Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 115. Ungkapan Cinta Keenan


__ADS_3

"Hei..." ucapnya. Sebelah tangannya menarik cepat lenganku dan mensejajarkan paksa tubuhku pada dinding. Aku terkejut atas perlakuan yang tak terduga tersebut. "Apa mau mu..!" ucapku geram. Keenan tersenyum nakal. "Dirimu..." ucapnya.


"Lancang...!" ucapku geram. Kemudian ia mencengkram kedua tanganku dan menolaknya paksa pada dinding. Hanya beberapa sentimeter saja jarak tubuhku dengannya. Dan kurang ajarnya, ia berusaha ******* bibirku. Sekuat tenaga aku berusaha menghindarinya. Dan di suatu kesempatan...


Buk....!


Keenan menyeringai menahan sakit. Antara percaya dan tidak. "Kau...." ucapnya sambil menyeringai. Seringainya menunjukkan kegeraman karena aku berhasil melancarkan serangan tepat di antara selangkanya. Tubuhnya surut beberapa langkah. Karena itu cengkraman tangannya pun terlepas. Dan ini adalah kesempatanku untuk terbebas dari Keenan.


Langkahku begitu cepat menuju anak tangga meninggalkan Keenan. Setengah berlari aku menuruni anak tangga menuju ruang tengah dimana kak Mirza dan mama Wina tengah berbincang. Melihat langkah ku yang begitu tergesa keduanya menatapku. Terutama kak Mirza. Matanya mengikuti setiap langkah ku.


"Ada apa...?" ucap kak Mirza setengah berbisik sesaat aku duduk tak jauh darinya. Aku menggeleng berat. Ekor mataku menatap ujung anak tangga. Sementara itu degup jantungku begitu bertalu seirama dengan geram yang menyelimuti hati.


"Mama minta biarkan Rafan bersama mama. Rafan adalah satu-satunya peghibur lara mama karena kepergian Keanu. Fara boleh mengunjunginya kapan pun Fara mau. Maafkan mama, Fara" ucap mama Wina sendu. Matanya sesekali menatapku dan sesekali menatap sebuah foto yang terpajang di dinding. Jelas sekali kepiluan nampak di wajah dan ujung tatapannya.


"Tak bisakah cara lain yang bisa membuat Rafan selalu berada dalam dekapan Fara, Ma?" ucapku sambil mengusap air mata yang jatuh begitu saja. Mama menghela nafas. Tatapannya kembali menerawang dan jatuh pada foto berbingkai warna silver. Aku pun turut menatapnya. Sebuah keping kenangan pun kembali terajut dalam ingatan. Kenangan bagaimana saat-saat kebersamaan dengan kak Keanu. Tawanya, kasih sayangnya, perhatiannya, keyakinannya, cara ia memperlakukanku dan semua yang ada juga telah ia lakukan semuanya benar-benar terangkai kembali. Dan hal tersebut telah menimbulkan kepiluan yang kembali mengusik serta menggoyang keikhlasan yang selama ini ku coba bangun.

__ADS_1


"Ya, Robby..." ucapku pilu sambil memainkan ujung kerudungku.


"Menikahlah dengan ku. Maka Rafan anak selalu bersama mu, Fara..." ucap seorang laki-laki tiba-tiba yang tak lain adalah Keenan. Mendengar itu lamunan ku buyar. Tatapanku langsung beralih pada.sumber suara. Tampak Keenan berdiri di tengah untaian anak tangga. "Keenan...!" ucap mama Wina lantang. Sekali lagi Keenan mengulangi ucapannya. Kali ini sambil menuruni anak tangga. Langkahnya terlihat begitu cepat dan tergesa.


"Menikah dengan ku. Bagaimana...?" ucapnya sambil duduk di sebelah ku. Begitu dekat. Bahkan sebelah tangannya merengkuh bahuku dan sebelahnya lagi memegang erat tanganku. "Keenan, jaga sikapmu..!" ucap mama Wina lantang dengan menunjukkan wajah ketidaksukaan atas polah anak laki-laki keduanya itu. Namun, Keenan tak bergeming. Matanya tetap menatapku lekat dengan senyum tipis menghiasi wajahnya. Sementara itu merah padam wajahku atas perlakuannya tersebut.


Ku tarik tanganku dengan cepat sambil beringsut menjauh. "Mama tahu kan sejak dahulu aku mencintai Fara. Sejak kali pertama pertemuan ku dengan nya. Bahkan mungkin sebelum kak Keanu belum menyadari bahwa Fara adalah gadis yang ia cari" ucap Keenan dengan sendu sambil sesekali bergantian menatap ku dan mama Wina. Aku terdiam. Ada gemuruh yang memenuhi dada. Gemuruh yang semakin menyesakkan.


Mendadak mataku menilik sikap kak Mirza yang duduk tak jauh melalui ekor mataku. Berulangkali aku melakukannya. Entah mengapa aku melakukannya. Tapi yang pasti separuh jiwa ku menyuruhku melakukannya, walau tiapa kepastian apa yang sebenarnya ku cari. Sekali lagi aku meniliknya. Dan benar saja tak ku temui kejanggalan pada sikapnya sedikitpun. Ia tampak tenang. Duduk diam. Bahkan terkesan acuh. Nafasnya turun naik begitu jelas. Aku tersenyum tipis, gemuruh di dada mereda. Hei, tapi tunggu...


Pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Aku berpamitan. Tatapan ku tak kuberi kesempatan untuk menatap Keenan. Bahkan hatiku pun benar-benar miskin penilain atas diri Keenan. Kelancangan yang telah ia perlihatkan membuatku menutup respect ku terhadapnya. Bahkan segala ucapan manisnya membuatku muak. Karena menurutku ia tak mampu menghargaiku yang sebenarnya adalah istri dari kakak laki-lakinya.


Ku kecup takzim punggung tangan mama Wina dan sekali lagi membalas pelukannya. "Kita akan bertemu lagi, Fara. Mama akan tetap berusaha terus di rumah ini menjaga Rafan dan semua kenangan yang sudah mama bawa serta. Rumah ini adalah perhentian terakhir kami, jadi Fara bisa bertemu Rafan kapan pun Fara inginkan..." ucap mama Wina saat berjalan beriringan menuju halaman rumah dimana mobil kak Mirza terparkir.


Ku lambaikan tangan sambil mengurai senyum seiring laju mobil sport silver kak Mirza. Entah mengapa ada sebagian hatiku yang terasa hampa saat meninggalkan rumah tersebut. Ah, mungkin karena di rumah itu ada Rafan. Anak laki-laki semata wayang ku.

__ADS_1


"Ada apa...?" tanya kak Mirza. Rupanya ia berhasil menangkap kegamangan ku saat ini. Aku tersenyum dan menggeleng singkat sebagai jawaban atas pertanyaannya. Ku lihat ia menghela nafas panjang dan mengurai sedikit senyum di ujung helaan nafasnya.


"Ternyata sainganku bertambah lagi..." ucapnya kemudian. Dan hal tersebut membuatku mendongakkan kepala, menatapnya. "Saingan...?" ucapku. "Ya, saingan. Saingan untuk mendapatkan mi kembali" ucapnya lagi.


Deg.


Aku terhenyak. Mataku tak bergeming dari wajahnya. Walau tiada kata yang terucap, namun dalam dada bak ada badai yang mulai berkecamuk. Gemuruhnya hampir tak terbendung. Sejenak fikiranku kembali melambung dan mengembara. Ingatanku menyasar pada ungkapan rasa yang pernah kak Mirza sampaikan kepadaku. Rasa untuk cintanya dahulu dan kini yang menurutnya masih sama timbangannya, tak pernah berubah ataupun berkurang. Tapi entahlah, hingga kini aku belum menganggapnya serius. Terlebih hatiku masihlah gerimis atas perilakunya terhadap ku dahulu.


"Sudah sampai..." ucap kak Mirza saat menghentikan laju mobil sport silver-nya. Pun demikian, aku masih enggan beranjak pada lamunanku. Hingga kak Mirza menepuk bahu ku, barulah kesadaran ku sempurna. "Maaf..." ucapku mengakhiri lamunanku.


Tapi..Hei, wait ! Aku terkesiap saat melihat sekitar yang terasa asing. "Dimana ini...?" tanyaku sambil terus menatap setiap inci bangunan di hadapanku. "Rumahku..." ucap kak Mirza santai.


Deg.


"Rumah kak Mirza...?" ucapku gagu.

__ADS_1


__ADS_2