Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 113. Pertemuan dengan Mama Wina


__ADS_3

Pukul empat lewat tiga puluh menit. Lembayung senja mulai membayangi kaki langit. Semburat warnanya begitu menarik perhatianku. Aku memilih menikmati suguhan indah dari penciptaan Tuhan. Di teras aku berdiri menatap lekat langit sambil merentangkan kedua tangan sambil menghela nafas dalam-dalam.


"Sudah siap, Fara..." ucap suara laki-laki yang tak asing bagi ku. "Oya..." ucapku yang langsung terkesiap karena kehadirannya. Ia tersenyum menatapku sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding dengan tangan terlipat di depan dada. Sementara sebelah kakinya menjejak pada dinding. Sebuah gaya maskulin yang selalu ia tampilkan saat memperhatikanku. Artinya kak Mirza sudah cukup lama berdiri mengamatimu. Aduh...


"Mbok Jum...!" panggilku. "Saya pergi dahulu ya. Em, Azam dimana?" tanyaku saat mbok Jum telah berdiri dekat dengan ku. Matanya menatap kak Mirza seakan meminta bantuan untuk menjelaskan. "Em, Azam...Azam tengah mengamati rumah mama Wina" ucap kak Mirza sambil melangkah menghampiri ku. Aku pun meng-o singkat sambil mengambil ponsel yang tadi ku letakkan pada meja di teras.


Beriringan langkah kami meninggalkan teras menuju mobil yang terparkir di halaman. Langkah kami serasa serasi dengan hembusan angin senja dan kepakan kecil sayap burung yang mulai bersiap kembali ke sarang. Tak lama kemudian, mobil sport silver pun melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah. Mobil kesayangan kak Mirza. "Seperti dahulu, Fara..." ucap kak Mirza yang tak ku tanggapi pasti. Karena saat ini hati dan fikiranku tengah mengembara jauh. Pengembaraan yang langsung menyasar pada sosok mama Wina. Ibu dari kak Keanu, suamiku.


Fikiranku tengah asyik menyusun rencana dan kemungkinan apa saja yang akan aku hadapi saat bertemu dengan mama Wina yang masih berusaha menjauhkan Rafan dari kasih sayang ku.


Pukul lima tepat. Mobil sport silver kak Mirza parkir dekat sebuah rumah. "Disinikah...?" ucapku sambil menilik sebuah bangunan berpagar tinggi. "Yuph..." ucap singkat kak Mirza sambil mematikan mesin mobil. "Tunggu apa lagi. Ayolah..." ucapku sedikit tak sabar. "Tunggulah sebentar lagi..." ucap kak Mirza sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Tok.


Tok.


Tok.

__ADS_1


Kaca mobil diketuk. Ku lihat Azam berdiri dengan sikap waspada. "Nyonya Wina dan Den Rafan ada di rumah" ucap Azam saat kaca mobil terbuka. "Penjagaan..." tanya kak Mirza sambil menilik teliti bangunan tersebut. "Hanya ada tiga orang bodyguard, mbak Min, Bu An, dan satu orang asisten rumah tangga lainnya" lanjut Azam menjelaskan situasi dalam bangunan tersebut. "Good..." ucap kak Mirza. Tangannya cekatan menempelkan kumis dan jambang pada wajahnya. Tak lupa sebuah kacamata langsung menghiasi wajahnya. Pengecoh yang sempurna. Karena wajah kak Mirza benar-benar tampak berbeda. Em, itu bagi yang tidak mengenalnya. Tapi bagiku samarannya itu tentulah masih dapat ku kenali.


"Kak..." ucapku sambil mengamit lengannya. Matanya pun langsung tertuju padaku melalui spion mobil. "Apa rencana kakak...?" ucapku lirih. "Tak ada. Semua ini hanya untuk mengecoh penjaga agar kau bisa leluasa masuk ke dalam" ucapnya santai sambil keluar mobil yang langsung ku ekori.


Tok.


Tok.


Tok.


Seorang laki-laki bertubuh tegap dan kekar menyembul dari balik pintu pagar. Matanya menatap kami bergantian. "Saya dari penyalur asisten rumah tangga..." ucap kak Mirza dengan logat kedaerahan. Hampir aku tertawa saat mendengar logatnya itu. Beruntung masih dapat ku tahan terlebih saat melihat isyarat tangannya yang memintaku diam. "Oh, silahkan. Nyonya sudah menunggu sejak tadi" ucap laki-laki tersebut.


"Ow, sudang datang...?" ucap seorang perempuan sambil menuruni anak tangga. Dari suaranya aku tahu pasti, ia adalah mama Wina. "Aku membutuhkan pengasuh untuk cucuku, Rafan" ucapnya sambil duduk pada kursi berukir tanpa melihat sekitar. "Iya, Nyonya..Dan saya sudah membawanya sesuai permintaan, Nyonya" ucap kak Mirza dengan logat daerahnya. "Oya...?" ucap mama Wina yang sejak tadi belum menyadari kehadiran ku. Tangannya masih sibuk membolak-balik halaman majalah yang sejak tadi ia pegang.


"Jika mama masih masih membutuhkan pengasuh, mengapa mama menjauhkan Rafan dari ku?" ucapku sambil menatapnya lekat. Mendengar itu, mama tampak terkejut. Matanya langsung beralih kepada ku. "Kau..." ucapnya dengan wajah terkejut sambil berdiri dari tempat duduknya. "Iya, Ma..." ucapku sambil mengikutinya berdiri. "Bu An, bawa masuk Rafan...!" ucap mama Wina.


"Dan kalian jangan biarkan perempuan ini masuk ke rumah ini lagi" ucap mama sambil berlalu. Langkahnya begitu cepat menyusuri anak tangga.

__ADS_1


"Tunggu, Ma...!" ucapku setengah teriak sambil berlari mengekori langkah mama Wina. Tak ku hiraukan cegahan dari bodyguard. Toh ada kak Mirza yang menahan para laki-laki bertubuh kekar itu.


Sementara itu, langkahku terus mengekori mama Wini. "Apa mau mu, Fara...?" ucap mama Wina di tengah jalinan anak tangga. Matanya menatapku lekat. "Fara tidak ingin mengambil Rafan dari mama. Fara hanya ingin sesekali menemuinya sebagai mama nya. Sungguh, Ma. Berikan kesempatan itu..." pintaku memohon. Suaraku bergetar hebat karena tangis yang tak terbendung lagi. Aku lesu saat melihat mama Wina tak menunjukkan reaksi apa pun.


"Fara mohon, Ma...?" ucapku berulangkali. "Mama tidak bermaksud memisahkan Rafan dari mu. Maafkan mama..." ucap mama tiba-tiba saja. Aku terdiam. Seakan tak percaya atas apa yang baru saja ku dengar. Hei, ada bulir bening yang makin deras dari kedua matanya yang terus menatapku. "Ma..." ucapku yang melanjutkan menyusuri beberapa anak tangga. Kemudian aku berdiri tepat di hadapan mama Wina yang terduduk pada anak tangga.


"Mama sama sekali tidak bermaksud menyakitimu, Fara. Maafkan mama, Fara..." ucapnya lagi. Ah, entah bagaimana melukiskan perasaan ku saat ini. Yang pasti ada rasa yang kian membuncah. "Kemarilah, Fara..." ucapnya di sela tangisnya. Dan segera saja aku memeluk mama Wina. Tangis pun pecah tak terelakkan lagi.


"Maafkan Fara juga, Ma..." ucap ku mengeratkan pelukanku. "Kau tahu, Fara. Mama masih tetap menceritakan mu kepada Rafan. Mama tidak ingin Rafan tidak tahu siapa mama dan papanya" ucap mama Wina sambil melonggarkan pelukan dan menyusut air mata. "Fara yakin itu, Ma" ucapku sendu.


"Fara boleh menemui Rafan kapan saja. Tapi jangan bawa Rafan menjauh dari mama. Mama mohon..." ucap mama. Tangannya menggenggam erat jemariku. "Waktu lalu mama marah padamu. Mengapa Fara tidak memintanya langsung pada mama? Fara justru mengirimkan pengacara dan asisten Fara?" ucapnya. Aku tertegun sesaat. Mataku menatapnya sendu. Ada sedikit keraguan atas ucapan mama baru saja.


"Saat itu kondisi Fara sedang tidak memungkinkan, Ma. Fara kehilangan penglihatan. Dan seingat Fara, Fara pernah berusaha memintanya langsung pada mama. Tapi mama menolaknya melalui Keenan yang saat itu menemui Fara" ucap ku. "Keenan...? Mama tidak pernah memintanya melakukan semua itu" ucap mama Wina menatapku. "Lalu mengapa mama selalu berpindah rumah? Jika bukan ingin memisahkan Rafan dari Rafa...?" ucapku sendu penuh pilu. "Tidak Fara. Tidak demikian. Semua mama lakukan karena Rafan terancam" ucap mama Wina.


Deg.


Aku terkesiap. "Ya, Fara. Semua karena Rafan anak Keanu. Anak seorang perwira yang ditakuti sekaligus diincar penjahat seantero negeri" ucap mama Wina. "Dan Keanu menghembuskan nafas terakhirnya juga karena menyelamatkan Rafan yang saat itu hendak diculik. Saat itu....

__ADS_1


To Be Continued...


__ADS_2