
Seorang laki-laki berdiri membelakangi ku. Temaram lampu hanya mampu menerangi sebagian tubuh kekarnya. Ah, mengapa ada desir aneh saat aku mendapati sosok laki-laki tersebut. Dan sejenak fikiranku mengembara. Aku menduga-duga tentang siapa pemilik tubuh kekar itu. Namun nihil. Aku tak menemui sedikitpun titik terang identitasnya, walau pun ia sudah memperlihatkan wajahnya.
Ada senyum yang menghiasi wajahnya saat ia memutar tubuh. Bersamaan saat aku menyapanya gagu tadi. "Siapa, anda? Dan apa keperluan anda?" tanya ku sambil menatapnya. Aku masih menilik wajahnya di bawah temaram cahaya lampu taman.
"Tuan Keanu. Em, tuan Keanu mengirim saya untuk menjemput Nyonya" ucapnya sedikit gagu dan terkesan berhati-hati. Aku menatapnya lekat. Mencoba memaknai setiap kata yang meluncur dari bibirnya. Dan lagi-lagi desiran aneh itu menyergap sukmaku. Bermain dan menarik-narik rasa curiga ku.
"Menjemput katamu? Suami ku ada di dalam sedang tidur? Jadi tuan Keanu yang mana yang kau maksud?" ucapku berdusta. "Bukan saya yang berdusta, tapi Nyonya" ucapnya dengan mengumbar senyum. Tepatnya seringai. Sebelah tangannya menyodorkan sebuah benda. Mataku langsung menyasar pada benda tersebut.
Deg.
Desir darahku serasa terhenti saat melihat benda yang disodorkannya itu. Benar, benda itu adalah kepunyaan kak Keanu. Aku ingat betul karena aku yang telah menghadiahinya saat anniversary pernikahan kami. "Sebentar ya..." ucapku sesaat sebelum berlalu.
Langkahku begitu cepat menyusuri anak tangga yang cukup panjang. Sementara dalam fikiranku berkecamuk bermacam spekulasi tentang laki-laki yang baru saja ku temui. Merujuk pada sebersit rasa curiga, akhirnya aku memilih menghubungi Satria. Berulangkali aku menghubungi ponselnya, namun lagi-lagi nihil. Tak satu pun panggilanku disambut Satria. Ponselnya tak aktif. Hei, ada apa? Mengapa semuanya begitu serba kebetulan terasa?
"Nyonya..." ucap mbak Min sambil mengetuk pintu kamar. "Sudah ditunggu..." ucap mbak Min saat pintu kamar ku buka. Tangannya menunjuk ke arah laki-laki yang berdiri di tengah anak tangga yang mengular. Aku tersenyum menatap mbak Min dan berlalu.
Lagi-lagi langkah ku cepat mengekori laki-laki yang namanya baru saja ku ketahui. Vans, itu namanya. Tak lama kemudian, mobil pun melaju dengan cepat menembus pekatnya malam. Begitu cepatnya hingga tak mampu lagi aku mengenali arah laju mobil. Sementara kegamangan dan rasa was-was terus menyekap hati dan fikiranku.
Mendadak sebuah tangan mendekap wajahku. Aku terkesiap. Berontak tubuhku atas perlakuan tersebut. Sekuat-kuatnya aku berusaha melepaskan dekapan tersebut. Namun semua usaha menjadi sia-sia karena baru saja tatapanku berubah samar dan menghitam. Aku tak sadarkan diri di bawah pengaruh obat bius.
Detak jam menggelitik telinga. Namun yang paling menggoda pendengaranku adalah sebuah erangan kesakitan. Perlahan aku membuka mata. Bersamaan itu tubuhku bereaksi. Pun demikian aku tak mampu berbuat banyak karena ikatan pada tangan dan kaki ku yang begitu erat. Astaga... dimanakah aku? Belum usai tanyaku, mata pun menyasar pada sosok tubuh yang sedang mengerang kesakitan karena di dera beberapa pukulan. Aku sempat memejamkan mata setiap pukulan itu berhasil membuatnya mengaduh hebat.
Terakhir laki-laki yang berikat itu tersungkur pada lantai. "Katakan...!" teriak seorang laki-laki bertubuh kekar berulangkali. Namun laki-laki itu tetap diam. Tiada satu kata pun yang ia keluarkan selain erangan dan erangan. "Senang melihat kemampuan mu bertahan. Namun, mungkin setelah melihat air mata istrinya, kau akan berubah fikiran" ucap seorang laki-laki lainnya sambil menatapku.
Deg.
Istri? Apakah yang ia maksud adalah aku seperti tatapan matanya itu? Mengingat tiada perempuan lain dalam ruangan ini, selain aku. Jika ia menyebutku sebagai istri dari laki-laki itu, artinya laki-laki yang terdiam di lantai itu adalah....kak Keanu. Mata ku langsung menatap laki-laki yang tergeletak pada lantai dingin yang baru saja memuntahkan darah dari mulutnya.
__ADS_1
"Dia bukan istriku..." ucap laki-laki itu terbata. "Dusta...!" teriak seorang laki-laki bertubuh kekar yang ku kenali sebagai Vans. Dia menyarangkan sebuah tendangan pada tubuh laki-laki itu. Aku histeris melihat apa yang tengah terjadi. Kemudian seorang laki-laki tiba-tiba saja datang dan berbisik kepada Vans. Entah apa yang ia sampaikan, yang pasti bisikan itu berhasil membuat ketiga laki-laki itu berlalu meninggalkan ruangan.
Ada sebuah kelegaan saat melihat ketiganya berlalu. Kemudian mataku langsung berpusat pada laki-laki yang masih tergeletak dan sesekali memuntahkan percikan darah sesaat setelah ia terbatuk. Ragu aku menyebut namanya. "Kak Keanu..." ucapku dengan suara bergetar. "Fara..." jawabnya lirih nyaris tak terdengar.
Deg.
Gemuruh di dada tak dapat terbantahkan lagi. Terlebih saat mengetahui pasti siapa laki-laki yang berada di hadapanku itu. Laki-laki yang tengah tak berdaya itu, tak lain dan tak bukan adalah kak Keanu - suamiku sendiri. Degup jantungku begitu hebat. Degupnya begitu bertalu dan bersaran untuk segera menghampirinya.
Kemudian sedikit demi sedikit aku merangsek mendekatinya. Dengan tangan dan kaki yang terikat bukanlah perkara mudah untuk melakukan hal tersebut. Namun aku pantang menyerah. Aku terus berusaha. Pun demikian dengan kak Keanu. Dengan sisa tenaganya ia berusaha menyongsong ku.
Ternyata benar usaha tiada pernah mengkhianati hasil. Seperti itulah kondisi kami saat ini. Yuph...saat ini kami sudah berdekatan. Bahkan kami saling melekatkan kepala sebagai pelampiasan hasrat di jiwa. Berurai air mataku tak terbendung lagi. "Kak, apa yang terjadi?" ucapku di sela isak ku. "Resiko pekerjaan, sayang. Misi ku bocor. Aku tertangkap dan diseret ke tempat ini" ucap kak Keanu lirih sambil sesekali terbatuk dan menahan sakitnya. "Apakah kita bisa bebas dari tempat ini?" ucapku yang langsung disambut senyum khasnya, tanpa kata. Hanya matanya saja yang menatapku. Dan sungguh barulah kali pertama ini aku melihat kegamangan di ujung tatapannya untuk situasi saat ini. Dan hal tersebut tentu saja membuat ku jadi turut kecut. "Jangan takut, Fara..." ucap kak Keanu kemudian.
"Saat kamu merasa lemah dan putus asa, jangan biarkan keadaan itu menguasaimu. Ingat! Tuhan selalu memberi kekuatan."
"Kau bisa berpunggungan dengan ku, Fara?" ucap kak Keanu yang langsung aku iyakan. Sedikit payah aku beringsut memunggunginya. Fiuh...lega rasanya ketika aku berhasil melakukannya.
"Tenanglah, sayang. Kita akan keluar dari tempat ini. Berdoalah..." ucap kak Keanu lirih. Sementara kedua tangannya yang terikat berusaha mencapai ikatan pada tangan ku. Rupanya kak Keanu tengah berusaha mengurai ikatannya. Cukup lama ia berusaha. Sempat ia terhenti karena sakit yang ia rasakan. Aku yakin itu, karena ia pun sempat mengaduh walau lirih. Bahkan nyaris hilang di hembus angin dari sela jendela. Rupanya di luar hujan sedang melanda.
"Larilah, Fara...Sekarang!" ucap kak Keanu hampir teriak. "Tidak... kalaupun aku keluar dari tempat ini, itu harus bersama kakak" ucapku sambil berusaha melepas ikatan tangan kak Keanu. Hampir putus asa aku berupaya, karena belumlah berhasil membuka ikatan. "Sabar, sayang. Fokus saja..." ucap kak Keanu yang mengetahui rasaku saat ini.
"Ya, Allah...tolonglah hamba" doaku.
"Alhamdulillah..." ucapku sambil memeluk kak Keanu saat berhasil mengurai ikatan pada tangannya. "Cepat kita keluar. Aku yakin mereka tidak mengunci pintu..." ucap kak Keanu sambil berusaha berdiri. Kubantu menyangga tubuhnya agar ia berdiri sempurna. Namun rupanya luka ditubuh begitu menghalangi pergerakannya.
Langkah kami begitu perlahan menuju pintu. Benar saja seperti yang diutarakan kak Keanu tadi, pintu benar-benar tidak terkunci. Namun hal tersebut membuat kami harus semakin waspada. Karena dengan demikian, bisa jadi penjagaan akan tempat tersebut semakin ketat.
"Berhenti...!" ucap seorang laki-laki. Sontak kami pun menghentikan langkah. Namun, ternyata ucapan itu bukanlah ditujukan kepada kami. Satria...Ya, Satria berdiri tak jauh dari kami. Dan ia tak bergeming sedikitpun di bawah todongan senjata. Kak Keanu menghela nafas berat. Matanya menatap lekat Satria.
__ADS_1
"Pergilah, tuan muda. Ini menjadi urusanku" ucap Satria yakin. Kulihat kak Keanu menggeleng perlahan sambil terus menatap tajam. "Sebaiknya kau saja yang pergi. Aku tidak butuh bantuanmu. Pergilah...!" ucap kak Keanu. "Hei...aku jauh-jauh datang dan kau tidak menghargainya. Orang macam apa kau...!" teriak Satria sambil melangkah menghampiri kami. Dan hal tersebut tentu saja membuat laki-laki dibelakangnya terkesiap dan berganti-ganti menodongkan senjata ke arah Satria dan kami. Langkahnya pun begitu cepat mengekori Satria.
"Sayang...melentinglah. Alihkan moncong senjata itu. Sekarang..." ucap kak Keanu. Aku pun langsung melentingkan tubuh sesaat setelah Satria berisyarat dan menjatuhkan tubuh.
Bruk...
Senjata pun terlepas. Bersamaan dengan itu Satria pun beraksi dengan menyapukan kaki membuat laki-laki itu tersungkur. Dan sebuah pukulan pun kembali bersarang pads tubuh laki-laki itu hingga membuatnya tak sadarkan diri.
Bergegas kami melangkah menuju pintu yang terbuka. Dengan erat aku dan Satria memapah kak Keanu. Tinggal beberapa langkah saja dari pintu, langkah kami terhenti. Disana di ambang pintu berdiri tiga orang laki-laki bertubuh kekar. Satu diantaranya adalah Vans.
"Aku salah telah meremehkan mu, tuan Keanu..." ucap Vans geram sambil menatap tajam.
"Urusanmu dengan ku..." ucap Satria yang begitu saja memasang tubuh di depan kami. "Tuan muda, Nyonya...pergilah" ucap Satria sedikit memalingkan wajah. "Tidak, Satria..." ucap kak Keanu sambil terbatuk. "Tuan...cepatlah" ucap Satria.
"Aku bisa melawan satu dari ketiga orang itu" ucapku sambil menyandarkan tubuh kak Keanu pada sebuah dinding yang tak jauh dari kami. "Aku akan membantu semampuku. Maaf..." ucap kak Keanu sambil merengkuhku dan mendekap sesaat tubuhku.
Bersamaan dengan itu ketiga laki-laki itu menghambur, menyerang Satria. Melihat itu aku pun langsung turut bagian. Beberapa jurus mulai ku pamerkan. Bersamaan dengan itu bermacam serangan pun mulai berseliweran menghampiriku. Bersyukur aku kak Roy sudah membakali ku ilmu bela diri yang disempurnakan oleh kak Keanu dengan latihan bersamanya.
Dua laki-laki sudah tumbang. Satu kawanku dan satu lagi lawan Satria. Kini tinggal laki-laki bernama Vans itu yang masih gigih melawan Satria. Ah, sialnya Satria mulai kewalahan. Energinya mulai berkurang. Melihat itu aku mengambil kesempatan untuk meraih senjata yang tergeletak tak jauh.
"Jangan bergerak...!" ucapku sambil menodongkan senjata ke arah laki-laki bernama Vans itu. Ku lempar anak kunci yang tergeletak kepada Satria. Berharap agar ia segera membawa kak Keanu ke dalam mobil. Dan benar saja, Satria langsung meraih kunci tersebut dan membawa kak Keanu menjauh.
Sambil tetap menodongkan senjata, aku melangkah perlahan dan menjauhi tempat tersebut. "Jangan coba-coba..." ancam ku. Langkah ku semakin cepat hingga berhasil mencapai mobil yang gahar menggeram.
Mobil pun melaju dengan cepat meninggalkan tempat itu. Sebuah tempat yang menurutku cukup menyeramkan. Kusandarkan kepala pada bahu kak Keanu yang tampak memejamkan mata. Nafasnya tak beraturan. Kadang begitu halus, namun kadang begitu cepat. Entah berapa pukulan yang sudah ia terima. Ya, Allah...aku bersyukur pada-Mu, kami dapat keluar dari rumah menyeramkan itu.
"*Do**a mampu membuka jalan tersulit dan paling mustahil dalam hidup. Karena bagi Allah segala sesuatu itu mungkin terjadi*."
__ADS_1
Langit masih pekat dan masih setia menurunkan hujan kembali. Sementara pendar lampu jalanan membiaskan titik-titik hujan yang terus saja berjatuhan. Ku eratkan dekapanku pada lengan kak Keanu sambil sesekali menatap wajahnya yang memar. Bahkan ada beberapa luka di wajah yang menitikkan darah. "Aku baik-baik saja, Fara. Sayang..." ucap kak Keanu. Aku yakin ia tahu betul bahwa aku tengah menatapnya khawatir walau dengan matanya yang terpejam sekalipun. Aku tersenyum menatapnya. Kali ini saat matanya terbuka dan membalas menatapku.
"Terima kasih, Satria..." ucap kak Keanu sambil mendekapku. Bersamaan dengan itu, kami terguncang saat sebuah mobil menghantam sisi kanan mobil kami. "Allahu Akbar...!" teriakku saat mobil menghantam sisi badan jalan kemudian melenting di udara, berputar, setelah itu berguling di jalanan dan terhempas begitu saja. Mendadak langit berputar dan semakin pekat. Satu-sa/tu titik hujan membasuh wajahku. Kemudian aku tak merasai apa pun lagi. Semua menjadi pekat. Bahkan suara pun mendadak menjadi diam. Semua begitu sunyi...