencari hal yang membuatnya tampak berbeda. "Aha...." ucapku sumringah setelah menyadari hal tersebut.
Aku berdiri menatap wajahnya. Ku lipat tanganku di depan dada. Aku sambil mengangguk-angguk kecil dan tersenyum. "Jadi tuan Mirza, setelah tiga minggu tuan menghilang...tuan merubah penampilan, tuan? Good..." ucap ku tengil sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Kak Mirza tertawa. Bahkan tawanya mampu mengisi udara malam ini yang mulai terasa dingin. "Bukankah ini permintaan mu, Fara?" ucap kak Mirza. "Oya, aku justru sudah lupa..." ucap ku seenaknya. Sementara kak Mirza tersenyum menatapku.
"Ada apa Kakak kemari?" tanyaku. "Kangen dengan istri..." ucapnya tanpa menatapku. "Kalau ngomong suka bercanda..." ucapku sambil mencubit lengannya. Ia pun mengaduh. "Sakit, sayang..." ucapnya sambil mengusap bekas cubitan ku.
"Aku tidak bercanda, Fara. Aku datang menagih janji mu. Kau akan memberi jawaban saat aku kembali dengan penampilan yang berbeda. Kau ingat...?" ucap kak Mirza sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi. "Apa yang kakak inginkan...?" tanyaku. "Sederhana. Aku ingin kau memaafkan ku, memberi ku kesempatan dan kepercayaan untuk membahagiakanmu. Aku ingin kita menikah lagi" ucap kak Mirza yang membuatku langsung menatapnya.
Deg.
Prank...!
"Maaf, Den. Maaf, Non. Mbok tidak sengaja" ucap mbok Jum gagu saat ia menjatuhkan cangkir berisi wedang jahe yang baru saja ia bawa. "Apakah Aden dan Non dahulu pernah menikah sebelumnya? Maaf jika mbok lancang..." ucap mbok Jum menatap kami bergantian.
"Ya, mbok. Ceritanya sangat panjang..." ucap kak Mirza sambil tersenyum. "Apa mbok tidak setuju jika saya melamar Fara?" ucap kak Mirza lagi yang membuat mbok rikuh karena ditanya demikian.
"Maaf, Den. Bukannya mbok tidak setuju. Mbok hanya terkejut saja mengetahui bahwa den Aiman dan non Fara sebelumnya pernah menikah" ucap mbok Jum dengan logat kedaerahannya.
__ADS_1
"Mirza, mbok. Nama saya Mirza..." ucapnya sambil tersenyum. "Tuan..." ucap Azam yang tiba-tiba saja sudah berada di dekat kami. "Hei, Zam. Bagaimana situasi aman?" ucap kak Mirza sambil menepuk bahu Azam. "Aman, Tuan. Semua terkendali. Oya, Tuan...apakah tuan ingin menginap? Jika ya, maka saya dan mbok Jum akan menyiapkan kamar untuk Tuan" ucap Azam sambil mengangguk takzim.
"Bagaimana, Fara...?" ucap kak Mirza yang langsung menatapku. Sementara aku sendiri masih terdiam. Fikiranku masih mengembara jauh. Aku tengah menimbang-nimbang apa yang baru saja kak Mirza utarakan. Lamaran...? Lagi...? Aku gamang.
"Fara...?" ucap kak Mirza yang berhasil membuyarkan lamunanku. Aku terkesiap. "Ya, Kak. Ada apa?" ucapku sambil mendamaikan rasa terkejut ku. "Haruskah aku menginap untuk mendapat jawaban mu?" ucapnya lagi. Aku menghela nafas. Lagi-lagi mata ku menatap langit yang masih berhias bulan dan bintang.
"Siapkan saja, Mbok. Sepertinya akan ada Perbincangan yang panjang malam ini" ucap kak Mirza. "Baik, Den..." ucap mbok Jum sambil mengangguk takzim dsn berlalu meninggalkan kami.
Pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Aku masih menatap langit. Merapatkan jaket yang ku pakai saat hawa dingin mulai menyergap tubuh.
"Kak..." ucapku memanggilnya. "Em..." jawab singkat kak Mirza. Matanya langsung menatapku. "Aku...Aku ragu. Apakah semua yang kakak utarakan benar-benar tulus? Atau hanya rasa belas kasihan kakak kepadaku?" ucap mengakhiri diam ku. "Aku masih Mirza yang dahulu. Mirza yang selalu mencintai mu. Entah kau dekat atau pun jauh" ucapnya. "Dengar...kita bukan dua bocah lagi. Kita sudah dewasa. Dan cinta ini bukanlah belas kasihan. Ini nyata. Bukan buatan" ucapnya penuh yakin.
"Fara menikahlah dengan ku..." ucap kak Mirza lagi. Kali ini tangannya menggenggam erat tangan. Entah kapan ia meraihnya.
Deg.
Jantungku kembali bertalu atas perlakuannya tersebut. "Aku...Aku..." ucapku gamang.
To Be Continued....
__ADS_1